
Esoknya.
Pagi sekali Rara sudah datang menjemput ke rumah Iva siapa lagi kalau bukan dosen ku pujaan ku yaitu Satyia.
Dari sejak awal Rara menjalin hubungan bersama Satyia maka Iva sudah mewanti wanti sama Satyia kalau mau menjemput Rara harus datang ke rumah langsung jangan nunggu di jalan jangan kalah sama tukang ojek yang kalau jemput penumpang saja langsung ke alamat.
Maka dari itu setiap kali Satyia menjemput Rara langsung ke rumah dan juga sebagai bentuk kalau dia dosen yang baik atau apalah.
"Maaf ya kak nunggu lama ya," Rara datang dengan sudah berpakaian rapi menghampiri Satyia yang lagi memilih nunggu di teras rumah.
"Ngak apa, kakak juga baru sampai," Balas Satyia yang memang belum lama menunggu Rara.
Belum sampai jamuran Ra maksud pak dosen.
"Berangkat sekarang?" Yang langsung di angguki Rara cepat, tadi dia juga sudah pamitan sama Iva.
Dalam mobil.
"Kita mau kemana kak, ini kan belum jam masuk kelas," Rara ada kelas jam sepuluh dan ini masih setengah delapan.
"Mau ngajak kamu bentar jenguk istri teman yang baru lahiran," Jawab Satyia yang masih fokus nyetir.
"Kok ngajak Rara?" Itu pertanyaan bodoh apa yang di lontarkan.
"Karna kamu pacar kakak makanya ngajak kamu.
Dikira kakak punya pacar berapa coba.
Kalau bukan ngajak kamu siapa lagi coba?" Iya juga, Rara Rara kenapa tiba tiba bodoh sih.
Kamu pacar nya ya pasti ngajak kamu lah masa orang lain.
Logikanya saja masuk akal tidak.
"Maaf kak," Kelupaan ya Ra, lain kali jangan ya.
Tidak apa buat sekarang tapi ke depannya jangan ya Ra tidak baik masa meragukan kesetiaan pasangan sendiri.
"Kita bawa kak buat liat babby nya?" Sebab tidak ada persiapan dan ngajak dadakan.
Satyia menoleh sebentar sebelum menjawab.
"Kakak udah beli kado tadi, ada di belakang," Ada kado ukuran sedang yang terletak di jok belakang, Rara melihat lalu mengambil kado itu.
"Isinya apa kak?" Penasaran Rara sama isi kado itu.
__ADS_1
"Ngapain nanya isi kado itu, mending nanya isi hati kakak," Is di tanya apa di jawab apa, kalau tidak mau jawab bilang saja.
"Kalau isi hati kakak Rara udah tau, pasti Rara kan," tebak Rara pasti, lagian siapa lagi coba isinya kalau bukan Rara seorang.
"Percaya diri sekali sayang, nanti tau kenyataan sakit lo," Memegang tangan Rara menggunakan tangan kirinya.
"Harus dong kak, emang siapa yang cari alasan mau di jodohkan minta bantuan Rara segala.
Untung Rara juga suka kalau ngak kan kakak bayangkan sendiri kecewanya gimana," Pacar siapa ini? kenapa pintar sekali ngejawab pas kena hati lagi.
Kalau gini ceritaya Satyia kalau telak sama Rara, sebab apa yang Rara bilang tidak ada salah nya.
"Itu cuma kebetulan yang, jangan kepedean lo," Satyia sudah bisa bicara santai sama Rara, catat cuma sama Rara seorang ya bukan sama yang lain.
"Emang itu kenyataan malah ngak mau ngaku, nanti Rara bilang sama mama lo kak," Main ancam segala lagi.
Ya Rara sudah memanggil mama Satyia dengan sebutan mama juga sesuai permintaan.
"Dasar tukang ngadu, mentang mentang calon mantu," Cibir Satyia yang merasa tidak terganggu sama ledekan Rara.
Biarlah Rara bicara lepas ketimbang mereka saling canggung atau tidak tau mau bicara apa, lebih baik gini kan.
