My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Mulai Tenang.


__ADS_3

Dekapan orang terkasih memang tidak ada dua atau bisa di duakan.


Rara sangat nyaman mendapat pelukan kekasih buat pertama kali.


Meski mendapat kenyataan pahit tapi di balik itu dia bisa tau kalau perasaan Satyia buat dia bukan main main.


Setidaknya rasa sakit itu ada penawar tidak terlalu namun bisa mengurangi meski tidak sepenuhnya.


Beruntung memiliki Satyia sekarang baik di masa belakang, sekarang atau masa depan hanya berharap mereka tidak terpisahkan dengan alasan apa pun.


Jangan ambil kebahagiaan yang kini dia rasakan dan berharap segera bertemu orang tua kandung dan bersiap menyiapkan hati akan segala kemungkinan yang akan terjadi.


Jika di terima Rara sangat senang namun kalau tidak pun biarlah tak apa yang penting sudah tau itu udah lebih dari cukup.


"Sekarang istirahat dulu ya, nggak baik nangis terus," Menuntun Rara berbaring ke atas kasur.


Rara hanya menurut saja tanpa bantahan, kini dia hanya ingin menenangkan fikiran dan memikirkan langkah apa yang mau dia ambil selanjutnya.


"Jangan tinggalin Rara kak," Pinta Rara lemah, tidak mau sendiri tapi bukan mau ambil kesempatan juga.


Sebab hanya bersama Satyia sekarang dia merasa nyaman.


Maka tidak salah meminta Satyia menemani dalam kamar.


Lagian mereka juga tidak mungkin melakukan sesuatu di luar batas mengingat cara pacaran mereka yang bisa terbilang normal.


Yang tidak kebanyakan pasangan lain yang biasa ciuman, pelukan, saat antar pasangan sun kening dulu.


Ya kalau mereka hanya sebatas pegangan tangan itu pun kalau lagi ada saat tertentu bukan setiap kali berjumpa.


"Iya kakak nggak bakal tinggalin kok, mau istirahat atau ketemu bapak sama ibu?" Ya pasti orang tua Rara cemas sama keadaan Rara saat ini.


Bukan tidak mau menyusul hanya saja memberi Rara waktu sendiri buat menenangkan diri.


Tau perasaan Rara saat ini.


Mengerti kecewa hati Rara.


Jika mereka bisa memilih pasti bakal pilih pilihan lain.


Tapi mau sampai kapan akan menyembunyikan semua ini dari Rara, Rara berhak tau akan siapa dirinya sebenarnya.


"Tapi Rara belum siap kak! nanti aja ya," Orang tuanya tidak salah.


Mereka juga bisa di katakan korban juga seperti Rara yang sebelumnya tidak tau kalau Rara bukan anak kandung terutama bu Ami yang baru tau beberapa tahun belakangan ini.


Tapi kenapa pak Mat menyembunyikan ini selama itu, ini yang jadi pertanyaan dalam otak Rara.

__ADS_1


Jika di ingat lagi kenapa baru di beri tau padahal Rara sudah cukup dewasa dan hampir selesai kuliah.


Kenapa tidak dari dulu?.


Atau bisa saja kalau Satyia tidak ikut kemarin bisa saja Rara belum tau identitas dirinya.


Apa harus berterima kasih atas keikutsertaan Satyia pulang kampung bersama.


"Nggak apa, istirahat ya," Menyuruh Rara berbaring walau mustahil untuk untuk bisa tidur mengingat ini masih pagi dan baru bangun beberapa jam lalu.


"Kakak nggak bakal ninggalin Rara kan?" Entah mengapa rasa takut di tinggalkan begitu besar Rara rasakan.


Takut cintanya meninggalkan dirinya yang lagi rapuh sekarang.


Cinta yang bisa membuat dia kuat, Cinta yang datang tanpa di sengaja.


"Harus berapa kali kakak bilang, sampai kapan pun kakak nggak bakal ninggalin kamu yang.


Udah jangan banyak fikiran ya," Mengelus kepala Rara lembut.


Apa Satyia harus senang atau ikut prihatin sama keadaan Rara sekarang.


Namun di satu sisi dia kasian sama pujaan hatinya yang harus menerima kenyataan kalau dia bukan anak kandung orang tuanya tapi di sisi lain dia bisa jadi penawar kala Rara merasa berada di titik terendah seakan dia seperti kekasih idaman yang ada saat di butuhkan.


Tapi siapa sangka niat hati ingin meminta restu malah terhalang karena bukan orang tua kandung maka perjuangan Satyia di perpanjang hingga waktu yang belum di tentukan.


Harus berusaha membantu pujaan hati berpetualang mencari orang tua kandung sampai bertemu dan berdoa jalan yang mereka tempuh tidak ada kendala.


