
**Sebelum di lanjut author mau ngucapin selamat hari raya idul fitri bagi yang merayakan.
Pantun dikit boleh ya, real bikin sendiri tanpa comot di sebelah.
Pak mamat ke pekan raya beli peniti.
Selamat hari raya idul fitri.
Satu lagi nggak. **.
Beralih dulu dari pasangan yang sudah baikan, kini kita ke pasangan baru yang sebentar lagi akan sampai Negara kelahiran mereka yang pulang tanpa memberi kabar.
(Udah kayak pembawa berita aja thor).
Pesawat yang mereka tumpangi sebentar lagi mendarat sebab sudah menjalani penerbangan cukup lama yang di iringi dengan goncangan kecil tanpa mereka sadari dari dalam kamar pribadi pengantin baru.
Ya goncangan lokal di atas ranjang dan hanya mereka berdua yang tau gimana berantakan ranjang yang jadi saksi bisu.
Zefan mengelus pelan kepala Iva yang masih tidur di bawah selimut tanpa menggunakan pakaian habis tempur tadi.
Zefan tidak mau membangunkan Iva membiarkan tertidur lelap tidak mau mengusik.
Pesawat sudah mendarat beberapa menit yang lalu tapi pemilik pesawat itu belum menampakkan diri satu pun, mereka di sana juga tidak bisa mengganggu sebab masih sayang nyawa eh pekerjaan.
Tapi jika yang punya telat turun juga tidak ada yang marah, pesawat punya sendiri jadi siapa yang mau marah.
Sultan bebas ya namun apa daya kita yang biasa ini hanya bisa gigit jari.
"Mas!" Seru Iva dengan suara khas bangun tidur.
"Enak tidurnya?'' Tolong jelaskan enaknya dimana.
" Nggak mas, remuk semua badan Iva," Keluh nya sambil membenarkan posisi tidur belum tau kalau pesawat sudah mendarat.
"Tapi sebelum nya enakkan? buktinya Zizi sampai mendesah enak gitu," Menarik sedikit selimut Iva hingga menampilkan bahu Iva yang sudah belang di sana dari hasil karya Zefan sisa pertempuran mereka.
Wajah Iva bersemu merah lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh.
"Mandi dulu habis itu kita pulang," Titah Zefan meminta Iva mandi.
"Emang udah sampai mas?" Iva mengintip sedikit dari balik selimut.
"Udah mau setengah jam, yuk buruan mandi," Zefan sudah rapi dia juga sudah mandi saat Iva tidur tadi.
__ADS_1
Curang memang berkeringat berdua tapi mandi sendiri sendiri eh emang mau mandi bareng di selingi sama olahraga yang gimana gitu.
Udah ah bayangin sendiri.
"Apa? kenapa nggak bangunin Iva sih mas kan kasian mereka nunggu kita lama," Tidak fikir lama langsung lari ke kamar mandi dengan meninggalkan selimut hingga tubuh polos itu dapat Zefan lihat begitu jelas.
Zefan hanya bisa menelan saliva saja, kalau di turuti bisa mundur lagi waktu pulang.
Beberapa menit kemudian Iva sudah rapi menggunakan pakaian rapi.
Tidak tau apa sudah mandi atau belum?.
"Cepat mandi nya?" Menyerngit heran sama Iva yang bentar saja di kamar mandi kan biasa nya suka lama.
"Cuci wajah aja mas," Itu masuk dalam kategori jorok tidak sih?.
Tadi sudah berkeringat tapi tidak mandi.
"Jorok Zi," Canda Zefan menutup hidung seolah pura pura merasa tidak nyaman.
"Jorok gini mas suka nempel, siapa yang habis nikah yang selalu buat Iva berkeringat," Memoles sedikit make up sebelum turun.
"Tapi kamu juga suka!" Balas Zefan.
Mereka berdua jalan keluar pesawat dengan bergandengan tangan, lupa kalau sudah membuat mereka semua menunggu yang sudah siap pulang bertemu keluarga juga.
