My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Spesial Rasa 3.


__ADS_3

Hidup ke depannya kita tidak tau akan seperti apa.


Kadang kita pernah berkhayal ingin ini ingin itu setelah itu mau itu juga tapi yang kita dapat beda juga.


Berkhayal mau sesuatu seperti punya pasangan baik, pengertian, penyayang, tapi yang kita dapat cuek.


Namun jangan salah sebab apa yang kita inginkan belum tentu itu yang kita butuh kan saat ini sebab tuhan lebih tau mana yang kita butuhkan bukan pada apa yang kita inginkan.


Ada kala kita di uji dulu sebelum mendapatkan apa yang kita inginkan anggap saja seperti kita harus berusaha dulu baru mendapatkan apa keinginanan itu.


Begitu juga dengan hidup, semua yang sudah kita rencanakan tapi tidak berjalan sesuai harapan, seolah tuhan berkata belum saatnya.


Ada juga yang lebih parah seperti kata pepatah sudah jatuh di timpa tangga bayangkan gimana sakitnya namun di balik semua itu sudah ada keindahan menunggu kita hanya tergantung kita bagaimana bisa sampai pada saat itu agar semua kesakitan yang kita rasakan sebelumnya tidak sebanding sama apa yang bakal kita terima.


"Nak Sat bagaimana tidur nya semalam? maaf ya begini lah keadaan rumah kami," Pak Mat buka suara, sekarang mereka lagi duduk di ruang tamu selepas sarapan pagi hanya berdua saja sedangkan Rara sama bu Ami lagi di belakang membereskan piring bekas sarapan.


"Tidur saya nyenyak pak, saya nggak masalah sama keadaan bapak.


Justru saya merasa nyaman tinggal di sini masih asri jadi adem jauh dari polusi," Jelas Satyia sedikit bohong soal nyenyak tidur sebab kalau di tanya badannya remuk semua.


Ibarat kata tulangnya bergeser dari tempat sebab tidur di tempat tidur keras.


Mau jujur juga tidak mungkin kan ke sana mau minta restu bukan ngajak gelud.


"Syukurlah kalau gitu, hanya ini yang bjsa kami sediakan harap maklum," Bicara dengan nada rendah tidak enak sama Satyia sebab dia ngerti mungkin ini pertama kali Satyia tidur di tempat sederhana jika di lihat dari penampilan yang rapi serta bersih sudah bisa di pastikan kalau dia orang berada.


"Iya nggak usah sungkan pak, saya ngerti sebab sejak awal saya mau mendekati Rara maka saya harus terima juga keadaan keluarga nya.


Sebab sebuah hubungan bukan tentang saya dan Rara saja harus saling menerima tapi keluarga juga harus kami terima," Seperti nya ucapan Satyia sudah menjurus pada minta restu biarlah biar tujuan awal ke sana segera terlaksana.


Benar apa kata Satyia menjalin hubungan harus menerima juga keluarga pasangan kita sebab tanpa mereka dia tidak ada di dunia ini.


Perasaan, cinta serta kasih sayang yang tulus menerima apa ada nya pasangan kita buka ada apa nya.


"Terima kasih nak Satyia bapak senang Rara mempunyai pasangan sebaik nak Sat.


Bapak sebagai orang tua hanya menginginkan yang terbaik buat anak semata wayang kami hanya dia harta berharga yang kami miliki.


Jaga Rara ya bapak sama ibuk merestui hubungan kalian," Calon bapak mertua mengagumkan belum bicara namun sudah langsung memberi restu sebelum di minta.


Jika begini Satyia tidak perlu repot merangkai kata kata buat minta restu.


Belum bicara sudah dapat lampu hijau.


Tapi dari tangkapan mata Satyia ada gurat kesedihan di mata pak Mat dan itu jadi tanda tanya bagi Satyia.


Apa yang pak Mat fikirkan? apa dia belum bisa melepas anak gadisnya buat orang lain? kalau iya tapi bukan dalam waktu dekat juga Satyia meminang Rara masih lama sebab Rara belum lulus.


Apa belum siap tinggal berpisah sama Rara? kalau Rara menikah otomatis Rara ikut Satyia tinggal di kota tempat Satyia mencari nafkah.


Kenapa malah sekarang Satyia gusar sendiri.