"Janji," Menuruti kemauan Rara lalu menautkan jari kelingking mereka berdua.


¶¶¶¶¶


Setelah cukup istirahat Rara bangun tapi dia tadi tidak tidur hanya berbaring saja dan Satyia tidak lama juga berada di sana hanya sebentar lalu keluar tidak enak kalau lama lama sebab mereka bukan pasangan halal.


Rara sudah merasa cukup tenang selama berada di kamar.


Sudah bisa mengerti apa yang di lakukan orang tuanya di masa lalu, kenapa mereka menyembunyikan rahasia selama ini mungkin mereka terlalu menyayangi Rara dan tidak mau kalau Rara meninggalkan mereka suatu hari jika tau siapa dia sebenarnya.


"Rara harus menemui bapak sama ibu dulu, Rara nggak mau jadi anak durhaka.


Selama ini mereka yang membesarkan Rara hingga tumbuh dengan penuh kasih sayang.


Apa pun alasan mereka menyembunyikan rahasia ini tapi tetap di hati kecil ini rasa sayang itu lebih kuat dari pada rasa sakit," Bangun dan keluar dari kamar namun sebelum itu tujuan Rara kamar mandi dulu buat mencuci wajah.


Setelah itu Rara mencari keberadaan penghuni rumah yang terlihat sepi, entah pada kemana semua orang.


"Pak bu dimana?" Memanggil orang tuanya yang tidak keliatan sama sekali bahkan Satyia juga.

__ADS_1


"Bu pak," Hingga Rara mendengar suara sautan dari belakang rumah lalu Rara menyusul ke sumber suara.


"Ibu lagi apa?" Menghampiri bu Ami.


"Shopping sayang," Balas bu Ami melihat Rara sekilas lalu melanjutkan kegiatannya.


"Rara kira ibu lagi nyuci," Ujar Rara ikut becanda.


Bagaimana Rara bisa lama marah kalau kebahagiaan mereka jauh lebih berarti.


Terlepas dari rasa kecewa ada banyak kebahagiaan yang sudah Rara dapat jadi alasan buat marah lama itu tidak ada.


"Bukan nak, ibu lagi masak," Senang anaknya sudah mau bicara meski tadi sempat cemas Rara akan marah lama atau lebih parah meninggalkan dirinya berdua saja lalu akan jadi apa hidupnya tanpa Rara lagi.


"Bu maafin Rara ya!" Memegang tangan bu Ami lembut dengan tatapan menyesal.


"Nggak apa nak bapak sama ibu ngerti, jangan sedih lagi ya nanti kita cari sama sama.


Kalau sedih terus nanti pak dosennya pergi lo," Menggoda Rara supaya mau tersenyum.


"Tapi sayangnya itu semua nggak mungkin terjadi bu, kak Satyia udah terlalu cinta sama Rara.


Ibarat kertas sama perangko bu nggak bisa di pisahkan lagi," Ya Rara bisa sepercaya diri ini bicara sebab sudah mendengar langsung dari Satyia sebab tidak akan meninggalkan dirinya dalam segala hal apa pun yang terjadi.


"Iya ibu percaya cinta nak Satyia bukan kaleng kaleng sudah teruji kesetiaan.


Kalau tidak nggak mungkin mau sama anak ibu ini padahal ibu tau di kota sana banyak gadis yang lebih dari kita tapi buktinya malah milih kamu.


Hhmm gimana orang tua nak Satyia merestui tidak?" Sebagai orang tua hanya khawatir kalau anaknya tidak di terima oleh keluarga pasangan dan itu pasti sakit rasanya.


"Keluarga kak Satyia menerima kok bu, apa lagi mama kak Satyia lebih sayang sama Rara dari pada sama kak Satyia," Tersenyum saat mama Satyia begitu menyayangi dirinya.


Tapi mengingat sekarang apa akan tetap seperti itu apa lagi orang tua Rara tidak tau dimana.


Melihat kemurungan Rara bu Ami paham apa yang di fikirkan Rara.


"Mikirin apa? jangan terlalu mikirin hal yang belum pasti," Sebagai orang yang sudah pernah berada di posisi itu tau perasaan Rara.


"Rara hanya takut bu," Lirih Rara merasa sesak di dada.


Apa iya keluarga Satyia masih mau menerima dirinya.


Kalau tidak mau lalu Rara harus bagaimana, tetap bertahan atau melepaskan cintanya.


"Percaya sama ibu kalau nak Satyia nggak mungkin nggak memperjuangkan cinta kalian," Walau dalam hati bu Ami juga takut kalau Satyia tidak mau berjuang.


Bisa saja dia masih berada di sana hanya tidak ingin di cap tidak baik dan mungkin setelah mereka balik Rara akan dia putuskan, hati orang kita nggak ada yang tau.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Bersambung...


__ADS_2