
Cukup dua hari Ziva berada di rumah abang nya, ya setelah menyelesaikan urusannya Ziva memutuskan pergi buat melihat kedua ponakannya yang sebentar lagi sang kakak yang akan masuk Sekolah.
"Mozi pulang dulu ya, adek mau ikut mozi ngak bertemu opa sama oma," Ajak Iva pada si bungsu yang masih berusia tiga tahun yang sama menggemaskan seperti Zio tapi tetap Zio lebih dikit.
"Kalo dedek ikut nalti papa Edan sama sialpa( papa Jidan maklum masih kecil)," Balasnya dengan logat cadel khas anak kecil.
"Kan ada kakak," Melihat sang kakak yang lagi di gendong papa Jidan.
"Nalti dedek kangen papa Edan(Jidan)," Udah bilang aja tidak mau ikut pakai banyak alasan lagi bikin tambah gemas aja.
Plis dek itu nama papa jangan di ubah loh, nama udah gagah Jidan malah di ganti jadi Edan berarti gila dong.
Aduh sabar papa ingat itu anak sendiri yang bilang ya, sabar ya pa.
"Yuk abang antar kalau ngajak si dedek ngak bakal kelar sampai esok pagi," Melerai keduanya yang sampai kapan pun tidak akan membuahkan hasil kecuali semua orang ikut.
"Ok deh, dadah kakak dan dedek baik baik ya di sini.
Kalau kangen mozi datang ya ke rumah," Iya kalau kangen kalau tidak yang sabar ya mozi.
"Iya aunty kalau masih ingat aunty," Balas kakak yang lebih dekat sama Ziva sebab sejak kecil sampai berusia tiga tahun lebih sering bersama Iva apa lagi saat mama nya mengandung si dedek jadi si kakak lebih sering sama Iva.
"Udah mozi pulang dulu ya bye.
Kak Iva pulang dulu ya ingat jangan rindu kan Iva seperti anak anak," Memasang wajah bete sebab tidak akan ada yang merindukan diri nya nanti.
"Iya pasti ngak bakal di rindukan," Balas kakak ipar yang tak kalah beda sama anaknya.
"Yuk bang antar Iva, kayak nya Iva udah ngak di inginkan disini," Jalan duluan masuk mobil.
__ADS_1
Mobil melaju menuju ke bandara, sudah seminggu lebih Iva meninggalkan rumah serta orang tersayang, rindu sudah pasti apa lagi mengingat Zefan yang selau mengabari baik telpon atau chat yang selalu bilang rindu hampir sama dengan Zio.
"Bang pulang dulu ya, abang baik baik disini.
Kabari Iva terus," Memeluk tubuh kekar Jidan dengan manja.
Seberapa pun umur nya Iva tetap merasa masih seperti adik kecil buat Jidan.
Maka jangan heran melihat mereka begitu dekat begitu juga dengan Kemal mereka bertiga sangat dekat bahkan kalau berjalan berdua seperti orang pacaran.
"Kesayangan abang baik baik juga ya dan jangan lupa saat abang pulang nanti kenalkan sama abang daddy Zio, setampan apa dia? apa bisa mengalahkan ke tampanan abang ini," Percaya diri kali bang ntar tau kenyataan sakit loh.
"Jelas tampan Zio lah, udah Iva pulang dulu bye abang,, cup," Mengecup pipi Jidan sekilas sebelum melangkah pergi.
"Masih sama seperti dulu, tetap lah jadi adik kecil abang," Melihat Iva yang berjalan semakin jauh dan hilang dari pandangan.
Iva masuk pesawat dan kali ini menggunakan pesawat biasa sebab jarak dari kota ini let kota kelahirannya tidak terlalu jauh hanya membutuhkan waktu satu jam setengah selama dalam pesawat.
Setelah cukup lama mengudara pesawat yang Iva tumpangi sampai bandara dan turun berjalan menuju pintu keluar.
Sebelum berangkat tadi Iva udah mengabari sang pujaan hati kalau dia akan pulang hari ini.
"Mas Zefan mana ya?" Sampai pintu luar Zefan tidak kelihatan batang hidungnya.
Iva mengalihkan pandangan ke segala arah namun belum melihat orang yang di cari.
Grep,,,,
Seseorang memeluk Iva dari belaka membuat dia terlonjak kaget dan reflek memukul tangan itu.
__ADS_1
"Mas kangen," Suara yang lebih dari seminggu ini hanya bisa Iva dengar dari jarak jauh dan kini terdengar jelas di telinga Iva serta tangan yang melingkar di perutnya.
"Ih mas Iva kira siapa? Iva juga kangen mas," Rasa rindu itu kini menyeruak begitu saja kala yang di rindukan sudah di depan mata.
Membalikkan badan dan memeluk Iva dari depan serta meletakkan wajah Iva di depan dada bidangnya.
Cup,,,
Mengecup kening Iva dengan penuh kasih sayang dan sedikit lama.
Menatap mata Iva dalam dan menyalurkan rasa sayang yang teramat dalam.
Bagaimana Iva bisa jauh dari mas kalau kasih sayang ini hanya mas yang bisa berikan.
Iva akan berjuang apa pun untuk mempertahankan hubungan kita
Makasih udah mau bersama Iva
Membalas pelukan Zefan tak kalah erat serta harum maskulin yang menenangkan bagi Iva.
"Langsung pulang atau kita makan siang dulu?" Melepaskan pelukan yang seakan enggan buat di longgarkan.
"Pulang aja mas," Jawab Iva.
"Tapi mas masih kangen, kalau pulang pasti Zio akan lengket terus sebab kangen mozi nya," Tadi nanya sekarang malah lain lagi.
"Tadi kan mas nanya ya Iva jawab, ya udah terserah mas aja tapi jangan sampai sore kali ya kasian Zio," Pasrah deh kalau dia sudah begini.
Di larang tidak bisa dan lagian Iva juga mau berduaan sama Zefan, rindu berat ceritanya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Tbc.