
"Jangan paksa aku mas, hubungan kita cukup seperti ini saja.
Iva ngak mau citra mas rusak menjalin hubungan sama Iva yang sudah punya anak, mas pantas mendapatkan yang baik," Mau alasan apa lagi Ziva supaya Zefan mau mengerti.
Tidak semua keinginan harus terpenuhi begitu juga dengan Zefan yang tidak bisa memaksa kehendaknya untuk bisa bersama Ziva.
"Aku ngak maksa Va, hanya meminta kamu memberi aku kesempatan buat bisa dekat sama kamu.
Kalau memang kita ngak cocok aku juga ngak akan memaksa juga, jadi plis kasih aku kesempatan ya? kamu ngak mau melihat Zio bahagia kalau kita bersama,"
Maafin daddy Zio harus bawa bawa nama Zio juga, habisnya mozi Zio ngak mau kasih daddy kesempatan buat lebih dekat lagi.
"Kita jalani dulu, jangan terlalu memikirkan omongan orang yang penting kita bahagia dulu.
Cukup percayakan semua sama aku pasti akan baik baik saja," Hah begitu sulit membujuk Ziva dari pada klien Zefan buat di ajak kerja sama.
Memang seorang perempuan kalau ingin menjalan suatu hubungan pasti banyak memikirkan hal apa lagi kalau sudah punya anak akan memikirkan anak dulu baru dirinya.
Kadang perempuan mengorbankan kebahagiannya asal anaknya bahagia.
"Iya mas, tapi Iva hanya takut nanti saat hubungan kita baik baik saja tiba tiba ada kata kata yang ngak enak di dengar tentang Iva lalu mas meninggalkan Iva begitu saja," Ziva hanya takut suatu hari nanti akan ada orang yang ingin memisahkan hubungan dia di saat rasa sayang dan nyaman itu lagi melekat.
"Percaya sama aku Iva, aku bukan tipe orang yang mudah percaya sama orang tanpa bukti ada bukti pun akan di selidiki dulu sebelum mengambil keputusan.
Aku bukan orang yang mudah memberikan hati ku pada orang lain, namun hati ku tidak pernah salah memilih," Zefan cukup mengerti maksud dari ucapan Ziva yang tadi, wajar saja ada penolakan karena dia memikirkan kebahagian dia dan anaknya.
"Iya mas, kita jalani dulu," Sudah Ziva putuskan buat mulai membuka diri pada Zefan.
Mereka berdua sama sama susah membuka hati pada sembarangan orang.
Kejadian masa lalu membuat Ziva sulit percaya sama orang lain.
Walau Ziva tau nantinya hubungan itu akan ada saja orang yang menentang atau ingin memisahkan mereka, namun jika sama sama berjuang akan pasti bisa melewati semua itu.
"Yang punya rumah mana Va? kok ngak kelihatan dari tadi?," Eh masih penasaran saja sama yang punya rumah.
__ADS_1
"Lagi ada tugas di luar kota mas," Gimana mau bilang kalau rumah itu siapa yang punya? kalau dari awal sudah di anggap bekerja disana.
"Mas beneran sudah yakin mau kita lebih dekat lagi dengan Iva yang seperti ini?," Merasa takut saja akan ada perubahan fikiran suatu hari nanti.
"Beneran Iva, aku menerima kamu apa adanya ngak peduli kamu seperti apa.
Aku ngak butuh pendamping yang kaya karena aku sudah punya semuanya, yang aku butuhkan kenyamanan yang hanya bisa aku dapatkan saat bersama kamu," Kekayaan, kemewahan, status yang tinggi sudah Zefan miliki maka yang dia butuhkan hanya kenyamanan dalam mencari pasangan dan itu hati sendiri yang memilih.
"Daddy," Panggil Zio.
"Sini tampan,"
"Liat daddy, mainan Zio kerenkan?," Memamerkan mainan yang di beli kemarin pada Zefan.
"Wah bagus sekali, Zio pintar ya milih mainan," Mainan yang Zio tunjukan hanya sebuah robot yang ukuran sedang.
Mainan yang Zio miliki cukup lengkap walau jarang di mainkan karena lebih sering main sama temannya di luar rumah.
"Mas Zefan main sama Zio dulu ya, Iva mau masak makan siang buat kita," Mengingat waktu makan siang sebentar lagi.
"Daddy, besok daddy jemput Zio ke Sekolah kan?," Zio sudah terbiasa sering di jemput Zefan dari pada Ziva.
Lah Ziva nya yang kesenangan karena ada orang yang mau menjemput Zio tanpa bayaran lagi, maka kerjaan Ziva sedikit berkurang.
Di dapur Ziva mulai memasak buat makan siang.
"Sini biar bibi bantu non," Bibi yang biasa memasak datang memasuki dapur.
"Ngak apa bi, Iva bisa sendiri bibi kerjakan yang lain saja," Tolak Ziva hanya ingin memasak sendiri buat dua orang tersayangnya.
"Non itu siapa yang di depan? kok den zio panggil daddy? bibi kan penasaran," Jiwa kepo bibi keluar.
"Itu teman Iva bi, kalau untuk panggillan dia sendiri yang minta," Jelas Ziva.
"Teman non, bibi kita beneran daddy Zio," Bibi orang lama bersama Ziva jadi dia tidak segan lagi bertanya sesuatu asal masih ada batasan.
__ADS_1
"Iya mau gimana lagi bi, dia yang minta di panggil daddy.
Udah ah Bibi kerjakan yang lain aja, jangan ajakin Iva ngegosip dulu," Mendorong badan bibi menjauh dari dapur.
Kalau di ladeni bukannya masak malah ngerumpi cantik lagi.
Ziva melanjutkan acara memasak seorang diri saja.
"Lagi masak aja masih cantik," Sepasang mata memperhatikan Ziva yang lagi fokus memasak.
**Ddrrtt,,,
Ddrrtt**,,,
Hp Ziva di atas meja berbunyi.
Hallo assalamu'alaikum,,
.....
Iya, Iva baik baik saja.
.....
Zio juga sehat, kapan selesai tugas? Zio kita udah pintar kamu pasti bakal gemas melihat nanti kalau sudah pulang.
....
Iya Iva tunggu, I miss you too.
Panggillan itu berakhir namun Ziva belum menyadari kalau ada sepasang telinga yang sudah mendengar percakapan Ziva barusan.
"Kenapa rasanya sesak,"
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Tbc.