
Sesuai janji waktu itu, Satyia dosen Rara menemui dirinya kembali saat jam mata kuliah selesai.
"Ra, bisa kita bicara sebentar?" Dosen tampan itu menghampiri meja Rara yang mana di dalam kelas itu hanya mereka berdua yang ada sedangkan sahabat Rara ke perpustakaan buat meminjam buku.
"Iya, ada ala ya pak?" Jangan di tanya bagaimana perasaan Rara sekarang apa lagi hanya ada mereka berdua di dalam ruangan itu sama laki laki tampan lagi, sudah pasti merasa deg deg an.
"Bagaimana apa kamu mau membantu saya?" Ya membantu menemani dia menolak keinginan kedua orang tua yang hendak menjodohkan dirinya.
Bukan apa, hanya saja dia hanya akan bersama wanita yang di sukai bukan karena perjodohan.
"Maaf pak, bukan Rara ngak mau hanya aja majikan Rara lagi ngak di rumah dan Rara sekarang tinggal bersama orang tua majikan Rara," Jelas Rara sebab Ziva belum pulang sejak pergi beberapa hari yang lalu dan sekarang lagi berpindah Negara lagi.
"Ya sudah tidak apa, saya akan minta izin sama mereka saja.
Nanti pulang bareng sama saya saja dan sekalian kita izin," Setelah itu meninggalkan Rara begitu saja tanpa menunggu jawaban apa yang Rara berika.
Sungguh tak sopan tapi tertutup sama wajah tampan serta penampilan menawan.
Jika bukan dosen nya sudah Rara timpuk kali ya karena berlalu tidak sopan.
"Is main pergi aja, Rara kan belum menjawab iya atau ngak," Gerutu Rara yang di tinggal sendiri, ibarat kita lagi mengungkapkan perasaan namun setelah bicara lawan kita pergi gitu aja tanpa menjawab menolak atau tidak.
"Sudah lah," Beranjak menuju kantin sebab sudah lapar dan penghuni perut sudah pada berdemo.
Hinnga waktu berlalu jam kampus sudah berakhir dan mahasiswa sudah mulai membubarkan diri buat pulang.
Ting,,,
Sebuah pesan masuk ke dalam hp Rara dan melihat siapa yang mengirim pesan.
Jangan pulang duluan kalau tidak nilai kamu jadi taruhan.
Satyia.
Sungguh membuat Rara kesal dan juga dari mana dia mendapatkan nomor hp Rara.
Mungkin dari teman Rara atau yang lainnya.
__ADS_1
Dengan
berat hati Rara menunggu di kelas saja sambil menunggu kampus sedikit sepi sebab tidak mau besok pagi ada gosip di antara mereka.
Bukan karena apa hanya saja Rara ingin kuliah dengan tenang tanpa ada gangguan biar dia hanya fokus pada kuliah saja.
Hampir satu jam menunggu yang di harapkan datang menghampiri sudah tau dimana Rara menunggu yang pasti Rara mengasih tau serta alasan.
"Yuk berangkat," Berjalan duluan di ikuti Rara dari belakang, sampai parkiran masuk mobil dan melaju ke rumah orang tua Ziva.
Namun sebelum nya Rara sudah mengasih tau kalau akan ada dosen nya yang datang hingga tidak perlu membuat orang sana kaget.
Dan Ziva juga sudah tau.
Rara hanya tidak mau jadi bahan ledekan sebab selama ini dia jomblo dan sekali pulang bawa gandengan seorang dosen lagi.
"Ra," Panggil dosen nya sebab dari tadi dia hanya diam saja.
"Iya pak," Sedikit canggung berada satu mobil sama dosen tampan nya.
"Kenapa diam saja? apa kamu keberatan kalau iya kita batalkan saja dan saya bisa menerima pilihan orang tua saya," Sebelum sampai di tempat tujuan lebih baik memperjelas semua agar tidak ada paksaan.
Cuma bapak maklum aja ini pertama kali Rara berdua an sama laki laki di dalam satu ruangan sama dosen sendiri lagi," Jujur Rara sedikit takut menyinggung perasaan dosen nya.
"Owh gitu, iya tak apa.
Kalau di luar kampus kamu tidak perlu memanggil saya bapak terkesan saya udah tua," Sedikit tidak nyaman saja di panggil bapak.
Kecuali bapak dari anak Rara mungkin dia mau, eleh jangan berharap jauh Sat belum tentu Rara mau.
"Maaf pak, Rara udah biasa," Sanggah Rara bingung mau manggil apa.
"Panggil mas atau kakak juga tak apa atau abang," Memberi saran pada Rara tentang nama panggillan yang dia mau.
"Hm Rara panggil kakak aja pak," Pilih Rara biar sedikit nyaman kalau manggil mas kayak manggil suami saja kan belum nikah, eh Rara ngarap ya nikah sama dosen tampan nya.
Kalau panggil abang, nanti pas manggil cepat jadi bang Sat kok kesannya seperti laki laki jahat.
__ADS_1
"Iya terserah kamu aja," Menormalkan cara bicara agar tidak terlalu formal kan di luar kampus.
Lah si Satyia di kasih hati minta ginjal, emang kalian sudah sedekat itu apa.
Setengah jam berlalu mobil itu sampai di kediaman orang tua Ziva yang mana rumah itu hampir sama besar namun terkesan asri sebab mama Ila suka sekali menanaman segala jenis tanaman mulai dari bunga, pohon buah, sayur, bahkan cabe.
"Ayo kak kita turun," Mobil itu berhenti tepat di depan pintu besar itu.
"Iya," Jawab Satyia yang sedikit gugup, berasa mau bertemu calon mertua saja.
"Assalamu'alaikum," Salam Rara masuk rumah, jangan di tanya kenapa tak ketok pintu masa harus di ketuk juga kan bukan tamu.
"Wa'alaikumsalam," Jawab seseorang dari dalam rumah.
"Duduk dulu kak, Rara bikinin minum dulu," Menyuruh Satyia duduk dan Rara melangkah ke dapur.
"Kenalkan om tante saya Satyia dosen Rara di kampus," Sopan Satyia memperkenalkan diri pada pasangan paruh baya itu.
"Iya, Rara juga udah cerita sedikit tentang nak Satyia," Jawab papa Syakil dengan ramah juga.
"Kalau tidak salah om pimpinan perusahaan," Yang langsung di potong papa Syakil.
"Kalau udah tau buat apa bertanya bukan," Kekeh papa dengan gurauan.
"Eh iya om," Balas Satyia kikuk.
"Begini om maksud kedatangam saya ke sini mau minta izin sama om dan tante buat," Dan lagi ucapan Satyia di potong buat ke dua kali.
"Saya udah tau hanya saja saya tak mengizinkan Rara pergi," Sanggah papa yang kurang setuju sama alasan yang sempat Rara berikan dan memang itu juga yang dulu Satyia berikan.
"Kenapa om? saya juga tidak ada niat jahat sama Rara," Bingung Satyia yang mulai merasa kalau niatnya akan gagal.
"Saya tidak bisa mengizinkan kamu membawa Rara kalau buat menolak keinginan orang tua mu, sama aja kamu mengajari kebohongan sama Rara dan sebagai pengajar kamu ngak pantas melakukan itu semua.
Seorang pengajar adalah panutan bagi siswa nya maka berikan contoh yang baik walau itu di luar kampus.
Jika kamu membawa Rara bertemu orang tua kamu karena rasa suka maka saya bisa pertimbangkan namun kalau alasan ini silahkan cari orang lain," Ujar papa Syakil panjang lebar.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Tbc.