
Hati seseorang tidak bisa di paksa, tidak tau pada siapa akan berlabuh.
Hati adalah melakukan apa yang dia inginkan bukan pada apa yang kita kehendaki.
Jika dia ingin orang ini maka tidak bisa di ganti sama orang itu.
Tidak tau apa yang akan terjadi nanti, esok atau hari berikutnya.
Itu lah yang Vani rasakan orang yang dulu amat dia hindari serta dia benci kini malah berbalik menjadi orang yang sangat berarti dalam hidupnya.
Orang yang sama sekali tidak mau dia temui maka kini orang itu tidak boleh jauh dari dirinya.
Jangan tanya mengapa sebab dia sendiri juga tidak tau alsannya apa yang jelas sekarang dia nyakan serta merasa terlindungi.
Biar dia di bilang egois atau semacamnya yang jelas dia tidak merebut dari orang lain lagi, itu yang terpenting.
"Kamu yakin mau minta restu sama orang tua mu yang selama ini tidak menyukai ku," Kini mereka dalam perjalanan menuju rumah orang tua Vani setelah Vani selama satu minggu lebih tidak pulang.
Bukan karna takut kena marah sang kanjeng mami hanya saja dia mau menghabiskan waktu bersama Vino anaknya.
Biar lah Vani di cap sebagai anak pembangkang atau durhaka yang jelas dia tidak akan merebut kebahagian orang lain jika sudah ada kebahagian di depan mata selama ini.
"Kamu takut? segitu aja nyali kamu hm.
Atau kamu hanya main main aja?" Sumpah demi apa ucapan Vani tidak ada satu pun yang benar.
Apa dia bilang Renzi takut, tidak berani, nyali ciut.
Hey tuan putri nyali seorang Renzi tidak sebesar biji bayam ya, jadi jaga bicara sebelum dapat hukuman yang indah.
"Siapa yang takut coba, sorry ya nyali seorang Renzi tidak secetek yang kamu fikirkan.
Jadi berhenti berfikir yang ngak ngak di kepala cantik ini," Mengapit kepala Vani di keteknya setelah mendaratkan ciuman di jidat Vani.
Vani memberontak yang berada di ketek Renzi, bukan bau tapi merasa di perlakukan seperti anak kecil.
"Lepas Ren, bauk tau ngak," Alibi Vani agar bebas tapi di acuhkan oleh Renzi sebab dia suka melihat wajah cemberut Vani.
"Enak aja bauk, coba lagi cium bauk ngak," Merapatkan kepala Vani pas di keteknya.
"Ren kalau aku ngak bisa nafas gimana? kamu sengaja ya biar bisa cari mom baru buat Vino," Mana ada seperti itu, otak cantik ini berfikir terlalu jauh.
Jika ingin mencari ganti sudah dari Renzi cari, buat apa berjuang mendapat hati Vani jika ingin mencari pengganti.
Perlu di cuci tuh isi kepala.
"Itu rencana aku, kok kamu bisa tau sih.
Cenayang ya," Nahh kan minta di jedotin itu kepala ke dinding.
Bisa tidak niatnya yang bagus dikit seperti ngajak liburan atau nikah gitu mengingat hubungan mereka yang belum resmi.
"Udah aku benci kamu," Menarik kuat kepala hingga terlepas.
"Love you too," Tidak nyambung sumpah nih laki.
Mobil itu tiba di depan rumah yang sangat mewah itu dengan beberapa penjaga yang berada di beberapa sudut
Dengan langkah pasti Renzi membukakan pintu buat Vani dan tidak lupa menggendong Vino yang sedang terlelap.
__ADS_1
Ucapan Vani mengenai Renzi berbeda jauh sama langkah mantap Renzi yang siap menghadapi apa yang ada di dalam nanti.
"Pa ma," Sapa Vani saat sudah berada di dalam bersama Renzi yang berdiri di sampingnya dengan Vino yang masih terlelap.
"Masih ingat rumah kamu," Bentak mama Vani padanya apa lagi datang bersama orang dia tidak suka, catat hanya mama Vani yang tidak suka bukan papa nya.
Sekelebat bayangan negatif berputar di kepala kedua orang tua Vani.
Siapa anak yang di laki laki ini? apa itu anak mereka berdua? kalau iya kenapa mereka tidak tau atau laki laki sudah punya anak bersama perempuan lain.
Jika iya kenapa sekarang bersama Vani datang kesini.
"Maaf ma, aku ngak bisa lagi lakukan rencana mama," Penyesalan Vani terhadap apa yang dia lakukan selama ini bersama mamanya.
"Apa yang kamu bicarakan Van? rencana apa?" Elak mama Vani yang tidak mau suami nya tau tentang rencana yang selama ini mereka lancarkan di belakang suami atau papa.
"Cukup ma, mama ngak usah mengelak lagi.
Bukannya mama selama ini yang meminta aku mendekati Zefan sampai menculik anak Iva," Kini tatapan papa Vani mengarah pada sang mama.
Dari tatapan itu seolah berkata, benar apa yang Vani bilang ma.
"Kamu jangan asal nuduh mama Van,mama hanya nyuruh kamu dekati Zefan bukan nyulik anak orang," Teriak mama yang ketakutan kalau sampai suami nya marah sudah berbuat jauh sampai menculik anak orang.
Walau papa Vani jarang tapi saat marah maka akan membuat siapa aja tidak mampu berkutik.
