My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Bukan Kejutan Biasa.


__ADS_3

Mata indah itu menangkap sosok yang berdiri di sudut ruangan dengan lampu sorot masih mengarah pada mereka. Lalu Lisa melihat bang Endra di samping dengan mengangguk kan kepala tanda semua itu tidak mimpi.


Tanpa persetujuan air mata Lisa berjatuhan melihat siapa yang berdiri itu.


Orang yang dia rindukan selama ini.


Orang yang sudah melahirkan dia kedunia ini.


Orang yang sudah membesarkan dia serta memberi kasih sayang tanpa di minta.


Orang yang menolak Lisa tetap tinggal di rumah nya saat tau Lisa hamil di luar nikah.


Tapi walau begitu Lisa tidak bisa membenci mereka sebab mereka tidak salah di mata Lisa mungkin saat itu mereka melakukan nya hanya sebagai bentuk rasa kecewa pada anak yang selama ini sudah mereka besarkan.


"Kenapa abang nggak bilang?" Lirih Lisa kini memeluk erat tubuh kekar itu dengan derai air mata.


"Kan kejutan, kalau di bilang bukan kejutan lagi namanya," Membalas pelukan itu lalu mengecup kening Lisa lama.


"Sudah sana temui mereka," Menyuruh Lisa menemui orang tuanya.


"Emang boleh?" Pertanyaan bodoh apa itu.


"Ya boleh lah, mereka pasti merindukan anak gadisnya ini," Mengecup sekali lagi.


"Nggak gadis lagi bang," Rengek manja Lisa.


"Iya abang tau nggak gadis lagi, udah sana," Siapa yang bilang masih gadis, sudah lama tidak gadis lagi sudah hampir lima tahun.


Lisa perlahan turun dari panggung berjalan pelan sebab gaun yang di gunakan menyentuh lantai jadi harus di angkat tapi tetap saja tidak bisa berjalan cepat.


Sampai di depan orang tuanya Lisa ambruk ke lantai.


"Maafin Lisa pa ma, Lisa nggak bisa jadi anak yang baik buat papa dan mama, Lisa nggak bisa jadi anak yang membanggakan kalian, Lisa hanya bisa membuat kalian malu.


Maafin Lisa yang nggak bisa jadi apa yang kalian impikan," Menangis di kaki kedua orang tuanya dengan air mata yang keluar tiada henti.


Mama Lisa membantu berdiri lalu memeluk Lisa erat.


"Mama sama papa nggak marah sama kamu sayang.


Seharusnya kami yang minta maaf tidak ada di masa sulit kamu dan malah mengusir dari rumah.


Maafin kami sayang kami salah padahal saat itu kamu hanya korban," Ketiga orang itu terlihat bahagia meski air mata mereka masih menetes.


Semua orang yang menyaksikan juga terharu apa lagi yang tau kisah mereka maka ikut senang sebab perjalanan itu tidak mudah terutama Lisa yang jadi korban.


"Mama nggak salah, Lisa yang salah.


Lisa nggak bisa jadi kebanggaan kalian," Masih menangis dalam dekapan kedua orang tuanya.


Setelah cukup lama suasana kembali tenang acara terus berlanjut sampai selesai.


"Bang, ini maksud nya apa?" Masih belum terlalu mengerti sama kejadian barusan, kedatangan orang tuanya di hari spesialnya jadi makin spesial.


Tidak menyangka orang tuanya ada di saat bahagia nya.


orang tua yang selama ini dia rindukan dalam diam.


Ya hanya dalam diam tidak bisa bicara sama siapa pun hanya bisa memendam rindu sendiri.


"Abang tau selama ini kamu merindukan mereka.

__ADS_1


Walau nggak pernah bilang tapi abang tau itu.


Saat abang pergi alasan kerjaan sekalian mengurus ini supaya kalian bisa bersama lagi sebab karena abang juga kalian berpisah maka abang juga yang harus menyatukan lagi.


Dan kenapa abang lama bergerak soal hubungan kita sebab abang ingin keluarga kita lengkap saat kita bahagia dan mereka ikut merasakan.


Bukan hal mudah abang membujuk mereka supaya merestui hubungan kita butuh perjuangan,"


Kini mereka duduk menikmati hidangan yang ada serta orang tua duduk di meja yang terpisah dari pasangan muda mudi.


"Rara iri tau nggak," Rara buka suara soal kejutan malam ini.


"Mau juga di kasih kejutan," Tambah Rara.


"Nanti mbak juga ada yang ngasih kejutan tenang aja," Balas Iva pada Rara.


"Kakak apa an sih, emang orang tua Rara marahan sama Rara apa," Dengus Rara pada Iva.


Hubungan nya sama orang tuanya baik baik saja jadi apa yang mau jadi kejutan seperti itu.


Ya tapi tidak harus sama juga kejutan lain juga tidak apa.


"Siapa tau kan, siapa tau mbak anak tetangga," Goda Iva, bukan maksud lain hanya saja Iva tau kisah Rara sebenarnya tanpa di beri tau.


"Anak kang masak kak, puas," Balas Rara kesal.


"Ye gitu aja ngambek, malu tuh sama pak dosen," Lisa melirik Satyia yang duduk di samping Rara hanya jadi pendengar setia obrolan mereka.


"Pak dosennya biasa aja, kakak aja yang ribet," Cibir Rara merangkul tangan Satyia.


Tidak apa ya merangkul tangan kekasih sendiri lagian cuma ada mereka bukan ada teman kampus atau dosen sesama seperti Satyia.


Selama menjalin hubungan Rara tidak pernah mau merangkul dirinya palingan mentok juga pegangan tangan kalau lagi berdua.


