
Setelah kepergian dua perempuan beda usia itu, Zefan melangkah menuju ruangan yang ada Zio do dalamnya.
Zefan mendorong pintu dengan pelan supaya tidak mengganggu Zio siapa tau lagi tidur mengingat ini sudah masuk jadwal tidur siang Zio.
Ternyata benar baru beberapa langkah masuk Zefan melihat Zio yang sudah berbaring di atas ranjang tanpa memakai selimut.
Lalu Zefan memakaikan selimut pada tubuh kecil Zio agar tidak dingin karena suhu AC.
"Tidur yang nyenyak kesayangan daddy, walau Zio bukan anak kandung daddy tapi daddy udah anggap Zio anak kandung daddy sendiri.
Daddy suka kangen kalau sehari saja belum bertemu sama Zio, makanya tiap hari daddy mencari cara supaya bisa bersama Zio," Membelai kepala Zio dengan lembut, ikatan di antara keduanya sudah sangat dekat seperti sudah ada ikatan batin.
"Daddy udah terlanjur sayang sama Zio, maka apa pun yang terjadi maka daddy akan mempertahankan Zio walau suatu hari nanti Ayah kandung Zio datang menjemput Zio," Memikirkan hal itu ada rasa sesak di hati Zefan jika hari itu tiba.
Boleh tidak dia egois buat mempertahankan Zio di sisinya? mempertahankan seorang anak yang tidak ada ikatan sama sekali sama dia.
Melepaskan dengan konsekwensi dia harus sakit kehilangan Zio atau mempertahankan dengan menyakiti hati seorang Ayah.
"Jika hari itu tiba daddy harap Zio tidak pernah meninggalkan daddy, daddy harap Zio akan ingat sama daddy walau nanti kita akan berjauhan.
Zio tau kenapa sampai saat ini daddy masih sendiri, karena daddy lagi berusaha buat mendapatkan hati mozi Zio supaya kita bisa selalu bersama.
Zio pasti senangkan kalau daddy sama mozi bersatu seperti yang Zio inginkan," Ikut berbaring di samping Zio yang terlelap tidur tidak terganggu sama sekali sama kedatangan Zefan
"Sepertinya daddy harus berjuang ektra buat mendapatkan mozi apa lagi dengan status beranak satu maka banyak orang yang akan mencibir dia nanti atau mungkin ada juga yang bilang akan memanfaatkan daddy menjadi Ayah sambung Zio,"
"Apa pun yang terjadi Zio jangan pernah dengarkan apa omongan orang, apa yang orang bilang sampaikan pada daddy.
Jangan pernah menyimpan semua sendiri karena Zio masih kecil buat menanggung semua,"
__ADS_1
Zefan akhirnya tertidur juga di sambil memeluk Zio, kalau ada yang melihat pasti akan menganggap Ayah idaman yang sangat menyayangi anaknya.
Kedua laki laki tampan itu tidur begitu nyenyaknya.
Beberapa saat setelah Zefan memasuki alam mimpi, mata mungil itu mengerjap menandakan kalau dia sudah bangun dari tidurnya
Sejak Zefan mulia menyelimuti tubuh kecil itu, Zio sudah terbangun hanya saja dia enggan membuka mata.
Melihat ke samping di lihatnya Zefan tidur dengan damai dengan nafas yang sudah beraturan terdengar di pendengaran Zio.
"Zio juga sayang sama daddy, sampai kapan pun Zio ngak akan pernah ninggalin daddy.
Daddy lah yang memberi Zio kasih sayang seorang Ayah saat dimana lagi Zio butuhkan,"
(Jangan di hanya kenapa Zio bisa berkata seperti itu karena di sini karakter Zio sesuai ke adaan ya, seperti sebelum nya yang pernah di katakan bahwa Zio akan bersifat dewasa atau bersifat seperti anak anaknya di waktu terntentu)
Zio akan membantu daddy buat bisa bersama daddy juga, Zio juga mau seperti teman Zio yang memiliki daddy dan di antar Sekolah sama daddynya," Zio masih berbaring tanpa duduk hanya pandangan fokus sama wajah Zefan.
"Kenapa hampir semua orang bilang kita mirip daddy, tapi Zio senang kalau kita di bilang mirip berarti kita seperti ayah dan anak beneran.
Untuk mozi nanti Zio bantu ya daddy, kita kerja sama supaya mozi sama daddy.
Masa daddy Zio yang tampan ini ngak tertarik sama mozi, kalau sampai mozi ngak suka sama daddy nanti kita sama sama bawa mozi periksa mata siapa tau mata mozi lagi ada masalah, hm hm tapi daddy," Menjeda ucapannya yang belum selesai itu.
"Tapi Zio pinjam uang daddy ya buat periksa mozi, kan Zio masih kecil belum punya uang, apa lagi bekerja.
Jangankan bekerja Sekolah aja Zio belum, gimana dong daddy," Zio tersenyum sendiri saat setelah mengucapkan kata itu.
Ya Zio jangan minjam, minta pun di kasih kalau buat Zio yang menggemaskan ini, ada ada saja Zio ini.
__ADS_1
Daddy Zio akan dengan senang hati memberi apa pun yang Zio minta.
"Zio masih ngantuk daddy, Zio tidur lagi ya," Memejamkan mata buat melanjutkan tidur lagi, berlomba dalam mimpi siapa yang akan lebih dulu kembali ke alam nyata.
di dalam sebuah mobil mewah, kedua perempuan itu masih merasa kesal atas apa yang terjadi barusan.
"Ma, bagaimana kalau Zefan ngak mau nikah sama Vani?," Nada bicaranya seperti anak kecil yang minta di belikan permen.
"Kamu tenang saja nak, soal Zefan biar mama yang urus kamu tinggal tunggu beres ya," Memegang tangan Vani yang duduk di sampingnya itu.
Cukup sulit membujuk Zefan supaya mau menerima perjodohan yang sudah di rencanakan itu.
Tapi bukan dia namanya kalau tidak punya beribu cara buat merubah keputusan Zefan dari kata tidak menjadi iya.
"Iya ma, Vani percaya sama mama, Vani tunggu kabar baiknya dari mama," Kalau seperti ini dia tidak perlu bersusah payah merayu atau menggoda Zefan supaya setuju sama perjodohan di antara mereka berdua.
"Semua biar mama yang urus, kamu cukup mempersiapkan diri saja di hari bahagia kalian berdua," Jika cara halus membujuk Zefan tidak bisa maka jangan salahkan dia berbuat sedikit kasar supaya Zefan setuju.
"Iya ma,"
Lagian buat apa aku harus capek capek merayu Zefan jika sudah ada nenek peyot ini yang mengurus.
Aku tinggal ongakang kaki maka aku akan jadi nyonya besar dan istri CEO perusahaan terkenal itu, ya walau sebenarnya tidak sebesar perusahaan K'SYA group tapi ngak apa setidaknya aku bisa berfoya foya sama harta sebanyak itu.
Tersenyum manis yang tersirat ada niat tidak baik di dalamnya.
\=\=\=\=\=
Tbc.
__ADS_1