
Hari yang di tunggu tinggal hitungan jam saja maka sepasang kekasih naik pangkat jadi tunangan dan besok naik derajat menjadi istri.
Tolong disini siapa yang tidak bahagia coba? siapa yang tidak senang, tolong bilang sekarang.
Dada yang berdebar tidak bisa di hentikan gitu saja, hati yang berbunga tidak bisa di pungkiri lagi.
Senyum yang terbit tanpa di minta.
Namun gelisah juga ikut melanda, apa besok akan berjalan sesuai rencana dan mudahan saja lancar.
Calon pengantin itu sudah tidak sabar menunggu hari esok yang bisa saja lebih mendebarkan dari ini.
Debaran jantung yang lebih kencang dari biasa.
"Deg deg an nggak kak?" Kini mereka berkumpul di kamar Iva yang sudah selesai di hias khas pengantin baru.
"Lebih dari sekedar deg deg an mbak, kalau pakai alat pendeteksi bisa jebol kali ya," Lebay banget sih kalau menjabarkan gini.
Kan Rara makin penasaran.
"Kak Iva ada ada aja mah, mana ada seperti itu," Rara juga makin penasaran di buat nya masa iya seperti itu sih, fikirnya.
"Mbak mah mana tau kalau belum merasakan, nanti pas nikah sama dosen kesayangannya juga akan merasakan, sabar ya," Sabar apanya, bahkan Rara sampai bingung mau jawab apa kalau mama Satyia sudah bertanya kapan mereka menikah.
Mau bilang siap takut mengecewakan, mau bilang belum ada fikiran kesana juga tidak tega.
Maka pilihannya di serahkan pada Satyia yang menjawab.
"Rara masih lama kali kak nikahnya, kuliah juga belum kelar juga Rara mau kerja dulu," Hubungan mereka juga belum lama terjalin masih butuh waktu buat lebih mengenal satu sama lain.
Rara tidak mau ambil keputusan besar dengan cepat, dia masih muda, masa depan masih panjang dan kalau mereka jodoh juga akan bersatu.
"Jangan lama lama di gantung dosennya, dia makin hari makin berumur sudah pantas buat membina rumah tangga dan juga kalau ngak serius bilang dari sekarang biar dia bisa ambil tindakan," Nasehat Iva tidak mau Rara hanya main main saja kasian anak orang, dia sudah matang dari segi usia juga materi.
__ADS_1
Rara terdiam mendengar ucapan Iva, tapi dia juga belum mau menikah cepat tapi buat melepas Satyia pada orang lain dia juga tidak rela, kenapa terdengar egois ya.
Kalau belum serius kan alangkah baiknya jujur dari awal agar dia tidak berharap lebih juga.
"Jangan terlalu di fikirkan, bicarakan ini baik baik dan minta waktu kapan mbak siap.
Kakak percaya dia akan mengerti juga dan ingat jangan pernah main main sama perasaan orang sebab karma di bayar tunai bukan kredit,"
Setelah bicara banyak sama Iva Rara pamit istirahat ke kamarnya.
Benar apa yang di katakan Iva, dia perlu bicara dari hati ke hati sama Satyia dan minta waktu kapan dia siap melepas masa gadis dan hidup bersama.
Zaman sekarang kalau hanya untuk mencari sekedar kekasih sangat gampang di temukan yang sulit itu mencari serius dan mau di ajak hidup bersama.
Iva berbaring di ranjang dengan fikiran jauh menerawang.
"Besok Iva udah ngak sendiri lagi, udah ada sosok suami yang menemani.
Mudahan Iva bisa menjadi istri yang baik juga menantu yang baik buat mertua.
Butuh kesiapan lahir batin serta siap menerima segala kemungkinan yang terjadi ke depannya.
Semua yang kita lalui tidak selamanya lancar dan tidak selamanya juga ada rintangan tergantung pada kita saja bagaimana melewati.
\=\=
Dua hari yang lalu semua anggota keluarga papa Syakil sudah pada datang dan berkumpul sebab mereka semua kebanyakan dari luar kota maka datang lebih cepat.
Disebuah kamar yang tertata rapi segala jenis pakaian mulai baju pengantin hingga baju seragam keluarga terpajang rapi di sana lengkap semua dari jumlah anggota keluarga.
Seseorang masuk ke dalam sana dengan membawa sesuatu di tangan nya sebuah botol kecil yang di genggam.
" Selamat bahagia dan itu sampai kapan ngak pernah terjadi.
__ADS_1
Apa yang jadi milikku maka selamanya akan seperti itu.
Hhmm baju ini kurang hiasan ya, gimana kalau di kasih sedikit sentuhan gratis pasti bagus," Menaburkan isi botol itu pada gaun nan indah itu.
Mulai dari atas sampai bawah di taburi secara acak hingga persis seperti lukisan abstrak.
Belum puas juga lalu di mengeluarkan gunting kecil dari dalam saku lalu menggunting bagian depan hingga terbuka lebar.
Sebelum dia masuk tadi sudah memastikan kalau tidak ada orang sekitar kamar itu atau yang melihat dia masuk ke sana.
Tidak sulit buat masuk sebab ruangan itu berada terletak paling pojok.
"Seperti ini baru bagus kan, hah ngak sia sia dulu kuliah bagian desain dan sekarang bisa di praktekkan.
Ini kado dari ku semoga kamu suka ya," Memandang gaun itu penuh kemenangan dan membayangkan esok hari yang kacau.
Seperti apa ya wajah mereka dan tau kejutan ini.
Mau cari pengganti kemana kalau waktu sudah tidak banyak.
Masa mau mulai acara pakai gaun biasa, apa kata orang.
Keluar dari ruangan itu secara diam diam lalu membuka pintu perlahan memastikan tidak ada orang.
Saat di rasa aman maka dia berjalan pelan supaya tidak mengeluarkan suara saat melangkah.
Baru beberapa langkah dia berjalan ada sepasang tangan menyumpal mulut dan hidung tidak lama kemudian dia tidak sadarkan diri.
Orang itu membawa dia menuju pintu rahasia yang terletak dekat kamar itu lalu masuk.
"Kamu pintar tapi kamu lupa siapa lawan kamu sebenarnya.
Selamat menikmati tidur nyenyak mu disini," Orang itu membaringkan dia di lantai beralaskan karpet setelah itu keluar dari sana.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Tbc.