
Sontak Vani menoleh ke asal suara yang tidak terlalu asing di telinga dan melihat siapa yang bicara.
"Heh kamu lagi siapa yang nyuruh kamu kesini?" Sinis Vani melihat orang itu.
"Ini tempat umum, jadi aku bebas datang ke sini ngak ada larangan,' Balasnya, ya memang kan restaurant terbuka buat umum kalau tak pemilik buat apa buka restaurant kalau hanya orang tertentu boleh datang.
" Sana kamu, jangan bikin mood saya tambah hancur," Usir Vani malas melihat dia.
"Jangan urusi saya, urus saja anaknya sana kasihan tau nangis terus ngak kasian apa?" Anak kecil juga tau kali mana yang tulus dan mana yang tidak.
Liat wajah Vani aja mungkin udah berasa liat mak tiri Cinderella yang suka nyiksa anak tiri, jadi gimana mau diam.
"Bukan urusan kamu, dan satu lagi dia bukan anak saya," Sinis Vani, ucapan dia sama saja sama ucapan orang orang tadi yang menganggap anak itu anak Vani.
"Kalau bukan anak kamu, setidaknya belajar dari sekarang mendiamkan anak kecil biar nanti punya anak sendiri udah bisa," Mengambil alih anak itu yang tidak mau diam.
"Cup cup anak cantik, sayang udah dong jangan nangis terus, liat tuh pipinya jadi merahkan.
Anak pinter ngak boleh cengeng," menenangkan si kecil yang perlahan mulai mengecilkan suara tangisan dan tersisa hanya suara segukan karena lama menangis.
"Nah mbak liat kan? liat kan anak kecil aja tau mana orang baik," Cibir seseorang.
"Makanya mbak, kalau ngak bisa nenangin anak kecil jangan dulu deh di bikin, kasian," Ucap satunya lagi.
"Kalian berisik tau ngak," Balas Vani tidak terima.
"Zefan lagi, mana dia belum balik juga?" Melihat sekeliling belum ada tanda tanda akan kembali.
"Kenapa cariin mas Zefan?" Orang itu adalah Ziva yang juga sudah punya janji ketemua sama Zefan disana.
"Anak ini Zefan yang bawa, tadi izin ke toilet tapi belum balik juga," Jelas Vani sambil mencari keberadaan Zefan.
"Oh," Jawab Ziva singkat.
"Udah aku titip anak ini, aku pergi dulu ada urusan," Menyambar tas yang di bawa lalu melangkah pergi.
Lah seenaknya main pergi saja tanpa tanggung jawab sama sekali.
Lagian tadi Zefan menitipkan anak itu pada Vani kenapa sekarang malah menitipkan pada Ziva juga, itu namanya tidak amanah.
"Dasar ngak bertanggung jawab main titipkan aja, sama mozi aja ya cantik," Anak itu tersenyum mendengar ucapan Ziva.
"Mau ya sama mozi?" Lagi lagi anak itu senyum.
"Mozi bawa pulang mau? di rumah ada bang Zio teman kamu cantik," Mengelus kepala itu dan selalu tersenyum pada Ziva.
__ADS_1
"Itu anak orang, kalau kamu mau nanti kita bikin juga yang seperti ini, mau?" Bisik seseorang ke telinga Ziva, alhasil Ziva menoleh dan cup,, seketika mata Ziva melotot karena mencium pipi seseorang.
"Ih mas Zefan, ngagetin tau,' Kesal Ziva, ternyata orang yang berbisik itu Zefan yang kembali dari toilet.
" Kamu udah mulai nakal ya Zizi, di depan umum aja berani cium mas," Ledek Zefan duduk di kursi tadi.
"Siapa yang nakal sih mas? ini anak siapa mas? gemes tau ingat Zio waktu kecil," Mencubit pelan pipi bakpou itu.
"Anak teman mas," Zefan sedari tadi memperhatikan interaksi Vani hingga Ziva datang dan Vani menitipkan anak itu.
Sungguh Zefan tidak suka sama cara Vani mendiamkan anak itu dan meninggalkan begitu saja sama Ziva.
"Sekarang orang tuanya mana mas? kasian tau," Walau Ziva suka anak kecil tapi tidak tega kalau anak itu harus terpisah dari orang meski hanya sebentar.
