
Waktu jika tidak di ingat maka akan berjalan begitu cepat bahkan sehari saja hanya terasa beberapa jam bukan puluhan jam.
Waktu akan sangat berharga jika kita bisa memanfaatkan sebaik mungkin.
Malam hari setelah menghabiskan waktu siang bersama Iva dan Zio.
Kini Zefan akan menemui seseorang malam ini tanpa mau menunda lagi, lebih cepat lebih baik.
Mengendarai mobil menuju sebuah rumah mewah yang tak kalah besar sama rumah kedua orang tua Zefan.
Satpam membukakan gerbang lalu Zefan masuk ke dalam dan mengetuk pintu.
"Assalamu'alaikum," Mengetuk pintu itu dengan pelan.
Jam sekarang baru pukul delapan malam belum terlalu malam buat bertamu.
"Wa'alaikumsalam, cari siapa ya?" Seorang asisten rumah tangga membuka pintu.
"Bapaknya ada?" Tanya Zefan.
"Ada silahkan masuk, saya tinggal dulu mau panggil tuan besar," Pamit dia meninggalkan Zefan sendiri.
Ini kali kedua Zefan datang kesana dan sekarang hanya sendiri.
Kalau bukan ada tujuan jelas pasti Zefan belum datang lagi dalam waktu dekat.
Tidak lama datang seorang laki laki yang sudah berumur sekitar sama dengan umur papa Zefan.
"Malam om, maaf mengganggu malam malam," Menyalami dengan sopan.
"Tidak apa, ada apa malam malam datang?" Tanya dia lalu duduk berhadapan sama Zefan.
Zefan menghela nafas pelan sebelum bicara.
Pembicaraan kali ini cukup serius hingga membutuhkan keberanian buat bicara.
Bicara seperti ini seperti menghadapi klien yang galak tapi harus berhasil, itu yang Zefan rasakan.
"Bicaralah, saya masih makan nasi," Gurau dia sebab melihat wajah tegang Zefan.
__ADS_1
Ya bagaimana tidak tegang kalau ini menyangkut masa depan dia dan ini penentuannya.
"Begini om dua hari pertunanganan saya sama anak teman mama yang mau di jodohkan sama saya," Mulai menjelaskan maksud kedatangan dia malam malam seorang diri.
"Kalau mau tunangan kan tinggal tunangan buat apa bilang sama saya," Iya juga kata dia.
Tapi bukan itu maksud Zefan dan juga pembicaraan Zefan belum selesai.
"Tapi saya mau minta izin sama om buat,,, ( menjelaskan maksud kedatangan Zefan secara rinci sekali gus minta izin) begitu om saya harap om mau mengerti dan mengizinkan," Jelas Zefan panjang lebar berharap niat baiknya di sambut baik pula.
"Baik saya mengerti dan saya izinkan tapi nanti saya ingin acara ulang lagi," Segitu mudahnya mendapat izin dari laki laki ini.
"Terima kasih om dan saya tidak akan mengecewakan om serta keluarga sebab sudah percaya sama saya," Senang satu rencana sudah berjalan lancar tinggal satu lagi.
Hari sudah beranjak malam, cukup lama mereka berbincang membahas berbagai hal.
"Sudah malam juga om kalau gitu saya pamit dulu, assalamu'alaikum," Pamit Zefan.
"Iya hati hati baliknya, wa'alaikumsalam," Mengantar sampai depan pintu.
\=\=
waktu bergulir pagi sudah menyambut hari.
Pagi yang cerah maka sambut dengan senyuman ets bukan hanya hari cerah saja, hari mendung juga begitu sebab mendung memberikan kesejukan buat kita dan hujan juga begitu sebab hujan mengajarkan kita buat bersyukur dan nikmati tiap tetes air yang jatuh.
Air memberikan kesejukan buat kita begitu juga kala kita dekat sama orang tersayang terasa adem dan damai.
Cie tersayang mau dong juga di sayang.
Perempuan cantik itu masih betah dengan aktifitas mandi sebab dia paling suka main air lama lama seperti anak kecil.
**Dor,,,
Dor**,,,
"Mozi cepetan nanti Zio telat," Tangan mungil itu terus menggedor pintu kamar mandi bercat putih itu.
Biasanya hanya hari minggu tapi entah bangun pagi dia ingin sekali berendam.
__ADS_1
"Mozi," Suara itu melemah bukan menangis ya tapi hanya trik supaya yang di panggil segera keluar dari dalam sana.
Ceklek...
Tuh benar berhasilkan langsung terbuka pintunya.
"Gimana udah dramanya?" Keluar kamar mandi dengan baju yang sudah rapi.
"Udah, kan mozi udah keluar," Jawab santai Zio lalu duduk di ranjang mozi menunggu siap siap dulu.
"Mozi jangan cantik cantik, Zio cuma mau satu daddy aja," Apa hubungan nya dandan cantik sama punya daddy perasaan tidak ada.
"Ngak nyambung tampan," Kekeh Iva yang sebenarnya tau maksud Zio apa tapi sengaja menggoda saja.
"ish mozi," Rengek manja Zio.
"Iya iya seperti biasa kok iyo," Tidak mau membuat wajah tampan itu cemberut pagi pagi tidak baik.
"Udah, sekarang sarapan lalu mozi antar Sekolah," Mengambil tas lalu berjalan keluar kamar.
"No mozi, Zio pergi sama daddy," Tolak Zio.
"Daddy?" Beo Iva belum mengerti.
"Daddy ada di bawah nungguin," Syok, sejak kapan Zefan sudah nangkring di rumah dia pagi pagi, kurang kerjaan eh kan dia memang kurang kerjaan.
"Kalau gitu ngapain desak mozi tadi?" Gemas pengen cubit tuh pipi.
"Biar sarapan bareng, daddy bilang mau sarapan bareng," Berjalan duluan meninggalkan Iva yang diam mematung mencerna ucapan si tampannya.
"Punya anak satu kok jail ya," Sadar Iva saat tau tinggal sendiri.
Berjalan menuju ruang makan di sana memang sudah ada Zefan lengkap dengan pakaian kantor.
Berasa udah punya suami ngak tuh Va.
Keluarga kecil yang bahagia ya tapi sayang belum nikah, kurang dikit aja sih.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Bersambung woke,,,