My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Gelud Terus.


__ADS_3

Malu tidak ya kepergok berduaan walau kenyataan tidak melakukan apa pun, tetap malu nya sampai ubun ubun.


Ini calon mertua lagi, meski sering dapat dukungan namun namanya kepergok tetap tidak enak rasanya.


"Kakak ih tuh kan kita di kira ngapain," Wajah Rara memerah sepeninggal mama Satyia.


"Nggak apa, kita juga nggak ngapain kan," Ck sesantai itu kalau ngomong.


Emang ya pria itu rasa malu punya dikit kadang juga tidak di gunakan.


"Udah ah, Rara mau ke mama aja," Lebih baik pergi sebelum di liat buat ke dua kali.


"Nggak mau disini lagi?" Plis godain udah ya, tidak malu apa, dasar.


"Nggak kakak aja," Mempercepat jalan segera keluar.


Kini Satyia tinggal sendiri sambil geleng geleng kepala melihat tingkah lucu Rara.


Ya lucu menurut Satyia, sebab setiap gerak atau tingkah Rara mempunyai daya tarik tersendiri di mata Satyia tidak tau kalau penilaian orang lain, bodo amat.


"Jadi makin sayang, gimana kakak bisa marah sama kamu lama lama bisa gila kakak kalau nggak liat tingkah kamu yang bisa buat kakak senyum.


Sehat terus kesayangan dan ke depan akan selalu jadi yang tersayang," Berdiri menyusul Rara yang sudah keluar duluan.


Kini dua orang wanita kesayangan Satyia lagi duduk bercengkrama di ruang keluarga.


"Kok lama turun nya? mandi dulu?" Melihat Satyia yang duduk di depan dengan santai, lupa sama kejadian tadi.


"Mandi? ngapain mandi sih ma?" Heran Satyia yang tidak ngerti maksud mamanya.


"Ya kan habis nyicil cucu mama tadi makanya mandi dulu," Tanpa dosa sama sekali membahas itu, lagian siapa juga yang mau nyicil cucu ada ada saja.


Mereka berdua masih bisa menggunakan akal sehat dan masih bisa menahan sampai halal nanti.


Nyicil, kreditan kali di cicil.


"Nyebut ma nyebut, jangan ikutin kata setan nggak baik," Menggeleng kepala, apa yang ada dalam fikiran mamanya.


Bukannya tadi melarang mereka nyicil cucu kenapa baru beberapa menit tidak bertemu sudah beda lagi dikiran mama.


"Nyebut nyebut udah kan?" Tepok jidat sendiri.


Bukan itu maksudnya, jangan polos bisa tidak mama bukan anak kecil jika di suruh nyebut tidak tau.


Rara hanya jadi penonton saja perdebatan ibu dan anak itu.


Biar mereka bebas berekpresi gimana sukanya.

__ADS_1


"Ini contoh mama yang boleh di tukar tambah," Keluh Satyia tidak tau mau bilang apa lagi.


"Dan ini contoh anak yang patut di buang.


Sayang kamu kok mau sama anak mama ini?" Kini perhatian mama pada Rara yang duduk di sebelah.


"Awalnya kan di bohongin ma," Jujur Rara gimana dulu Satyia mendekati dia dengan alasan sebagai pacar bohongan agar dirinya tidak di jodohkan.


"Maksudnya?" Mama tidak mengerti maksud omongan Rara.


"Awalnya kak Satyia minta Rara jadi pacar bohongan katanya kalau nggak mama mau jodohin kak Sat sama orang lain makanya minta bantuan Rara," Rara dengan polos bicara tidak peduli sama ekpresi wajah Satyia.


Satyia gelagapan mendengar kejujuran Rara.


Kok polos amat sih, aduh nggak tau aja kalau mama marah kayak apa.


Ngapain bilang semua nya juga, bohong dikit napa sayang.


Satyia berusaha sabar dan berdoa supaya mamanya tidak ngamuk sebab sudah merasa di bohongi.


"Apa!!? kapan mama pernah ngomong mau jodohin dia coba.


Mama cuma pernah bilang kapan mau ngajak calon menantu mama ke rumah nggak pernah mama bilang mau jodohin.


Satyia nggak baik bohong, kalau suka orang nya jangan cari alasan buat dekat.


