
Untuk beberapa part ke depan aku mau bahas kisah Rara dulu dan gimana lanjutan kisah mereka berdua, akan lanjut atau udahan.
Jadi stay ya😉😉
\=\=\=
Tidak lama kemudian mobil yang Satyia kendarai memasuki halaman rumah yang sederhana namun cukup terjaga keasriannya dan sangat segar.
"Ayo kak kita turun," Ajak Rara turun duluan menunggu Satyia dia berdiri di depan mobil.
Satyia menyusul Rara setelah mematikan mesin mobil dan memastikan mobil sudah du kunci.
Tok,,, Tok,,, Tok,,,
Rara mengetuk pintu rumah orang tuanya dari luar, tidak lama pintu terbuka.
"Assalamu'alaikum ayah," Ternyata ayah Rara yang membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam," Sambut ayah Rara dan ibu Rara belum kelihatan.
"Ayah apa kabar?" Menyalami ayah nya.
"Ayah baik," Mengusap kepala anak nya, itu rutinitas ayah Rara kalau bertemu anak nya semata wayangnya.
"Kenalin yah, ini kak Satyia dosen Rara," Satyia yang di perkenalkan sebagai dosen mendengus dalam hati, ya kali dosen tidak mau mengaku apa.
"Kenalin om saya Satyia dosen Rara," Menekan kata dosen saat menyalami ayah Rara.
Rara yang mendengar nada kesal Satyia hanya terkekeh geli, sengaja menggoda Satyia agar tidak terlalu tegang saat pertama kali bertemu.
Gimana dia bisa lupa saat memberi kabar akan pulang sudah menelpon akan membawa orang spesial hanya tidak bilang sama Satyia.
"Oh dosen nya, nggak boleh gitu nak merepotkan dosen sendiri.
Kan bisa balik sama kendaraan umum," Mengikuti alur yang Rara ciptakan, kan sebelum nya sudah tau siapa Satyia dari Rara.
"Ayo masuk, tidak enak ngobrol di luar," Mengajak keduanya masuk.
Tidak lama saat mereka duduk ibu Rara yang biasa di panggil bu Ami datang membawa nampan berisi minuman serta cemilan.
Satyia menyalami ibu Ami setelah selesai menyajikan minuman buat mereka bertiga.
Hanya berbincang sebentar lalu bapak Rara menyuruh mereka istirahat.
"Lebih kalian istirahat dulu pasti capek abis perjalanan jauh.
Nak antar dosen nya ke kamar sebelah kamu ya, udah ibu bersihkan tadi," Meminta Rara mengantar Satyia buat istirahat.
"Ah ibu kenapa harus repot repot gini, kan jadi enak.
Ayo kak," Canda Rara lalu mengajak Satyia ke kamar tempat Satyia istirahat juga tidur buat beberapa hari ke depan.
Satyia hanya ngikut saja karena dia juga lelah setelah mengendarai mobil cukup jauh dan sengaja tidak bawa supir hanya ingin berdua Rara saja.
Di depan kamar.
"Sengaja yang bilang gitu sama orang tua mu," Tegur Satyia saat mereka hanya berdua saja sekarang.
"Sengaja apa kak?" Pura pura bodoh aja dulu.
"Jangan pura pura yang, kamu belum pikun kan?" Menyentil pelan hidung Rara yang tidak terlalu maju itu.
"Kakak kira Rara udah tua apa di bilang pikun.
Lagian kalua ngomong itu yang jelas kak jangan pakek isyarat hanya kita berdua disini jadi nggak bakal ada yang dengar," Goda saja terus hingga godaan itu jadi boomerang sendiri.
"Kenapa bilang kakak dosen kamu tadi?" Kenapa kekasih nya sekarang suka jail atau emang ini sifat aslinya yang suka menggoda pasangan.
"Oh bilang dari tadi kak, kenapa pake teka teki segala.
Kakak kan emang dosen Rara jadi nggak salah dong Rara kenal kan kakak seperti tadi," Tuhan tolong ini anak siapa? tolong bilang sama dia kalau lelaki tampan di depan nya ini adalah kekasih sekali gus calon suami dan kalau di sah kan maka jadi suami.
Apa sulit mengaku di depan orang tuanya? apa memalukan punya kekasih dosen? apa belum siap? lalu kalau belum siap kenapa di ajak bertemu orang tuanya.
"Yang jangan becanda ya, nggak lucu sekarang kalau becanda, garing," Coba saja mereka sudah halal pasti saat ini juga dia akan menyeret Rara ke dalam kamar lalu memberi hukum indah.
__ADS_1
Ck gaya hukuman indah selama pacaran baru berani pegangan tangan.
