My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Sama Saja.


__ADS_3

Sudah seminggu pasangan LDR itu berjauhan dan selama dua hari ini juga bang Endra tanpa kabar membuat Lisa uring uringan sendiri seperti anak Sekolahan yang lagi jatuh cinta.


Kalau di ingat lagi lucu saja Lisa seperti ini, merasa tidak cocok saja sebab selain malu sama umur juga malu sudah punya anak.


Ya mau gimana lagi kalau kangen tidak bisa di ucapkan dengan kata kata selain obatnya berjumpa.


Ck, mengingat itu saja sudah merasa kesal sendiri.


Yang di hubungi tidak ada jawaban atau sekedar mengirim pesan dan mengatakan kalau tidak bisa berkabar.


Setidaknya kan kirim satu chat apa gitu.


Apa segitu sibuknya? nanti di abaikan balik hayo gimana tapi Lisa tidak bisa melakukan itu.


Payah kamu Lisa.


"Menyebalkan," Melempar hp ke atas kasur.


Mau nya tadi ke lantai namun takut rusak dan tidak bisa di gunakan dan siapa yang akan rugi ya dia juga tidak bisa menghubungi bang Endra lagi.


"Awas nanti kalau menelpon ngak akan gue angkat," Baru selesai bicara hp Lisa berdering.


Benar saja yang menghubungi adalah orang yang barusan di bahas.


Panjang umur sekali.


Lisa abaikan hingga dering itu berhenti lalu tidak lama berdering lagi.


"Payah banget sih, baru segini tidak bisa," Menghampiri hp yang terus berdering lalu dengan malas menjawab panggilan itu.


👨‍🦱Hallo sayang


👩‍🦰(Sayang pala lo, menjawab dalam hati)


Lagi telepati ya ha ha.


👨‍🦱Kamu lagi di sana kan?


(Belum dapat jawaban juga)


👩‍🦰(Ngomong aja sendiri ampe bosan)


👨‍🦱Kok ngak jawab, aku tau kamu ini.


Jangan pura pura deh, kamu nafas aja aku dengar.


👩‍🦰(punya indra ke sepuluh apa eh mana ada ke sepuluh biasanya cuma sampe enam)


👨‍🦱Iya aku juga tau kamu kangen, makanya aku telpon.


👩‍🦰(percaya diri sekali walau kenyataan iya)


👨‍🦱Rindi itu berat makanya bagi bagi sini.


👩‍🦰(dikira angkat beban apa di bilang berat segala?


👨‍🦱I miss you😘😘


Maaf dua hari ini ada kerjaan dedline makanya tidak bisa mengabari bahkan sekedar chat.


Benar ini bukan alasan aja, lagian kamu di ajak juga ngak mau.


Giliran di cuekin dua hari aja langsung ngambek kan jadi pengen cium.


👩‍🦰Jangan asal ngomong ya bang.


👨‍🦱Kirain tadi ngak ada orang karna ngak ada jawaban.


👩‍🦰Kangen tau.


(Rengek manja yang rasanya pengin muntah)


👨‍🦱miss you too.


Setelah adegan diam diaman dan kini berlanjut dengan obrolan manja saling melepas rindu.


Udah sepuasnya saja mau ngomong apa yang penting bahagia.


Dasar kayak udah pisah berapa lama saja, sampe telponan lebih satu jam lamanya.


Itu telponan apa lagi reuni yang sudah lama tidak berjumpa.


Sudah biarkan saja mereka mau membahas apa yang pasti jangan di ganggu sebab lagi kangen kangen nya.


Cukup lama bicara hingga Lisa tidak mengeluarkan suara di karena kan sudah tertidur.


Dikira bang Endra lagi ngedongeng apa sampai tertidur gitu, untung sayang ya bang Endra.


👨‍🦱Tidur yang nyenyak sayang, jaga diri mu baik baik selama aku jauh and love you😘.


Mematikan sambungan telpon itu saat di rasa sudah tidak ada yang bisa di ajak bicara.


\=\=


Paginya Lisa bangun dengan wajah ceria beda dari dua hari kemarin.


"Itu wajah bahagia amat, si amat biasa biasa aja," Ledek Iva yang sudah duduk di meja makan bersama Rara.


"Ya karna si amat putus cinta kali," Tidak tersinggung atau merasa di sindir.


"Punya pacar aja ngak, kapan putusnya?" Kini Rara yang bicara, lama tinggal bersama Rara sudah tidak canggung bicara sama Iva atau Lisa.

__ADS_1


Dan keduanya juga tidak masalah jika Rara ikutan dalam obrolan mereka.


"Iya mah yang pacaran sama dosen sendiri beda," Tolong itu tidak nyambung sama sekali.


Apa hubungannya coba pacaran sama dosen.


Tadi kan bahas Lisa dan si amat kok jadi bahas pak dosen segala.


