
Ada kebahagian tersendiri bagi diri kita saat memilih gaun Penganti buat diri sendiri.
Hari dimana ini yang kita nanti dari sekian banyak hari dalam hidup di luar hari spesial lain seperti ulang tahun, hari kelulusan, hari ibu atau sebagai nya.
Hari yang mendebarkan dan juga haru dimana setelah itu kita akan merasa bahagia sesungguhnya sebab akan bersanding sama orang yang kita cintai.
Sesuai janji kemarin maka hari ini Iva akan melakukan fitting gaun pengantin di butik langganan mama Ila yang sudah jadi langganan sejak dulu bahkan sejak awal menikah dengan papa Syakil.
"Va jadi pergi hari ini? gue ikut ya?" kini Lisa sudah balik mengantar Zio Sekolah dan balik rumah.
Kedua perempuan cantik itu lagi bersantai di ruang keluarga sambil menunggu jemputan masing masing.
Lisa yang menjalani LDR kini sudah bisa bertemu lagi setelah tiga hari di pisahkan.
"Jadi lah Sa kan waktu makin mepet kalau di tunda dan ini udah tinggal dua puluh hari lagi," tutur Iva yang lagi mengotak atik ponsel canggih itu.
Entah apa yang Iva lakukan pada ponsel itu tapi yang jelas dia begitu sibuk dan saat menjawab pertanyaan Lisa tanpa melihat.
Iva sampai sekarang sudah jarang bepergian jauh yang bahkan sampai luar Negeri mungkin orang orang dia bisa di andalkan.
"Gue ikut ya? mau liat liat siapa tau ada yang cocok," Lisa juga tidak lagi bekerja di kantor sebab bang Endra dengan seenaknya mengirim surat pengunduran diri Lisa saat dirinya belum genap bekerja satu bulan.
Keterlaluan memang tapi juga sayang jadi Lisa biarkan saja asal dapat gaji meski jadi pengangguran begitu kata Lisa dan kala itu juga bang Endra mengasih Lisa satu ATM dengan alasan ganti rugi ck ganti rugi apa emang ada yang di rugikan apa.
"Ikut buat apa, nikah juga belum tau kapan sama siapa juga," Ledek Iva dengan tertawa pelan, senang saja melihat wajah kesal itu.
Iya juga kata Iva, dia belum tau mau nikah kapan jadi buat apa milih baju pengantin segala yang ada nyesek sebab belum ada kepastian.
"Enak aja nikah sama bang Endra lah, emang sama siapa lagi coba, sembarangan kalau ngomong," Belum tau kapan belum tentu juga tidak nikah kan, siapa tau besok langsung di ajak siapa yang tidak akan senang coba.
Dan kalau itu beneran terjadi maka Iva harus siap siap di tertawakan Lisa sebab duluan curi star.
"Emang bang Endra udah ngajak? siapa tau dia hanya main main atau bisa aja dia juga punya satu di sana, hayo gimana?" Ish jadi sahabat kok ngeselin gitu sih, bukannya ngasih semangat ini malah ngejatohin jahat amat Va.
"Liat aja nanti, kita bakal nyusul secepatnya," Percaya diri Lisa bahwa bang Endra akan segera menikahi dirinya.
"Iya iya percaya aja dulu biar seneng," mereka berdua jalan keluar mendengar suara mobil mendekat dan terlihat dua orang saudara itu keluar dari mobil masing masing dengan gaya cool.
"Bang Lisa nanya kapan abang nikahin dia?" Sumpah demi apa Lisa tidak ada bicara itu tadi, hanya bilang akan secepatnya nyusul.
Iva kok kamu bikin malu gini, hey seharusnya sebagai sahabat mendukung Va bukan nyemplungin ke empang.
__ADS_1
"Ngak siapa juga yang bilang gitu, jangan ngarang Va," Elak Lisa yang wajah sudah memerah menahan malu plus amarah.
"Nanti ya setelah mereka, sabar sayang," Mengusap kepala Lisa lembut lalu membukakan pintu mobil.
Siapa yang tidak bahagia coba, sebuah hubungan pasti menginginkan kejelasan antara butuh keseriusan atau udahan biar tidak terkesan di gantung, kan sakitnya tak berdarah.
Mobil mereka beriringan menuju butik, mereka sudah buat janji sama punya butik kalau mereka akan datang lebih pagi agar siang bisa mengurus yang lain juga.
Dalam butik sudah ada baju pesanan mama Ila buat Iva yang di rancang khusus di hari pernikahan nanti.
Iva mencoba baju itu satu persatu, di sana sudah ada tiga baju buat di coba.
