
Iva sekarang lagi melakukan perawatan seluruh tubuh menjelang pernikahan yang akan diadakan lima hari lagi itu.
Dia memanggil orang salon buat datang ke rumah.
Bukan hanya Iva yang melakukan perawatan tapi juga Lisa, Rara dan Isti istri bang Jidan yang datang bersama dua hari yang lalu.
Mereka bertiga sangat semangat melakukan perawatan melebihi calon pengantin yang akan menikah.
Sejak selesai makan malam mereka berempat langsung masuk kamar dan langsung ambil posisi serta memilih kamar tamu sebagai tempat perawatan.
"Berasa mau nikah lagi," Kakak ipar Iva buka suara lebih dulu, menikmati setiap sensasi yang di rasakan.
"Jangan ngarang kak kalau bicara di dengar bang Jidan ntar dia ngamuk," Iva tidak mau acara dia kacau hanya karena kakak ipar nya asal bicara.
"Tau kak Is kalau ada yang dengar lalu ngadu gimana," Tambah Lisa yang lagi memejamkan mata.
"Hhmm," Balasan apa itu mbak Rara, lagi malas ngomong ya?.
"Ngak bakalan ngamuk si papi udah cinta mati," Kak Isti tidak takut apa, bang Jidan kalau marah kan lumayan juga bikin orang takut.
Jangan cari perkara lah, mau apa di kurung dalam kamar dan tidak boleh keluar.
Walau hanya ada mereka dan orang salon bisa saja ada tambahan telinga di sana tanpa mereka sadari.
"Bukan hanya cinta mati kak, tapi kalau bang Jidan udah marah kayak mau mati bawaan kita," Iva tidak berani memancing amarah singa tidur itu.
Di balik sikap dia yang penyayang percayalah ada sifat tersembunyi yang dia miliki dan akan keluar saat tertentu.
Dia penyayang tapi amarah dia sama besar dari itu.
"Mbak Rara kapan nyusul?" Yang di tanya wajahnya langsung memerah.
"Rara masih kuliah kak, belum kefikiran sampai sana," Ingin fokus kuliah dan setelah itu mencari kerja.
"Nanti pak dosennya berpaling, mau?" Plis jangan nakutin tidak lucu.
Ucapan mama Satyia tadi siang masih terngiang di ingatan Rara yang mana mama Satyia meminta mereka segera menikah dan beruntung Satyia punya alasan buat menyelamatkan Rara dari pertanyaan yang cukup mengejutkan buat dia.
"Jangan tanya Rara terus, kak Lisa aja belum," Lisa kaget kenapa dia juga di bawa bawa, dia kan tidak ikut bicara cuma nambahi dikit tadi.
Tapi iya juga, dia belum nikah dan bang Endra hanya bilang tunggu sebentar lagi.
Sebentar itu kapan, juga tidak tau.
"Aku mah biasa aja, di ajak ya ayok kalau lama ya di tinggal," Balas Lisa sekenanya.
π¨βπ¦±Apa yang mau di tinggal?
Suara ada dan orang ntah dimana.
Lisa celingukan mencari sumber suara dan tidak menemukan orang pemilik suara itu.
"Bukan apa apa kok bang, sumpah," Lisa takut itu beneran suara bang Endra dan dia bisa ngamuk kalau tau hubungan bersamanya di anggap becanda.
Yang lain di sana bingung kenapa tiba tiba Lisa bicara sendiri.
"Kamu kenapa Sa?," Kok bawaan horror ya.
Perasaan rumah tidak ada penunggunya kenapa Lisa tiba tiba bicara sendiri dan jauh dari topik pembicaraan mereka.
"Itu tadi bang Endra ngomong," Jujur Lisa yang mendengar suara bang Endra yang menimpali ucapan dia.
"Mana ada bang Endra disini Sa, jangan ngarang ya, jangan bikin suasana tegang napa," Bergidik ngeri Iva mendengar dan tengkuknya terasa merinding.
__ADS_1
Selama dia tinggal bersama orang tua di sana tidak pernah ada kejadian mengganjal atau kejadian horror wajar dia merinding.
