
Siang hari sesuai janji tadi malam sebelum jam makan siang dia sudah berada di depan Sekolah ternama di kota itu, dengan masih menggunakan pakaian formal lengkap dengan sepatu dan jas.
Dia baru sampai beberapa menit yang lalu, setelah tadi menyelesaikan cepat pekerjaan yang seharusnya selesai besok pagi, karena sebuah janji yang tidak mungkin dia ingkari maka tadi malam pekerjaan itu dikerjakan sebelum waktunya.
Bukan karena dia takut atau lain sebagainya hanya saja dia tidak mau mengajarkan pada anak kecil tentang ingkar janji yang bisa menyebabkan terbiasa hingga besar nanti.
"Seperti becanda dikit boleh kali ya," Melihat anak anak sudah mulai keluar kelas.
Di lihatnya ada sebuah pos satpam dekat gerbang, bersembunyi sebentar tidak salah kali ya.
Alhasil dia memilih menyembunyikan diri sebelum memberi kekutan pada orang yang sudah di tunggu.
Seorang anak kecil berlari kecil menuju gerbang Sekolah dengan tas ransel di punggung.
Semua orang tua hanya boleh masuk area Sekolah jika hanya mengantar pagi hari saja kalau siang tidak di benarkan dan akan ada satpam jaga yang siaga mencegah anak anak keluar gerbang sebelum di jemput.
"In daddy mana? katanya mau jemput Zio," Anak kecil itu Zio yang sedari masuk kelas sudah tidak sabar menunggu waktu pulang Sekolah.
"Apa daddy lupa? atau belum datang ya," Wajah Zio tampak murung karena orang yang dia harapkan belum menampakkan diri padahal sudah di tunggu tunggu.
"Pak, liat daddy Zio ngak?" Menghampiri pos satpam buat menanyakan Daddynya yang belum datang.
"Bukannya daddy Zio lagi keluar kota?" Tadi sebelum bersembunyi Zefan sudah menitipkan pesan agar tidak memberi tau akan kehadirannya pada Zio.
"Semalam daddy bilang akan jemput Zio," Di balik tembok itu Zefan tersenyum gemas melihat wajah cemberut Zio.
Ingin segera menghampiri dan mencubit pipi tembem itu.
"Duduk sini sambil menunggu jemputan," Menyuruh Zio duduk bersama.
"No, Zio disini aja. Nanti mozi akan jemput," Tolak Zio sudah tidak semangat lagi.
Lima menit kemudia Zio masih sendiri hingga tanpa Zio sadari seseorang berjalan mendekat ke arahnya dan menggendongnya.
"Merindukan daddy hm?" Menggendong Zio dari arah belakang hingga Zio kaget.
"Daddy," Pekik Zio kesenangan karena yang di tunggu datang juga.
"Kenapa daddy lama datang? Zio fikir daddy lupa jemput Zio?" Senyum menggemaskan itu terbit lagi di wajah mungil itu.
__ADS_1
Bagaimana bisa dia melupakan janji yang sudah di buat, merindukan Zio adalah hal terpenting dalam diri Zefan.
Mengenal Zio merupakan penyemangat Zefan dalam menjalani hari.
"Daddy's dari tadi datang, sekarang kita mau kemana?" Masih menggendong Zio dan berjalan ke arah mobil tapi sebelum itu.
"Pak makasih ya udah jagain Zio," Pamit Zefan pada satpam.
"Sama sama pak," Balas satpam tadi yang menyaksikan kedekatan mereka berdua.
Zefan membawa Zio masuk mobil dan melajukannya.
"Kita mau kemana?" Kini mobil itu sudah melaju.
"Ke tempat mozi aja daddy," Usul Zio mengajak Zefan bertemu Ziva.
"Siap bos," Zefan mengirimi Ziva chat buat menanyakan keberadaan dia sekarang.
"Sekarang kita ke tempat mozi ok, mozi ada di restaurant,"
"Daddy ngak bawa oleh oleh buat Zio?" Hey anak tampan apa sudah lupa obrolan semalam.
"Daddy," Rengek Zio karena Zefan tidak membawa oleh oleh buat dia," Begitulah anak kecil suka sekali merengek kalau keinginan tidak terpenuhi.
"Hy wajah tampan ini ngak cocok merengek seperti ini, ada tuh di belakang ambil lah," Tunjuk Zefan pada paper bag yang berada di jok belakang mereka.
Dengan cepat Zio mengambil dan membuka isi paper bag itu.
"Ini beneran daddy buat Zio?" Tidak menyangka hadiah Zefan sangat Zio suka.
"beneran dong tampan, kan anak daddy cuma Zio saja," Hadiah Zefan adalah mobilan remot keluaran terbaru dan sudah pasti setiap anak kecil akan suka.
"Yey makasih daddy," Sesenang itu mendapat hadiah dari Zefan.
Dulu saja jarang mau di belikan Ziva mainan kecuali Ziva sendiri yang inisiatif membelikan buat Zio agar di usia Zio mendapat pengalaman yang sama pada anak seusia Zio.
Setengah jam mereka sampai do sebuah restaurant dimana disana awal pertemuan Zefan dan Ziva bertemu.
"Sudah sampai yuk turun," Menggendong Zio lagi masuk restaurant itu dan duduk di kursi dekat jendela kaca.
__ADS_1
"Zio mau makan apa?" Sudah waktunya makan siang makanya Zefan menyetujui ajakan Zio datang kesana.
"Zio mau ayam bakar daddy, Zio minum jus strawberry aja," Jawab Zio karena sudah lapar juga.
"Siap, mbak," Panggil Zefan pada salah seorang pelayan.
"Mau pesan apa mas?" Pelayan itu datang menghampiri meja Zefan.
"Ayam bakar dua, nasi dua, just strawberry satu dan coffee latte satu sama air mineral ya," Zefan menyebutkan pesanan mereka.
"Baik mas tunggu sebentar ya," Pelayan itu hendak pergi.
"Ante tunggu, biar mozi yang antar ya," Pinta Zio yang mau Ziva yang mengantarkan pesanan mereka.
"Iya," Jawab pelayan itu singkat dan pergi.
Sepuluh menit pesanan mereka datang beserta orang yang di pesan tadi juga datang.
"Hey kamu siapa berani menyuruh mozi mengantarkan makanan ini," Gerutu Ziva pura pura marah sambil meletakkan makanan itu ke atas meja.
"Kami pelanggan," Jawab Zio cuek.
"Sini mozi kita makan bareng," lanjut Zio karena juga melihat makanan lebih yang berarti itu punya Ziva.
"Bentar mozi tarik ini dulu," Karena Ziva masih memakai celemek di badannya.
"No mozi, kita makan," Mau tidak mau Ziva ikuran duduk dengan masih memakai celemek itu.
"Ok buat anak tampan mozi apa sig yang ngak," Ziva ikut makan bersama tampak seperti keluarga kecil yang harmonis.
Saat mereka sudah selesai makan seseorang datang menghampiri meja tempat Zefan duduk.
"Jadi ini alasan kamu menolak perjodohan kita hanya demi seorang janda beranak satu ini,.
Hey kamu sebutkan berapa uang yang kamu butuhkan asal kamu pergi jauh dari hidup Zefan," Hardik dia di depan Ziva dengan wajah angkuh sambil menunjuk Ziva dengan tangan kirinya.
\=\=\=\=\=
Tbc.
__ADS_1