My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Mbak Rara.


__ADS_3

Drt,,, drt,,, drt,,,


Dering ponsel yang terletak di atas meja membangun sosok yang lagi nyenyak tidur di bawah selimut.


"Siapa sih ganggu aja, ini masih pagi," Suara khas bangun tidur itu terdengar seksi bagi siapa saja yang mendengar namun sayanodi kamar itu hanya ada dia seorang.


"Ada apa dia menghubungi?" Mengkerut kening melihat siapa yang menelpon di pagi buta bahkan mentari belum menampakkan diri.


"Ya ada apa?" Mengangkat panggillan itu dengan malas, karena mata masih mengantuk dan enggan buat terbuka.


,,,,,,,


"Ternyata ada yang mau main main ya? siapkan semuanya buat sore," memutuskan panggillan itu secara sepihak dan melanjutkan tidur lagi.


\=\=


Sinar mentari sudah menyinari bumi dengan tetesan embun masih ada sisa di ujung daun.


Kicauan burunng tak mau kalah menyambut pagi yang cerah.


"Selamat pagi dunia, kayaknya Iva harus menitipkan si tampan dulu sama omanya.


Maaf tampan buat beberapa hari ini kamu harus menahan siksaan lahir batin," Terkekeh di ujung kalimat.


Sebab si tampan itu paling tidak suka terlalu lama berada di sana kecuali cuma beberapa jam tidak masalah.


Bergegas membersihkan diri dan bersiap membantu seseorang yang berada di kamar sebelah.


Selesai semua melangkah menuju kamar sebelah.


"Hey tampan ayo bangun, Sekolah ini udah pagi," Mencubit pelan pipi tembem itu dan berhasil.


Mata polos itu menunjukan pergerakan dan terbuka pelan.


"Masih ngantuk mozi," Elaknya dan memejamkan mata lagi.


"Kalau tidur lagi, nanti mozi bilang sama daddy ngak usah jemput Zio Sekolah," Ancam Ziva dan Zio langsung duduk mendengar kata daddy.


"No mozi, jangan nakal," Berlari ke kamar mandi dan mandi di bantu Ziva.


Menyiapkan kelengkapan Sekolah dan turun buat sarapan.


Di pagi hari Ziva jarang membuat sarapan kecuali di hari libur.


"Pagi mbak jom," Sapa Ziva pada Rara yang menata sarapan.


"Mbak jom?" Beo Rara bingung, dalam fikirannya apa ada bibi baru.

__ADS_1


"Mbak jomblo," Jelas Ziva dan mengambil makanan buat Zio dan dirinya.


"Sorry kak, Rara ngak marah ya di bilang gitu sebab," Jeda Rara.


"Emang jomblo," Sela bibi yang datang membawa gelas.


"Nah itu dia," Akhirnya mereka sarapan bersama.


Selesai makan Ziva mengantar Zio Sekolah dan Rara masuk kampus serta persiapan buat magang dua minggi lagi.


"Mbak dua minggu lagi magang kan?" Tanya Ziva di jalan menuju kampus Rara.


"Iya kak, doain ya lancar, Rara deg deg an kak," Ujar Rara sedikit cemas, ini kali pertama masuk dunia kantor apa lagi kantor terbesar dan terbagus di kota mereka.


"Santai aja mbak, nanti juga ada teman mbak satu kampus di sana dan juga sahabat mbak," Ziva hanya ingin selama Rara magang merasa nyaman dan segala hal sudah Ziva atur.


"Makasih kak, Rara beruntung bertemu kaka Iva.


Rara merasa punya keluarga disini," Merantau sendiri jauh dari keluarga tentu berat bagi Rara.


Suatu keberuntungan bertemu Ziva di saat itu hingga sekarang hidup Rara terjamin aman dan punya pekerjaan ringan.


"Sini mbak, ada yang mau di bisikin," Rara mendekat duduk dan Ziva membisikkan sesuatu.


"Iya kak tenang aja, selama ada Rara semua pasti aman," Menepuk dada pelan menandakan semua akan baik baik saja selama dia ada.


"Nanti mbak di sana latihan lagi ya," Titah Ziva, selama Rara bekerja bersama Ziva dia juga di bekali ilmu bela diri setidaknya buat melindungi diri sendiri jika dalam bahaya.