Rumah ini aman aman saja selama ini bahkan kata aman saja masih kurang.
"Mungkin kak Lisa lagi kangen sama bang Endra," Rara mencoba berfikir positif tidak mau ambil pusing.
Dia bukan tipe orang yang gampang percaya tapi bukan berarti tidak percaya begituan.
Kita hidup di dunia ini berdampingan jadi sudah wajar akan hal itu, hanya saja jangan berlebihan.
"Iya tuh, dasar perasaan tadi siang jumpa lebay kayak ABG," Cibir kak Isti setengah meledek.
Kak Isti plis mereka kan udah lama pisah dan baru bertemu kembali jadi wajar rasa kangen itu cepat tiba, beda mah sama yang udah nikah kalau bicara sukanya nyindir mentang mentang tiap hari bertemu mulai mata melek sampai mata merem dan bobok di temanin, makanya sifat orang di bilang berlebihan jahat tau tak kak Isti.
Coba kakak di posisi Lisa pasti merasakan hal yang sama bahkan bisa lebih juga so jangan asal bicara, nyeseknya lebih tau.
"Iya iya yang udah nikah mah beda, tinggal satu atap, pasti ngak bakal kangen, mau meluk langsung bisa, maun cun bisa juga, bobok di temenin, udah kita yang belum halal bisa apa atuh," Jengah Lisa kalau bahas status sekarang, di pacarin lagi kayak dulu bukannya langsung di ajak nikah kan enak, enak lahir batin malahan.
"Iri dia Va," Melirik Iva yang lagi di pijat.
"Kok Iva kak?" Iva tidak ikitan ya menistakan Lisa barusan jadi jangan bawa bawa nama dia.
Kak Isti kalau mau masalah udah buat kakak sendiri saja, Iva menolak makasih.
"Kamu kan bentar lagi sama sama kakak, tinggal bersama, bobok bersama, makan bersama, apa apa bersama kan enak tuh.
Dari pada di gantung terus kan nyesek," Makin meringis saja Lisa sama ucapan kak Isti ini, paling bisa menjatohin orang dan senang melihat orang menderita.
"Mbak Rara diam aja ya, jangan ikutan juga kan masih kuliah," Cegah Iva saat Rara baru mau buka mulut ambil nafas buat bicara.
Tega amat kak Iva ini, belum juga ngomong udah di cegah, ibarat kata ya belum mengungkapkan perasaan udah di tolak duluan, fikir Rara.
Jangan gitu ah kak Iva, jangan jahat deh mbak Rara tidak suka, kasih lah kesempatan bicara setidaknya satu atau dua kata.
Tidak salahkan mau menyelamatkan diri supaya tidak malu atau di permalukan.
Karena saling alihkan pembicaraan maka lupa masalah yang horror tadi.
\=\=
Di ruangan keluarga para lelaki lagi berkumpul serta tidak ketinggalan mama Ila yang selalu ada dimana pun papa Syakil duduk.
Setia ya ma sama papa.
Duduk saling berhadapan dengan Kemal yang tidak lupa memegang toples keripik kesukaannya.
Kalau dia sudah pulang maka keripik yang ada tidak akan bertahan lama, palingan cuma mampir sebentar di toples lalu pergi lagi.
Si bontot itu akan jadi dewasa kalau di ajak bicara serius, akan jadi anak kecil kalau di manjakan tapi lebih sering di tindas yang membuat mereka bahagia.
"Ngemil terus kayak ikutan beli aja," Menatap sinis Kemal yang mana mulut Kemal tidak berhenti mengunyah.
"Sirik aja bang, yang punya keripik diam ae," Jawab Kemal tanpa menoleh dan tetap asik sama makanan yang di pegang.
"Bukan sirik tapi lo ngak bagi bagi," Bilang kek dari tadi ngapain pake acara alasan gitu sevaka6, basi tau.
"Ye si abang, ngomong dari kemarin napa.
Noh di dapur masih ada, ambil gih jangan malas," Menunjuk ke arah dapur dengan wajah, tidak sopan.
