
Setelah kepergian Zefan dan Iva, bang Endra juga pergi buat menemui Lisa yang sudah di cueki dari kemarin.
Ya yang namanya jail ya gitu, sama kekasih sendiri suka gitu.
Itu ngerjain atau balas dendam.
Bang Endra sudah rapi lalu menuruni tangga.
"Papa mau kemana?" Tegur Zio yang lagi main di bawah sama panda nya.
"Mau bertemu mama, Zio ikut?" padahal dalam hati bang Endra berdoa, jangan ikut ya Zio papa lagi pengen berdua sama mama aja.
Dasar mulut saja sok nawarin ikut, di iyakan baru tau rasa.
Rasa apa? rasa yang pernah ada.
Kalau tidak niat mau ngajak mending tidak perlu di tawari atau bohong dikit juga bisa.
"Nggak mau pa, Iyo mau jalan jalan sama panda nanti," Tolak Zio yang tidak mau ikut, dan bang Endra dapat menghela nafas lega.
Jika Zio tidak mau ikut maka kebersamaan sama Lisa tidak ada gangguan, lancar.
"Ya udah papa pergi dulu ya, hati hati ya jalan sama panda," Mengusap kepala Zio sebelum melangkah keluar.
Zio hanya mengangguk kepala dan melihat sebentar bang Endra.
Bang Endra pergi menuju rumah Iva dengan perasaan senang, mereka masih seperti pasangan remaja yang baru mengenal cinta sama seperti Iva Zefan yang hampir tiap hari bertemu.
Sama juga kayak Rara dan Satyia yang bertemu tiap hari karena berada di lokasi yang sama yaitu kampus.
Tidak lama mobil yang di kendarai bang Endra memasuki area rumah Iva.
"Pagi pak, Lisa nya ada?" Sapa bang Endra berhenti di gerbang pos satpam.
"Eh den Endra, ada masuk aja.
Neng Lisa ada di dalam mungkin sendiri sebab neng Rara baru juga pergi," Jelas pak satpam, tidak lama sebelum bang Endra datang Rara juga baru pergi.
"Iya makasih pak, saya masuk dulu," Pamit bang Endra masuk kepala dalam.
Keluar dari mobil melangkah menuju pintu tapi sebelum itu menyapa bibi yang lagi merapikan tanaman.
"Pagi menjelang siang bi," Tegur bang Endra pada bibi yang fokus sama tanaman sehingga tidak menyadari kehadirannya.
"Copot jantung bibi, kirain siapa?" Bibi mendongak melihat asal suara.
__ADS_1
"Ya kali jantung buatan tuhan bisa copot bi, buatan manusia bisa jadi," Balas bang Endra.
"Saya masuk dulu ya bi," Lanjut bang Endra lagi.
"Iya den, mungkin neng Lisa ada di ruang keluarga," Beri tau bibi.
"Iya bi makasih,"
Bang Endra masuk ke dalam lalu mencari keberadaan Lisa hingga langkahnya terhenti mendengar suara yang tidak asing lagi bicara entah sama siapa.
"Kamu jangan gila ya, saya nggak mungkin balik sama kamu lagi walau lelaki di dunia ini cuma tinggal kamu seorang saya lebih memilih sendiri,'' Benyak Lisa pada lawan bicaranya.
Ya Lisa lagi bicara lewat telpon tidak sadar kehadiran bang Endra di sana.
" Apa urusannya sama kamu saya sudah punya anak, kamu jangan terlalu percaya diri ya.
Kamu fikir kamu ok hah," Suara itu makin tinggi lagi.
"Dia nggak ada apa apanya sama kamu, dia nggak tau saya hamil waktu itu makanya dia nggak ada sama saya jangan asal bicara ya.
Menyebalkan," Menutup telpon itu dengan kesal.
membanting hp ke sofa sebelah.
"Dia fikir dia siapa, walau gue nggak suci lagi tapi bukan murahan ya, menjijikkan," Gerutu Lisa menghempaskan badan berbaring di sofa.