"Makasih pak sudah merestui hubungan kami saya janji akan menjaga Rara juga membahagiakannya.


Tapi kalau boleh tau kenapa wajah bapak tampak sedih,? Segitu ingin taunya Satyia hingga berani nanya apa tidak takut restu tadi di cabut lagi.


Tapi rasa penasaran kita tidak akan terobati kalau tidak bertanya atau mencari tau bukan, jadi tidak salah juga bertanya Satyia bertanya dari pada hanya menerka nerka saja.


Namun belum pak Mat menjawab bu Ami datang membawa cemilan buat mereka berdua tapi Rara belum balik.


" Bu apa kita bilang aja sama nak Sat biar dia tau kebenarannya supaya bisa mengambil keputusan sekarang sebelum hubungan mereka terlanjur jauh," Bukan menjawab pertanyaan Satyia malah bicara sama bu Ami hingga membuat rasa penasaran Satyia kian besar.


Apa maksud perkataan bu Ami yang bilang sebelum hubungan mereka terlanjur jauh.


Kenapa kedengarannya sesuatu yang sangat penting.


"Iya bu bapak ngerti tapi Rara juga harus tau ini juga sebab ini menyangkut diri dia,"


Dalam benak Satyia bertanya pasti ini rahasia besar yang selama ini mereka simpan tapi belum berani bicara tapi kenapa sekarang baru mereka membuka suara? dan kenapa juga di depan Satyia yang kalau di anggap masih orang lain sebab statusnya baru kekasih bukan suami Satyia.


"Bentar pak ibu panggil anak kita dulu," Bu Ami pergi ke Rara yang masih berada di dapur.

__ADS_1


Sepeninggal bu Ami ke dapur.


"Sebentar lagi nak Satyia akan tau tapi bapak harap tidak merubah keputusan nak Satyia lalu meninggalkan Rara.


Mungkin kebenaran nanti akan menyakitkan terutama Rara tapi bapak harap dampingi terus Rara ya bapak mohon," Kenapa sampai dengan memohon juga pak Mat bicara pada Satyia dan tiba tiba perasaan Satyia jadi tidak enak.


"Saya belum tau apa yang mau bapak sampaikan tapi apa pun itu saya tidak akan pernah meninggalkan Rara apa pun alasannya.


Bagi saya Rara adalah segalanya," Turur Satyia tegas tanpa ada keraguan setiap kata yang Satyia keluarkan.


Jika menjalin hubungan maka segala kemungkinan harus kita terima juga baik buruk orang juga harus termasuk masa lalu orang itu juga.


Jangan karena masa lalu menjadikan alasan buat kita meninggalkan dia maka itu namanya tidak berperasaan.


Semua yang pernah terjadi bukan kemauan atau kehendak dia bisa saja dia hanya korban lalu kita yang datang di masa depan tidak tau apa apa dengan mudah menghakimi atau menghukum kita.


Iya dia yang melakukan tapi kalau tidak apa pantas dia menerima semua ini maka jawabannya tidak.


Pak Mat bernafas lega anaknya mempunyai orang yang tulus sama dia dan berharap setelah mendengar semuanya nanti akan tetap seperti ini tidak berubah.


Fikiran orang cepat berubah tidak menutup kemungkinan itu terjadi pada Satyia juga.


Tidak lama datang bu Ami dan Rara dengan wajah bingung.


"Nak duduk di samping nak Satyia aja," Rara hanya menurut duduk di samping Satyia tanpa bertanya.


Dia juga sama kayak Satyia tadi, sejak ibu nya datang lagi ke dapur lalu mengajak ke ruang tamu dengan alasan ada yang mau di sampaikan maka perasaan Rara tiba tiba jadi resah.


Setelah semua berkumpul dengan wajah bingung mereka berdua yaitu Rara dan Satyia.


"Sebelumnya bapak mau minta maaf terutama sama Rara karena sudah menyembunyikan ini terlalu lama hingga kamu dewasa," Dada pak Mat terasa sesak saat mau memulai cerita atau lebih tepatnya beban yang dia tanggung selama ini.


Bukan perkara mudah menyimpan semua ini hanya saja ini semua harus dia lakukan demi kebaikan bersama.


Sebenarnya pak Mat yang paling lama menanggung semua itu karena istrinya baru tau juga setelah Rara kuliah di kota.


