My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Dua Hari Lagi 2.


__ADS_3

Beda orang beda juga cara mengekpresikan perasaan pada perempuan yang di suka.


Beda orang beda juga jalan cerita mereka serta beda juga cara mereka bersatu.


Setiap orang punya jalan cerita masing masing, jalan cerita mereka tidak selalu berjalan mulus pasti ada kerikil kecil yang akan melengkapi jalan cerita mereka dan pada akhirnya jadi kenangan sendiri buat mereka.


Seorang perempuan paruh baya sedang menata sarapan di atas meja sambil menunggu suami dan anaknya turun buat sarapan.


Walau sifat dia suka pemaksa tapi kalau buat sarapan dia tidak mau menyerahkan pada asisten rumah tangga kecuali makan malam.


"Pagi ma," Sapa sang suami tidak lupa kecupan singkat mendarat di pipi.


"Pagi juga pa," Balas istri dan tidak lupa kecupan singkat juga sebagai pembuka pagi.


Pembuka lah apaan emang sebuah acara pakai pembukaan segala.


"Pagi pa ma," Sapa Zefan turun dari kamar sudah rapi menggunakan pakaian kantor dengan jas yang di pegang.


"Pagi," Balas keduanya kompak.


Adem kalau lagi kompak dan tak ribut rasa berada di rumah lah kan emang lagi di rumah gimana sih.


Tapi tidak tau sampai kapan sampai selesai makan atau sampai siang mungkin bisa saja seterusnya.


Mereka memulai sarapan dengan tenang tanpa obrolan.


Siap sarapan.


"Fan, kenapa sampai sekarang belum datang juga buat feeting baju pertunanganan kamu sama Vani, ini tinggal dua hari lagi," Tuh kan di bilang juga apa ademnya juga tidak berlangsung lama hanya beberapa saat.


"Maaf ma aku sibuk akhir akhir ini, nanti aku suruh sekretaris aku aja yang carikan mama ngak usah kwatir," Jawab Zefan santai.


Feeting baju, kalau tunangan sama Iva maka dengan senang hati Zefan cepat lakukan namun ini sama perempuan yang tidak di suka maka Zefan ogah ogahan melakukan.


"Ngak bisa gitu Fan, kamu harus berdua feeting nya biar samaan nanti jangan sampai beda dikira kamu terpaksa lagi," Jika seperti itu kenapa harus menyuruh Zefan melakukan hal yang tidak dia suka.


"Kan emang di paksa ma," Sesantai itu jawaban Zefan atau memang dia akan menerima gitu saja perjodohan ini.


Tapi Zefan tidak sebodoh itu juga menurut tanpa ada niat tersembunyi.


Kalau mau menerima sudah dari lama Zefan menurut bukan sekarang di hari H-2.

__ADS_1


"Sekali aja nurut kenapa Fan?" Bentak mama.


"Kan selama ini juga nurut ma bahkan buat mimpin perusahaan," Iya memang penurut selama ini bahkan saking penurut nya Zefan mau melakukan apa saja yang di bilang mama hanya masalah hati Zefan memberontak.


"Itu beda Fan, pokoknya mama ngak mau tau kamu datang nanti sore ke butik," Melangkah pergi sebelum emosi terlalu naik tidak baik buat kesehatan.


Lagian punya anak dua sama saja suka sekali membantah.


Apa yang ada dalam fikiran anaknya itu sampai selalu menolak pilihan dia yang sangat tepat, itu kata mama.


Zefan malas lama berdebat lalu pamit sama papa saja dan berangkat kantor.


Mengendarai mobil mewah itu membelah jalanan pagi yang cukup rame oleh pengendara lain buat memulai aktifitas juga.


Sampai kantor Zefan langsung melangkah menuju lift yang akan mengantar dia menuju ruangan dia berada.


Sebelum masuk ruangan nya Zefan bicara bentar sama sekretaris yang sudah datang baru setelah itu masuk.


