
Makan siang kali ini terasa hangat dan berbeda.
Terasa hangat sebab bersama orang tercinta dan berbeda karena tidak ada Zio di antara mereka kali ini hanya berdua saja.
Menikmati makan siang ini dengan senyum kebahagiaan tidak pernah luntur dari wajah keduanya.
"Abis ini kita beli cincin ya Zi," Zefan jarang sekali memanggil Iva dengan kata sayang lebih sering memanggil dengan panggilan sayang yaitu Zizi.
Panggilan yang beda dari yang lain, kalau sayang sudah umum di gunakan orang bahkan hampir semua orang.
"Iya mas, Iva ikut aja," Balas Iva dengan senyum manis dari wajah cantik itu.
Lebih baik mulai sekarang mereka angsur buat menyiapkan segala yang di butuhkan mulai dari hal kecil kalau buat yang besar seperti gedung atau catering para mama yang melakukan.
"Beda ya mas kalau Zio ngak ada?" Ingat Iva biasanya mereka sering makan siang bertiga.
"Ya mau gimana lagi Zi, Zio sekarang udah punya milik semua orang bukan cuma milik kita aja jadi kita harus bisa pasrah kan," Zefan juga merasa beda tanpa ada Zio namum gimana lagi Zio bukan hanya milik mereka lagi seperti kata Zefan barusan.
"Iya mas Iva tau," Melanjutkan makan hingga habis di lanjut dengan Iva makan es krim.
Zefan hanya memperhatikan Iva yang makan es krim dengan lahap.
Iva tanpa merasa terganggu sama lirikan Zefan tetap terus melahap es krim itu hingga habis.
"Kenapa mas liatin Iva gitu amat?" Baru terlontar pertanyaan dari mulut manis itu yang sedari tadi asik menikmati es krim.
"Ngak ada, mas pengen liat aja emang ngak boleh apa? kalau di coba pasti enak," Kata kata apa itu terdengar ambigu gitu.
Apanya yang mau di coba? apa yang enak?.
Yang jelas kalau bicara jangan kayak anak kecil bicara perlu di artikan dulu.
"Apa yang enak? kan makanan mas udah habis," Melirik piring kosong itu, lalu apa yang mau di makan
"Es krim di bibir mu," Jawab Zefan lalu berdiri menarik tangan Iva buat pergi dari sana.
Tidak jelas sekali, ini kan tempat rame ngapain bahas itu kayak bahas makanan saja.
Tidak malu apa? atau menganggap itu hal biasa.
Kini tujuan mereka adalah mall buat beli cincin pernikahan yang tidak lama lagi akan di selenggarakan.
Sampai mall keduanya bergandengan tangan menuju lantai tempat menjual segala macam perhiasan.
"Zizi pilih sendiri mau yang mana?" Menyerahkan pada Iva mana yang mau di pilih.
Biasanya perempuan paling tau mana yang bagus atau sesuai selera.
__ADS_1
"Iya mas," Iva fokus sama cincin yang terpajang, tidak terlalu banyak hanya beberapa dari keluaran terbaru di toko itu.
Setelah menemukan yang pas, Zefan membayar lalu berlalu dari toko itu.
"Mas mampir ke sana bentar ya," Ajak Iva pada toko tas.
"Zizi mau beli tas?" Ya pasti mau beli tas lah Fan kalau ke toko tas mas beli jam kan ngak nyambung.
"Iya mas, mau buat mbak Rara," Iva sengaja membelikan buat Rara sebagai hadiah sebab Rara di terima magang di sebuah perusahaan.
Bukan karena orang dalam atau apa yang jelas karena Rara memenuhi syarat magang di sana.
"Kamu ngak ada beda beda ya Zi sama pekerja di rumah," Kan kebanyakan pemilik rumah menganggap pembantu hanya orang lain dan mereka di gaji tidak lebih.
"Mereka sama kita itu sama mas, ngak ada bedanya kok.
Mereka mau kerja sama kita aja kita udah syukur sebab pekerjaan kita berkurang.
Jangan pernah sesekali membedakan orang hanya dari pekerjaan saja.
Anggap mereka juga bagian dari keluarga kita maka kita akan di anggap gitu juga," Iva fokus memilih tas yang dirasa cocok sama gadis seumuran Rara dan warna netral.