Ets jangan salah kalau orang pacaran jaga jarak dan tau batasan, beda lagi kalau sudah halal maka lupa jarak dan batasan itu tidak ada lagi.
"Rara cuma becanda tadi kak, lagian mereka udah tau kakak pacar Rara," Jelas Rara tidak mau salah paham Satyia lagi.
Kasian melihat wajah tampan yang lagi kesal itu.
Di becanda in gitu saja sudah ngambek kayak anak kecil, nggak cocok sama sekali.
"Kapan bilang? bukannya tadi bilang dosen sama om?" Ya karena tadi Satyia tidak mendengar Rara memperkenalkan Satyia sebagai kekasih.
"Semalam lewat telpon," Dan sekali lagi sentilan melayang mendarat di jidat Rara.
"Kakak kenapa suka nyentil sih, sakit tau," Mengusap jidat yang terasa nyut nyut an tapi sebenarnya tidak sakit hanya acting saja.
"Kamu juga kenapa juga jail sekarang?" Tidak terima di bilang suka nyentil padahal ini pertama kali.
"Bukan jail cuma mau ngetes kakak aja.
Udah kakak masuk sana istirahat nanti Rara bangunin," Membuka pintu kamar lalu mendorong Satyia masuk ke dalam.
"Nggak ikut?" Tampol jangan ya.
"Belum waktu nya kak," Menutup pintu kamar itu meninggalkan Satyia sendiri di sana.
Iya lah sendiri kan belum saat nya seperti kata Rara tadi.
Satyia mengedarkan pandangan mengelilingi kamar itu.
Kamar yang tidak besar, hanya terdapat satu tempat tidur yang kalau di perkirakan hanya berukur dua meter.
Ya kalau di gunakan buat tidur berdua orang maka dempetan yang ada tapi kalau buat pasangan halal maka pas lah ya bisa pelukan.
Ada lemari kecil buat tempat baju tidak besar juga hanya lemari dua pintu dan terdapat tiga rak saat Satyia membuka lemari itu.
Ada sepasang kursi dekat jendela.
Mungkin sengaja menaruh di sana supaya bisa santai sore hari menikmati suasana sore dan bisa di pasti kan kalau kita bisa menyaksikan matahari terbenam walau tidak sempurna.
Satyia merebahkan badannya di atas kasur setelah puas mengamati isi kamar ini.
Nyaman dan bikin damai kalau lagi dekat dia," Memejamkan mata tapi belum mau tidur.
Di kamar itu tidak ada kamar mandi.
Kamar mandi berada di belakang dekat dapur seperti kebanyakan rumah pada umumnya yang berada di daerah perkampungan.
Tapi walau kampung jalan ke sana bukan seperti yang kita bayangkan.
Ada lobang jalan di mana mana, kalua hujan akan di isi air.
Tidak, tidak seperti itu konsepnya ya.
Jalan di sana sudah di aspal dari dapat anggaran dana dari pemerintah daerah buat memajukan kampung itu.
Jadi jangan berfikir kalau kampung identik dengan jalan berlobang dan di isi air.
Itu hanya sebagian kecil lagi saja ya sekarang.
"Kalau lama di sini, pas pulang ke kota harus ke tukang urut nih," Guman Satyia dengan mata terpejam.
Durhaka Sat jadi calon menantu, berani ngatain tempat tinggal calon mertua.
Bilang saja langsung kalau tempat tidur nya keras tidak udah pakai kiasan bilang mau ke tukang urut karena pegal badan.
"Kalau mereka dengar auto nggak di kasih restu ini," Melihat ke arah pintu dan ternyata tidak ada orang di sana.
Bisa gawat kalau ada yang dengar pas bilang itu.
"Berdosaya kamu Sat, nyebut nyebut," Menyadarkan diri supaya tidak bicara sembarangan lagi.
Ke sana niatnya mau minta restu bukan minta hinaan jadi jaga mulut.
Tapi kemudian terkekeh sendiri sama apa yang dia ucapkan.
__ADS_1
Bukan maksud mmenghina tapi belum pernah saja tidur di tempat seperti itu jadi harap maklum.
Tidak lama Satyia ketiduran setelah puas menghina kasur tempat dia tidur, kalau kasur itu bisa bicara pasti akan teriak gini ' dasar manusia nggak tau diri setelah saya di hina tapi di tiduri juga'.
Masih di ruangan keluarga, Rara setelah mengantar Satyia ke kamar buat istirahat namun dia sendiri tidak tidur memilih ngobrol sama orang tuanya buat melepas rindu.
Jarang jarang jumpa jadi istirahat Rara kesampingkan dulu.
"Nak gimana ceritanya bisa punya kekasih dosen gitu? nggak modus itu kan? ini serius?" Tanya bu Ami merasa belum percaya saja, anak nya memiliki hubungan sama dosen sendiri.