"Ck ck kasian anak mama," Tambah mama Satyia sambil geleng geleng kepala setelah mendengar cerita Rara.


Dia kira Satyia mengajak Rara pertama kali datang ke rumah sudah beneran mereka menjalin hubungan, nyatanya ck ck sungguh terlalu.


"Apa sekarang masih bohong nggak nih hubungan kalian?" Tebak mama dengan wajah serius, tidak mau anaknya menjalin hubungan pura pura hanya untuk menyenangkan dia saja.


"Jangan negatif gitu ma mikirnya, ya kali selalu bawa anak gadis orang tapi hanya ngasih harapan palsu.


Aku juga tau ma gimana rasanya di permainkan.


Kalau mama belum percaya tanya aja langsung sama orang nya," Bohong kali sering bertemu tapi belum tumbuh rasa atau sering jalan tapi masih di anggap teman.


Perempuan itu makhluk tuhan yang gampang baperan di kasih perhatian dikit di kira ada rasa, di posesifin malah anggap dia kekasih.


Masih untung kalau cuma sama dia kalau pada semua orang nyesek nggak tuh.


"Gimana sayang, sekarang Satyia masih suka maksa nggak? contoh nya seperti ngajak nikah muda gitu?" Tolong itu pembicaraan sudah keluar jalur dari yang di bahas.


"Ma kita bukan bahas itu tadi kalau kalau mama lupa, jangan mikir jauh deh," Satyia tidak mau saja rencana dia kali ini cepat di ketahui mamanya, niat nya buat ngasih kejutan.


"Udah kamu diam aja, mama lagi kesal sama kamu berani bohongin mama.

__ADS_1


Kalau hubungan kalian sekarang mama nggak ragu lagi.


Nggak mungkin Rara berani datang ke sini kalau kalian nggak punya hubungan.


Ya kali cuma mau jelasin kalau cuma sebatas teman," Biar saja mereka berawal dari sedikit bohong, mungkin masih malu atau takut di tolak seperti kata mama tadi.


Malu nya sampai ubun ubun kalau sampai di tolak sama pujaan hati.


"Jadi gimana Satyia ngajak nikah muda nggak?" Tidak peduli sama Satyia yang hendak bicara tidak di kasih izin.


"Siapa yang ngajak nikah muda coba ma, rencana habis Rara lulus," Ceplos Satyia yang geram sama mamanya menyudutkan dia terus.


"Nah tuh ini aja udah jelas kamu main paksa lagi," Protes mama.


"Mana ada ma, nikah muda itu kalau Rara masih kuliah ini kan udah lulus jadi nggak apa lah," Bela Satyia membela diri.


"Itu nikah muda namanya, kalau yang benar itu biarin dia kerja dulu habis kuliah.


Ya kali ilmu kuliah di terap kan di rumah tangga, mana nyambung," Yang anak mama siapa di sini, kenapa dari tadi memihak sama Rara terus.


"Habis nikah juga bisa ma," Lelah berdebat sama ibu ibu tidak mau ngalah.


"Mana sempat kerja apa lagi kalau keburu hamil, bilang aja kamu nggak suka Rara di lirik orang," Ketus mama yang sudah tau niat terselubung Satyia tanpa di beri tau.


"Udah ya ma, aku mau antar Rara pulang dulu ini udah sore," Elak Satyia agar bisa pergi dan berduaan sama Rara sebentar lagi.


"Mana ada, bilang aja kamu mau berduaan sama Rara," Sindir mama yang tepat sasaran.


"Kalau mau berduaan juga kekasih aku ma kalau kalau mama lupa," Heh mama siapa ini? ngeyel banget.


"Tapi dia calon menantu mama Sat," Debat aja terus sampai matahari terbit lagi.


"Tanpa aku tetap nggak bisa ma," Sama saja tidak mau ngalah.


"Bisa kok jadi anak mama," Ngalah salah satu ngapa biar cepat kelar masalah.


"Mana sih ma," Sama sama kepala batu.


"Bisa, mama angkat jadi anak," Telak mama membungkam mulut Satyia.


"Kalau di angkat jadi anak, trus aku sama siapa?" Menunjuk diri sendiri.


"Jadi adek kakak," Setelah itu mama pergi duluan dari ruangan itu.


"Ya kali," Hari sudah semakin sore maka Satyia mengantar Rara pulang.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2