Lagian pak dosen jangan di bawa bawa juga tidak ada hubungannya.


"Ngak nyambung kak Lisa, ish," Gerutu Rara tidak terima kalau dosen pujaan nya di bawa bawa.


"Makanya di ajak biar nyambung," Tidak ada hubungan sama sekali.


"LDR selain bisa membuat orang kangen juga membuat orang bodoh ya.


Ya udah sekarang kita sarapan dulu," Lerai Iva yang mulai jengah sama pembahasan mereka.


Tapi tunggu seperti nya ada yang kurang.


Iya Zio belum ada di antara mereka.


"Mozi jahat, mama nyebelin, mbak Rara pikun.


Kenapa Iyo di lupain," Zio keluar kamar memasang wajah cemberut sebab di lupakan sama ketiga perempuan cantik yang sudah santai duduk di meja makan.


"Sorry tampan," Balas ketiga nya kompak.


"Kalau Iyo ngak ada, emang bisa makan enak?" Tunggu ini apa maksudnya?


Apa hubungannya Zio sama makan enak.


"Kalau mau makan ya tinggal makan Zio," Gemas sama tingkah Zio ini.


"Biasanya bisa makan enak kan sambil makan liatin Zio agar nafsu makan nambah," Ya tuhan.


Itu teori dari mana coba? mana ada seperti itu.


Selera makan ada bukan karna ada Zio atau tidak tapi tergantung mood saja sebenarnya.


Pintar boleh Zio tapi tidak gini juga.


Tolong itu rasa percaya dirinya turunkan dikit agar tak mentok langit langit rumah.


Masih kecil saja bisa bicara gini, patut di acungkan kaki eh jempol maksudnya.


"Makasih tampan dah ingatin," Cuma itu yang bisa di balas.


Lagian seperti nya tidak ada Zio makan mereka biasa saja ya tidak ada pengaruh.


Ayo makan dengan tenang jangan ambil pusing sama ucapan Zio anggap anak kecil yang bicara.


"Ma, papa kapan balik?" Sudah mulai terbiasa menerima bang Endra.


Ya mau gimana tidak menerima jika bang Endra selama di sana selalu mendekati Zio kapan saja, wajar kalau Zio mulai terima itu.


"Mama belum tau Zio, nanti mama coba tanya ya," Lisa juga tidak tau kapan bang Endra balik.


Mau jadi bang toyib apa tapi jangan ah udah cocok namanya bang Endra bukan bang toyib.


"Suruh cepat balik ma, nanti cari mama baru papa disana," Ini maksudnya apa nyuruh cepat balik atau nakutin.


Apa sekalian saja ya, Zio Zio sudah terlalu pintar sekarang bicara.


Masih ingat sama drama Zio yang mau punya dua istri itu.


Kalau di bahas lagi mungkin lucu ya anak sekecil ini sudah berfikir sejauh itu.


"Kalau papa nyari mama baru, kan mama bisa cari papa baru juga," Apa aku, bisa ya mencari papa baru.


Sekian lama berpisah tetap saja balik sama bang Endra lagi, masa sudah balikan baru mau cari yang baru tidak mungkin sekali.


"Iyo setuju ma," Lah bocah main setuju saja.


Kayak tau aja apa yang di bahas.


Mana ada seperti itu coba, satu aja ngak abis abis gimana mau cari yang baru.


Aku masih waras ya fikir Lisa.


"Aduh ampun ( menepuk jidat sendiri)


Kalau daddy cari mozi baru boleh?" Kenapa sekarang sasaran ke Iva juga, salah apa coba tadi.


"Jangan aneh aneh Sa," Cetus Iva tidak setuju.


"Iya Zio kalau daddy cari mozi baru boleh kan?" Rara juga ikutan tidak mau ketinggalan seperti mau naik bus saja tidak mau ketinggalan.


"Ngak mungkin," Tolak Zio tegas.


Kalau menyangkut daddy atau mozi sudah tidak bisa di ganggu gugat sudah ada hak paten.


"Kenapa? kan enak punya dua mozi," Coba terus provokasi siapa tau terpengaruh.


Anak kecil kan emang mudah di pengaruhi tapi apa itu berlaku bagi Zio kita lihat saja.


"daddy nya yang ngak mau ma, kata daddy punya satu mozi aja udah cukup ngak perlu nambah kayak makan," Tuhan pintar sekali menjawab, anak siapa ini tolong kenapa dia tidak mau kalau sedikit pun.


Tapi iya juga Zio, satu sudah lebih dari cukup tidak akan habis sampai kapan pun juga.


Ah pintar sekali jadi makin gumush.

__ADS_1


"Tapi kan enak Zio punya dua mozi," Masih berusaha.


Lagian Lisa aneh anak sendiri di ajak debat kurang kerjaan kali.


