
Tidak terasa kini pernikahan Iva dan Zefan hanya tinggal menghitung jari.
Segala persiapan sudah di lakukan hanya menunggu hari H nya saja.
Dan kini kedua calon mempelai itu sedang melakukan tradisi pingitan.
Di mulai dengan esok hari dan kini Zefan manfaatkan buat bertemu Iva sebelum di pisahkan buat beberapa hari ke depan.
Zefan sempat protes sama keputusan kedua belah pihak yang tega memisahkan mereka berdua dan mengatakan akan bertemu jika sudah sah menjadi pasangan suami Istri.
Apa bisa dia menjalani hari tanpa ada kabar dari Iva sebab ponsel mereka akan di sita dan tidak boleh saling bertukar kabar.
Sekejam itu sekarang keluarga dia, memisahkan dua orang yang saling mencintai itu.
Apa mereka tidak pernah muda apa? apa mereka tidak tau gimana sesaknya menahan rindu ingin bertemu.
Sadis memang tapi mereka menulikan telinga saat bantahan, sanggahan serta keluhan Zefan keluarkan.
Dan mama Zefan hanya menjawab 'cuma beberapa hari jangan lebay kayak anak ABG setelah nikah kalian bersama terus kalau perlu ikutin ke mana pun istri mu pergi'.
Tidak ada yang mengerti perasaan Zefan sekarang, lalu kalau rindu dia terlalu berat gimana? siapa yang mau tanggung jawab.
Dilan saja yang udah ahli belum tentu sanggup apa lagi dia yang hanya biasa.
Ingin protes siapa yang sudah membuat tradisi menyusahkan orang seperti ini dan siapa yang menyetujui itu.
Apa mereka kurang kerjaan? atau senang melihat orang menderita.
Mau protes tapi ke siapa, kalau pun ada mereka pasti akan jawab 'kalau ngak mau menjalani proses pingitan ya ngak usah nikah'.
Enak saja bilang gitu, kalau tidak nikah gimana mau lanjutin keturunan coba, ngada ngada kalau bicara.
"Ma ayo lah, Zefan minta tuh hp,"Rengek Zefan yang ikut bergabung sama orang tuanya dan di sana juga ada bang Endra bersama Zio.
"CEO kok minta minta kekurangan uang ya, kasian kali kamu masa hp aja ngak punya," Bukan mama yang jawab tapi bang Endra yang puas melihat wajah memelas itu.
"Berisik lo bang ah, ingat roda berputar ya bang," Hardik Zefan yang tidak terima, bukannya menghibur dirinya yang tengah galau malah ngejatuhin, sial amat punya abang kayak dia.
"Ngak lah ya, gue mah beda kalo lo tau," Bela bang Endra.
Beda apanya, palingan juga sama pasti menjalani pingitan biar tau rasanya gimana berat menahan rindu tanpa kabar.
"Tenang Fan palingan sama abang nanti papa kasih bonus hari nya minimal seminggu cukup bang?" Nimbrung papa yang ikut bicara.
Ya benar saja mau di tambahin hari nya kalau bisa di hilangkan baru itu betul.
"Makasih pa abang ngak minat sama diskonan," Raut wajah bang Endra kini yang Zefan nikmati.
Pengertian sekali papa nya itu, mau mengasih teman kala dia galau gini biar tidak sendiri.
"Kalau ngak mau diskon, papa kasih gratis bang," Ada ada saja papa nya ini, emang barang apa bisa diskon dan gratis.
Kenapa sekarang sang papa senang melihat anaknya menderita, apa tidak bisa pingitan itu di hilangkan.
"Ngak ada ya pa, abang kalau nikah nanti abang kasih tau dua hari sebelum nya aja biar kalian ngak nyiksa abang seperti Zefan," Sudah punya rencana rupanya bang Endra.
Ngapain sih bang ngasih tau rencana mu segala.
Bisa bisanya kamu malahan yang di kerjai nanti ada ada saja.
Ingat bang kadang orang tua kita bertindak sebelum dan tanpa sepengetahuan kita.
Ingat juga bang belum tentu kalian itu berjodoh sebab dunia itu kejam.
"Abang mau nikah sama siapa? udah ada calon?" Timpal Zefan setengah meledek.
"Sama Lisa lah, sama siapa lagi coba," Jangan terlalu percaya diri bang, nanti tau kenyataan kecewa lo.
Jangan ambil kesimpulan sendiri bang, cewek kita sekarang belum tentu akan jadi istri kita sebab siapa tau abang hanya jagain jodoh orang.
"Emang dia udah mau nikah sama abang atau abang udah ajak dia nikah dan dia mau?
Tanya dulu bang, siapa tau dia udah ada yang lamar gimana coba, hayo," Hah dasar adik lucnut tidak tau bagaimana menyenangkan hati abangnya.
__ADS_1
Jangan jatohin dia sekejam itu bisa tidak.
Kasih dukungan itu yang terpenting bukan seperti ini, boleh tidak adik satunya ini di tukar tambah di tukang loak.