"Udah lah ma, aku kesini mau minta restu bukan mau debat sama mama.
Aku harap papa sama mama merestui hubungan kami," Ngalah Vani tidak mau melanjutkan perdebatan lagi yang tidak ada hasil itu.
Lagian apa pun yang di bicarakan tentang masa lalu tidak akan merubah keputusan Vani buat hubungan mereka berdua serta Vino yang butuh orang tua lengkap.
Tadi Renzi diam hanya tidak ingin ikut campur masalas Ibu dan anak itu.
Yang seharusnya orang tua mengajarkan yang baik pada anaknya bukan sebaliknya.
"Kamu ngak ingat apa kata saya dulu, kalau sampai kapan pun saya ngak akan pernah menerima kamu apa pun alsannya," Tolak mama Vani masih tidak bisa menerima Renzi, padahal jika di lihat Renzi bukan lelaki brengsek kali dan juga bukan lelaki baik.
Buktinya bukan lelaki baik adalah sudah berani menghamili anak gadis orang tanpa di nikahi dan bukan lelaki brengsek kali yaitu hanya sama Vani dia melakukan itu buat mengikat Vani.
Jadi balance lah.
"Sekarang mama diam, biar papa yang bicara sekarang," Papa mulai jengah sama istri nya yang terus bicara tiada henti itu.
"Ish papa," Merasa keberatan sama perintah sang suami.
"Diam atau masuk kamar," Di skak gitu baru nurut, lagian dia juga tidak mau masuk kamar maka pilihan nya adalah diam.
Ok diam.
"Papa tidak masalah sama apa yang jadi pilihan mu sayang, yang penting bagi papa kamu bahagia sama pilihan mu itu sudah cukup.
Papa hanya bisa mendoakan kebahagian kamu sayang," Papa orang yang tegas tidak suka memaksa kehendak pada siapa pun terutama anaknya.
"Kamu udah besar dan tau mana yang terbaik serta yang baik buat kamu.
Papa hanya bisa dukung aja.
Semoga bahagia sama pilihan mu.
__ADS_1
Dan untuk kamu," Kini pandangan papa beralih pada Renzi.
Mereka saling pandang sebelum papa memulai bicara.
"Papa titip Vani jaga dia baik baik, sayangi dia seperti kami menyayangi dia.
Dia selama ini dia tumbuh dengan kasih sayang lengkap maka kalau dia sama kamu pastikan itu selalu ada.
Om sudah tau apa yang terjadi di antara kalian berdua dan om harap kejadian itu tidak terulang lagi di masa depan maka om minta segera resmikan hubungan kalian sebelum adiknya lahir," Papa bukan orang bodoh yang tidak tau apa sudah terjadi sama anaknya hanya aja membiarkan dulu sampai sejauh mana dan bersyukur sekarang mereka sudah bersama jadi tidak ada yang perlu di kwatirkan.
"Maaf om waktu itu saya tidak tau bagaimana cara mengikat Vani, hanya itu yang terlintas dalam fikiran saya," Ya waktu itu memang Renzi terpaksa melakukan itu di paksa keadaan.
Vani bernafas lega ternyata papa nya setuju sekarang tinggal mamanya yang keras kepala.
"Om ngerti kamu saat itu dan jika om berada di posisi mu akan melakukan itu juga buat bisa bersama perempuan yang om cintai, berbahagia lah kalian om restui," Kini mama yang mendelik sama papa yang mengambil keputusan sepihak.
Apa pendapat dia sekarang tidak di butuhkan bagai seorang istri dan mama.
Apa dia tidak di anggap ada di sana sekarang.
"Makasih om," Perlahan Vino bangun setelah merasa terusik sedari tadi yang terus berisik.
"Papa ngak nanya pendapat mama dulu?" Selidik mama pada papa.
Lagian kalau di tanya akan sama saja kan.
Tidak akan berubah juga jadi buat apa bertanya.
"Buat apa ma, kalau menantu yang mama harapkan hanya Zefan terus.
Kasian anak kita ma yang kalau di paksa sama Zefan belum tentu bahagia,"
Cukup lama perdebatan papa dan mama serta di menangkan sang papa yang jauh lebih tegas.
"Mom, dad," Panggil Vino saat sudah sadar sepenuhnya dari tidur.
"Ya boy, gimana tidurnya nyenyak?" Kini Vino sudah pindah pada pangkuan Vani.
(Jangan tanya kapan mereka duduk sebab tidak perlu di jelas kan secara rinci kalau soal begituan kan).
"Salim dulu sama panda dan manda," Perintah Vani yang di jalani Vino.
"Sini duduk sama panda aja ya," Vino melihat ke arah Vani dan dapat anggukan baru mau di pangku papa Vani.
Hampir dua jam mereka bercerita serta menentukan kapan hubungan mereka di resmikan kini mereka bertiga dalam perjalanan kembali pada kediaman Renzi.
"Sayang papa kamu benar tadi, kita harus secepatnya kasih Vino adik supaya dia ada teman," Usul Renzi yang membuat Vani tersentak kaget
"Jangan ngarang kamu Ren, mana ada papa bilang gitu tadi.
Yang ada papa bilang cepat resmikan hubungan kita takut nya keburu adik Vino lahir.
Itu baru benar," Ralat Vani yang tidak mau di bodohi sama Renzi.
"Sama aja.
Sama sama Vino bakal punya adik," Sudah bicara sama dia tidak akan ada yang mau ngalah.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Tbc.