"Biarin yang penting ada pembela, ngak kayak kakak udah tau gitu ngak mau ngaku lagi," Dasar pacar siapa ini sulit banget mau ngaku hal sepele gitu saja.
Sampai ruangan yang sudah diberi tau sebelum nya.
"Selamat ya, akhirnya setelah sekian lama menunggu lahir juga," Menyalami temannya itu lalu Rara meletakkan kado yang di bawa lalu beralih pada box bayi dimana bayi mungil itu lagi tidur.
"Uh gemas nya," Seru Rara yang paling senang melihat anak kecil, Rara mendekat setelah memberi selamat.
Mereka yang ada dalam ruangan itu hanya melihat saja interaksi Rara sama bayi mungil itu.
"Cewek lo Sat?" Tanya teman Satyia sambil terus memperhatikan Rara yang sibuk bicara meski bayi itu hanya diam setelah bangun di ganggu Rara.
"Menurut lo, gue kesini harus nyewa cewek agar ngak keliatan ngenes.
Sorry itu bukan gue," Sesama sahabat nya Satyia bisa bicara pakai bahasa gaul dikit.
"Jadi bener dia cewek lo? cantik juga.
Tapi kayak nya masih kuliah," Memperhatikan Rara berpenampilan seperti anak kuliahan.
"Mahasiswi gue," Jawab Satyia yang membuat sahabat nya kaget, yang benar saja masa mahasiswi sendiri di pacari.
Tapi tidak ada larangan juga mau pacaran sama siapa, asal bukan cewek orang saja.
__ADS_1
"Gila ngak ada yang lain apa? mahasiswi sendiri di pacari.
Pasti lo ancam ya," Ngada ngada saja tuh isi kepala.
"Kurang kerjaan sekali," Pandangan Satyia berpusat pada Rara yang sudah menggendong bayi itu tanpa menangis.
"Udah cocok tuh jadi mama muda," Takjub sama Rara yang pintar menggendong anak kecil dan lebih lebih tidak nangis.
"Ya mau gimana lagi, dia masih kuliah ya harus nunggu tamat," Keluh Satyia yang sebenarnya sudah mau mengikat hubungan mereka namun Rara belum mau terbebani sama status nya nanti.
"Atau jangan jangan dia hanya memanfaatkan lo aja supaya dapat nilai bagus," Getok jangan ya tu kepala.
"Rara bukan tipe seperti itu yang suka memanfaatkan keadaan.
Tapi selama ini dia ngak pernah minta nilai bagus sama gue, orang nya pintar gitu," Anak beasiswa pasti pintar lah, apa lagi Rara dapat beasiswa prestasi jadi tidak perlu di ragukan lagi kemampuannya.
Rara menghampiri Satyia yang duduk sama temannya sambil masih menggendong bayi itu.
"Kak lucu ya baby nya?" Satyia juga ikut melihat dan tersenyum.
"Boleh di bawa ngak sih kak, kan gemas gini," Lanjut Rara tanpa rasa bersalah.
Mau bawa bayi orang pulang kayak bawa boneka saja.
"Jangan aneh aneh Ra, itu anak orang bukan anak kucing yang nemu di jalan bisa langsung di pungut," Yang punya bayi menjawab, masa anaknya sembarangan saja mau di bawa.
Mana rela, sakit lahirin dia.
"Punya anak sendiri baru boleh bawa pulang," Tambah bapak baby itu.
"Kalau itu tanpa di beri tau juga pasti di bawa pulang bang,"
Satyia berbincang sama temannya dan Rara yang sibuk sama baby mungil yang masih betah dia gendong.
Sama anak orang aja begitu sayang nya, apa lagi nanti sama anak kita berdua ya.
Pasti lebih sayang lagi.
Love you Rara.
Satyia tersenyum bahagia melihat Rara yang penyayang sama anak kecil, jadi dia tidak perlu cemas lagi kalau nanti punya anak sama Rara sebab sudah punya calon istri penyayang.
\=\=\=\=\=
Tbc.
__ADS_1