"Ya pasti mau lah, terbukti selama ini dia masih sendiri sampai abang balik jadi apa yang mau di ragukan lagi," Iya juga tapi kan tau kenapa Lisa sampai sendiri saat dia balik.
Coba di tela'ah lagi apa penyebab diia betah sendiri.
"Iya lah dia masih sendiri lupa abang apa kalau dia baru balik dan sembuh dari sakitnya, berarti bukan karna setia ya bang ingat itu.
Perempuan kalau lama di gantung bakal di tikung sama lebih serius dan abang tinggal gigit jari melihat dia sama orang lain.
Dan selamat jadi tamu undangan," Ujar Zefan panjang lebar, ya memang Zefan menjalani hubungan sama Iva kurang lebih hanya satu tahun dan lanjut ke jenjang lebih serius.
Sebab buat apa lama pacaran kalau tidak mau mengajak serius.
Perempuan butuh yang serius buat masa depan bukan yang mau main main.
"Tadi udah di jatohin ya sekarang masukin got lagi, emang ya ngak ada yang sayang abang lagi," Lah malah ngerajuk saat di kasih tau, kan bener gitu bang perempuan butuh kepastian.
Di kasih tau itu terima kasih bang jangan berburuk sangka gitu.
"Dia juga butuh kepastian bang apa lagi Zio udah dekat sama dia maka yang dia butuhkan adalah sosok ayah buat Zio ya kecuali lo mau ngasih Zio buat aku sama Iva maka abang boleh sesantai ini.
Kami dengan senang hati merawat Zio dan lo bang jangan lupa Iva luar perempuan biasa kalau abang lupa dia bisa membebaskan Zio sampe sekarang maka dia ngak akan menolak buat merawat Zio lagi mengingat nanti aku juga ada," Jelas Zefan yang maksud nya tidak lain tidak bukan adalah hanya ingin abangnya segera menikah dan bahagia sama pasangan.
Tidak mungkin terus seperti ini, usia dia tidak muda lagi dan sudah jauh dari kata mapan buat menjalani bahtera rumah tangga.
"Benar kata Zefan bang, kalau pun tidak mengadakan pesta mewah setidaknya kalian halal juga, kasian Zio yang butuh sosok ayah sesunggugnya.
Tidak kasian apa sama Zio yang sejak lahir tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah dan sekarang saatnya," Tambah papa buat mengingatkan bang Endra supaya cepat mengikat hubungan mereka yang lebih serius.
Perempuan tidak bisa selamanya bisa bertahan hanya dengan sebuah hubungan semu seperti pacaran sebab dia bukan anak sekolahan lagi yang pacaran hanya butuh teman.
\=\=
Siang hari pulang ngampus Satyia mengajak Rara pergi ke suatu tempat yang mana tempat itu tidak mau Satyia sebutkan kata dia mau ngasih kejutan maka Rara hanya bisa menurut saja tanpa banyak tanya.
Kalau bertanya juga tidak akan di jawab, dia tau bagaimana sifat dosen kesayangan dia itu.
"Ra," Panggil Satyia dan melirik sekilas tampak Rara memandang keluar melihat jalanan ke timbang memperhatikan dosen kesayangan nya.
Apa jalanan lebih bagus dari dia atau jalanan lebih menarik.
"Ya pak," Secara reflek Rara memanggil pak.
"Pak," Beo Satyia yang terusik mendengar panggilan itu.
"Ah maaf kak tadi Rara melamun," Sesal Rara fokus dia lagi tidak di tempat tadi.
"Kamu mikirin apa? apa aku ngajak kamu gini menjadikan beban buat mu kalau iya aku antar pulang aja ya," Satyia tidak mau memaksa kalau Rara keberatan.
Bukan tipe Satyia sekali yang suka memaksa begini, dia akan mengajak orang tanpa paksaan.
Tidak baik melakukan suatu hal kalau ada unsur paksaan.
"Bukan kak, ngak tau kenapa Rara jadi ingat rumah aja," Raut wajah Rara terlihat sedih setelah mengatakan kata rumah.
Apa dia rindu pulang kampung halamannya atau lagi ada masalah disana.
"Mau kakak antar kenapa?" Tawar Satyia yang siap kapan saja buat Rara, baginya kebahagiaan Rara yang utama.
Dengan melihat wajah cantik itu tersenyum maka akan tertular juga padanya.
"Rara belum bisa pulang dalam waktu dekat kak, kan kak Iva mau nikah," Iva juga mengundang kekasih Rara dengan menitipkan undangan pada Rara hari itu.
"Biar bagaimana pun kak Iva udah banyak bantu Rara kak," Lanjut Rara yang belum bisa pulang.
Jasa Iva banyak buat Rara hanya dengan cara dia berada di hari penting Iva maka setidaknya dia bisa membalas kebaikan itu.
"Abis pesta kakak antar pulang ya sekalian kita liburan," Usul Satyia dan dia juga ingin tau dimana kampung Rara dan siapa tau saat butuh dia tidak perlu lagi bertanya.
"Makasih kak, Rara bisa pulang sendiri kakak kan juga harus ngajar juga," Tolak Rara yang tidak mau merepotkan dan juga kampung dia tidak terlalu jauh juga hanya butuh waktu dua jam sampai jadi masih bisa sendiri.