Jemuran di gantung kalau udah kering di angkat nah ini udah kering masih aja di gantung.
Awas aja kalau tiba tiba dia ngajak nikah nggak bakal mau gue," Memejamkan mata berusaha menenangkan fikiran.
Yang menelpon Lisa tadi mantan pacarnya sebelum kejadian bersama bang Endra terjadi dan saat itu hubungan mereka berakhir.
"Beneran nggak mau?" Bang Endra duduk di ujung sofa yang Lisa tiduri.
Lisa membuka mata tanpa mau duduk cuma melihat siapa padahal sudah tau jika di dengar dari suara.
"Beneran lah," Jawab Lisa.
"Beneran?" Menaikkan alis sebelah meyakinkan apa yang di dengar.
"Ya beneran nggak nolak," Cengegesan Lisa menjawab lalu duduk.
"Abang kemana aja? Lisa kan kangen!" memeluk tangan bang Endra dengan manja.
Perempuan papa kenyataan akan manja pada pasangan sendiri, ingat pasa pasangan sendiri ya bukan sama pasangan orang sebab bisa fatal akibatnya.
__ADS_1
"Maaf ya abang main sama Zio jadi lupa buat ngabarin," memenang tangan Lisa yang masih memeluk manja.
"Iya yang udah punya anak jadi ingat anak aja hingga lupa kalau seorang anak nggak bakal ada kalau nggak ada ibu yang mengandung dan melahirkan," Tolong ya tolong, cari alasan yang tepat.
Lupa apa tanpa perempuan anak tidak bisa ada lahir tanpa ada rahim tempat dia berkembang sebelum ada di dunia.
Ya kali main sama anak lupa sama emaknya, mau ngelawak tidak lucu, beneran.
"Iya tau say nggak perlu di kasih tau, lagian sama anak sendiri cemburu.
Harusnya cemburu itu kalau abang dekat sama cewek lain," Anak di cemburui kreatif kali berfikir.
"Itu contohnya nggak di kasih tau bisa lupa kan, lagian kalau abang dekat sama yang lain aku juga bisa loh, ingat!" Cemberut Lisa memandang bang Endra hingga dengan cepat daging tak bertulang itu bertubrukan.
"Jangan ambil kesempatan ya bang," Menampol lengan bang Endra cukup kuat.
Pelan dikit kan bisa, masa pakek tenaga.
"Bukannya kebanyakan orang bilang manfaatkan kesempatan yang ada, nggak pernah abang dengar orang bilang abaikan kesempatan depan mata.
Itu orang bodoh namanya," Pintar banget ngelesnya, lagian yang di maksud memanfaatkan kesempatan yang ada bukan seperti itu tapi seperti kesempatan kerja, kesempatan naik jabatan atau kesempatan nikung doi juga boleh.
"Terserah abang aja lah.
Abang yang pintar ngeles atau aku yang nggak bisa ngelawan.
Yang penting abang senang, puas," Lisa berdiri namun di tahan sama bang Endra.
"Mau kemana? kan abang belum selesai ngomong," Cegah bang Endra memegang tangan Lisa yang hendak jalan.
"Ganti baju, kita ngobrol lagi nanti sekarang Lisa ganti baju kita pergi jalan," Melepas tangan bang Endra pelan lalu melangkah menuju kamar.
"Emang abang bilang tadi mau ngajak jalan?" Seru bang Endra, seingat dia tidak ada bicara itu tadi.
"Bukan abang yang ngajak tapi Lisa yang ngajak namun abang yang bayar," Jawab Lisa.
"Kok abang yang bayar, kan kamu yang ngajak," Merasa tidak terima aja gitu, mau perhitungan?.
"Abang lupa kalau Lisa sekarang pengangguran gara gara siapa? coba ingat lagi.
Udah jangan banyak bicara tunggu bentar," Masuk kamar ganti baju.
Bang Endra mikir, iya juga kan dia yang nyuruh Lisa berhenti kerja dengan cara mengirim surat pengunduran diri nya ke kantor Iva.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Tbc.