Baju pertama buat ijab qabul, baju kedua pas pasta dan ketiga buat acara terakhir yaitu khusus tamu penting seperti petinggi perusahan.
Sengaja di buat terpisah acara nya agar tidak terlalu berdesakan selama acara.
"Gimana mas, jasnya udah pas kan?" Iva selesai duluan mencoba baju nya dan tidak banyak yang perlu di perbaiki.
"Udah Zi, ini pas semua," Ya lelaki baju nya emang lebih simple jadi jarang yang ada perbaikan.
Sedangkan dua orang itu hanya memilih baju buat acara pasangan calon pengantin itu.
Tidak perlu pesan dulu hanya membeli gaun model keluaran terbaru butik itu saja udah cukup.
\=\=
Pasangan Vani dan Renzi juga kian hari makin romantis dengan setiap perlakuan Renzi yang selalu membuat Vani bahagia.
Ada saja hal kecil atau besar yang Renzi lakukan agar bisa Vani tersenyum bahagia.
Pagi sekali saat Vani lagi memasak sarapan tiba tiba Renzi datang dan langsung menyeret Vani menuju kursi lalu mendudukkannya disana.
"Udah berapa kali aku bilang jangan pernah sesekali kamu memasak atau dapur ini aku tutup atau perlu aku pasang pengeras suara di rumah ini agar kamu ngak lupa," Omel Renzi yang sudah ke berapa kali dia melarang Vani melakukan kegiatan memasak walau hanya buat teh.
Berlebihan memang tapi bagi Renzi tidak, bagi dia apa pun yang di lakukan Vani selama berada di dapur adalah sebuah larangan yang harus di indahkan.
"Cuma masak sarapan Ren, jangan berlebihan deh,'' Gerutu Vani yang apa apa selalu di larang melakukan aktifitas dapur.
" Kamu itu calon istri aku bukan calon pembantu, ingat dan catat di otak cantik ini," Menunjuk kepala Vani menggunakan telunjuk agar selalu ingat apa yang tiap kali dia bilang.
"Buat apa orang buat yayasan khusus pembantu kalau masih kita yang lakukan semua.
__ADS_1
Kalau kita bisa semua jadi mereka akan bekerja apa?" Bijak sekali kalau bicara.
Tapi iya juga yayasan itu ada agar tenaga didik mereka punya pekerjaan dan kalau kita bisa mengerjakan semua mereka akan jadi pengangguran dong.
Saya setuju sama pendapat Renzi.
"Cuma masak sarapan ngak akan membuat mereka jadi pengangguran Ren, kecuali sampai semua urusan rumah di kerjakan," Sanggah Vani yang tidak terima walau dalam hati mengiyakan sebagian ucapan Renzi.
Kalau masak sebenarnya tidak masalah, sebab keluarga lebih baik makan masakan kita sendiri dan kalau pekerjaan rumah yang lain tidak apa di limpahkan pada pembantu.
"Aku ngak mau ya Ren kamu makan masakan orang lain, aku ngak sudi," Melipat tangan dada sambil membuang muka tanda menolak.
Vani sejak dulu bisa masak hanya saja jarang, selama tinggal bersama orang tua nya sudah ada pembantu yang mengerjakan semuanya.
"Kalau khusus sarapan biar aku yang buat kecuali aku ada meeting penting pagi, selain itu baru kamu boleh memasak," Bilang yang jelas dari tadi jangan berbelit belit gitu bicara.
Saat mereka berdebat hal yang tak penting makhluk kecil rumah itu menghampiri.
"Mom dad kenapa ribut, apa ada pembagian sembako gratis," Vino datang dengan mengusap mata menandakan kalau dia baru bangun dan belum mandi atau mencuci muka.
"Jangan ngasal ya Vin, orang kaya mana ada di kasih sembako gratis mereka juga mikir kali.
Buat apa di kasih kalau kita bisa beli tuh warung sembako," Ck jiwa sombong nya keluar.
Iya mah tau orang kaya apa saja bisa di beli tanpa fikir panjang.
"Kalau daddy beli nanti orang jualan apa lagi," Ya Vani akan memanggil Renzi daddy di depan Vino.
"Kan tinggal beli lagi," Tidak semudah itu juga dad.
Beli lagi kalua kemahalan yang punya menjual juga tidak kebeli.
"Mom lapar," Perdebatan itu di hentikan dengan suara Vino yang meminta makan.
Seperti orang susah saja masa minta makan.
Tapi wajar juga, orang tua Vino bukannya masak malah ngajak debat dulu.
"Bentar ya daddy masakin dulu dan mom jangan beranjak kalau ngak mau dapat hukuman," Masih sempat juga melayangkan ancaman sebelum memasak buat mereka bertiga.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Tbc.