My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Tidak Sanggup.


__ADS_3

Rara mulai melangkah masuk ke dalam kamar Satyia dengan perasaan ragu ragu juga cemas.


Ini kali pertama masuk kamar seorang pria dan itu kekasih dia sendiri.


Mengedarkan pandangan ke segala arah lalu mata Rara terpaut pada sosok yang duduk di kursi lagi memegang sebuah buku.


Rara belum berani mendekat mengingat tadi sifat Satyia yang langsung marah tanpa mau mendengar penjelasannya cukup membuat Rara takut buat bicara.


Terlepas dari ikatan sebagai sepasang kekasih jangan pernah lupakan kalau Satyia seorang pria yang sulit di dekati bahkan terkesan dingin sama orang lain.


"Kak," Panggil Rara saat jarak keduanya tidak terlalu dekat lagi tapi tidak jauh juga.


"Semua yang kakak liat tadi itu nggak bener," Rara mencoba menjelaskan walau kecil kemungkinan buat Satyia akan menjawab setidaknya Rara sudah berusaha.


Di percayai atau tidak itu urusan nanti, kita kadang punya tugas buat menyampaikan bukan buat di percayai atau tidak tergantung sama individu masing masing.


Bagaimana menjelaskan sama orang yang tidak merespon ucapan kita.


"Cuma kakak yang tau gimana perasaan Rara selama ini, cuma kakak yang tau sedalam apa rasa ini buat kakak, cuma kakak yang tau gimana Rara begitu menyayangi kakak.


Kalau kakak berfikir perasaan Rara dangkal, kakak salah besar.


Rara ngerti gimana perasaan kakak sekarang, Rara ngerti kalau kakak merasa kecewa sama kejadian tadi tapi Rara juga kecewa sama kakak yang nggak mau dengar penjelasan Rara,"


Menarik nafas dalam memikirkan mau menjelaskan apa lagi.


Kesalahan yang tanpa kita buat maka sulit buat menjelaskan kalau kita cuma bilang tidak punya hubungan apa apa sama orang itu.


Tidak semua orang mau mengerti dan mendengar sebab kebanyakan orang akan langsung percaya tanpa mendengar penjelasan.


Jangan jadi orang yang picik akan suatu hal, bukan nya suatu hubungan akan awet jika saling percaya dan terbuka.


"Kakak kan tau hubungan akan bertahan jika saling terbuka dan percaya.


Tapi disini itu nggak ada lagi, Rara cukup sakit kakak perlakukan seperti ini.


Menghakimi Rara atas kesalahan yang sama sekali tidak Rara lakukan.


Ingat komitmen serta cita cita cinta kita berdua jangan hanya karna orang asing datang malah menghancurkan semua impian yang lagi kita bangun,"


Kini bukan suara tegas lagi tapi suara lirih menahan sedih.


Orang terkasih memilih cuek serta bungkam.


Orang tersayang mendiami lebih sakit ketimbang jatuh tadi pas mengejar Satyia.


Air mata itu tidak bisa di ajak kompromi malah jatuh deras membasahi pipi mulus itu.

__ADS_1


Diri ini bukan jiwa yang kuat bertahan, bukan jiwa yang tegar jika di diami, bukan pribadi tangguh yang sulit di robohkan.


Diri ini hanya jiwa rapuh jika di sakiti, jiwa yang lemah kalau di abaikan.


Rara berusaha agar isakan dia tidak kuat dan terdengar oleh Satyia.


Jangan dia di kira lemah yang bisa cuma nangis.


"Rara nggak tau mau bilang apa lagi sama kakak, Rara cuma mau bilang love you," Sudah sebenarnya tidak perlu bicara panjang panjang.


Sebab orang yang menyayangi kita tidak butuh semua itu dan akan lebih percaya sama apa yang kita bilang bukan.


Bukannya cinta harus saling percaya itu pondasi utama.


Mungkin Satyia butuh waktu buat menenangkan diri.


Orang cuek pada orang lain maka akan tidak suka milk dia di dekati bahkan di sentuh orang lain meski itu tanpa sengaja.


