My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Rara.


__ADS_3

Sejak ibunya mengajak berkumpul sama bapak dan Satyia entah mengapa perasaan Rara mendadak gelisah tidak ada alasan pasti tapi yang jelas dia bertanya tanya dalam hati, ini ada apa? kenapa perasaan dia tidak enak semoga hanya perasaan dia saja.


Hingga sampai di ruang tamu tidak tau kenapa suasana berbeda dari yang di meja makan barusan, kenapa cepat sekali berubah?.


Apa ada pembahasan serius atau kak Satyia sudah minta restu namun bapak menolak dan sekarang mau membahas jika Satyia tidak di terima di keluarga ini dan meminta supaya menjauhi dirinya.


Tapi jika iya seperti itu Rara melihat Satyia biasa saja tidak ada gurat kesedihan atau kekecewaan di wajah tampan itu, dia biasa saja justru wajahnya menyatakan suatu penasaran bukan kekecewaan.


Hingga Rara di suruh duduk samping Satyia dia nurut aja tanpa bantah atau bertanya sama sekali.


Bukan nurut semata tapi di hatinya dia tidak tau kenapa melangkah ke tempat duduk Satyia.


Hingga bapak bicara Rara masih sempat becanda dan menyela dengan candaan.


Karena bagi Rara bapaknya orang yang asik di ajak becanda maka jika sudah ngumpul maka becanda lah yang mereka lakukan.


Hingga pak Mat bicara soal seorang ibu yang melahirkan bayi tapi bayi nya meninggal masih Rara santai tidak bereaksi sama sekali sampai pada puncaknya Rara mengetahui kenyataan yang mereka simpan selama ini.


Menyatakan Rara bukan anak kandung mereka, hancur hati Rara saat ini juga.


Bukan anak kandung? lalu dirinya anak siapa.


Yang dia ingat sejak dia lahir ah lebay jika sejak lahir dia ingat kejadian hidupnya.


Lebih tepatnya sejak dia mulai mengerti ini tidak boleh di lakukan yang dia tau mereka berdua orang tuanya bukan yang lain.


Mereka yang membesarkan Rara, memberi kasih sayang, memberi pendidikan dini sebelum masuk sekolah, mengajari berjalan, menyuap makanan, menghapus air mata saat menangis, membantu berdiri saat terjatuh, membela saat ada yang menyakiti tapi kini mereka bilang Rara bukan anak kandungnya.


Tanpa banyak bicara dan menjawab ungkapan itu Rara pergi dari sana masuk ke kamar.


Tidak peduli sama siapa lagi, kenyataan ini sungguh sangat menyakiti hatinya paling dalam dan membekas.


Jadi apa arti kasih sayang selama ini mereka berikan? apa hanya sebuah kepalsuan atau menutupi rasa sedih kehilangan anak mereka.


Banyak pertanyaan berterbangan di kepala Rara.


Selama puluhan tahun dia di besarkan dengan kebohongan.


Memberi senyum palsu seolah mereka bahagia punya anak tapi bukan darah daging mereka.


"Kenapa?" Air mata Rara kian membanjiri pipi mulus itu.


Cuma kata kenapa yang terbayang di kepalanya.


Kenapa mereka sembunyikan selama ini?


Kenapa baru cerita sekarang?


Kenapa sakitnya tidak ada boat?


Kenapa dia bisa hidup dalam kebohongan?


Kenapa atau apa dia semenyedihkan itu jika di beri tau?


"Jadi Rara anak siapa? apa orang tua Rara menginginkan Rara hadir di dunia ini hingga tega meninggalkan Rara gitu aja?" Duduk meringkuk di lantai dengan memegang kedua kaki lalu menyembunyikan kepala di antara dengkul.


"Kenapa cerita di depan kak Satyia? mau mengasih tau kalau Rara adalah anak yang nggak di inginkan orang tuanya.


Kenapa rasanya sangat sakit? kenapa?" Tangisan pilu itu mengisi kamar kecil itu.


