My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Terlalu kreatif.


__ADS_3

Tidak lama Lisa keluar kamar dengan sudah ganti baju lengkap dengan tas slempang kecil.


"Yuk bang," Menarik tangan bang Endra berjalan keluar.


"Abang kan belum setuju, kok main tarik aja?" Tapi manut juga nggak nolak.


"Eh tunggu tadi siapa yang nelpon? kenapa sampai marah marah?" Ingat saat baru datang melihat Lisa telponan sambil marah.


"Nggak siapa siapa bang," Tidak merasa penting saja membahas itu lagian juga orang tak berguna, fikir Lisa.


"Jangan mulai bohong sama abang say, abang nggak suka siapa yang ngajarin bohong hm?," Mengelus kepala Lisa lembut, dia juga sadar kehancuran Lisa di masa lalu ada perannya di dalam.


"Lisa nggak bohong bang, lagian itu nggak penting.


Yuk jalan," Menarik lagi tidak mau membahas hal tidak penting.


"Nggak mau, cerita dulu baru kita pergi.


Abang dengar ya tadi kamu bilang apa di telpon.


Dengerin abang baik baik ya, apa pun kejadian yang kamu alami cerita sama abang.


Abang nggak suka orang yang abang sayang di sama orang lain.


Kamu aja sangat abang sayangi maka orang lain nggak punya hak menyakiti mu say.


Apa pun kata mereka abaikan yang terpenting dengarkan apa kata hati.


Jangan jadi kan ucapan orang kita jadi terpuruk justru kita lakukan sebaliknya jadikan motivasi agar orang itu bosan sendiri menjatuhkan kita,"


"Yuk pergi," Gantian yang menggandeng.


Kenapa hari ini bang Endra manis banget bicaranya kan jadi meleleh.


Makin cintah deh sama abang.


Eh kenapa panggil abang terus kayak abang tukang ojek, bodo ah.


Membuka kan pintu bua Lisa lalu masuk juga duduk di belakang kemudi.


Dan mobil melaju meninggalkan rumah besar itu.


(Disini sengaja belum cerita kan tentang orang tua Lisa, tapi nanti ya).


"Kita mau kemana bang?" Mobil sudah melaju setengah jam yang lalu tapi belum ada tanda tanda mau berhenti.


"Kejutan buat yang lagi ngambek kemarin," Ngambek juga karena siapa.


Hingga mobil itu berhenti pada sebuah salon terkenal di kota itu.

__ADS_1


"Kita ngapain disini bang?" Heran Lisa tidak ada ngajak kesana, jadi ngapain kesana.


"Beli cabe, ya nyalon lah.


Yuk turun," Menggandeng Lisa ke dalam hingga bertemu seseorang yang bisa di bilang kelakuan setengah wanita.


"Rubah dia jadi lebih cantik dari biasanya," Pinta bang Endra pada orang itu.


"Lisa bukan binatang ya bang kok di panggil rubah.


Becanda juga ada batasan," Masa dia di panggil rubah, udah cantik gini.


"Sorry, maksudnya dandani, gitu aja Ngambek.


Abang tunggu di sana," Menunjuk ruang tamu sebelah ruangan itu hanya berbatas dinding kaca.


"Abang kalau bicara kayak orang nggak pernah Sekolah aja," Jadi pengen cium tuh bibir yang asal bicara.


"Abang emang nggak Sekolah lagi tapi anak anak kita nanti," Berjalan ke arah sofa ruangan itu lalu memainkan hp.


Bang Endra dengan santai main hp sambil sesekali melirik Lisa yang lagi di dandani seperti permintaan dia tadi.


Sedangkan di tempat Lisa.


"Udah lama ya sis kenal sama pacar eke?" Tanya lelaki setengah pria itu.


"Lama juga ye, sebenarnya nye kan eke suka sama die tapi ya gitu dienya nggak suka eke," Memberengut saat mengatakan cinta bertepuk sebelah tangan.


Mikir napa, mana mau bang Endra mang nya mau main pedang pedangan.


(maafin author yaπŸ™πŸ™al nya aku nggak tau kegiatan orang ke salon apa aja, sejak aku lahir nggak ada tuh yang ke salon mau keramas, smooting, rebonding, potong rambut dan saudaranya itu makanya nggak tau).


