My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Mau Jadi Pelakor?.


__ADS_3

Dua hari semenjak hari di mana Iva dan Zefan resmi tunangan maka sekarang gadis cantik itu lagi siap siap buat makan siang bersama Zefan di kantor dengan ajakan Zefan semalam di karena kan mereka akhir akhir ini sibuk sama urusan masing masing dan kini ingin mengganti moment itu.


Sejak satu jam yang lalu Iva sudah mulai membersihkan diri dan memilih baju yang pas buat di kenakan.


Biasa nya Iva jarang pilih pilih baju atau memperhatikan penampilan tapi kini entah mengapa Iva merasa tergerak buat melakukan itu.


"Udah cantik belum ya," menelisik lagi penampilan sebelum berangkat menuju kantor Zefan.


"Mau kemana Va? udah cantik aja," Lisa masuk nyelonong ke dalam kamar Iva yang pintunya terbuka.


"Mau ke kantor mas Zefan, gimana udah rapi belum?" Meminta pendapat Lisa tentang penampilan dia.


Bagi perempuan penampilan adalah hal pertama yang harus di perhatikan apa lagi di depan pujaan hati harus tampil perfect.


"Rapi, cantik dan beda dari biasanya," Puji Lisa takjub melihat Iva yang cukup berbeda hari ini.


"Kenapa jadi suka dandan sekarang, bukan seperti Iva biasanya," Cukup penasaran sama perubahan Iva.


Siapa tidak penasaran coba yang biasa dandan butuh waktu lima belas menit sekarang makan waktu hampir satu jam.


"Ngak tau aja ingin dandan, abis ingat film pelakor yang lagi naik daun itu takutnya mas Zefan tergoda kan repot nanti," Di akhiri dengan sedikit kekehan di akhir kata.


Sudah mulai curiga atau posesif sama mas Zefan nya Iva.


Tapi jangan berlebihan juga tidak baik.


"Makanya jangan kebanyakan nonton sinetron makanya jadi parnoan kan, penurut penilaian gue ya Zefan orang nya setia kok," Lisa yang hanya sebagai calon kakak ipar saja tau mana yang setia atau tidak, masa Iva sebagai tunangan sendiri malah curigaan.


"Bukan ngak percaya sama mas Zefan hanya aja nyali sama niat pelakor kan patut di acungkan jempol," Kesal Iva pada Lisa yang malah menuduh dirinya tidak percaya Zefan.


Kalau masalah cinta, kasih sayang dan kesetiaan Zefan tidak perlu di ragukan lagi, ibarat sebuah karya sudah ada sertifikatnya.


Lisa bisa bicara sepercaya itu sebab merasa Zefan dan bang Endra sama dalam hal menjalin hubungan.


Buktinya selama bang Endra jauh dari Lisa serta tidak tau kabar Lisa dia masih sendiri dan kembali lagi sama Lisa, kurang setia apa coba.Atau memang mereka berdua sudah jodoh.


Makanya sejauh apa pun di terpisah tetap bersama lagi.


"Masa sama pelakor takut sih Va, ih payah," Menggelengkan kelala tidak mengerti.


"Pelakor sekarang kan pintar pintar Sa dan lebih nekat," Bukan takut ya tapi pelakor mah kalau ada acara aword buat mereka pasti banyak dapat penghargaan.


"Eh tunggu Sa, bukannya kalian LDR an ya, kamu ngak takut bang Endra kepincut sama bule sana?" Mau balas ya Va, kayak nya tidak mempan deh.

__ADS_1


Ya bang Endra lagi berangkat keluar Negeri tapi lagi ada pekerjaan yang penting tidak bisa di gantikan.


"Ngak usah nakutin deh Va, kesetiaan bang Endra udah lulus uji loh kalo lo lupa," Ngeloyor pergi dari kamar Iva sebelum yang punya kamar makin gencar juga memprovokasi dia sebab mereka berdua tidak jauh beda Sifatnya makanya cocok sahabatan sampai sekarang.


"Ye nih anak gue belum selesai bicara main pergi aja, udah lah sekarang berangkat aja," Pergi juga dari kamarnya dan melangkah menunu mobil yang sudah parkir depan pintu.


Sebelum siap siap Iva sudah meminta satpam buat menyiapkan mobil agar tidak perlu nunggu lagi.


Mobil itu melaju menuju kantor Zefan dengan kecepatan sedang dan lancar.


Jalanan tidak terlalu ramai sebab bukan jam pulang kantor makanya tidak ada halangan sampai Iva di kantor Zefan.


"Sampai juga," Memakirkan mobil lalu berjalan menuju lift hingga sampai di lantai ruangan Zefan.


"Siang mbak," Sapa Iva sebelum masuk ruangan Zefan seperti biasa.