Kalau sesama tidak apa, nah ini anak kecil lo Sa sadar dikit napa.


"No mama Iyo cuma mau punya satu mozi satu daddy.


Titik no koma," Biasanya kan titik no debat kenapa malah titik no koma.


Sesuka kamu saja Zio yang penting senang.


"Tapi ma," Lanjut Zio takut takut mau bicara.


Mau bilang apa Zio? kenapa takut takut gitu.


Bilang saja tidak akan ada yang marah atau memarahi sebab di sana ada pembela Zio.


"Apa tampan?" Penasaran juga sama apa yang mau di bilang Zio.


"Kata papa ma, kayak nya punya dua mama enak ya Zio.


Gitu ma papa bilang," Setelah bicara Zio langsung berlari ke balik punggung Iva mencari perlindungan agar terhindar dari amukan macan tiba tiba.


"Bang Endra awas ya kamu," Teriak Lisa lantang memenuhi area taman belakang sampai terdengar sampai dalam rumah.


Nafas Lisa memburu habis teriak sekencang itu tadi.


Sungguh saat ini Lisa sangat ingin memukul wajah mengesalkan bang Endra itu.


Bisa bisanya dia bicara gitu, apa dirinya saja tidak cukup apa? mau yang lain juga.


Tapi tunggu, ini Zio ngak lagi ngerjain dia kan, ini sungguhan kan.


Jangan sampai mudah ke makan omongan Zio ya Sa.


"Va itu anak siapa? tolong di karungin dan kirim ke emaknya," Geram lisa memandang Zio yang masih bersembunyi di balik badan Iva.


"Ngak tau Sa, nemu di selokan tadi," Mozi plis jangan ikutan juga menistakan Zio yang tampan ini.


Tega apa sama anak sendiri.


Siapa di sana yang bisa menolong Zio, datang lah nanti Zio kasih permen.


\=\=


Di sebuah rumah yang megah dan mewah pasangan yang sudah baikan itu lagi bersantai juga selepas sarapan tadi.


"Mom kita jadi jalan jalan kan?" Tanya Vino pada sang mommy yang lagi asik menonton tayangan tv di depan mereka.


"Emang mom pernah bilang gitu ya?"Canda Vani pada Vino yang hanya dia lirik sekilas.


" Dad," Adu Vino pada Renzi.


Yang di panggil menatap dengan senyuman yang selalu menghangatkan.


Tapi tidak sembarang orang bisa melihat sebab hanya pada dua orang ini aja sering Renzi tunjukan.


"Apa Vin," Tanya Renzi lembut membelai kepala Vino hingga senyuman itu menular pada Vino juga.


"Mom ingkar janji dad," Gelendotan ke lengan Renzi dengan wajah imut yang tidak bisa di tolak oleh Renzi.


"Benar begitu mom?" Memandang Vani tidak suka sebab dia sudah berani membuat anaknya memasang wajah andalan ini.


"Cih siapa yang bilang ajak jalan jalan dad.


Daddy fikir aja sendiri dikira jalan itu ngak capek apa.


Kan ada mobil ngapain harus jalan," Ralat Vani yang tidak mau di salahkan gitu saja.


Lagian niatnya tadi hanya mau ngerjain Vino tapi tau tau nya malah di tanggapi serius.


Namanya juga anak kecil mana tau dia mana becanda mana serius.


"Tuh dengar mom bilangkan, pergi nya pakai mobil bukan jalan," Kenapa dad? kenapa malah tidak berpihak pada anak sendiri sih.


Vino anak daddy bukan?.


"Kenapa bela mom dad, ah dad ngak asik," Rajuk Vino melepas kan pegangan pada lengan Renzi dengan sedikit menghempaskan.


"Lagu dangdut dong sik asik," Tidak lucu dad ngelawaknya kurang garing.


"Tau ah Vino ngambek," Berlari masuk kamar lalu menutup lagi.


"Lah ngambek ngapain bilang coba, ngode minta di bujuk ya dasar kayak anak kecil aja," Cibir Renzi lalu duduk mendekat ke arah Vani.


"Kamu juga anak sendiri aja malah diledekin mulu," Rutuk Vani pada Renzi dengan memukul pelan lengan kokoh itu.


"Lagian lucu gitu wajah ngambek nya, jadi pengen liat tiap hari," Dasar dad tidak tau diri.


Masa ada ya dad seperti Renzi yang suka wajah anak ngambek.


Ck ck patut dapat penghargaan.


"Udah lakukan sesuka hati tapi jangan salahkan nanti kalau Vino minta ganti daddy," Oh no ini tidak boleh terjadi apa pun alasan nya.


Tidak tidak bukan seperti itu maksud Renzi tadi, dia hanya becanda jangan di ambil hati ok.


\=\=\=\=\=


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2