
Pertanyaan yang dia sama sekali tidak tau harus menjawab apa pada anak kecil yang sangat tampan itu.
Daddy nya? Zio saja sebagai anak tidak tau di mana daddy nya lalu bagaimana dengan dia yang hanya orang baru di rumah Ziva.
Ada rasa kasian dalam diri babysister itu saat pertanyaan itu keluar begitu mulus dari mulut mungil Zio.
Sejak dia mulai masuk kerja di sana pertanyaan itu juga sering dia tanyakan pada diri nya.
Kemana pergi daddy sang anak? kenapa cuma ada sang Ibu yang membesarkan sendiri?.
"Zio tampan maaf ya mozi sedikit lama?." Bersyukur sang babysister karena kedatangan Ziva yang menyelamatkan dia dari pertanyaan yang dia sendiri tidak tau apa jawaban nya.
Sebenarnya dia juga ingin tau dimana keberadaan daddy Zio tapi dia tidak punya kuasa menanyakan akan hal itu kecuali Ziva sendiri yang mau menceritakan.
Jangan kan dia yang orang baru pelayan lama saja tidak tau dimana daddy Zio berada.
"No mozi ngak lama, udah selesai mozi?." Anak kecil sungguh cerdas sehingga bisa mengerti akan kegiatan Ziva yang kadang harus membawa Zio bersamanya.
"Sudah tampan. Kita pulang sekarang atau mau kemana dulu?." Duduk di samping Zio yang lagi asik makan cemilan yang di beli tadi.
"Kita ke restaurant dulu mozi, Zio mau bertemu uncle koki. Ayo mozi." Bangun turun dari kursi berjalan duluan meninggalkan dua perempuan cantik itu yang hanya bisa menggeleng kepala melihat tingkah Zio yang menggemaskan.
"Mbak tolong di bereskan bawaan Zio ya, Iva mau nyusul Zio duluan." Usia babysister Zio dua tahun di bawah Ziva yang berarti baru berusia 21 tahun dan juga masih kuliah semester enam.
"Iya kak Iva." Namanya Zara yang akrab di panggil Rara, Ziva memang menyuruh Rara memanggil dia kakak sebab biar Rara merasa bukan seperti pengasuh tapi seperti keluarga juga.
Rara di sana merantau dari kampung karena ingin merubah nasib dan bekerja sambil kuliah.
Di sana ada dua pengasuh Zio sebenarnya tapi cuma Rara yang sering di ajak pergi bukan pilih kasih tapi yang satu nya lagi lebih memilih di rumah saja sebab sudah berumur dan juga dia sudah lama kenal sama Ziva sejak Ziva Sekolah menengah pertama.
"Mozi daddy mana? kenapa ngak pernah pulang untuk melihat Zio? apa daddy ngak suka sama Zio makanya daddy ngak mau pulang? apa daddy marah sama Zio? apa Zio nakal mozi?." Pertanyaan Zio sangat menusuk hati Ziva yang tidak tau harus menjawab apa akan pertanyaan Zio ini.
__ADS_1
Daddy nya ya? Ziva sendiri bingung harus menjawab apa? sebenarnya Ziva kasihan sama Zio yang harus tumbuh tanpa kasih sayang seorang Ayah tapi walau begitu Zio tidak pernah kekurangan kasih sayang dari orang sekitar.
Bahkan orang tua Ziva sangat menyayangi Zio sejak Zio hadir di antara kehidupan mereka.
Aku harus menjawab apa? Aku kasian sama Zio karena ngak bisa bertemu Ayah nya tapi aku juga udah berjanji sama dia.
Cepat lah kembali, akuw ngak sanggup harus menjalani ini semua sendiri.
Ini terlalu berat buat aku, aku butuh kamu sekarang.
"Daddy lagi kerja di luar negeri sana dan janji akan pulang kalau kerja an daddy sudah selesai.
Daddy ngak pernah marah sama Zio, daddy sangat sayang Zio.
Janji sama mozi Zio akan rajin belajar biar daddy semangat kerja dan cepat pulang.
Dan juga daddy Zio sama tampan seperti dan sangat baik." Mengusap kepala Zio dengan penuh kasih sayang.
Kini mereka menuju restaurant buat bertemu uncle koki Zio.
Setelah Rara masuk mobil mereka meninggalkan kantor tadi.
"Ra apa kuliah mu lancar saja?." Selama Rara tinggal bersama Ziva, dia selalu menanyakan tentang kuliah Rara yang sudah di anggap adik itu.
"Lancar kak Iva dan sebentar lagi juga magang." Rara bersyukur bisa bertemu Ziva dan kini Rara tidak perlu lagi harus memikirkan tempat tinggal, mau makan apa ? bahkan biaya kuliah Ziva juga bayar asalkan Rara bekerja dengan baik menjaga Zio selama Ziva tidak ada.
"Nanti mau magang dimana? di K'SYA group mau ngak?." Tawar Ziva merasa pantas kalau Rara magang di sana.
"Ngak usak kak Iva, magang di sana kan sulit di terima." Bukan tidak percaya hanya saja rumor yang beredar bahwa buat bisa magang di sana syarat nya sulit dan harus ikut tes dulu.
"Coba aja dulu Ra dan kakak ngak terima bantahan ok." Kalau Rara bisa magang di sana maka saat lulus nanti maka akan mudah mencari kerjaan nanti.
__ADS_1
Perusahaan itu terkenal dengan aturan yang ketat serta tidak bisa dengan mudah memberi toleransi bagi siapa saja yang melanggar aturan.
Walau demikian tetap saja banyak para pelamar yang mengajukan surat lamaran kerja.
"Iya kak, nanti Rara masukin berkas kesana." Tidak bisa menolak ucapan Ziva, sebab apa yang Ziva bilang pasti nanti akan jadi kenyataan.
Rara tidak tau kenapa Ziva menyuruh dia magang di sana yang sudah jelas susah masuknya.
Orang yang sudah sarjana saja sulit bisa bekerja di sana lalu bagaimana dengan dia yang hanya sebagai mahasiswa saja, rasanya mustahil tapi tidak mau mengecewakan atau membantah ucapan Ziva yang selama ini selalu membantu Rara.
"Nanti biar kakak saja yang bawa, Rara tinggal siap kan saja dan kalau sudah kasih sama kakak ya." Setiap orang terdekat Ziva maka akan merasa kebaikan Ziva yang sesungguhnya selama mau menuruti perkataan Ziva yang tidak pernah berniat jahat sama mereka.
"Zio senang ya mau bertemu uncle?." Sebentar lagi mereka akan sampai dan juga ini belum terlalu sore buat mampir.
"Senang mozi udah lama Zio belum bertemu uncle." Ziva sering membawa Zio ke restaurant maka Zio sudah dekat sama pelayan restaurant itu.
"Nanti kalau uncle sibuk jangan di ganggu ya tampan!." Nasehat Ziva pada Zio.
Sebab waktu sibuk di restaurant tidak menentu kadang sore juga sangat ramai.
"Ziap mozi." Akhirnya mereka sampai restaurant dengan selamat.
Dengan segera Zio berlari masuk ke dalam sana buat mencari uncle koki nya.
"Semangat sekali Zio mau bertemu uncle koki nya itu.
Padahal dia punya nama tapi Zio seenaknya memanggil uncle koki mentang mentang dia seorang koki." membiarkan Zio masuk duluan sebab semua orang di sana sudah dekat sama Zio maka tidak ada yang perlu di cemaskan lagi.
"Zio?." Panggil seseorang saat Zio sudah sampai di dalam sana.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Tbc.