Tidak masalah soal harga yang penting itu pas dan tidak mencolok kalau di pakai.
Selesai membeli tas kini mereka memutuskan bali lagi ke kantor Zefan tidak lupa mengajak Iva.
\=\=
"Ra lo aja ya yang antar, gue kebelet nih," Kata teman Rara yang biasa punya tugas mengantarkan tugas kelas mereka.
"Ya ngak bisa dong, ini kan tugas lo," Tolak Rara tidak mau, sebab bukan apa apa.
Selain itu bukan tugasnya Rara juga tidak mau bertemu Satyia dalam satu ruangan yang sama hanya berdua.
"Plis Ra kali ini aja, gue udah ngak tahan.
Bye Ra gue tau lo orang nya baik," Sambil berlari meninggalkan Rara yang masih bengong dengan tumpukan tugas yang di letakkan di atas tangan nya tanpa perserujuan sang empu.
"Is awas lo nanti ya," Gerutu Rara tidak terima.
Masa iya harus dia yang antar, apa tidak ada yang lain? hey penghuni kelas kenapa tidak kalian saja yang antar ini tugas kenapa harus gue, teriak Rara dalam hati sambil menggerutu.
"Udah terima aja, anggap aja kesempatan bertemu doi," Bisik sahabat Rara pelan agar tidak ada yang bisa dengar ucapannya.
"Apa sih lo ngak jelas, kalau mau bertemu dia ngak perlu pake alasan klasik gini bikin repot aja," Ya memang benar kata Rara, kalau mau bertemu ya tinggal datangi buat apa pake alasan antar tugas, kurang kerjaan.
Dengan terpaksa Rara membawa tugas itu dengan langkah malas.
__ADS_1
Malas ke sana dan malas membawa hal yang seharusnya bukan dia yang lakukan.
**Tok...
Tok**...
Terdengar suara sahutan dari dalam baru Rara berani membuka pintu.
Bukan apa ya, biasakan bukan dia yang antar kalau asal masuk yang ada kena marah dan juga tidak sopan selain masih di kampus, juga dosen sendiri dan harus menghargai orang yang lebih tua.
"Letakkan saja tugasnya di atas meja," Menunjuk meja kosong tanpa melihat siapa yang masuk sedangkan Rara mengikuti apa yang di suruh dengan patuh tanpa mengeluarkan suara.
Meletakkan buku lalu.
"Kalau gitu saya permisi pak," Baru Rara bersuara dan melangkah menuju pintu.
Mendongak melihat siapa pemilik suara itu dan benar pujaan hatinya.
"Kenapa ngak bilang kalau kamu yang antar tugas ini?" Apa hubungannya coba.
Lagian buat apa bilang, hanya antar tugas doang perlu lapor dulu.
"Emang harus ya pak? lagian ini juga terpaksa," Balik nanya, bukan menjawab pertanyaan itu.
"Pak? apa tadi terpaksa? masa bertemu sama kekasih sendiri terpaksa sih," Beo Satyia yang tidak terima di panggil pak.
"Kan masih area kampus pak, dan juga ini bukan tugas saya," Malas berlama di sana dan membahas yang tidak penting.
"Kan kita cuma berdua, panggil kakak seperti biasa," Tidak mau di banyak, masa lagi berdua di panggil pak berasa tua kali.
"Iya iya pak," Tuh kan pak lagi.
"Kamu sengaja ya? mau di hukum," Berdiri dari duduk nya melangkah menuju tempat berdiri Rara.
"Ini bukan jam ngajar kak jadi ngak bisa hukum Rara seenaknya," Sudah merubah nama panggilan.
"Tapi ini hukumannya memang enak," Sudah berdiri tepat di depan Rara.
"Mana ada kak, yang namanya hukuman ngak ada yang enak," Sanggah Rara, ya tanpa dapat di pungkiri Rara kalau jarak mereka sedekat ini maka kerja jantungnya tidak bisa di kontrol.
Satyia berbisik ke telinga Rara dan dapat dorongan seketika.
"Makasih kak lain kali aja," Buru buru keluar dari sana sebelum hukuman itu benar benar terlaksana.
\=\=\=\=\=
Tbc.
__ADS_1