"Cie yang bahagia di rangkul," Mereka semua melihat ke arah Satyia yang tersenyum dan Rara seketika melepas pegangannya tapi di tahan oleh Satyia.


"Nggak usah malu selama memegang kekasih sendiri," Cegah Satyia memegang tangan Rara.


Rara tidak jadi melepas rangkulan itu dengan setia memegang Satyia dengan mereka terus berbincang.


"Gimana Sa? bunga di dada kian mekar kayaknya," Goda Iva pada Lisa yang alhasil wajahnya bersemu merah.


Bahagia, mungkin kata bahagia tidak cukup buat menggambarkan suasana hatinya malam ini meski tadi ada sedikit drama saat tau ddia bangun di ruangan asing.


Bahagia sudah jelas lah ya, Di lamar mendadak serta yang lebih membahagiakan bertemu orang tua yang selama ini di rindukan.


"Bukan mekar lagi Va, tapi kayaknya bunga kali ini pake pengawet nggak akan layu atau mati," Balas Lisa yang tidak lepas senyuman dari wajah cantiknya.


Wajah itu makin cantik setelah tau orang tuanya ada di sana menyaksikan hari bahagia nya.


Di lamar di depan orang tuanya.


Lisa sudah berencana akan menemui orang tuanya setelah di lamar sama bang Endra, namun semua itu tidak perlu dia lakukan sebab tanpa dia bergerak semua berjalan dengan lancar tanpa usaha sama sekali.


"Tapi cara mendapatkan ya gitu uji nyali dulu, harus pingsan, bangun bangun udah dimana aja gitu, terus saat tanya orang di sana nggak mau jawab.


Seperti memperjuangkan bunga langka di dunia jika seperti ini," Tambah Lisa dengan wajah setengah kesal memandang tunangannya.


Harus senam jantung dulu, takut, syok menjadi satu.


Hingga acara selesai mereka semua pulang ke rumah masing masing juga dengan Lisa ikut sama orang tuanya dengan alasan kangen.

__ADS_1


Bukan Lisa yang ingin ikut tapi sedikit di paksa sama orang tuanya sebab ingin menebus kesalahan dulu sebelum Lisa menikah.


Jika sudah berumah tangga nanti maka Lisa sudah sepenuhnya milik suami nya.


Sedangkan Rara di antar sama Satyia pulang walau bisa ikut pulang sama Iva tapi Rara cukup tau diri tidak mau ada di antara pengantin baru itu sebab tidak mau jadi nyamuk melihat mereka bermesraan nanti.


Sejak masuk mobil Rara diam saja lalu melihat ke arah luar menyaksikan pemandangan malam dengan kendaraan hilir mudik.


"Yang," Memanggil Rara yang sejak tadi diam melihat keluar.


"Ya kak," Tidak respon saat Satyia pertama kali memanggil yang pada Rara.


"Mikirin apa?" Menggenggam tangan Rara dengan tangan kiri.


"Nggak ada kak," Memandang Satyia yang entah mengapa malam ini terlihat lebih tampan dari biasanya.


"Mikirin lamaran kita nanti ya?" Mana ada seperti itu, ya kali mikirin lamaran nanti yang ada gimana bisa lulus dengan nilai terbaik.


"Nggak kak jangan percaya diri ya, Rara mikirin kelulusan sama dosen pembimbing, kira kira Rara dapat siapa ya?" Menjelang kelulusan memang sangat menegangkan bagi para mahasiswa termasuk Rara.


"Doain aja dapat kakak," Jawab Satyia.


Dia juga ingin jadi dosen pembimbing kekasih nya jadi seperti istilah sambil menyelam minum air.


"Kalau bisa dosen perempuan aja kak, biar lebih leluasa saat bimbungan," Goda Rara pada Satyia.


Lagian siapa yang mau nolak coba dapat dosen pembimbing kekasih sendiri cuma orang bodoh yang tidak mau dan Rara tidak masuk dalam kategori itu.


Sayang buat di lewatkan, fikir Rara.


Siapa tau dapat Satyia sebagai dosen pembimbing akan sedikit lebih mudah dan di beri keringan tapi kalau di buat sulit kan sudah ada dukungan penuh yaitu mama Satyia yang siap memarahi Satyia jika berani membuat Rara kesulitan.


"Kakak tau apa yang kamu fikirin yang, dan jangan harap semua itu akan terjadi," Mau jadi cenayang ya tau saja yang di fikirin Rara


"Rencananya sih gitu kak," Cengengesan menjawab ucapan Satyia.


Ibarat kata ya jangan mau melewatkan kesempatan yang ada.


Kalau sampai di lewatkan maka sama juga dengan bodoh.


Hingga mobil Satyia sampai di rumah Iva.


"Kakak mau mampir dulu?" Tawar Rara sebelum turun mobil.


"Nggak usah udah malam, bersih bersih abis itu istirahat ya besok kakak jemput kita berangkat pagi aja biar bisa santai di jalan," Satyia tampak ragu ragu melihat Rara seperti ada yang mau di sampaikan.


"Kenapa kak? ada yang mau di bilang," Rara bisa melihat gelegat aneh pada dosen kesayangannya.


"Nggak jadi tunggu halal aja," Satyia ingin seperti orang kebanyakan kalau pamitan sama kekasih minimal kecup kening.


"Kenapa? emang mau apa?" Jika tidak aneh aneh maka Rara bisa pertimbangkan.


"Udah lupakan aja, masuk gih udah malam.


Good night," Rara menurut keluar tidak mau menuntut Satyia buat bicara sekarang.


"Kakak juga hati hati di jalan, kabari kalau udah sampai," Menunggu mobil itu hilang dari pandangan baru setelah itu masuk ke dalam.


\=\=\=\=\=


Bersambung,,,

__ADS_1


__ADS_2