"Siang juga mbak Iva, tunggu sebentar bisa pak Zefan lagi ada tamu," Pinta sekretaris Zefan menghentikan Iva yang mau masuk ruangan Zefan.


"Tamu mbak? biasanya bertemu di ruangan meeting ngak seperti biasa.


Perempuan atau laki laki mbak?" Tidak seperti biasa Zefan bicara sama tamu di ruangan nya kecuali orang terdekat.


"Perempuan mbak," Memberi tau Iva sebab Zefan tidak ada meninggalkan pesan tadi.


Baru pintu terbuka pemandangan yang Iva liat adalah dua orang yang saling berpegangan tangan dan Zefan yang melihat itu tersentak kaget lalu menarik tangan nya yang di pegang.


Ralat ya Zefan tidak ada memegang hanya di pegang oleh perempuan itu.


"Zi udah sampai ya," Menghampiri Iva takut terjadi salah paham.


Iva tidak menjawab, tatapannya fokus pada orang yang sudah berani memegang tangan tunangan nya.


"Masuk ruangan orang ngak sopan banget, ketok pintu dulu sebelum masuk itu gunanya pintu bukan buat pajangan," Ketua perempuan itu pada Iva sekaligus dia kesal sebab Iva datang menghancurkan kesempatan dia mendekati Zefan.


"Yang punya ruangan biasa aja, kenapa lo yang marah.


Kalau tidak ada kepentingan lagi silahkan keluar," Usir Iva.


Dia fikir tadi tamu beneran dan penting ternyata hanya calon pelakor yang kurang belaian fikir Iva.


"Emang lo siapa? berani ngusir gue dari sini," Tidak terima atas pengusiran Iva sebab misinya belum selesai.


"Pergi sebelum lo tau akibatnya," Iva bicara penuh penekanan.

__ADS_1


"Kamu silahkan pergi," Kini Zefan ikut bicara.


Zefan tidak mau Iva makin emosi dan bisa saja berdampak pada dia juga.


"Kamu ngusir aku Fan?" Menatap Zefan tidak percaya.


Tidak percaya bagaimana kan Zefan tidak punya hubungan apa pun sama dia dan wajar Zefan menyuruh dia pergi dari sana.


"Menurut kamu?" Balik nanya sama orang itu.


Lagian punya alasan apa Zefan harus mempertahankan dia di ruangan itu, kalau aja tadi dia tidak nyelonong masuk maka Zefan tidak bertemu sama dia.


"Itu pintu keluar, silahkan," Lanjut Zefan menunjuk pintu terbuka yang belum sampat Iva tutup.


"Awas kamu Va," Menunjuk Iva sebelum keluar dari sana.


Tersirat wajah tidak suka memandang Iva sebelum badan seksi itu hilang di balik pintu dengan sedikit membanting pintu menandakan dia marah.


"Zi," Menatap Iva lekat tidak lupa menuntun duduk di sofa namun Iva memilih melangkah ke kursi kerja Zefan lalu duduk di atas meja kerja Zefan dan Zefan duduk di kursi.


Tidak sopan memang tapi bagi Zefan tidak masalah.


"Sekali lagi mas Zefan seperti ini maka hari itu juga hari terakhir kita bertemu," Bukan sekedar ancaman saja atau gertakan semata tapi itu murni keluar dari hati dan fikiran Iva.


"Kok gitu Zi, kamu ngancam mas?" Menaikkan sebelah alis menandakan tidak paham sama ucapan Iva.


"Iva ngak suka ngancam ya mas, Iva lebih suka langsung bertindak dari pada banyak bicara," Tegas Iva yang tidak main main sama ucapan dia.


Bagi Iva tidak suka ada ancaman atau menggertak seseorang buat apa ngancam dari pada bisa langsung bertindak dengan nyata.


"Mas tau kan hidup cuma sekali?" Tanya Iva dan Zefan hanya mengaanggukkan kepala tanda mengerti.


"Dan itu juga Iva lakukan, Iva hanya memberi mas kesempatan satu kali jika mas melakukan kesalahan maka tidak ada kesempatan kedua atau ketiga," Jelas Iva lanjut lagi.


"Kenapa? bukannya orang berhak mendapatkan kesempatan kedua," Ya memang orang berhak dapat kesempatan tapi kalau bagi Iva tidak ada.


"Prinsip Iva ya mas, sebab hidup cuma sekali maka Iva hanya memberi mas kesempatan cuma sekali juga," Sudah cukup jelas bukan.


"Tapi Iva percaya mas ngak mungkin melakukan itu, jadi sekarang kita makan yuk mas Iva dah lapar," Ajak Iva lalu turun dari meja itu dan menggandeng Zefan keluar dari ruangan itu.


...\=\=\=\=\=...


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2