My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Pagi Yang Hangat.


__ADS_3

Pagi hari mentari bersinar begitu terik menyinari bumi, kicauan burung mengiringi datangnya pagi.


Sejak subuh tadi perempuan cantik itu sudah mulai melakukan kegiatan yang semua orang tidak tau di sebuah ruangan rahasia di rumah itu.


"Hallo," Dia menghubungi seseorang yang jauh di sana.


....


"Cari tau siapa pemilik nomor itu, sudah saya email.


Saya tunggu secepatnya hasilnya," Mematikan sambungan telpon itu lalu mengerjakan sesuatu yang sempat tertunda beberapa hari ini hingga selesai.


"Siapa orang itu sebenarnya? apa tujuannya mengirim pesan itu? jika orang jahat bagaimana atau bisa saja dia kelumpuhkan keamanan yang ada," Kegusaran tidak bisa dia hindari.


Bagaimana juga dia tidak tau siapa dalang di balik semua ini, bisa saja orang orang yang tidak menyukai dia namun masih bersikap baik di depannya.


Sekarang orang bermuka dia sudah banyak bertebaran dimana mana dan kadang sulit di bedakan antara modus dan tulus.


Selamat pagi sayang.


Nomor yang sama mengirimi chat lagi, hah tugas yang di berikan belum menemukan hasil namun orang itu sudah mengirimi chat lagi.


Kamu ngak perlu mencari tau siapa aku, karena saat itu tiba maka kamu akan tau sendiri tanpa harus repot mencari tau.


"Bagaimana bisa dia tau kalau aku mencari tau tentang dia? apa dia ada di sekitar sini?" Mengedarkan pandangan sekitar ruangan itu, merasa merinding sama isi chat itu.


Jika begini ingin rasanya dia menyeret orang itu sekarang juga, meneror orang tanpa mau menunjukan diri itu sama saja dengan pengecut.


Mencoba menghubungi nomor itu namun tidak bisa karena berada di luar jangkauan.


Kenapa cuma dia yang bisa menghubungi tapi di hubungi balik tidak bisa.


"Apa mau dia ini, ingin main main? tapi kamu salah mencari lawan.


Kita liat siapa yang paling hebat," Menyeringai mengeluarkan ekpresi yang orang lain tidak pernah melihatnya.

__ADS_1


Aku suka senyum mu itu, bye nanti kita pasti bertemu.


Lagi dia menghubungi nomor itu namun tetap tidak bisa di hubungi.


"Mau main main rupanya, ayo kamu jual saya borong," Keluar dari ruangan itu menuju kamar yang terletak di sebelah kamar tidurnya.


"Hy tampan bangun ayo siap siap Sekolah, kalau telat bangun nanti mozi bilang sama daddy ngak usah jemput Zio," Mengusap pelan kepala bocah itu agar segera meninggalkan alam mimpi yang indah itu.


Tapi tunggu beneran indah? kalau buruk gimana? kan semua mimpi tidak selalu indah.


"Ah mozi jangan bilang daddy, ini Zio sudah bangun," Duduk dari tidurnya.


Baru bilang daddy saja langsung bangun, hy tampan yang orang tua mu itu aku bukan dia yang hanya orang baru.


Kenapa lebih dekat sama dia sekarang?.


Membantu Zio memakai baju setelah mandi dan memasukkan peralatan Sekolah ke dalam tas yang sudah di siapkan tadi malam dan turun ke bawah buat sarapan.


"Pagi mbak Rara? pagi bik," Sapa mereka berdua serempak.


"Mbak Rara nanti kuliahkan?" Seperti biasa kalau Rara kuliah maka sudah ada yang menggantikan dia buat menunggu Zio pulang Sekolah.


"Iya mbak Iva seperti biasa jadwal Rara masuk kuliah," Mereka sarapan bersama kecuali penjaga depan yang sarapannya di antar dulu supaya tidak telat makan.


"Nanti ngak usah di tunggu ya, siangnya Zio udah ada yang jemput," Sedikit sih dengan kedekatan Zio dan Zefan maka pekerjaan mereka sedikit ringan karena keseringan Zefan yang menjemput Zio pulang Sekolah kalau lagi tidak sibuk.


"Iya mbak Rara, nanti Zio di jemput daddy.


Kan daddy udah pulang," Segitu senangnya di jemput sama daddynya dan jarang meminta Ziva yang menjemput pulang Sekolah.


"Wah berarti ada yang mau melepas rindu sama daddy ya?" Walau di rumah itu tidka ada satu orang pun yang tau siapa daddy Zio, hanya orang terdekat saja yang tau seperti orang tua Ziva, abang dan adik Ziva.


"Iya dong mbak, Zio kan udah kangen sama daddy,"


"Udah sekarang kita sarapan dulu, ntar Zio kesiangan Sekolah," Memulai sarapan dari pada melanjutkan obrolan yang tiada akhir itu.

__ADS_1


Suasana sarapan selalu tenang hanya dentingan sendok dan garpu yang berperang di atas piring.


Selesai sarapan mereka bersiap buat berangkat menggunakan satu mobil karena arah mereka sama.


"Bik kita pergi dulu, jaga rumah ya kalau ada yang minta kasih aja dan suruh segera pindahkan," Canda Ziva sebelum masuk mobil.


"Mana bisa non mindahin rumah sebesar ini, non ada ada aja," Ada saja gurauan pagi ini, sehebat apa pun orang mana bisa mindahin rumah.


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam,"


Mobil yang mereka tumpangi melaju meninggalkan rumah besar itu, mereka berangkat menggunakan supir yang memang sering mereka gunakan walau bisa menyetir.


"Mbak Rara duluan ya, dadah Zio tampan jangan rindukan mbak ya," Pamit Rara sebelum keluar mobil karena kampus Rara yang mereka lewati terlebih dulu.


"Ngak bakal mbak Rara, Zio kan cuma kangen daddy," Balas Zio cuek.


"Kasihan kamu mbak padahal ngarep tapi nyatanya nyungsep, yang rajin mbak kuliahnya, bye mbak Rara,"


Mobil melaju menuju Sekolah Zio yang tidak terlalu jauh dari kampus Rara tadi hanya membutuhkan waktu lima menit akan sampai.


"Yang rajin tampannya mozi Sekolah, nanti mozi jemput lagi," Goda Ziva sebelum Zio masuk kelas.


"No mozi nanti Zio di jemput daddy," Tolak Zio.


"Jangan rinduin mozi ya," Zio mengalami Ziva sebelum masuk kelas.


"Dalam mimpi mozi aja," Membalas candaan Ziva balik.


"Anak siapa sih ini?" Mengusap kepala Zio gemas.


"Anak daddy, bye mozi jangan rindukan Zio," berlari masuk dan duduk di kursi biasa Zio duduk.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2