Karena seorang anak hanya akan nyaman kalau bersama orang tua bukan orang lain.
"Ada tuh," Tunjuk Zefan pada meja yang ada di dekatnya dan yang di tunjuk hanya membalas dengan senyuman.
Lalu dia melangkah menuju meja Zefan dan mengambil alih anaknya dari gendongan Ziva.
"Makasih ya Dara," Ucap Zefan pada temannya.
"Iya sama sama Fan, kayak sama siapa aja.
"Yah kok di bawa sih," Lemes Ziva melihat mainan barunya pergi.
Yah Ziva itu anak orang bukan mainan, kalau mainan seperti itu author juga mau.
"Tadi mas udh bilang nanti kita bikin yang seperti itu juga jangan sedih,"
"Kalau sama berarti papanya juga sama," Goda Ziva memainkan alisnya.
"Ngak jadi deh, nanti kita bikin yang lebih menggemaskan dari itu," Elak Zefan tidak terima.
Membayangkan saja Zefan sudah ngeri apa lagi nyata.
"Ya udah sekarang ngapain mas nyuruh Iva kesini? mas kan tau kalau Iva siang kerja," Alah Ziva alasan kerja lagi, bukannya Ziva PTT ya alias pengangguran tingkat tinggi.
"Ini jam istirahat Zizi, jangan alasan ya," Lagian Ziva di suruh kerja di tempat Zefan tidak mau, kalau tempat Zefan kan tidak perlu susah kalau mau bertemu.
"Ya ya terserah mas aja," Nyerah Ziva tidak mau berdebat.
"Zio mana? kenapa ngak di bawa? mas kangen," Karena Ziva datang sendiri kesana.
"Mas ternyata hanya sayang sama Zio, lagian Zio ikut mama keluar kota ke tempat saudara mama kan besok libur jadi bawa Zio," Jawab Ziva cemberut, kenapa hanya Zio yang di kangenin, apa Zefan tidak merindukan diri nya.
__ADS_1
"Cie yang cemburu sama anak sendiri," Memegang tangan Ziva.
"Zizi kan ada disini, makanya mas tanyain Zio mas kan ngak bisa kalau ngak liat wajah tampanya yang hampir sama dengan mas," Pede gila Zefan memuji diri sendiri.
Kapan lagi coba, ibarat kata pepatah tersenyumlah anda sebelum senyum itu di larang sama seperti memuji diri sendiri kalau menunggu orang memuji kita kelamaan ngak tau kapan, lah tidak nyambung sama sekali.
"Terserah mas terserah, yang penting mas senang," Malas Ziva.
"Zizi," Panggil Zefan lembut.
"Iya mas," Jawab Ziva.
"Mas mau bertemu sama majikan kamu boleh?" Pinta Zefan.
"Buat apa mas?" Bingung Ziva, majikan mana coba? jelas jelas Ziva tidak punya majikan jadi siapa yang akan bertemu Zefan.
Tapi Ziva ikuti saja dan dia baru ingat.
Jadi mas Zefan mengira aku kerja di rumah sendiri gitu.
Ya udah aku ikuti aja, tapi jangan kaget nanti ya mas.
Ziva tersenyum dalam hati.
"Mas mau meminta izin supaya kamu kerja sama mas aja, kerja yang layak Zizi.
Mas ngak tega liat kamu kerja jadi asisten rumah tangga gini," Pinta Zefan setengah memohon.
"Mas yakin?" Tanya Ziva.
"Iya mas yakin, mau ya?"
"Ok Iva bawa mas ketemu orangnya tapi jangan kaget ya kalau udah bertemu?" Ziva bicara sambil menahan senyum.
"Kenapa? apa orangnya jelek? tua? atau galak?" Tanya Zefan makin penasaran.
"Ngak sama sekali mas, dia orangnya baik mas. Kapan mas mau bertemu dia?" Padahal Ziva sudah setengah mati menahan tawa supaya tidak meledak.
"Sekarang bisa? apa dia ada di rumah?" Tanya Zefan.
"Ada ayok mas," Menarik tangan Zefan keluar dari restaurant tapi sebelum itu Zefan sudah meninggalkan uang buat membayar pesanan tadi.
\=\=\=\=\=
Tbc.
__ADS_1