__ADS_1
"Ngak apa kan ada asisten yang gantiin, jadi jangan nolak ya.
Kakak juga mau tau dimana kampung Rara," Satyia paling anti yang namanya penolakan.
Bagi dia penolakan sebagai bentuk dan cara orang menjatuhkan harga dirinya apa lagi kalau dia yang menawarkan, prinsip hidup seperti apa itu.
"Kampung Rara masuk desa kak dan juga rumah sederhana takut nanti kakak ngak nyaman," Mengingat dia dari keluarga berada maka kehidupan dia juga biasa biasa.
Bukan malu mengajak Satyia kesana hanya takut tidak nyaman sebab dia dari keluarga berada dan bisa di tempat bagus.
Rara di terima keluarga Satyia saja itu sudah suatu keberuntungan.
"Yang penting cinta mu luar biasa," Plis pak dosen sekali mengeluarkan gombalan langsung meleleh adek bang.
Bisa juga gombal ya kirain hanya bisa menerangkan pelajaran saja ah jadi makin cinta, fikir Rara.
"Ya udah kalau itu mau kakak, abis pesta kak Iva kita berangkat," Putus Rara yang sudah kehabisan akal menolak Satyia.
Kenapa dia bisa jatuh cinta sama orang pemaksa seperti Satyia ya apa cintanya juga di paksakan tapi seperti tidak, cinta dia kelihatan begitu tulus.
Mobil terus melaju hingga beberapa kemudian sampai di sebuah rumah sakit dan itu sukses membuat Rara bingung buat apa dia di ajak kesana.
Tapi niat ingin bertanya dia urungkan saat tangan mungilnya di tarik dan berjalan memasuki rumah sakit itu dan hingga tiba di sebuah ruangan.
Satyia membuka pintu ruangan itu secara perlahan dan masuk.
"Satyia kira mama tidur, makanya masuk pelan pelan," yang di rawat di ruangan itu adalah mama Satyia yang masuk rumah sakit dua hari yang lalu dan semalam mamanya kekeh menyuruh Satyia mengajak Rara datang kesana.
"Nih Satyia bawa pesanan mama," Menuntun Rara ke ranjang tempat tidur mamanya.
"Mama sakit apa? kok ngak ngasih tau Rara," Menyalami calon mama mertua itu pun kalau jodoh ya tapi berdoa semoga jodoh.
"Ngak sakit apa apa Ra, hanya pusing," Balas mama yang senang Rara datang.
"Maaf ya ma, Rara ngak bawa apa apa abisnya kakak ngak ngasih tau mau ngajak Rara kemana," Kalau dia tau mama Satyia sakit setidaknya bawa buah agar tidak datang dengan tangan kosong.
"Ngak apa, mama yang nyuruh agar ngak repot bawa apa apa.
Rara datang jenguk mama aja udah senang," Menuntun Rara duduk di sisi ranjang agar bebas memagang Rara, yang sudah jarang datang kesana dan di kira mereka udah putus.
Makanya mama mau bertemu Rara takut Satyia bohong sebab dia beralasan masih sama Rara namun Rara sudah jarang datang siapa yang tidak curiga coba.
"Kenapa jarang ke rumah mama lagi?" lanjut mama yang heran.
"Tugas kuliah lagi banyak juga ma," Alasan Rara yang tidak mau membuat mama sedih.
Itu salah satu alasan dan juga dia tidak bisa bebas pulang telat terus walau Iva tidak masalah.
"Kamu ya Sat, suka sekali merepotkan mahasiswi sendiri," Omel mama pada anaknya dan Rara meringis tidak enak.
Karena omongan dia yang tanpa fikir dulu malah Satyia yang kena marah.
Rara cuma cari alasan tidak tau akan seperti itu jadinya, maaf kak.
"Mana ada Satyia suka ngasih tugas ma, ya kalau ngak mau ada tugas ya ngak usah kuliah," Balas Satyia yang kaget, masa dia lagi duduk santai kena marah.
"Jadi maksud kamu Rara ngak usah kuliah aja.
Dasar kekasih ngak pengertian," Cibir mama.
"Maafin Satyia ya Ra, maklumin aja," Rara makin tidak enak hati, masa mama Satyia lebih membela dia dari pada anak sendiri.
"Ngak apa ma, banyak tugas kan baik juga jangan jadi kan beban," Sedikit membela Satyia agar tidak terlalu di salahkan.
"Mama dengarkan, banyak tugas biar makin pintar," Tambah Satyia yang bangga dapat pembelaan dari kekasih nya.
"Jangan bicara dulu mama masih marah," Marah kenapa lagi mama ku sayang.
Perasaan Satyia salah mulu di mata mama, kurang apa lagi coba.
Tampan udah, kerja jelas, masa depan udah di tarok di depan dan paling penting udah punya calon istri kurang apa lagi coba.
Eh tunggu ada yang perlu di ralat, dimana mana masa depan ya berada di depan kalau di belakang namanya masa lalu, wokey.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Tbc.