"Semoga berjalan lancar," Human Zefan di sela sela kerjaan yang banyak.


Hari ini Zefan cukup santai hanya memeriksa berkas dan menanda tangani.


Fokus sama pekerjaan yang ada tanpa ada gangguan sebab siang Zefan punya kerjaan sampingan tanpa bayaran apa lagi kalau bukan menjemput Zio pulang Sekolah.


"Sudah di beli yang saya pesan tadi?" Zefan keluar ruangan sebab sebentar lagi Zio pulang Sekolah.


"Sudah pak, ini," Memberikan dua buah paper bag ke pada Zefan.


"Makasih ya, saya mau jemput Zio," Berjalan menuju lift dengan membawa paper bag yang pasti isinya baju pesanan Zefan.


Tapi kenapa ada dua atau memang sengaja.


Sudahlah hanya Zefan yang tau


Mobil yang Zefan kendarai melesat menuju Sekolah Zio, bagi orang yang melihat pasti akan berkata kalau Zefan kurang kerjaan sebab mau repot repot menjemput Zio padahal dia punya keluarga juga namun bagi Zefan ada suatu ke bahagiaan yang Zefan rasakan kala bersama Zio yang tidak di dapat dari orang lain.


Sampai Sekolah ternyata Iva juga sudah duduk di kursi dekat taman Sekolah, sebentar lagi jam usai Sekolah tiba.


"Ternyata kita jodoh ya," Duduk di samping Iva dan memasang senyum tampan, lah senyum tampan itu seperti apa? biasa kan senyum manis dan itu sudah biasa.


"Kenapa mas selalu repot mau menjemput Zio? kan Iva bisa kalau mau bertemu Zio bisa nanti juga," Ucap Iva tanpa menjawab perkataan Zefan.

__ADS_1


"Ini kan kerjaan sampingan mas Zizi," Balas Zefan.


"Kerjaan yang tanpa di minta dan tanpa di gaji.


Kurang kerjaan kali mas," Celetuk Iva sedikit terdengar nada mencibir.


"Kerjaan mas ini yang selalu membuat kita bertemu seperti sekarang," Ya gimana tidak bertemu kalau di samperin.


Lagian Zio sudah ada yang jemput.


"Kalau di datangi ya ketemu lah mas," Is bagaimana bisa dia hampir tiap hari menjemput Zio kecuali sibuk sekali.


"Tuh pintar," Mengusap kepala Iva lembut, dan setiap usapan itu selalu afa kasih sayang yang tersalur.


Cih tersalur memangnya saluran air apa.


Terserah lah whatever.


"Bentar mas sesuatu buat Zizi," Melangkah menuju mobil dan kembali membaea satu paper bag.


"Buat Zizi nanti pakai ya dua hari lagi mas jemput," Iva menerima paper bag itu penuh dengan tanda tanya.


"Ini buat apa mas?" Sudah tau itu isi baju dan buat apabdi gunakan dua hari lagi.


"Nanti Zizi juga kan tau," Mereka berbincang sambil menunggu Zio hingga akhirnya.


"Kok Zio ngak di tunggu sih," Nah kan tu sudah datang dengan wajah cemberut.


"Ini kan lagi di tunggu tampan," Menggendong Zio namun take urung wajah itu belum berubah dari cemberut.


"Tapi kan ngak di tempat biasa," Bisa tidak jangan suka ambekan seperti anak kecil.


"Iya maaafin daddy sama mozi ya," Dasar anak kecil di cuekin dikit langsung ngambek, jadi pengen cubit.


Mengatasi anak kecil memang harus sabar dan telaten.


"Sebagai gantinya Zio mau makan ayam kakek kaca mata," Lah seperti di rugikan saja minta ganti rugi segala.


"Dengan senang hati tampan," Menggendong Zio dan menggandeng tangan Iva menuju mobil.


Dan mobil Iva akan di bawa supir pulang.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Bersambung woke,,,


__ADS_2