Bang Endra masih waras kali, kalau kepala nya kepentok sekali pun masih bisa membedakan mana pisang mana semangka.


Lisa hanya bisa membatin mendengar ucapan yang sebenarnya dia malas sekali berada di sana dan ingin segera pergi.


"Ye kapan nikah sama dia?" Kepo amat hidup lo, nggak ingat apa kata sekretaris Han bilang banyak tau hanya akan memperpendek umur.


Tuh kan jadi kangen sama kisah sekretaris Han sama Aran miss you😘.


"Tiga hari lagi," Reflek Lisa lalu munutup mulut yang asal bicara.


Apanya yang tiga hari, di lamar aja belum gimana mau nikah.


Di gantung terus, rasanya juga mau gantung diri di pohon cabe saking keselnya.


"Semoga lancar ya," Iya doain aja tapi gue juga tidak tau kapan itu, asal bicara aja.


Syukur syukur di nikahin lah kalau tidak gimana, ya gigit jari.

__ADS_1


Lancar di gantung mah iya.


Satu jam semua selesai Lisa juga sudah ganti kostum dengan dandanan yang sederhana.


"Bang!" Lisa bersuara pelan merasa tidak nyaman sama penampilan sekarang.


Tidak tau mau di ajak kemana tapi malah di suruh dandan yang cantik walau kenyataan tanpa dandan sudah nampak cantik dan itu fiks tidak bisa di pungkiri atau no debat.


"Cantik," Puji bang Endra yang terpesona sama aura yang terpancar dari dalam diri Lisa.


"Dari lahir bang kalau lupa," Udah cantik, di puji romantis eh malah di becandain, ya meski tidak bisa di bohongi juga.


"Dan akan tampak lebih cantik kalau bergandengan sama abang, ayo," Membentuk siku agar Lisa leluasa memegang tangan sambil berpegangan seperti jalan di red karpet.


Membawa Lisa menuju mobil lagi.


"Sekarang kita mau kemana bang?" Mobil sudah melaju lagi meninggalkan salon.


"Masih ada beberapa tempat yang harus kita datangi," Tidak mau mengasih tau akan kemana.


Namanya juga rahasia, bukannya rahasia akan tetap jadi rahasia selama tidak di bagi sama orang lain begitu juga kejutan akan jadi kejutan selama tidak di kasih tau.


"Terserah abang aja, yang penting jangan di jual aja belum nikah soalnya," Menyandarkan badan sambil melihat ke luar jendela.


Mobil itu berhenti pada sebuah restoran mewah dan menuntun Lisa masuk ke sana.


"Sekarang ngapain kesini bang? ngajak jual aku kan?" Fikiran kotor itu bisa di hilangkan dulu.


"Abang nggak semiskin itu sampai harus jual kekasih sendiri," Membawa Lisa pada ruangan private yang sudah di pesan sebelum nya.


"Ya kali aja kan bang, siapa tau perusahaan abang lagi ada masalah terus jual kekasih sendiri buat menarik rekan bisnis kayak di novel novel itu," Hanya mengikuti masuk ruangan itu.


"Supaya tidak berfikir gitu makanya berhenti baca novel," Kini mereka sudah duduk di sofa ruangan itu.


"Tunggu sebentar disini abang mau keluar sebentar," Mengusap tangan Lisa sebelum meninggalkan Lisa sendiri dalam ruangan cukup besar jika buat satu orang.


"Ini maksudnya apa? nggak lagi merencanakan niat jahatkan? nggak lagi jemput orang yang mau beli gue? nggak beneran mau nukar gue sama bisnisnya kan?.


Kalau perusahaan dia masalah kan bisa minta bantuan sama Zefan," Fikiran Lisa sudah kemana mana.


Takut sama apa yang dia fikirkan itu kejadian dan bagaimana nasib dia dan bagaimana dengan Zio kan mereka baru dekat masa mau di pisahkan lagi.


"Atau jangan jangan bang Endra mau ngenalin aku sama calon istri dia.


Kalau beneran itu, awas aja pohon mangga di rumah masih kuat buat ngegantung dia," Sudah suka suka kamu Lisa berfikir apa?.


\=\=\=\=\=


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2