My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Drama Pagi.


__ADS_3

Saat Iva sudah tertidur ternyata Rara keluar kamar itu sebentar tidak lama balik lagi baru tidur.


Ada sedikit tugas yang belum Rara selesaikan dan harus malam ini juga.


Pagi hari jam masih menunjukkan pukul lima pagi, saat pintu kamar terbuka dan ruangan lain juga sudah terang sebab sebagian penghuni rumah itu sudah banyak yang bangun dari mimpi indah semalam.


Suasana yang mulanya tenang hanya di isi obrolan pagi atau gelak tawa kini jadi sunyi dengan suara yang berasal dari kamar utama.


"Apa kamu lakukan di depan kamar saya?" Bentak papa Syakil yang baru keluar kamar malah melihat seseorang tidur di depan kamar dengan cara tengkurap.


Niat nya usai shalat subuh mau bergabung sama sanak saudara yang lain sambil menunggu para wanita berhias sebab membutuhkan waktu yang sedikit lama.


Acara akan di mulai pukul sepuluh pagi dan ini masih terlalu pagi buat para lelaki bersiap.


"Hey bangun jangan membuat saya marah," Nada suara papa Syakil dinaikkan satu oktaf.


Dia tidak suka kejadian ini apa lagi ada orang yang menghalangi mengingat ini di depan pintu kamar nya.


Satu persatu orang yang mendengar suara teriakan itu menuju sumber suara buat memastikan apa yang terjadi apa lagi ini masih pagi sekali.


"Ada apa kak? kenapa teriak pagi pagi gini?" Salah satu dari mereka bertanya dan tidak melihat ke bawah ada makhluk yang lagi tiduran.


"Jangan teriak Kil, kayak orang kekurangan jatah aja.


Ila Syakil ngak di kasih jatah semalam?" Kakak pertama mama Ila menanyai hal tidak penting itu sekarang.


"Mbak ini kaos kaki nganggur mau?," Geram papa Syakil yang lagi malas di ajak becanda.


"Nih liat siapa yang punya?" Menunjuk ke bawah dan pandangan mereka mengarah jari papa Syakil.


"Ini siapa?"


"Kok tidur disini?"


"Kan udah di sediakan tempat tidur masing masing,"


"Wah ngak bener nih, pasti mau nguping nih ada kejadian apa di dalam,"


Masih banyak lagi mereka melontarkan argumen masing masing sebelum tau siapa orang itu sebab belum di balikkan badan nya jadi wajah orang itu masih ke tutup.


Salah satu dari mereka membalikkkan badan orang itu dan sontak mereka kaget.


"Viola," Ucap mereka kompak melihat siapa tidur itu.

__ADS_1


Yang di sebut namanya mulai mengerjabkan mata sebab mendengar suara bising lalu mengedarkan pandangan seperti orang bingung dengan kesadaran belum sepenuhnya.


"Ada sih kok berisik pagi pagi, ngak tau apa orang masih ngantuk," Dengus Viola belum tau sekitar dia di kelilingi anggota keluarga yang lain.


"Viola ngapain kamu tidur disini?" Tidak mengerti apa yang sudah terjadi.


"Ya tidur lah apa lagi, emang harus tidur dimana lagi?" Belum sadar juga kalau dia jadi tontonan pagi pagi dan buat keributan.


"Apa an sih berisik tau ngak, udah sana gue masih ngantuk," Tidur lagi lalu memejamkan mata.


Baru beberapa detik mata terpejam ada sebuah tangan menarik dia hingga berdiri sempoyongan.


"Apa yang kamu lakukan Vio? kamu mau bikin papa malu," Sentak papa Vio yang malu melihat tingkah anak nya yang bicara tidak sopan dan juga tidak sadar apa dia berada dimana sekarang.


"Apa sih pa, Vio masih ngantuk mau tidur bentar lagi," Belum sadar juga kalau dia bukan berada di kamar.


