My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Itu Terus.


__ADS_3

Keluar dari kantor Zefan,


Dua perempuan beda usia itu pulang dengan membawa kedongkolan dalam hati, bagaimana tidak rencana mau membuat Zefan menerima perjodohan itu berakhir dengan sebuah penolakan keras dan memberi mereka pelajaran dengan membuat perjanjian akan memberi Vani tantangan sebelum menerima perjodohan ini.


Zefan yakin kalau nanti Vani tak akan mampu melewati setiap tahap tes yang Zefan ajukan.


Biar dari tes itu mamanya bisa membuka sedikit mata kalau pilihannya tidak sepintar cara penampilan yang tampak luar.


"Ma bagaimana ini, kalau Zefan beneran akan melakukan tes sama Vani?" Kecemasan melanda diri Vani, dia yang seorang anak manja oleh kedua orang tuanya kini harus menghadapi tes Zefan yang tidak tau apa itu.


"Kamu tenang aja sayang, mama yakin kamu pasti bisa buktikan pada Zefan kalau kamu pantas bersanding sama dia," Memberi semangat pada orang yang tau hanya menghamburkan uang dan pergi foya foya.


Akan jadi pada nanti rumah tangga mereka jika semua pekerjaan uang yang menyelesaikan seperti membersihkan rumah sudah ada bibi, memasak udah ada koki, perkarangan sudah ada tukang kebun, menyuci tinggal antar laundry, lalu tugas dia sebagai istri apa cuma melayani di atas tempat tidur.


Kalau seperti itu semua orang juga bisa bahkan anak Sekolahan.


"Apa tes nanti sulit kah ma?" Ingin menggali dulu tes apa yang mau di lewati, siapa tau dari mama Zefan sudah punya bocoran.


"Mama belum tau sayang, nanti mama tanya Zefan biar kamu bisa mempersiapkan diri ok kamu tenang aja," Memikirkan cara supaya Zefan mau memberi klu buat tes yang diadakan saja tidak tau kapan?.


"Beneran ya ma, jangan lupa lo," Jika begini maka tidak sulit bagi Vani melewati tes yang sebenarnya sangat malas dia lakukan kalau bukan karena harta melimpah yang sudah menunggu maka Vani tidak mau berbuat gini.


"Iya kamu tenang aja, mama yang akan bertindak kalau perlu mama yang akan menentukan tes apa nanti," Eleh mana bisa seperti itu, kalau di tentukan sendiri maka akan memberikan yang mudah saja.


Mobil itu sampai di depan rumah Vani.


"Vani masuk dulu ya ma, mama mau mampir dulu?" Tawaran basa basi saja sebenarnya, jangankan mampir duduk lama lama dalam satu ruangan saja sebenarnya sangat malas namun harus menahan sampai tujuan tercapai.


"Ngak usah sayang lain kali aja, mama ada urusan lagi," Menolak ajakan calon menantu kesayangan namun sayangnya hanya dia yang sayang sedangkan calon menantu itu hanya sayang hartanya saja.

__ADS_1


"Iya ma, hati hati," Melambaikan tangan mengiringi kepergian mobil mewah itu sampai hilang dari pandangan.


"Hah dasar, sangat sulit buat masuk ke dalam keluarga itu.


Andai Zefan menerima perjodohan ini pasti aku ngak harus repot repot seperti ini buang buang waktu aja.


Awas aja jika aku udah berada di antara kalian maka jangan harap bisa seenaknya seperti ini," Melangkah masuk ke dalam bangunan mewah ini.


\=\=


Malam hari saat lagi kumpul makan malam bersama Zefan turun dengan wajah kusut karena belum mendapat kabar dari Ziva bahkan sampai di rumahnya pun tidak ada.


"Malam pa ma," Sapa Zefan kurang semangat lalu duduk mengambil posisi di tempat biasa.


"Malam Fan," Jawab mereka serempak dan makan malam di mulai dengan suasana hening.


Selesai makan mereka duduk bersantai di ruang keluarga di temani minuman dan cemilan.


Hanya saja selama Zefan memimpin keadaan perusahaan baik baik saja dan berkembang dengan baik.


"Baik kok pa, papa tenang aja," Jika ada masalah Zefan tidak mau memberi tau papanya takut hanya akan jadi bahan fikiran saja.


"Syukurlah papa lega, kalau kamu merasa berat biar nanti papa minta abang mu pulang kesini lagi.


Udah cukup buat dia bebas selama ini dan udah saatnya dia pulang," Mengingat sang anak pergi dari rumah karena sifat istrinya yang egois.


Karena gigih menjodohkan sang anak yang jelas jelas menolak perjodohan.


"Ngak perlu pa, biar aja abang disana nanti kalau udah saatnya abang pasti akan pulang setidaknya saat aku menikah nanti," Tolak Zefan yang mengerti keadaan sang abang.

__ADS_1


Dan juga Zefan tidak mau kepulangan sang abang hanya akan menimbulkan perselisihan antara dia dan mamanya.


"Beneran Fan kamu mau menikah sama Vani?" Lah mama salah tangkap.


Zefan bilang menikah nanti bukan mau menikah sama Vani, ngebet banget mau menjadikan Vani sebagai menantu yang dilihat hanya dari luar saja.


"Aku ngak bilang mau nikah sama Vani ma, stop bahas dia terus," Mulai jengah yang di bahas itu itu terus.


"Lalu kamu mau menikah sama siapa kalau bukan sama Vani?" Kenapa kedua anaknya begitu keras kepala tidak mau menuruti keinginan dia.


"Jelas bukan Vani ma, aku udah punya pilihan sendiri," Sudah pasti pilihannya Ziva siapa lagi coba.


"Apa maksud kamu Fan, kamu milih janda beranak satu itu.


Jangan harap akan mama restukan," Beranjak dari sana saat keinginan masih di tolak Zefan.


Niatnya masih ingin membujuk Zefan malah penolakan terus yang di lontarkan.


Jangan salahkan anak yang keras kepala, apa tidak ingat kalau dia juga keras kepala maka tidak perlu di ragukan lagi keras kepala itu berasal dari siapa?.


"Apa benar yang mama bilang Fan?" Karena dia juga baru tau kalau anak keduanya sudah punya pilihan sendiri.


"Iya pa, tapi buat Zefan status bukan masalah.


Nanti akan Zefan kenalkan sama papa dan papa akan langsung suka apa lagi sama Zio yang sangat menggemaskan itu," Membayangkan wajah Zio yang berbagai ekpresi setiap berjumpa.


"Papa cuma berharap pilihan mu ngak salah, udah papa mau nyusul mama dulu," Meninggalkan Zefan sendiri disana dan akhirnya Zefan memutuskan masuk kamar.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2