
Zio melihat ke sumber suara dan terdapat seorang laki laki yang melambaikan tangan pada nya.
"Uncle di sini juga?." Kaki mungil itu menghampiri orang yang menanggil dia.
"Zio sama siapa ke sini?." Saat Zio sudah sampai di depan orang yang menanggilnya tadi.
"Sama mozi, eh mozi mana ya?." Melihat sekeliling restaurant ternyata mozi Zio belum masuk ke dalam.
"Mungkin ke toilet Zio, sini duduk sama uncle mau?." Dengan patuh Zio menurut saja dan duduk di kursi samping laki laki itu.
"Zio mau makan ngak?." Melihat menu yang ada dan kebetulan dia juga baru sampai jadi belum sempat memesan makanan.
"Zio udah makan uncle masih kenyang." Tolak Zio tidak mau makan.
"Zio sama mozi aja? daddy nya ngak ikut?." Seketika wajah Zio berubah jadi murung.
Daddy ya? satu sosok yang selalu menjadi tanda tanya bagi semua orang namun Ziva sampai sekarang belum buka suara tentang dimana keberadaan daddy Zio sampai sekarang.
"Hay kenapa jadi sedih gitu? maaf kalau uncle salah bicara." Merasa tidak enak melihat perubahan raut wajah bocah kecil nan tampan itu.
"Zio juga ngak tau dimana daddy berada uncle." Lirih Zio sambil menunduk.
Anak usia itu pasti butuh sosok seorang Ayah di masa pertumbuhan.
"Gimana kalau panggil uncle daddy saja, mau ngak? tapi uncle juga ngak maksa kalau Zio ngak mau." Menawarkan diri jadi daddy Zio sementara.
Walau tidak ada punya hubungan tapi merasa kasihan sama anak kecil yang ada di samping nya.
Lagian tidak ada salahnya juga dan dia juga menyukai anak kecil jadi tidak keberatan sama sekali.
"Beneran uncle mau jadi daddy Zio? ngak bohongkan? asik Zio punya daddy sekarang.
Nanti Zio mau pamer sama teman teman kalau Zio punya daddy yang tampan seperti Zio." Wajah Zio langsung ceria,walau bukan daddy kandung tapi setidaknya dia punya daddy sekarang dan merasa sangat bahagia.
"Beneran dong Zio, mulai sekarang panggil daddy ok jangan uncle lagi.?" Mengusap kepala Zio yang tidak dapat penolakan dari Zio lagi.
Dia senang sekali saya izinkan memanggil daddy, tapi kemana pergi nya ayah anak ini dan mana mozi yang dia bilang tadi? kenapa belum melihat juga?.
Dia juga ngak menolak lagi kepala nya di usap seperti ini.
__ADS_1
Daddy janji akan menyayangi Zio seperti anak daddy sendiri.
andai saya sudah menikah pasti akan mempunyai anak yang tidak kalah menggemaskan seperti Zio.
"Kalau gitu panggil daddy Zefan mulai sekarang." Ya laki laki itu adalah Zefan yang sengaja sayang kesana dengan maksud agar bisa bertemu Ziva tapi malah bertemu Zio kecil.
"Siap daddy Zefan." Zio menampilkan senyum manis khas anak kecil.
Senyuman yang akan membuat siapa saja akan tertarik sama Zio kecil.
"Zio beneran ngak mau makan?." Menanyakan sekali lagi apakah Zio mau makan atau tidak.
"Zio tadi udah makan sama mbak daddy, tadi juga sudah jajan Zio masih kenyang." Memegang perut kecil itu yang terlihat sedikit menonjol, mungkin benar memang sudah kenyang.
"Ya udah sekarang temani daddy makan ya." Memesan makanan tidak lupa cemilan buat Zio walau tadi dia bilang tidak mau makan.
"Umur Zio sekarang berapa?." Sambil menunggu makanan datang.
"Zio sekarang empat tahun daddy, dan Zio udah Sekolah." Zefan terdiam, dan berfikir kenapa anak sekecil Zio sudah Sekolah, tega sekali orang tuanya yang menyekolahkan Zio di usia yang masih kecil.