Kamar yang Rara tempati kecil hingga dewasa.


Di kamar ini Rara menjalani hari bahagia tapi itu dulu bukan sekarang yang di hiasi air mata.


Kata orang kejujuran memang menyakitkan tapi Rara tidak pernah berharap akan semenyakitkan ini juga, tidak pernah.


Rara tidak pernah berharap semua ini nyata bahkan berfikir pun tidak pernah sebab dia cuma tau dia anak kandung sebab kasih sayang dulu begitu nyata dan tulus.


"Kalau gitu orang tua Rara ada dimana?"


"Apa mereka nggak mau ada Rara di antara mereka?"


"Apa Rara anak pembawa sial? hingga mereka nggak mau membesarkan Rara?"


"Apa Rara akan jadi jadi beban jika terus sama mereka?"


"Apa Rara adalah anak yang nggak di inginkan atau kehadiran Rara sebuah kesalahan?"


"Kalau iya kenapa nggak di bunuh saat baru hadir dari pada di buang,"


Rara tidak tau harus apa sekarang, fikiran dia buntu tidak bisa berfikir jernih.

__ADS_1


Cuma air mata jadi saksi kalau dia begitu menderita mendengar kejujuran yang tidak pernah dia bayangkan.


Dari kecil dia tidak pernah merasa sakit separah ini bahkan saat terjatuh lagi bermain maka ibunya dengan cepat membantu berdiri lalu membersihkan luka itu tapi sekarang pada siapa dia mengadu kalau orang yang di harapkan baru saja menoreh luka meski sebenarnya mereka juga tidak mau menyakiti hatinya.


Tapi yang namanya rahasia harus tetap di sampaikan agar jika Rara menikah kelak akan membutuhkan wali sah buat ijab qabul.


Menikah membutuhkan ayah kandung untuk ijab kabul kalau tidak maka tidak sah atau bisa di wakilkan pada wali hakim.


"Tapi mereka juga nggak salah, mereka juga sama terluka seperti Rara yang kehilangan anak yang mereka nanti tapi ini tetap menyakitkan rasanya.


Hati ini belum bisa menerima semua ini masih sangat menyakitkan sekali rasanya sesak,"


Meremas dada nya yang terasa sangat menyesakkan bahkan untuk bernafas saja begitu sulit.


Udara sulit lewat seperti ikan keluar dari air.


Mengedarkan pandangan ke segala penjuru kamar mengingat kenangan dulu dimana sang ibu selalu mengajaknya main setiap ayahnya pergi bekerja atau sekedar bermain sebelum tidur siang atau menjelang malam.


Di kasur itu ibunya selalu bercerita sebelum dia tidur bahkan tanpa buku dongeng seperti kebanyakan anak tapi entah mengapa ibu selalu punya cerita tiap hari yang berbeda bahkan tidak pernah absen buat bercerita.


"Kamu jangan lemah Rara kamu harus kuat, sekarang tugas kamu nggak hanya menyelesaikan kuliah tapi mencari keberadaan kedua orang tua yang entah berada di mana.


Jangan jadi gadis lemah seperti ini kamu harus kuat.


Hidup ini memang keras jika kita lemah maka akan berat buat melewati semua.


Kamu terlahir jadi gadis kuat maka sekarang buktikan kalau kamu bisa lewati semua,"


"Jika kamu hanya menyalahkan orang tua mu sekarang maka masalah nggak akan pernah selesai tanpa kamu bertindak, sekarang bangkit dan mulailah bergerak,"


Menyemangati diri sendiri supaya bisa bangkit dari rasa sakit sekarang.


Hidup terus berlanjut meski kita berjalan di tempat maka jangan mau kalah sama ke adaan.


Jika dulu kamu di tinggalkan tanpa sebab maka sekarang kamu berhak tau apa alasan mereka meski harus menyakitkan lagi.


"Ayo bangkit dan tegakkan kepala walau terasa berat," Menghapus air mata yang terus mengalir meski tidak bisa berhenti.


