
Sepasang paruh baya sedang duduk di kursi santai yang tersedia di halaman belakang rumah besar itu.
Keduanya lagi menikmati suasana sore yang cukup cerah dengan langit biru menjelang malam.
Ditemani dengan secangkir teh dan kue bolu yang sama sama masih mengeluarkan sedikit asap menandakan kalau sudah pas buat di makan.
"Pa, aku kasihan sama Iva kita harus membesarkan Zio seorang diri sampai sekarang," Ya mereka adalah kedua orang tua Ziva yang asik menikmati masa tua dengan bersantai dan menghabiskan waktu bersama.
Segala semua usaha yang di miliki sudah di berikan pada anaknya dan di kelola dengan baik.
"Papa juga pernah berfikir untuk mencari dimana keberadaan Ayah kandung Zio, tapi mama tau kan kalau Iva ngak mau kita melakukan itu.
Iva juga pernah berkata jangan pernah mencari tau tentang Ayah Zio sebab dia yang memilih pergi dulu dan maka biarkan dia juga kembali dengan sendiri.
Jangan dengan kita mencari keberadaan dia maka dia keras kepala karena merasa kita butuh dia demi Zio, maka biarkanlah seperti ini selama anak dan cucu kita bahagia,"
Diamnya mereka bukan tidak mencari tau tentang semua itu, namun hanya mencari secara perlahan tanpa di curigai termasuk Ziva.
Ziva merasa selama ini dia bisa membesarkan Zio seorang diri tanpa perlu sosok laki laki brengsek itu di sisinya dan bisa memenuhi semua kebutuhan mereka berdua.
"Tapi pa, aku kasihan sama Iva kita sampai kapan dia terus sendiri seperti ini? apa dia ngak mau mencari pendamping hidup dan sosok Ayah buat Zio," Untuk perempuan seumuran Ziva sudah pantas memiliki seorang pendamping yang bisa menjaga dan melindungi dia, namun yang jadi masalah sekarang siapa? yang akan mau menerima dia yang sudah punya anak.
Sangat sulit di temukan pada zaman sekarang dengan keadaan Ziva sekarang.
Semua orang tua ingin yang terbaik bagi anaknya dan punya pendamping yang mau menerima apa adanya.
__ADS_1
Kalau dia masih sendiri maka mereka tidak perlu memikirkan semua ini namun keadaan itu berbeda.
Kalau ada pun yang mau maka dengan status mereka yang sama atau orang yang terdesak buat mencari calon menantu bisa juga karena untuk menghindari masalah lain.
"Mama ngak perlu risau memikirkan Iva kita, dia pasti akan menemukan pasangan yang mau menerima Iva dan Zio, kita doakan saja semoga jodoh Iva segera datang," Mereka tidak hanya punya Ziva saja, ada dua anak laki laki satu abang dan satu lagi adik Ziva yang masih kuliah.
Abang Ziva yang laki laki memilih menjadi abdi Negara dan lagi bertugas jauh dari keluarga.
Abang Ziva sudah punya keluarga kecil sendiri dan memiliki dua anak kecil yang masih berusia lima dan tiga tahun.
Abang Ziva benama Jidan Pratama Asyakila dan adik Ziva bernama Kemal Permana Asyakila.
Ketiga anak mereka memiliki nama ujung yang sama yaitu Asyakila karena di ambil dari nama keduanya A untuk anak Syakil nama papa mereka Ila atau Lila nama mama mereka.
"Mama juga kangen sama si bungsu mama pa, kenapa juga memilih kuliah di luar? dan meninggalkan kita berdua saja di rumah," Anak pertama yang jauh di sana menjalani tugas Negara, Ziva yang memilih tinggal sendiri dan anak bungsu yang tertarik kuliah di Negara orang.
"Papa genit udah tua, kalau mau sendiri aja sana," Beranjak meninggalkan suaminya yang sudah mulai memikirkan yang iya iya.
"Mama bisa ma kalau sendiri," Mengejar sang istri yang belum terlihat tua walau sudah punya cucu.
\=\=
Sejak pulang dari rumah Ziva, seorang pria tampan duduk melamun di balkon kamarnya.
Sesekali dia menghela nafas berat jika mengingat apa yang dia dengar di rumah Ziva.
__ADS_1
Yang mendengar percakapan Ziva di telpon itu adalah Zefan, niat hati ingin menyamperin Ziva yang lagi memasak malah mendengar sesuatu yang membuat dadanya bergemuruh.
"Apa keputusan ku sudah tepat?" Masih larut dalam lamunan.
Apa yang dia dengar tidak juga meminta penjelasan sama Ziva dan memendam sendiri.
Kalau iya itu kenyataan tapi kalau tidak dia bisa malu sendiri.
"Apa Ziva sudah punya pilihan sendiri makanya tadi berusaha menolak ku tadi dan apa aku sudah memaksa dia buat mengasih aku kesempatan," Baru kali ini Zefan harus mengalami hal ini.
Menyukai seseorang namun di saat yang bersamaan harus mengalami kegundahan.
Apa dia harus bertanya langsung supaya semuanya jelas tapi kalau dia bertanya akan kasih penjelasan apa nanti tidak mungkin dia bilang kalau mendengar percakapan Ziva di telpon, bisa bisa di sangka nguping lagi.
"Kamu membuat aku suka dan gundah Iva, tapi aku ngak mau menyerah gitu aja sebelum janur kuning melengkung," Ya itu pilihan yang tepat jangan menyerah di awal berjuang.
Melepaskan jika itu sudah jelas kalau tidak ada lagi kesempatan buat Zefan, namun kalau masih ada celah kenapa tidak memanfaatkan kesempatan yang ada.
"Apa yang sudah ada di depan mata jangan pernah di lepaskan kecuali ada yang lebih baik dari aku dan dia memilih itu maka baru aku ngak bisa berbuat lebih lagi," Ini lebih baik dari pada gugur sebelum berperang kan tidak lucu apa lagi dia sebagai seorang pemimpin di sebuah perusahaan yang besar walau hanya no dua karena yang pertama adalah K'SYA group dengan pemimpin misterius hingga sekarang.
Fan bisa kita bertemu hari ini??
Isi pesan yang Zefan terima di tengah lamunannya dan di sadarkan sama bunyi notif hp yang terletak di atas meja.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Tbc.