Tapi sebagai seorang yang telah membesarkan selama ini tentu syok menerima kenyataan itu tapi takdir tidak ada yang bisa merubah atau menghindar.


"Maksud bapak apa? menyembunyikan apa? apa bapak punya ibu baru buat Rara?" Kenapa tebakan Rara sangat jauh dari apa yang mau di sampaikan.


Entah kenapa di kepala Rara hanya itu yang terlintas lalu langsung mengungkapkan spontan.


"Ngarang kamu nak mana ada bapak punya istri baru kalau yang lama masih ada," Menanggapi ucapan Rara supaya tidak terlalu tegang situasi yang ada.


"Kalau iya juga nggak apa pak, tapi bisa ngalahin kebaikan ibu Rara dulu," Sedangkan bu Ami terharu mendengar pembelaan Rara tapi apa akan terus seperti ini fikirnya.


"Kalau kebaikan ibu maka tidak ada satu pun yang bisa ngalahin," Jujur pak Mat atas kebaikan yang pernah bu Ami lakukan dari tutur kata yang sopan, tidak pernah marah atau berkata kasar saat marah tidak pernah sekali pun.


"Maka dengan berat hati bapak harus terima kalau tidak boleh mempunyai ibu baru buat Rara," Sok tegas Rara bicara seolah bicara pada yang lebih kecil dari dia.


"Iya bapak tau," Pasrah pak Mat lalu berkata dalam hati siapa juga yang mau nambah istri ini kepala anak kepentok di mana atau mimpi apa semalam mungkin kelamaan tidak pulang.


Ketegangan tadi sedikit mencair karena obrolan bapak dan anak itu.


"Sekarang bapak mau bicara serius jangan di ajak becanda lagi ya nak," Pinta pak Mat supaya apa yang ingin dia sampaikan tersampaikan supaya beban dia berkurang.


"Rara udah ada kak Satyia yang ngajak serius pak," Nak nih anak kepala minta di tabok apa bikin kesal lagian mana ada bapak yang ngajak anak sendiri serius.


"Iya bapak udah tau nak, sekarang dengar dulu ya jangan becanda," Selera humor Rara keluar kalau sudah bertemu orang tuanya.


"Iya pak Rara serius kali ini," Memperbaiki posisi duduk dengan benar lalu melirik Satyia sekilas namun yang di lirik hanya tersenyum.


"Mungkin ini akan menyakitkan atau lebih dari kata sakit tapi Rara harus tau kebenaran ini sebelum hubungan kalian terlanjur jauh dan ada masalah di kemudian hari," Dengan nafas berat pak Mat berusaha setenang mungkin.


"Maksudnya bapak nggak merestui hubungan kami?" Tuh kan tadi sudah di bilang suruh mendengar dulu tapi dasar mulut tidak bisa diam.


"Bukan tidak merestui nak tapi ini lebih penting dari sekedar restu kami.


Dulu dua puluh tahun yang lalu ibu melahirkan seorang anak di sebuah rumah sakit namun anaknya tidak bisa di selamatkan karena lahir belum waktunya juga anak itu sebelum lahir sudah meninggal di dalam perut namun ibu tidak tau saat itu ibu lagi tidak sadarkan diri selama operasi.


Yang ibu tau di sudah melahirkan seorang anak dan anak itu tidur di sebelah dia tapi anak itu bukan anak dia sebenarnya.

__ADS_1


Dia adalah anak orang lain yang tidak tau siapa yang punya saat itu suster membawa setelah menemukan di ruang bayi dan di tujukan kepada ibu lalu juga hanya ada sepucuk surat yang dia tinggalkan beserta nama pendek di bagian bawah surat," Pak Mat menjeda ceritanya buat melihat reaksi Rara.


"Kenapa bapak liat Rara, kan bapak lagi cerita lanjut aja bakal Rara dengar sampai akhir," Raut wajah Rara biasa aja makanya pak Mat memandang Rara.


"Kamu nggak penasaran siapa anak itu?" Suatu keheranan sebab Rara biasa saja atau dia sudah tau.


"Nggak pak, lanjut aja," Balas Rara.


"Saat melihat bayi itu ibu sangat bahagia karena anak yang di nantikan selama ini sudah lahir dan cantik.


