My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Pelakor Beneran.


__ADS_3

Keesokan harinya Zefan masih sibuk di kantor buat menyelesaikan segala pekerjaan yang tidak bisa di wakilkan pada orang kepercayaan atau asisten.


Zefan ingin saat nikah nanti dia tidak ingin terbebani sama tugas kantor yang belum selesai dan jadi buah fikiran.


Zefan ingin dihari bahagia hanya ada Iva dalam hati serta fikiran tidak perlu di salip sama pekerjaan juga.


Dan juga Zefan ingin ambil cuti kerja buat langsung berangkat honeymoon sama istrinya nanti.


Istri ya masih terdengar janggal dan tiga hari ke depan itu tidak bisa di pungkiri.


Perempuan yang dia anggap sudah punya anak namun tidak menyurutkan niat buat mendekati dan lebih tidak menyangka ternyata anak yang Iva besarkan adalah anak abang dia sendiri.


Juga kantor di titipkan sama papa Arta yang siap membantu kapan saja.


Semua sudah di siap serta restu mama Zefan sudah di kantongi.


Maka tidak ada alasan lagi buat menunda niat baik serta keluarga sudah mendukung maka alangkah baik di segerakan.


Dan juga kalau mendesak sekali ada bang Endra yang siap membantu sebab dia sudah memindahkan kantor dia kesini tentu saja atas bujukan Lisa yang tidak bisa pergi jauh dari Iva dan tidak mau meninggalkan Negara kelahirannya.


Cukup waktu dia sakit itu pun tanpa sepengetahuan dia yang tak sadarkan diri.


"Honeymoon nya buat kejutan Zizi aja nanti ngak usah kasih tau," Mau kemana pergi honeymoon sudah Zefan siapkan jauh jauh hari dan semua sudah siap.


"Ngak sabar nunggu tiga hari lagi, kok lama amat ya rasanya," Tidak sabar menunggu hari itu tiba, sungguh terasa lama bagi Zefan apa lagi tidak bisa bertemu lengkap sudah derita selama dua hari ini.


Ya Zefan dan Iva baru dua hari menjalani masa pingitan dan itu terasa sudah lama sekali dan ingin juga rasanya Zefan nekat pergi menemui Iva di rumah calon mertua.


Tapi dia urungkan mengingat ancaman mematikan calon mertuanya sebelu mereka di pingit, papa Syakil pernah berkata 'selangkah kamu melangkah menuju rumah ini maka detik itu juga semua berakhir' maka Zefan memilih diam ketimbang melanggar aturan yang di buat para orang tua.


Zefan tau setiap ucapan di lontarkan papa Syakil tidak main main dan Zefan tidak mau ambil resiko.


"Zizi kangen," Hah segitu beratnya menahan rindu.


Pantas mas dilan melarang milea dan berkata ' rindu itu berat kamu ngak akan kuat biar aku aja' ah meleleh tidak sih.


Tapi Zefan tidak sekuat Dilan yang kuat menahan rindu.


Kenapa harus ada ancaman segala coba, merepotkan.


Setidaknya kan bisa nyelinap ke rumah calon mertua.


**Tok....


Tok**....


"Masuk," Titah Zefan mengizinkan orang yang mengetuk pintu.

__ADS_1


"Maaf pak, ada yang mau bertemu," Sekretaris Zefan masuk memberi tau kalau ada yang mau bertemu dia.


"Silahkan suruh masuk dan jangan di tutup pintu nya," Zefan ingat tidak ada janji temu sama orang lain dan kenapa tiba tiba ada yang mau bertemu dia makanya dia melarang sekretaris nya menutup pintu.


"Baik pak," Tidak lama sekretaris itu datang bersama seorang perempuan cantik dan Zefan tau siapa.


"Kamu boleh keluar," Suruh Zefan dan di angguki.


Zefan diam tanpa melihat orang itu, bukan tidak menghargai tamu hanya saja tanpa di suruh dia akan duduk sendiri.


Dan benar aja dia langsung duduk di kursi depan Zefan berbatasan meja kerja Zefan.


"Fan kamu batalin pernikahan ini ya, aku tau dia bukan perempuan baik baik dan kamu liatkan dia aja udah pernah punya anak tanpa suami lagi," Orang yang datang itu adalah Viola saudara sepupu Iva yaitu mama Viola adik papa Syakil.


Mencoba mempengaruhi Zefan sebab selain keluarga Iva tidak ada yang tau lagi tentang mengapa Iva bisa punya anak tanpa suami.


Termasuk keluarga papa Syakil yang lain, menurut papa Syakil itu tidak penting dan juga mereka tidak perlu tau sebab akan berasumsi sendiri dan menilai jelek Iva.


Dan kini terbukti dengan kedatangan Viola ke kantor Zefan hanya untuk menjelekkan Iva kepada Zefan.