Hingga Rara sadar ada yang mengetuk pintu kamarnya namun dia enggan buat berdiri membukakan.


"Yang buka pintunya," Panggil suara dari balik pintu itu.


Rara sadar masih ada Satyia di sini dan sekarang dia takut akan sebuah kejujuran lagi dari Satyia bisa saja dia tidak mau melanjutkan hubungan mereka.


"Rara sayang sama kak Satyia jangan sakiti Rara seperti mereka juga kak.


Rara nggak mau pisah sama kakak Rara nggak mau kak, plis jangan tinggalin Rara," Rara tidak sanggup membayangkan kalau Satyia ikut meninggalkan dia sendiri.


Rara sudah nyaman bersama tidak mau berpisah apa lagi tadi dia mendengar ucapan bapaknya pada Satyia buat menepati janji tapi tidak tau janji apa.


Sedangkan Satyia yang tidak mendapatkan jawaban dari dalam memberanikan diri membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu.


Mengedarkan pandangan tapi tidak melihat Rara namun ada suara tangis.


Satyia memcari sumber suara yang ternyata berada di balik kasur.


Mendengar apa yang Rara ucapkan dulu.


"Kalau kakak ninggalin Rara terus Rara sama siapa? jangan tinggalin Rara kak.


Rara tau kakak pasti mau pamit pulang ke kota sebab nggak mau menerima perempuan yang orang tuanya aja nggak tau siapa.


Ya pasti itu, lelaki mana yang mau sama perempuan nggak jelas seperti Rara hanya orang bodoh yang mau,"


Terus meracau tidak sadar kalau di kamar itu dia tidak sendiri lagi sudah ada Satyia.


Dan pendengar hanya tersenyum sekilas.


Ke fikiran seperti yang Rara ucapkan saja tidak pernah apa lagi mau meninggalkan ternyata kekasih nya ini sudah berfikir terlalu jauh dan sangat kreatif.


"Rara sayang sama kakak tapi Rara nggak mau pisah sama kakak plis kak jangan pergi," Racau Rara lagi tidak sadar kalau Satyia ikut duduk di sampingnya yang masih menenggelamkan kepala di antara dua kaki.


Bagaimana Satyia akan meninggalkan dia hanya karena alasan ini.


Bodoh sekali dia jika melakukan itu.


Mendapatkan bukan perkara mudah jadi melepas hanya tindakan bodoh yang akan dia sesali suatu hari nanti.


"Yang," Panggil Satyia lagi.


Tidak ada respon hanya suara tangisan dari mulut Rara.

__ADS_1


Ah andai mereka sudah menikah maka mulut Rara akan Satyia bungkam menggunakan bibirnya agar tangisan itu berhenti.


Biarlah di anggap ambil kesempatan asal tangisan itu berhenti.


Sebagai lelaki normal pasti menginginkan hal itu tapi sadar belum waktunya.


"Liat kakak yang," Menyentuh bahu Rara namun seketika badan Rara menegang mendapat pegangan di pundaknya.


"Kakak mau balik kan, ya udah hati hati di jalan," Setelah cukup menguasai diri Rara berkata dengan lirih tanpa mengangkat kepala melihat Satyia yang berada di samping.


"Siapa bilang?" Ternyata kekasih cantiknya punya fikiran pendek.


Buat apa pergi, datang berdua maka balik juga harus berdua.


"Rara tau kakak pasti nggak bakalan mau sama perempuan nggak jelas kayak Rara, orang tua nggak tau dimana.


Rara terima kak dan kakak berhak bahagia sama yang lebih pantas," Masih tidak mau melihat Satyia yang lagi mengembangkan senyum tampannya yang jarang terbit.


Kalau ibarat musim ya musim buah jarang ada tiap tahun pada waktu tertentu saja.


"Iya kamu benar kakak nggak suka perempuan nggak tau orang tuanya siapa.


