My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Masih Drama Dua Istri.


__ADS_3

Sinar mentari sudah mulai menampakkan diri, satu persatu penghuni rumah ini sudah mulai menunjukkan tanda tanda bangun dari mimpi indah mereka.


Di mulai dengan bersih bersih dan berjalan menuju meja makan buat sarapan bersama.


"Pagi pa ma," Sapa Zefan yang lebih dulu turun.


"Pagi," Balas kedua nya kompak. Cie kompak.


"Abang mana?" Tanya papa pada Zefan.


"Kan bukan satu kamar pa, jadi mana aku tau," Jawab pintar, siapa yang ngajarin? kok bisa sepintat ini.


"Siapa tau sebelum kamu turun kan bangunin abang dulu," Kurang kerjaan kali pa bangunin orang yang sudah gede buat bangun pagi.


"Lupa kalau abang tidur di rumah," Alasan apa itu, mama ada lupa padahal semalam masih bicara sebelum tidur.


Cari alasan yang bagus dikit dan bisa di terima akal sehat.


Kata lupa tidak Pantas bagi anak muda dan di bawah umur lima puluh, merasa kalau orang itu banyak fikirin.


"Pagi pa ma," Bang Endra turun dengan Zio dalam gendongan.


"Pagi," Balas kedua nya.


"Sapa kakek sama nenek Zio," Pinta bang Endra pada Zio.


"Pagi kakek, pagi nenek," Suara kecil itu menyapa di meja makan.


"Pagi sayang, sini duduk sama kakek," Bang Endra berjalan ke arah papa dan menarik satu kursi ke samping papa buat Zio duduk.


"Sama kakek duduk ya, anggap aja kakek sendiri," Zio menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Gimana semalam tidur Zio? enak tidak?" Papa mencoba akrab sama Zio.


"Nyenyak kek tapi," Jeda Zio melihat Zefan.


"Kenapa cucu kakek?" Penasaran sama ucapan Zio yang terpotong.


"Papa ngak mau ngajak daddy tidur bareng," Nah ada ada saja kan, mana mau dua orang pria dewasa tidur dalam satu kamar dan ranjang.


Yang benar saja Zio kalau minta sesuatu.


"Bukan ngak mau Zio sayang, kan daddy udah tidur ngak mungkin kita bangunin," Alasan bang Endra yang berharap Zio mengerti.

__ADS_1


"Tapi kalau mozi atau mama Zio bangunin lagi tidur mau pa," Hayo mau jawab apa lagi papa Endra.


"Zio ngak tau aja kalau daddy tidur seperti orang pingsan," Ayo Zio ayo mengerti lah, jangan kasih pertanyaan yang membuat otak berfikir di saat perut kosong.


"Udah nanti lagi ngobrolnya sekarang kita sarapan dulu," Lerai papa supaya pertanyaan yang entah selesai itu di hentikan sejenak dulu.


"Tunggu kek, nenek kenapa diam aja nenek bisu apa puasa," Nah bocah kalau bertanya yang bikin orang senang napa, jangan yang bikin orang marah tidak baik.


"Ngak apa Zio, Zio tampan," Puji mama yang belum bisa banyak bicara sama Zio.


Mengingat kata kata yang pernah dia lontarkan pada Iva yang menyebutkan dirinya murahan, janda dan banyak kata kasar.


Dan sekarang kenyataan yang dia tau Zio cucu dia dan Iva lah yang membesarkan Zio sejak lahir.


"Makasih nek, tapi Iyo emang tampan sejak lahir dan nenek bukan orang pertama yang bilang Iyo tampan jadi Iyo udah biasa,"Percaya diri sekali kamu anak kecil tapi iya juga kamu memang tampan yang tak bisa di pungkiri.


" Udah ayo makan sekarang," Sudah cukup basa basi di meja makan takut nya sarapan juga ikutan basi.


Sarapan dengan tenang dengan Zio di suapi papa walau awal dapat penolakan telak dari Zio sambil berkata.