Berjalan perlahan menjauh tapi belum membalikkan badan ingin melihat sejauh mana dirinya di abaikan.


Selangkah, dua langkah, tiga langkah hingga kaki itu sudah semakin dekat dengan pintu. Mencoba mambalikkan badan buat keluar dari sana.


Baru tangan Rara menyentuh gagang pintu sebuah tangan melingkar di perut rata Rara.


Sontak yang memiliki badan kaget juga terkejut.


Bukan apa, karena dari tadi Satyia diam aja saat dirinya bicara.


"Jangan pergi!" Bisik lirih Satyia di telinga Rara serta hembusan nafas Satyia menerpa telinga bukan menerpa lagi tapi mulut Satyia sudah menempel di telinga Rara saat bicara.


Bukan di sengaja tapi jarak mereka yang terkikis.


"Kakak yang terlalu cemburuan, kakak yang tidak suka milik kakak di usik.


Kakak nggak suka kamu dekat sama lelaki mana pun, kakak marah kalau melihat itu.


Milik kakak hanya kakak yang boleh menyentuh orang lain kakak akan sangat marah.


Ke depan nya kakak mohon jaga jarak sama lelaki mana pun tanpa terkecuali,"


Mengeratkan pelukan pada badan Rara tidak rela jika Rara pulang cepat.


Tujuan mereka ke danau gagal sudah tidak mungkin membiarkan Rara pulang sendiri.


Mereka masih butuh waktu bersama setelah apa yang terlewat tadi.


"Hm kak," Panggil Rara tidak nyaman di peluk seperti ini.

__ADS_1


Selama menjalin hubungan mereka hanya sekedar pegangan tangan tidak lebih dan sekarang mereka malah berpelukan tanpa jarak.


Siapa yang tidak risih?.


Risih nggak?


Risih nggak?


Risih nggak?


Risih lah masa enggak.


"Ssttt, nggak usah ngomong.


Kali ini biar kakak yang bicara, kamu udah banyak bicara tadi.


Seperti nya kamu nggak bisa kakak tinggal sendiri walau hanya satu menit, kamu tau pesona ini terlalu kuat bagi siapa yang melihat ( Melepas sebelah tangan di perut Rara lalu mengelus pipi itu dengan pelan) dan seperti nya juga kamu harus secepatnya kakak halalkan supaya nggak di ambil orang,"


Melepas pelukan itu lalu membalikkan badan Rara hingga mereka saling berhadapan.


Tatapan mata bertemu dengan jarak yang dekat.


Tapi Satyia masih bisa menahan diri supaya tidak kelepasan saat bersama.


"Jangan pulang dulu, kakak kangen tau," Medekap Rara dari depan tapi hanya sebentar.


Bukan tidak mau lama hanya saja tidak mau kelepasan sebab sensasi memeluk dari belakang dan depan sangat berbeda.


"Emang siapa tadi yang pura pura nolak, nggak mau bicara, kayak sanggup aja, yang ngambek, Rara nya di tinggal," Sindir Rara pada Satyia dengan santai tidak takut akan kena marah.


Jika nada bicara Satyia seperti tadi maka sudah bisa di ajak becanda tidak seperti tadi.


"Siapa ya? emang siapa?" Getok jangan tuh kepala atau tabok jangan wajah tampan itu.


"Siapa ya?, satpam depan mungkin," Satyia menarik tangan Rara duduk di atas ranjang sambil berpegangan tangan.


Hingga ketukan pintu terdengar lalu pintu terbuka.


"Jangan lama lama berduaan nggak baik, ntar masuk berdua keluar bertiga, mama nggak mau cucu mama di cicil ya," Mama Satyia hanya mendongakkan kepala di pintu tidak masuk.


Setelah bicara lalu pergi lagi tanpa menutup pintu.


Mereka saja tidak sampai sana berfikir kenapa mama kejauhan travelling sih.


\=\=\=\=\=


***Ma'af ya telat up buat beberapa hari ke depan dan setelah itu akan rutin lagi setiap jam 12 malam.

__ADS_1


Jangan lupa dukungan ya and like juga yang nggak banyak membutuhkan waktu***.


Tbc.


__ADS_2