"Lalu," Sesingkat ini jawaban Zefan, tidak terkejut atau bertanya lebih jauh gitu.


Pelet apa yang sudah Iva pakai buat menjerat Zefan, gumam Viola dalam hati.


"Lalu kamu masih mau menikahi perempuan seperti dia.


Masa CEO perusahaan besar menikahi perempuan yang tidak baik baik," Makin menjelekkan Iva dan berharap rencana ini berhasil.


Bagi Viola, apa pun dia lakukan agar bisa merebut Zefan dari tangan Iva.


Selama ini Viola tidak pernah iri sama apa yang Iva punya, baru ini pertama kali sebab cowok incaran dia mau menikah sama Iva.


"Kamu tau kan aku udah lama suka sama kamu Fan, coba lirik aku sekali aja," Lanjut Viola yang tak gentar menggoyahkan keputusan Zefan.


"Maksud kamu apa bicara seperti ini.


Saya tidak pantas menikahi Iva, lalu yang pantas siapa? kamu?" Jangan harap Zefan akan terpengaruh sama asutan setan yang terkutuk seperti perempuan satu di depannya ini.


Dulu Vani dan sekarang Viola.


Apa perempuan yang nama berawalan huruf V (vi) ini kerjaan jadi pelakor.


Hah ada ada saja, apa tidak ada laki laki lain apa? kenapa harus tertarik sama punya orang.


Apa tidak bisa melihat yang single apa? atau memang suka merebut milik orang termasuk Viola yang mau merebut punya sepupu sendiri sungguh murahan.


"Kalau kamu mau aku juga ngak akan menolak kok Fan," Cih tidak tau malu sekali, andai dia bukan perempuan sudah Zefan hardik.

__ADS_1


Zefan juga bukan tipe laki laki yang suka kasar pada perempuan, baru mau berkata kasar seketika Zefan ingat mamanya di rumah dan saat itu dia bisa mengendalikan diri.


Dia tidak mau mamanya mendapat perlakuan tidak baik dari orang lain, makanya dia sekalu sopan perempuan walau kadang suka kelepasan juga, maklum namanya juga manusia yang tak luput dari salah.


"Tapi saya nya yang tidak mau, silahkan itu pintu keluar udah terbuka," Tidak mau lebih lama lagi bersama orang tidak tau diri seperti Viola berada dalam satu ruangan.


Meski jauh dari Iva dan juga tidak tau entah mengapa Zefan tetap menjaga jarak apa pun alasannya.


"Kamu ngusir aku Fan?, kamu ngak mau antar aku ke bawah dulu," Benar benar urat malu nya sudah putus.


Apa kata dia ngantar kebawah, siapa dia di perusahaan ini dan juga dalam hidup Zefan tidak lebih sekedar parasit.


"Pertama, kamu datang sendiri tanpa saya minta jadi balik juga sendiri.


Kedua, kamu bukan rekan bisnis saya yang harus di antar saat urusan selesai.


Dan terakhir cukup tau diri aja, silahkan," Menunjuk pintu dan ternyata di depan pintu sudah di tunggu sekretaris Zefan yang siap mengantar ke bawah sesuai permintaan Viola tadi.


Sekretaris Zefan ingat kalau ruangan dia di biarkan terbuka berarti ada tamu tak di undang atau tamu itu perempuan.


Dan juga kalau Zefan sudah mengatakan pintu maka dia sudah siaga di depan pintu kapan saja Zefan butuhkan, sekretaris tanggap.


Menghilangkan mood bekerja saja, kurang kerjaan kali dia.


"Ingat Fan kamu akan menyesal telah menolak aku dan memilih perempuan ngak benar itu," Meninggikan suara bicara sebelum keluar dari ruangan Zefan.


"Saya bisa pergi sendiri," Sinis Viola saat sekretaris Zefan mengikuti Viola sampai lift meski belum ikutan masuk sudah di tolak.


Lagian siapa juga yang mau ikutin kamu, kalau bukan karna kerjaan juga ogah.


Sekretaris Zefan balik lagi ke meja kerjanya dan melanjutkan pekerjaan yang tertunda.


Dalam ruangan nya Zefan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Keluarga macam apa itu, masa sepupu sendiri di jelekkan.


Aneh bukannya mendukung malah ngejatuhin.


Apa dia tidak tau apa kalau Zio bukan anak Iva? apa Iva ngak pernah ngasih tau? nanti kalau udah nikah tanya sama Iva," Menghembuskan nafas kasar dan fikiran Zefan kini tertuju pada Iva yang belum bisa dia temui.


Apa ini masih lama? kenapa ini berjalan begitu lama? apa ada orang iseng yang sengaja memperlambat waktu?.


"Mikir apa aku ini, Mana ada seperti itu.


Waktu berjalan seperti biasa tapi kenapa terasa lama," Lebih baik melanjutkan pekerjaan dan segera pulang buat istirahat menengkan fikiran.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2