Di fikiran mereka tidak mungkin gitu punya hubungan sama dosen sendiri kalau tidak ada niat terselubung.
Paling tidak buat mendapat nilai bagus.
"Ibu berfikir terlalu kreatif tau nggak, maksud ibu Rara pacaran sama kak Satyia supaya punya nilai bagus gitu? ibu lupa punya anak pintar jadi nggak butuh semua ini," Sombong Rara tapi juga pantas bicara gitu sebab itu kenyataan.
Buat apa menjalin hubungan hanya sekedar formalitas buat dapat nilai bagus kalau pada kenyataan tanpa itu Rara bisa.
Rara kuliah di sana karena kepintaran bukan lewat jalur orang dalam atau siapa pun.
Jadi hubungan mereka murni pakai perasaan bukan alasan supaya dapat nilai bagus.
"Siapa tau kan mau memanfaatkan aja kalau iya lebih baik akhiri aja nggak baik mempermainkan perasaan anak orang," Tambah bapak Rara yang terkenal dengan panggilan pak Mat.
Bukan bodo amat ya tapi namanya Rahmat.
"Bapak yang aneh sama ibu lupa minum obat ya makanya ngomong nglindur gini.
Yang mau mempermainkan perasaan orang siapa? kalau Rara mau main main aja buat apa Rara ajak pulang? buat apa Rara mau di kenalin sama orang tuanya.
Sebelum kesini Rara udah di kenalin ke keluarganya lebih tepat jadi dimana ada letak unsur mempermainkan perasaan? coba bilang sama Rara biar Rara paham," Anak kurang di getok kepalanya maka bicara gitu bilang orang tua lupa minum obat bilang saja langsung orang gila biar jelas.
"Anak kurang ajar pak, masukin lagi dalam perut," Kesal bu Ami mendengar lupa minum obat.
"Nggak bisa lagi ibu sayang yang ada mentok kan Rara lebih tinggi dari ibu," Kekeh Rara yang sudah rindu debat sama ibu nya.
"Nanti mau ngatain ibu apa lagi Rara, ayo bilang sekarang?" Bukan marah malah mencium Rara bertubi tubi.
Baby kecil mereka dulu sudah besar menjadi perempuan cantik juga pintar.
Sudah kuliah dan sudah punya daya tarik sama lawan jenis jika di ingat lagi baru kemarin Rara lahir dan kini sudah jadi perempuan dewasa mungkin sebentar lagi bakal nikah.
Mereka sudah bisa menebak kepulangan Rara membawa kekasih buat apa lagi kalau bukan meminta restu.
"Bukan nanti bu tapi sekarang Rara lapar pasti ibu udah masak makanan kesukaan Rara kan? ayo bu temani Rara makan," Menarik ibu ke meja makan lalu membuka penutup makanan namun raut wajah binar bahagia itu lenyap seketika.
"Emang kamu siapa sampai ibu harus repot repot memasak? buang buang waktu saja," Duduk di kursi sambil menikmati wajah masam Rara yang hampir menangis.
"Jadi beneran? nggak ada makanan kesukaan Rara lagi berasa jadi anak tiri," Lirih Rara ikut duduk di kursi seberang ibu nya.
"Gimana rasanya?" Tanya ibu menahan senyum.
"Hambar nggak ada rasa, seperti kita suka doi tapi doi udah punya gandengan sakit tapi nggak bedarah," Menundukkan kepala lalu merebahkan di atas meja dan memejamkan mata.
Tidak lama tercium aroma makanan yang menggugah selera.
Seketika Rara membuka mata melihat apa yang ada di depannya.
"Ini beneran bu?" Binar Rara tersenyum bahagia.
"Bukan hanya mimpi," Mengusap kepala Rara.
Bagaimana bisa dia tidak membuatkan makanan kesukaan Rara mendengar Rara mau pulang saja sudah sangat senang maka selama Rara di rumah akan memanjakan Rara dengan segala hal terutama makanan kesukaan Rara.
"Ah makin sayang sama ibu dan bapak," Mengambil makanan dengan semangat.
Tapi ada yang kurang disana.
Ya tidak ada Satyia, dasar Rara pacar kurang perhatian anggap aja seperti itu makan sendiri aja.
Tidak butuh waktu lama buat menghabiskan makanan yang di buat khusus untuk Rara hanya pas buat sekali makan.
"Setelah ini istirahat ya nak, ibu mau ke sebelah bantu bantu dulu nanti malam mau ada acara," Meninggalkan Rara yang lagi beres beres.
Rara hanya menganggukan kepala lalu setelah itu mencuci muka dan masuk kamar yang ada di sebelah kamar Satyia sekarang.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Bersambung...