My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Kehangatan.


__ADS_3

"Saya mau bicara berdua sama kamu ikut saya," Berjalan duluan masuk ke dalam ruangan yang mana ruangan itu lebih dulu dosen idola masuk kesana siapa lagi kalau bukan Satyia.


"Ma papa ngak macam macam kan?" Kwatir Iva kalau papa nya berbuat lebih atau menentang hubungan mereka.


Restu mama Zefan saja belum dapat masa nambah satu lagi, kan menaklukan satu saja susah lah nambah lagi.


"Kamu tenang aja sayang, papa ngak akan merusak ke bahagiaan anaknya sendiri dan papa punya cara sendiri menyeleksi calon menantu," Sejak awal iva memberi tau mengenai dia menjalin hubungan sama seseorang maka saat itu juga papa mencari tau semua hal tidak mau Iva salah pilih dan berakhir sama sakit hati.


Luka tak berdarah itu sungguh meninggalkan luka mendalam.


Luka kasat mata yang tak ada obatnya di jual orang pintar dimana pun.


Zefan sudah mengikuti langkah kaki papa Syakil dan sekarang mereka lagi duduk berhadapan di sofa.


"Kamu tau kan Iva satu satunya anak perempuan kami dan kami ngak semudah itu melepas Iva buat kamu, apa lagi orang tua kamu juga menentang.


Sekarang fikirkan lagi karena hubungan kalian belum terlalu jauh," Nasehat papa yang terkesan tegas namun penuturan yang santai.


"Saya tau om dan sampai kapan pun saya akan memperjuangkan Iva.


Om ngak usah kwatir cinta saya ke Iva tulus, saya rasa om tau itu.


Dan kalau saya ngak salah om bukan orang biasa," Ucapan Zefan tepat sekali, memang keluarga itu jarang orang yang tau siapa mereka sebenarnya hanya orang penting yang tau makanya sampai sekarang keluarga mereka bisa hidup dengan damai.


"Kamu cukup cerdas menilai ternyata, kamu benar dan apa kamu tau siapa saya?" Zefan menggeleng sebab belum tau pasti siapa keluarga Iva sebenarnya.


"Maka itu salah satu tugas kamu dan kalau udah tau cukup simpan sendiri.

__ADS_1


Saya cuma berharap kamu bisa membahagia kan Iva seperti kami keluarga membahagia kan nya.


Kamu tau di keluarga ini dia satu satunya anak perempuan kami," Ah tidak terasa kini putri kecil mereka sudah tumbuh menjadi gadis dewasa dan sudah punya pasangan.


"Oh iya saya ingat, kalau saya pernah melihat wajah om di majalah bisnis papa saya," Kala itu Zefan lagi berbincang sama papanya di ruang kerja kebetulan Zefan melihat majalah bisnis di sana juga ada foto Syakil berserta prestasi yang di gapai.


"Ternyata kamu cepat tanggap juga ya," Salut sama lelaki di depannya itu.


"Tapi saya heran sudah beberapa kali meeting namun pemimpin perusahaan om selalu ngak datang hanya perwakilan aja?" Hampir semua orang penasaran sama sosok pemimpin misterius perusahaan K'SYA group itu.


Sudah beberapa tahun belum menunjukan diri di depan publik atau rekan bisnis.


"Dia memang tidak mau tampil langsung dan akan bergerak di balik kayar selama kondisi masih terkendali," Dia juga tidak tau kenapa anaknya tidak mau menampakkan diri pada umum.


Kalau setiap penerus pasti akan menampakkan diri atau mencari perhatian bahwa sekedar unjuk diri, ini dia pewaris perusahaan yang baru.


"Nanti kamu juga akan tau, yuk keluar kelamaan disini para perempuan curiga lagi.


Nanti kita bicara lagi," Meninggalkan ruangan itu dan ikut bergabung sama yang lain.


Tatapan mereka tertuju para para pria yang baru duduk bergabung.


"Bicarain apa pa?" Heran Iva padahal mereka cuma bicara sebentar.


"Urusan laki laki," Balas papa cuek yang duduk di samping mama Ila.


Mereka semua berbincang seru melupakan obrolan pria tadi dan melanjutkan obrolan lain serta tidak lupa menjahili Zio tidak lupa wajah cemberut Zio sebab jadi bahan kejahilan sang opa dan oma.

__ADS_1


"Om tante kalau gitu saya pamit dulu," Izin Zefan, waktu sudah mulai sore dan sudah cukup lama berada di sana.


"Iya hati hati ya, kapan kapan datang lagi," Balas mama Ila dan tidak lupa Zefan bersalaman sebelum keluar di antar Iva sampai mobil.


Zio ikut jalan keluar mengikuti kedua orang dewasa itu.


"Zio mau ikut daddy?" Melihat Zio yang berdiri di depan pintu berjarak tiga meter dari mereka.


"No," Balas cepat Zio di sertai gelengan kepala.


"Terus ngapain berdiri di sana, sini peluk daddy," Lagi lagi Zio menggeleng tanda penolakan.


"Nanti daddy bawa mozi," Jawab Zio polos memandang Iva yang berdiri di depan pintu mobil Zefan terbuka.


Keduanya menggeleng kepala dan gemas melihat wajah polos Zio takut di tinggal Iva.


Kan masih kangen dan juga dia merasa berkuasa atas Iva.


"Daddy ngak bawa mozi kok, sini peluk daddy," Merentangkan tangan dan Zio berjalan pelan dengan langkah kaki mungil itu.


Memeluk Zefan erat dan juga Zio sudah rindu sama Zefan yang sibuk hari ini.


"Daddy balik ya, besok daddy jemput lagi," Mengusap kepala Zio dengan sayang dan Zio hanya menyender di bahu Zefan, merasakan setiap usapan lembut tangan kekar itu.


"Daddy hati hati," Menurunkan Zio dan memegang tangan Iva serta mengiringi kepulangan Zefan sampai mobil itu hilang dari pandangan.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Bersambung wokey,,,,


__ADS_2