Rara kuliah dulu kak, bye tampan," Pamit Rara turun dari mobil dan melambaikan tangan.


Sepeninggalan mobil Ziva, Rara berjalan menuju kelasnya dan di tengah jalan sahabat Rara yang bernama Rani menghampiri Rara.


"Ra tugas minggu lalu udah selesai?" Tanya Rani sahabat dekat Rara di kampus itu, mereka kenal saat baru masuk disana.


"Udah dong, kenapa mau nyontek?" Sudah ketebak sama Rara kebiasaan Rani, kalau sudah menanyakan tugas berarti punya dia belum selesai.


"Iya yang terakhir belum selesai Ra," Ujar Rani dan mereka menuju ke kelas.


"Ini, cepetan sebelum dosen masuk," Menyerahkan tugasnya sambil main hp.


"Ra, kamu di panggil pak Satyia di ruangannya," Ucap salah satu teman Rara yang satu kelas.


"Iya bentar lagi Rara kesana, makasih ya.


Ada apa ya Ran? pak Satyia manggil Rara kan bentar lagi kelasnya," Heran Rara yang tidak biasa dosen itu memanggil.


Satyia Prasetya Ningrat, biasa di panggil Satyia dia salah satu dosen muda dan masih single hingga banyak para mahasiswa atau dosen perempuan yang mengejar namun dia tidak menanggapi sama sekali.

__ADS_1


"Ngak tau Ra, jangan tanya gue ya tapi tanya orangnya langsung, udah sana nanti kelamaan nunggu lagi," Mendorong pelan badan Rara agar segera beranjak.


Di perjalanan menuju ruangan dosen, Rara berfikir ada apa dosen tampan itu memanggil? apa dia ada buat salah? entah tapi seingatnya tidak ada, sifat Rara selama ini cukup baik dan juga dia tidak ingin membuat ulah dan mempertaruhkan beasiswanya.


**Tok,,,


Tok**,,,


"Masuk," Terdengar suara dari dalam ruangan itu yang mempersilahkan Rara masuk.


"Selamat pagi pak, maaf ada apa bapak manggil saya," Sopan santun yang selalu Rara lontarkan pada orang yang lebih tua.


"Silahkan duduk dulu," Rara duduk berhadapan dengan dosen tampan idola kampus itu yang hanya berbatas meja saja.


Biasanya mereka hanya bertemu dalam kelas saja dan tidak bertemu berdua serta bertatap muka.


"Maaf saya memanggil kamu, tapi ini sebenarnya di luar mata kuliah.


Saya mau minta tolong bisa tidak?" Sebenarnya dia agak segan buat minta bantuan sama Rara namun menurutnya hanya Rara yang bisa membantu.


"Bantuan apa ya pak? kalau bisa akan saya usahakan," Perasaan Rara mulai was was, kalau bukan soal mata kuliah? lalu soal apa?.


"Bisa tidak kamu temanin saya minggu depan bertemu orang tua saya?" Ucapan dosen itu membuat Rara tersentak.


"Maksud bapak?" Sungguh Rara tidak mengerti maksud ucapan dosen di depannya.


"Kamu jangan salah paham dulu, saya mengajak kamu kerena saya tidak mau di jodohkan," Jelas Satyia yang tidak mau Rara salah paham.


"Tapi kenapa saya pak? kan masih banyak orang lain," Merasa sedikit keberatan akan ajakan itu.


Bagaimana kalau orang lain lihat, pasti nanti akan ada gosip yang beredar tentang mereka berdua.


"Mengapa? apa kamu takut pacar kamu marah?" Menelisik wajah Rara dengan intens.


"Saya tidak punya pacar pak, hanya saja saya tak pantas.


Lagian saya juga harus kerja pak," Tolak Rara halus.


"Nanti saya yang minta izin sama bos kamu,"


"Saya maunya kamu yang menemani saya bukan orang lain.


Saya minta nomor kamu, nanti saya hubungi lagi," Sedikit memaksa buat meminta nomor hp Rara dan sedikit terpaksa Rara mengasih.


"Kalau tidak ada lagi, saya permisi pak," Pamit Rara saat di rasa tidak ada lagi yang perlu di bahas.


"Cuma dia yang tidak tertarik sama saya," Ujarnya sambil melihat kepergian Rara.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Tbc.


__ADS_2