Di luar bandara mobil jemputan sudah menunggu dengan sejuta kesabaran sebab orang yang jemput belum menampakkan diri.
Pengen marah takut di pecat, marah marah sendiri takut di sangka gila maka keputusan akhir cukup di simpan dalam hati rasa marah itu.
Setelah masuk, mobil melaju menuju rumah Iva sesuai keputusan mereka berdua yang akan tinggal di sana.
Demi istri tercinta apa pun Zefan lakukan.
Setengah jam mobil sampai dan memasuki gerbang besar tinggi itu dan berhenti di depan pintu.
"Kapan kita ke rumah orang tua kita?" Kini mereka sudah masuk ke kamar Iva ralat bukan kamar Iva sendiri lagi tapi kamar mereka berdua.
"Besok ya mas ini juga udah," Mereka sampai rumah hampir tengah malam sama seperti saat pergi tengah malam juga.
Hobi baru pulang pergi tengah malam kayak maling.
Setelah mencuci muka dan gosok gigi langsung tidur dengan Iva sudah berada dalam pelukan Zefan tanpa di minta.
__ADS_1
Saat Zefan baru merebahkan badan Iva seletika menyelusup ke dekapan Zefan.
Sinar rembulan sudah di gantikan sama terik mentari hangat, walau pada kenyataan semalam tidak ada bulan sama sekali.
Iva bangun, kelepaskan perlahan rengkuhan Zefan lalu mencuci muka dan berjalan keluar menuju dapur.
"Eh non Iva udah pulang? kok bibi nggak tau," Asisten rumah Iva yang juga sudah bangun.
"Iya bi sampai tengah malam," Iva mulai mengeluarkan bahan makanan dan membuat sarapan buat dia dan Zefan saja.
"Biar bibi aja, non kan masih capek," Cegah bibi tidak membiarkan Iva memasak habis perjalanan jauh.
"Nggak apa bi, Iva nggak capek kok.
Iva nggak mau suami Iva makan masakan orang meski itu bibi sendiri.
Ntar mas Zefan suka sama bibi lagi karena sering makan masakan bibi.
Bibi kan tau Iva nggak mau ada orang yang ngurus soal masakan kalau yang lain terserah," Jelas Iva yang tidak mau Zefan makan masakan orang meski asisten sendiri.
Bibi tidak bisa bicara lagi kalau sudah seperti ini Iva bicara.
Lagian ada ada saja mana mungkin Zefan suka sama Bibi rumah nya sedangkan punya istri yang bisa segala nya.
Iva masak dengan telaten meninggalkan Iva sibuk memasak hingga kehadiran Zefan di dapur tidak Iva sadari sampai tangan kokoh itu melingkar di perut Iva di sertai mengelus pelan perut Iva seperti bicara cepat tumbuh di perut mom.
"Eh mas udah bangun?" Kaget Iva menyadari bukan sama bibi lagi di dapur.
"Bukan, mas lagi tidur berjalan," Jawab Zefan dengan suara rendah setengah berbisik ke telinga Iva.
"Tunggu bentar ya, iva lagi buat sarapan mas tunggu di kursi," Pinta iva yang sebenarnya tau kalau ucapannya tidak akan di dengar Zefan.
"Nggak mau," Mengeratkan pelukan itu hingga jarak mereka berdua tidak ada lagi.
"Kan ada bibi, ngapain repot buat sarapan?" Tidak tau aja alasan Iva.
"Istri mas tu Iva bukan bibi jadi mas hanya boleh makan masakan Iva, titik no debat," Terserah nyonya saja gimana nyamannya.
"Sumpah pagi pagi udah menodai mata suci gue, udah pergi nggak ngasih tau pulang juga sama," Cetus Lisa yang masuk dapur sudah di suguhi pemandangan yang buat iri.
Lisa ke dapur mau ambil minum malah makin seret melihat pengantin baru bermesraan di dapur.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Tbc.