"Kenapa Zio cepat sekali Sekolah, apa ada yang menyuruh Zio Sekolah." Tidak tega saja di usia itu otaknya harus di suruh belajar sejak dini.
"No daddy, Zio suka belajar ngak ada yang maksa Zio Sekolah.
Nanti datang ya ke rumah nanti Zio tunjukin buku buku Zio." Zio tampan suka sekali membeli buku sejak berumur tiga tahun.
"Iya nanti daddy datang ke rumah Zio ya." Di pertemuan yang ke dua kali mereka sudah akrab seperti ayah dan anak.
Sama sama tampan dan nyambung saat bicara.
Terlebih Zio membutuhkan sosok seorang ayah, maka di saat ada yang menawarkan diri maka Zio akan senang sekali.
"Sekarang Zio makan ini ya." Pesanan datang Zefan menyodorkan kentang goreng pada Zio.
"No daddy Zio masih kenyang." Tolak Zio yang tidak mau makan.
"Tadi Zio bilang tidak mau makan dan ini hanya cemilan jadi makan ya." Mencoba menyuapi Zio yang sedang memasang wajah cemberut.
"Sama aja daddy, sama sama di makan juga." Zio belum mau membuka mulut buat menerima suapan Zefan.
__ADS_1
"Iya sudah kalau ngak mau makan, nanti daddy ngak mau bertemu dan datang ke rumah Zio." Meletakkan makanan itu lagi.
"Ok Zio makan, janji daddy akan datang." Mana mau Zio meyiakan kesempatan mempunyai daddy.
Daddy yang di harapkan selama ini, dan saat mendapatkan harus di lepas begitu saja mana mungkin Zio mau melakukan itu.
"Daddy janji, sekarang makan ya daddy suapin." Zio menerima setiap suapan Zefan tanpa penolakan lagi.
Biasanya Zio jarang mau di suapi namun sekarang Zio menunjukkan sisi anak anaknya di depan Zefan.
Makan di suapi, mulut di lap dengan tisu sampai minum di ambilkan dan di pegangin juga gelasnya.
"Udah daddy, Zio udah kenyang ini." Tolak Zio merasa tidak sanggup menghabiskan makanan itu lagi yang sudah habis setengah lebih.
"Zio pintar, sekarang daddy mau makan dulu ya." Zefan sudah bisa leluasa mengusap kepala Zio.
Setiap usapan itu menyalurkan kasih sayang, dan Zio membiarkan orang tertentu mengusap kepala nya.
Tidak semua orang bisa memegang kepala anak kecil itu.
"Zio emang pintar daddy, makanya udah masuk Sekolah." Mencebikkan bibir mungil itu, bukan tersinggung hanya saja Zio suka membanggakan diri kalau dia merasa demikian.
"Iya anak daddy memang pintar." Zefan memilih mengalah dari pada berdebat sama anak tampan nya itu.
Ingat pertemuan pertama mereka di tempat kakek kaca mata, Zio yang menjawab ucapan Zefan yang bilang diri nya tampan, kepala nya yang tidak mau di usap selain sama mozi nya.
"Daddy nanti Zio kenalkan sama mozi ya, eh kenapa mozi belum melihat juga ya?." Sudah hampir setengah jam tapi mozi Zio belum menampakkan diri juga.
"Mungkin lagi ada urusan, Zio di sini saja sama daddy sambil menunggu mozi datang ya." Lebih lama sama Zio semakin membuat Zefan nyaman, dia yang sekarang hanya sendiri di rumah merasa kesepian sejak kakak nya memilih tinggal di luar Negeri.
Serta orang tuanya yang sibuk dengan urusan masing masing dan akan bertemu saat sarapan pagi saja.
"Iya daddy." Mereka berdua asik bercerita sambil menunggu mozi datang.
"Zio kita pulang yuk, udah sore." Suara seseorang menghentikan obrolan seru antara anak dan Ayah itu.
\=\=\=\=\=
Tbc.
__ADS_1