"Lo aja yang ambil sana, itu kesiniin," Merebut toples itu hingga berpindah tangan.
"Jahara lo bang, balikin ngak," Tidak terima kesenangan dia di ganggu.
__ADS_1
Lalu merebut lagi, dan terjadi aksi saling tarik menarik.
Orang tua mereka hanya geleng kepala melihat tingkah anaknya yang saling rebutan.
Apa salah nya mengambil lagi ke dapur dan urusan beres buat apa perkara kecil di besarkan, seperti anak kecil saja.
"Papi dedek uga au (juga mau)," Anak Jidan yang paling kecil menghampiri lalu menarik ujung baju Jidan.
"Noh ngak kasian lo liat ponakan lo minta," Ck kenapa tuh anak kecil datang disaat tidak tepat dan dengan berat hati Kemal mengalah.
"Jangan senang dulu bang," Melangkah ke dapur dan balik membawa toples yang agak besar dari sebelumnya.
Mama Ila memang menstok lebih kalau anaknya berkumpul seperti sekarang, sebab mereka bertiga menyukai cemilan berbahan singkong itu.
Entah apa beda sama cemilan lain tidak tau yang jelas mungkin ada sensasi berbeda ketika mengunyah serta rasa asin manis yang membuat ketagihan dan ingin makan terus.
Jika di tanya kenapa kita menyukai suatu hal maka kita tidak perlu alasan sebab menyukai sesuatu murni dari dalam hati.
Jika kita punya alasan menyukai sesuatu maka kita juga harus punya alasan buat tidak menyukai sesuatu.
Sama seperti cinta ku pada mu yang tak perlu alasan kenapa tiap hari kian mekarπππ.
"Uncel (uncle) Mal dedek au," Menghampiri Kemal yang duduk beda dari tadi.
"Minta sama papi sana, ini punya uncle," Tolak Kemal yang tidak mau berbagi.
Tadi bapaknya sekarang anaknya juga ikutan ngerecok.
"Papi uncel nakal hwπ," Merajuk sama Jidan.
"Lo sama anak kecil aja pelit, pantas sampai sekarang jomblo," Memangku anaknya yang masih menangis.
"Lo juga punya bang, kan udah di kasih.
Jangan ngeselin jadi orang ntar kak Isti kabur," Pindah duduk dekat mama Ila dan bersandar di bahu.
"Mana berani dia, udah cinta mati ya kalo lo lupa," Cinta di antara mereka berdua begitu besar tidak akan goyah hanya karna masalah kecil, percaya lah itu.
"Udah, ngak capek apa ribut terus," Lerai papa Syakil yang sudah mulai malas jadi penonton.
"Papa kalau mau ikut bilang aja, ngak usah gengsi," Saut Kemal yang tidak sadar posisi sekarang yang dekat sama papa Syakil dan dengan mudah dapat jitakan gratis.
"Ingat Kem kadang papa kandung bisa lebih kejam dari papa tiri," Kemal diam tidak mau menjawab hingga datang anak pertama Jidan.
"Papi tadi mami bilang mau nikah juga," Adu anak itu pada papi nya.
"Siapa bilang kak?" Masa iya istri nya yang bilang gitu, rasanya tidak mungkin.
"Tadi kakak dengar pi mami bilang gitu," Tadi anaknya ikutan masuk dan berdiri di samping Isti yang bicara asal itu.
"Ngak apa kak cari papi baru aja yang lebih baik," Mengompori anak di bawah umur itu.
"Ngak mau papi baru, kakak mau aunty baru," Teriak dia yang menolak papi baru.
Disindir sama anak kecil gimana sih rasanya dan tanya pada Kemal yang barusan mengalami.
"Ngenes banget sih kalau jomblo gini.
Anak kecil aja ikutan jatohin," Kesal Kemal dan pergi dari sana membawa cemilan yang tidak pernah lepas dari tangan itu.
Mereka yang tinggal hanya tertawa di atas derita Kemal, bukannya kasian malah ngetawain.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Tbc.