"Coba kamu perhatikan sekitar," Kalau bukan di depan keluarga lain sudah pasti Vio di seret lalu di ceburkan ke dalam kolam agar cepat sadar.


Belajar dari mana dia dapat kata kata tidak sopan gitu terhadap orang tua.


Vio di Sekolah kan tinggi tinggi bukan hanya tujuan dapat ilmu semata juga tau tata krama serta bicara menghargai orang yang lebih tua.


Buat apa berilmu tinggi kalau minim akhlak.


"Loh kok kalian ada disini," Dengan cepat tangan papa Vio berpindah ke telinga anak nya yang kurang ajar itu.


"Maaf semua masalah biar saya yang urus sama istri.


Dan untuk kak Syakil maaf udah buat keributan pagi pagi gini," Menarik Vio dari sana sebelum mulut kurang ajar Vio tidak bicara keluar jalur lagi.


Yang lain hanya melihat kepergian ayah dan anak itu biar dia mengajari anak nya tata krama yang benar.


Toh ini bukan masalah besar.


Mereka membubarkan diri menuju tempat semula.


Di kamar Iva.


"Kak seperti ada kejutan pagi," Bisik Rara ketelinga Iva.


"Iya mbak, seperti nya mereka senang sama kejutan yang mbak buat.


Lain kali ya mbak," Dasar orang ribut malah dikatai senang dapat kejutan pagi pagi.

__ADS_1


"Beres itu kak," Rara juga ikutan di hias sebab bukan cuma satu dua atau tiga perias yang di sewa tapi satu orang satu perias biar cepat.


Cuma Rara dan Lisa yang berada satu ruangan dengan Iva sedangkan yang lain di ruangan baju.


Ini mereka bersama karna paksaan Lisa yang tidak mau bergabung sama yang lain dengan alasan panas.


Hey setiap sudut ada AC mana ada panas, tolong kalau cari alasan yang pas.


Mereka di rias cukup lama mulai dari wajah, cat kuku, menata rambut dan terakhir memakai baju semua di bantu.


\=\=


Di rumah Zefan.


Di karenakan akad nikah di laksanakan di gedung.


Sebab setelah akad akan di lanjut dengan resepsi pernikahan di gedung yang sama.


Dan malam pasta khusus para muda mudi dan siang khusus orang tua serta rekan bisnis.


"Tegang amat Fan, kalau mau tegang tegang ya nanti malam aja," Goda bang Endra yang masuk ke dalam Zefan sudah lengkap dengan pakaian rapi serta di ikutin Zio dari belakang.


"Daddy tampan tapi lebih tampanan Iyo," Puji Zio tapi tetap yang di puji nomor dua setelah dia.


Ck ada ada saja dasar Zio, kalau muji jangan tanggung tanggung Zio dan jangan lupa harus ikhlas.


"Daddy emang tampan Zio, kalau Zio lupa," Balas Zefan yang awal sudah senang di puji namun ujung ujungnya di jatohin juga.


"Tampanan mana daddy atau papa?" Tanya bang Endra dan berharap Zio menjawab dirinya.


"Tampanan Iyo pa," Sudah bisa di tebak kalau Zio tidak akan meletakkan orang nomor satu kalau ada dirinya.


Iya mah yang tampan bebas, kita mah apa atuh.


"Yuk kita keluar, mungkin udah siap," Bang Endra menggendong Zio namun di tolak mentah mentah oleh Zio.


"No papa Iyo udah besar ya," Tolak Zio lalu memilih bergandengan sama Zefan.


"Yang bilang dia anak kecil siapa? cih dasar Zefan kalau masih sanggup gue gendong bakal gue gendong kali tapi sayang ngak bisa badan dia gede dari gue.


Yang sanggup di gendong malah nolak," Gumam bang Endra sampai berkumpul sama keluarga yang lain.


Di rasa semua sudah lengkap dan rapi maka mereka semua berangkat menuju tempat akad nikah.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Tbc.


__ADS_2