Tapi di saat yang sama bapak merasa sangat sedih karena harus bohong sama ibu dan juga kehilangan bayi kami.


Sejak bayi itu ada di antara kami ibu sangat senang namun bapak sedih harus menyimpan rahasia itu agar ibu tidak sedih sebab anak itu bukan hasil buah cinta kami,"


Kata demi kata yang pak Mat ucapkan Rara satu kan hingga dia terkesiap mendengar kenyataan itu.


Dari awal dia sudah curiga hingga di akhir cerita dia baru menyadari pada siapa di tujukan cerita itu.


"Jadi, jadi jadi maksud bapak anak itu Rara dan Rara bukan anak kalian jadi gitu maksudnya?" Mata Rara memanas mendengar kenyataan ini, benar kata bapaknya kalau apa yang mau dia sampaikan akan lebih dari sekedar rasa sakit.


"Maafkan bapak yang baru bisa cerita sekarang nak, bapak tidak bermaksud menyembunyikan semua ini hanya saja menunggu kamu dewasa agar bisa memahami semua," Sesal pak Mat, kalau mau cerita dari dulu juga bisa atau Rara tamat sekolah menengah karena di usia itu Rara sudah bisa memahami maksud mereka tapi yang jadi pertanyaan kenapa baru sekarang setelah puluhan tahun.


Rara tidak menjawab hanya terdiam sambil menundukkan kepala dengan air mata berjatuhan.


Kenyataan ini sungguh menyakitkan buat dia.


Kenapa baru tau kalau dia bukan anak kandung orang yang sudah membesarkan dia.


Bukan anak kandung, lalu orang tuanya ada di mana dan kenapa tega meninggalkan Rara yang masih bayi itu pada orang lain.


Kenapa juga mereka bisa menyembunyikan selama ini, atau kasih sayang yang mereka berikan tidak tulus juga hanya sebuah kepalsuan juga seperti kenyataan ini.


"Maafin bapak nak, tapi sungguh bapak tidak ingin membuatmu sedih dan ibu juga baru tau ini saat kamu mulai kuliah.


Jika ingin menyalahkan cukup marah sama bapak aja karena bapak merahasiakan ini dari kalian," Tidak tega melihat anak yang sudah di besarkan dengan penuh kasih sayang kini menangis di depannya karena sebuah rahasia yang sudah lama di simpan.


"Nak Satyia sudah tau kan sekarang dan bapak harap tidak meninggalkan Rara setelah tau bukan anak kami," Beralih pada Satyia yang sama sama diam.


Tidak menyangka juga kalau Rara bukan anak kandung.


Sekilas ingat apa kata Iva kalau dia juga akan mengalami apa yang bang Endra lalui.


Kini terjawab sudah namun ini lebih berat dari itu.


"Saya sudah berjanji pak maka saya tidak akan mengingkari itu.


Masalah Rara bukan anak kandung saya bisa terima dan untuk orang tua Rara saya akan bantu cari sampai ketemu," Inilah sikap yang harus di tiru, teguh pendirian, menepati janji.


Laki laki di pegang dari ucapannya.


Rara tidak sanggup lagi berada di sana lalu beranjak masuk ke dalam kamarnya.


"Yang!" Rara hiraukan suara Satyia, dia butuh ketenangan sekarang.


"Tidak apa, kita harap maklum Rara butuh waktu menerima semua ini," Cegah pak Mat supaya Satyia tidak menyusul Rara ke kamar.


"Biarlah pak nak Satyia menyusul Rara, mungkin dengan ada nya nak Satyia Rara bisa lebih tenang," Bu Ami mengizinkan Satyia menyusul Rara.


"Makasih pak buk, saya permisi dulu," Beranjak dari sana menyusul Rara.


Orang yang lagi sedih tidak boleh di biarkan sendiri dengan alasan butuh waktu menenangkan diri itu hanya fikiran singkat.


Kalau lagi sedih itu justru kita butuh orang lain di sisi kita sebagai penyemangat.


Kalau tidak ada yang menemani bisa saja kita beranggapan tidak ada yang peduli.


Di kala sedih kita butuh seseorang yang menemani buat bisa mencurahkan segala isi hati tapi sebagai orang yang menemani cukup diam sebagai pendengar jangan minta dia bercerita tapi biarkan bicara sendiri.


\=\=\=\=\=


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2