
Perdebatan itu masih berlangsung dan kini kian memanas, saat dimana status di pertanyakan.
Apa sebuah status akan mampu membuat seseorang bahagia atau sebuah status sudah bisa menjamin akan kebahagiaan seseorang.
Semua jawaban pasti tidak sebab status bukan jaminan seseorang akan bahagia melainkan kenyamanan hati, ketenangan jiwa, saling suka.
Status hanya sebuah kata bukan jaminan atau hal yang membuat orang malu tau mempertimbangkan sesuatu.
Status itu bukan kemauan sendiri melainkan status itu ada tanpa bisa di hindari.
"Tidak ada yang salah sama status dia ma, bail janda atau gadis itu bukan sebuah jaminan.
Apa mama bisa menjamin kebahagiaan aku kalau aku menerima perjodohan ini?, apa bisa mama menjamin kalau hubungan kami kedepannya akan baik baik saja tanpa ada rasa timbal balik?, apa mama sudah yakin kalau pilihan mama adalah yang terbaik?, apa mama sudah menyelidiki semua ini sebelum memutuskan buat menjodohkan kami?, apa mama sudah yakin kalau dengan adanya perjodohan ini semua orang bisa menerima atau tidak akan ada yang tersakiti nanti?"
Sebagai anak dia tidak mau bicara seperti itu, hanya saja prilaku sang mama sudah kelewat batas sampai harus mengatur kehidupan dia segala.
Segalanya boleh di atur kecuali masalah pendamping hidup yang tidak bisa asal pilih atau melihat baik dari luar saja tanpa mengenal lebih dalam lagi.
"Jaga ucapan mu Fan, apa yang menjadi pilihan mama sudah pasti baik, mama ngak pernah salah pilih.
Vani anak teman mama sudah pasti mama kenal baik sama dia dan keluarganya.
Rasa itu akan timbul jika kalian sudah bersama dan juga disini ngak ada yang tersakiti," Jelas mamanya panjang lebar tapi masih panjangan ucapan Zefan tadi.
Kalau sudah kenal pasti tau mana yang modus dan mana yang tulus, jangan liat orang dari sampulnya dan bisa menyimpulkan bahwa apa yang tampak luar akan sama dengan yang di dalam.
Definisi seperti itu sudah salah, ibarat buku jika cover jelek belum tentu isinya juga jelek.
__ADS_1
Bisa saja cover itu hanya gambaran semata bukan menjabarkan isi dalam buku tersebut.
"Mama salah, kalau mama berfikir pilihan mama yang terbaik maka buktikan dengan cara nyata jangan cuma dilihat saja sudah bisa menyimpulkan.
Kalau mama anggap disini tidak ada yang tersakiti maka mama salah besar, aku, dia dan Zio yang sangat aku sayangi maka akan tersakiti jika aku menuruti keinginan mama.
Apa mama pernah bertanya tentang kemauan aku?, apa mama tau apa yang aku suka?, apa mama memikirkan perasaan ku?" Semua tidak semudah yang di fikirkan serta dilihat.
Akan banyak pertimbangan jika ingin memutuskan suatu hal, bukan sepihak saja tapi dua belah pihak.
"Bukti apa yang kamu inginkan? pilihan mama ngak salah.
Kamu mau membandingkan Vani sama janda itu sangat ngak mungkin mereka beda jauh bagai langit dan bumi.
Vani sudah jelas dari keluarga terpandnag Sedangkan dia hah cuma pelayan restaurant apa yang bisa di banggakan dari dia?" Mama Zefan sudah mendengar cerita dari Vani kalau Ziva hanya seorang pelayan yang sangat tidak pantas buat Zefan hingga mamanya begitu kuat untuk menjodohkan mereka berdua.
"Lagi lagi status yang mama bahas, status itu hanya sebuah nama tidak ada artinya.
Ok status Ziva yang mereka tau janda beranak satu dan seorang pelayan tapi apa mereka pernah mencari tau siapa Ziva sebenarnya.
Apa mereka sudah yakin kalau derajat Ziva jauh di bawah mereka atau bisa saja sebaliknya.
"Pokoknya mama ngak mau punya menantu janda Zefan, mau tarok dimana muka mama nanti," Tarok muka kok repot amat, tarok tempat biasa kan bisa kenapa harus mikir segala.
"Aku akan terima perjodohan ini kalau dia bisa memenuhi kriteria aku dan lolos dari tes aku," Menunjuk Vani yang sedari tadi hanya diam saja sebagai pendengar setia.
Lagian dia mau bicara apa di depan mereka berdua, Sedangkan bagian dia sudah di sampaikan tadi maka sekarang tinggal beres aja.
__ADS_1
"Kamu ngak bisa gitu Fan, kamu kita mau masuk kerja pakai di tes segala," Sanggah mama Zefan yang tidak terima kalau harus melakukan hal konyol seperti tes itu kayak kurang kerjaan.
"Kalau mama tidak mau ya batal saja perjodohan ini," Zefan sudah memikirkan apa tes yang akan dia lakukan nanti.
"Ngak apa ma Vani ikuti kemauan Zefan," Sebenarnya Vani sedikit takut mengenai tes yang akan Zefan lakukan.
Kalau iya tes mudah seandainya sulit maka rencana dia akan gagal dan terpaksa menggunakan cara kotor buat memuluskan rencananya.
"Baik karena Vani juga setuju, tapi perempuan itu juga harus ikut," Maksud perempuan itu adalah Ziva yang harus mengikuti tes Zefan juga biar adil dan mungkin saat tes berlangsung bisa menyingkirkan Ziva.
"Baik," Balas Zefan sudah mulai reda emosinya.
"Ayo sayang kita pergi," Menggandeng lengan Vani keluar dari ruangan Zefan.
Beberapa saat kepergian mama dan Vani Zefan duduk terdiam memikirkan apa yang harus dia lakukan.
Semua sudah terlanjur dia ucapkan dan menyeret nama Ziva dalam masalah mereka.
Mau tidak mau harus menjelaskan pada Ziva dan membujuk Ziva agar mau.
"Kenapa belum balik juga ya?" Teringat Ziva dan Zio yang belum kembali dari kantin saat di rasa mereka sudah lama pergi.
Melangkah menuju pintu luar.
"Apa Ziva dan Zio belum kembali?" Tanya Zefan pada sekretaris yang berada di meja.
"Mereka sudah pulang pak," Jawabnya singkat.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Tbc.