"No kakek Iyo udah besar bisa makan sendiri," Alhasil papa tidak jadi menyuapi Zio jika Zio sudah seperti itu menjawab.


Suasana sarapan pagi begitu beda sekarang, ada makhluk kecil yang menghiasi meja makan kali ini.


Beda karna celotehan Zio yang membuat mereka semua tersenyum hangat serta ada yang beda dari yang terasa dalam diri mereka.


Menikmati pagi berbeda ini dengan tambahan Zio di antara mereka.


"Zio nanti pulang malam aja ya sama daddy papa kakek dan nenek," Ujar Zefan yang mana Zio belum minta pulang juga.


Semalam Zio mau ikut sama bang Endra karena ada Zefan juga jadi Zio tidak perlu mikir panjang lagi buat ikut.


"Iya daddy Iyo mau disini," Ya mana mau Zio nolak kalau ada Zefan.


"Zio sekarang udah Sekolah?" Tanya mana yang sedari tadi hanya melihat interaksi di antara mereka.


Ingin ikut bicara tapi tidak tau mau bilang apa, ya hanya ini pertanyaan yang terlontar begitu saja.


"Iyo Sekolah di xx nek, nanti nenek jemput juga Iyo Sekolah ya seperti mozi, daddy papa dan mama," Pinta Zio polos yang tidak tau saja kalau neneknya ini dulu jahat seperti mak bawang merah.


"Iya nanti pasti nenek mau jemput Zio Sekolah," Mama senang entah mengapa dia ingin lebih dekat sama Zio.


Anak kecil yang punya banyak kemiripan sama putra sulungnya serta banyak bicara membuat mama betah berlama lama sama Zio.

__ADS_1


"Nenek tau ngak?" Kini mereka berdua saja yang asik bicara dan lain hanya jadi penonton.


"Apa? mana nenek tau kalau cucu tampan nenek ngak bilang," Zio berjalan ke arah neneknya yang tadi duduk di samping kakek.


"Iyo punya serba dua nek," Apa nya yang punya serba dua coba, jelaskan dan bicara yang benar Zio.


"Apa nya yang serba dua?" Ya nenek akan sama kaget sama seperti Zefan dan bang Endra.


"Iyo punya dua nek, daddy papa, mozi mama dan opa kakek, oma nenek," jelas Zio menjadi kan neneknya kagum.


"Zio juga mau punya dua adik dan dua istri nek biar adil," Rasa nya jantung kakek mau copot dan nenek langsung memegang dada sesak mendengar ucapan Zio.


Dari mana anak sekecil dia tau kata kata ini, apa nya yang biar adil kalau begini caranya bukan biar adil tapi biar perang, baru betul.


"Zio sayang bukan seperti itu yang adil, sekarang kakek tanya kakek punya siapa aja?" Jelas kakek pelan pelan.


"Nenek aja kek," Di balas cepat sama Zio.


"Sekarang mozi Zio punya siapa?" Lagi kata kakek.


"Punya daddy," itu pintar kenapa tadi tidak.


"Jadi kalau Zio mau semuanya dua boleh tapi punya istri cukup satu aja ya!"


"Kakek cuma punya nenek, mozi cuma punya daddy, papa cuma punya mama jadi Zio hanya boleh satu ya ngak boleh dua,"


"Iya kek, tapi makan aja nambah," Ayo tepok jidat berjamah.


Hadeh definisi adil tidak sampai kesana juga Zio.


Mana ada semua serba dua hingga punya istri juga dua.


Walau bisa adil sekali pun tetap saja perempuan mana yang mau di duakan.


"Fan, bang urus anak kalian papa pusing.


Ayo ma kita ke kamar buat menenangkan fikiran," Menarik tangan mama buat pergi dari ruangan itu.


Kalau lebih lagi lagi maka tidak tau apa yang akan terjadi.


Zefan yang sudah tau biasa saja reaksinya tidak berlebihan seperti orang tua mereka.


"Urus bang anak lo," Zefan juga ikutan pergi dari sana, biar bang Endra yang mengatasi kepintaran Zio ini.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Tbc.


__ADS_2