Perempuan cengeng, perempuan lemah, perempuan yang pasrah sama keadaan," Ucapan Satyia bagaikan batu besar yang menghantam dadanya sungguh sangat terasa sesak.


Iya sekarang dia baru tau dia hanya anak nggak tau orang tua siapa? miris sekali hidupnya.


"Rara nggak apa kalau kakak tinggalkan, Rara baik baik aja jika kakak sama yang lain, Rara tau diri jika terus memaksa berada di samping kakak," Tidak siap tapi merasa ini lebih baik.


"Iya ucapan mu benar tapi kakak nggak bisa ninggalin kamu, kakak yang nggak mau sama yang lain, kakak yang maksa kamu agar terus mendampingi kakak, yang kakak mau hanya kamu jangan yang lain," Merangkul Rara dan memeluk dengan erat menyalurkan rasa tenang dan berkata lewat pelukan bahwa semua akan baik baik saja.


Tidak ada yang meninggalkan dia, tidak ada yang menjauhi dia, tidak ada yang tidak peduli semua fikiran jelek itu tidaklah benar.


Tangis Rara makin pecah mendapat pelukan Satyia tadi dia sudah berfikir bakal di tinggal sendiri, melewati beban berat sendirian, menangisi nasib yang tidak memihak.


"Rara takut bakal kakak tinggalin," Membalas pelukan Satyia tak kalah erat.


"Nggak akan," Balas Satyia.


"Rara takut kakak nggak mau sama Rara lagi," Lanjut Rara, perasaannya sedikit lega ada penguat sekarang.


"Siapa bilang," Jika saja Rara tidak lagi bersedih maka akan Satyia beri sentilan sayang di kening.


"Dengarin kakak baik baik, dari awal hubungan kita kakak udah janji bakal menerima kamu apa adanya termasuk segala hal kemungkinan yang akan terjadi baik di masa lalu atau masa depan.


Kamu yang kakak mau bukan yang lain, sebenarnya kalau kakak mau bisa aja memilih yang lain yang lebih segalanya tapi hati kakak nggak bisa dia mau kamu.


Tadi pun sebelum bapak cerita kakak udah feeling nggak enak namun sama sekali nggak bisa menggoyahkan teguhnya hati kakak,"


"Kakak bukan tipe lelaki yang gampang pindah dari satu hati ke hati lain.


Sebenarnya kakak nggak suka perempuan cengeng gampang nangis tapi kalau perempuan itu kamu bisa lah kita diskusikan lagi," Di bumbui sedikit candaan di akhir kalimat.


Tidak mau kesayangannya menangis lebih lama lagi.


"Ih mana ada Rara cengeng, ini nggak nangis ya cuma lagi kebanjiran aja," Melepas pelukan itu lalu menyapu air mata menggunakan tangan.


"Kakak juga nggak suka perempuan jorok," Membantu Rara membersihkan air mata menggunakan sapu tangan yang di ambil dari saku celana.


"Rara nggak jorok kak," Cemberut Rara dengan suara parau habis nangis.


"Iya nggak jorok cuma kurang bersih aja,"


"Jangan sedih lagi, bukannya ujian itu ada buat menjadikan kita lebih dewasa lagi.


Ibarat kita belajar ujian itu di adakan karena guru tau kita sudah pantas buat di uji begitu juga hidup.


Kita habiskan sisa liburan sambil mencari jalan keluar untuk ini semua.


Gimana kalau kita mulai dari rumah sakit tempat kamu lahir semoga aja ada bukti.


Tenang aja ada kakak yang selalu menemani perjuangan ini kita cari sama sama hingga menemukan siapa orang tua sayang.


Dan pokoknya harus sampai bertemu kalau tidak kita nggak bakal bisa nikah, siapa yang mau jadi wali nya,"


Yah ujung ujungnya nikah juga tapi tidak salah.


Bukannya ini tujuan mereka datang ke sana namun ada kejutan dulu dan di suruh berjuang.


Berjuang mencari calon mertua supaya bisa nikah.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Bersambung,,,


__ADS_2