
Hembusan angin yang menyejukkan tidak sesejuk hati seseorang yang kini tengah gusar sebab kehilangan satu hal yang sudah dia sembunyikan selama ini, bahkan orang tuanya sendiri tidak tau akan hal itu.
Lalu bagaimana bisa hilang dari pengawasan dia yang baru kali ini terkecoh sebab sibuk sama rencana yang dia susun buat merebut hal yang sebenarnya tidak bukan buat dia.
Info yang dia dapat baru tadi pagi sekali, bahkan sang fajar belum menampakkan diri tapi dia sudah mendapat kabar tidak mengenakkan hati.
dia sudah gusar sejak mendapat kabar buruk itu, mulai mencari yang sebenarnya sih sudah dekat sama dia hanya saja tanpa di sadari.
Itu juga yang di rasakan orang yang dia buat pusing serta menangis kemarin.
Bagaimana rasanya saat yang kita sayangi tidak ada di samping kita, itu yang namanya seimbang.
Jangan melakukan hal menyakitkan kalau tidak mau merasakan hal yang sama atau bisa saja lebih.
"Apa aja kerja kalian, menjaga satu orang aja ngak bisa," Hardik dia yang tidak lain adalah Vani yang sudah gusar sejak pagi.
Dia yang seharusnya senang malah mendapat apa ini sungguh kerja mereka semua tidak ada becus.
"Maaf kan kami nona, padahal semalam kami udah pastikan kalau nona kecil sudah tidur dalam kamar," Menundukkan kepala dalam meresapi kesalahan yang sebenarnya tidak sepenuhnya milik mereka.
Lagian yang dia jaga hanya seorang anak kecil tapi becus dan malah tidak tau sekarang berada di mana.
"Cari sampai ketemu, jangan balik sebelum membawa dia balik dalam keadaan baik baik aja," Hardik Vani dan seketika mereka membubarkan diri menjalani tugas yang di berikan.
Merepotkan namun tidak bisa membantah atau berkata tidak.
Tinggal Vani seorang merenungi semua yang terjadi, apa yang harus dia lakukan sekarang.
Kembali ke tempat kemarin melanjutkan rencana atau membantu mencari agar cepat bertemu.
"Hah kalian sialan, jaga satu orang aja ngak bisa.
Aku, aku harus apa? apa yang akan ku katakan kalau dia ngak bisa di temukan dan dia kembali menanyakan keberadaan dia.
Aku harus bagaimana sekarang, ngak, ngak dia ngak boleh tau kalau ngak dia pasti ngamuk," Berteriak histeris di dalam kamar itu.
Dia yang Vani kwatirkan, dia yang tau kalau titipan dia tidak ada.
Dia yang akan murka kalau tau kesayangan dia hilang.
"Aku ngak boleh pasang wajah cemas kalau dia bertanya nanti.
Pokoknya harus tenang dan jangan cemas," Pergi dari sana ke tempat dia membawa seseorang kemarin.
__ADS_1
Ya Zio yang dia bawa kemarin tapi Vani tidak tau lagi berhadapan sama siapa sekarang.
Musuh yang dia anggap remeh dari luar, tapi yang lemah dari luar itu belum tentu lemah dari dalam.
Musuh sebenarnya sulit kita kenali jika di lihat dari sekilas.
Musuh kadang pakai topeng kebaikan serta memasang wajah polos buat mengelabui musuh.
"Sebelum mencari dia lebih baik aku menghubungi mereka dulu buat menukar anak kecil ini sama Zefan, merepotkan sekali kalau lama lama sama aku apa lagi kalau berisik nanti bikin sakit telinga," Mengambil hp buat menghubungi seseorang yang dia rasa tepat.
\=\=
Di rumah besar itu lagi mengadakan sarapan bersama di tambah Zefan yang sudah datang pagi pagi bersama Endra.
"Va bagaimana keadaan Zio sekarang?" Tanya Lisa setelah menyelesaikan sarapan.
Tidur dia tidak nyenyak semalam hanya beberapa jam saja setelah itu terbangun lagi.
"Zio ngak apa Sa, dia aman di tempat itu," Jawab Iva santai sambil menghabiskan sarapan yang tinggal sedikit itu.
Para lelaki sudah selesai sarapan hanya Iva yang tinggal sendiri yang belum selesai.
Orang tua Iva sudah pulang semalam setelah mengetahui kalau cucu mereka baik baik saja hanya sang anak yang tidak mau menjemput Zio tadi malam sebab orang Iva sudah menggantikan posisi orang suruhan yang membawa Zio.
"Sa udah deh jangan ngajak ribut pagi pagi, kalau kamu merengek terus seperti ini dan bilang Zio anak kamu aja ini terakhir kali kita bertemu dan Zio kamu ngak bakal bisa bertemu lagi," Ancam Iva mulai jengah sama suara Lisa yang mengganggu pendengaran dia dari kemarin.
Apa dia bilang, anak dia. Iya memang Zio anak yang dia lahirkan tapi dia orang yang membesarkan dari umur satu hari hingga sekarang maka Iva punya peran penting dalam hidup Zio.
Dan juga uang Zio tau mommy dia adalah Iva bukan Lisa, jika itu yang di ucapkan Iva pada Lisa bagaimana perasaan Lisa ya.
Jadi stop bilang hanya anak aku, anak aku terus.
"Tapi Va," Kali ini Endra ikut bicara.
"Udah sayang, Iva tau apa yang terbaik buat anak kita bersama jadi tunggu aja ya.
Hari ini pasti Zio udah kumpul lagi sama kita," Bujuk Endra agar Lisa tidak bicara terlalu jauh atau bicara kemana mana.
"Benar kata abang Sa, Zio baik baik aja jadi ngak usah terlalu cemas.
Kita juga sayang dan kwatir sama Zio jadi jangan menganggap hanya kamu yang mencemaskan Zio," Tambah Zefan yang tidak mau Lisa mencerca Iva dengan kata kata.
Lagian siapa juga yang mau pisah lama sama anak sendiri, Zefan saja yang baru kenal beberapa bulan sudah terlanjur sayang sama Zio apa lagi Iva yang melihat setiap tumbuh kembang Zio.
__ADS_1
"Tuh dengerin apa kata abang sama mas Zefan, udah bikin Iva ngak selera makan aja lagi," Iva meletakkan sendok yang di pakai serta minum teh yang di sediakan.
"Lo bukan ngak selera makan tapi makanan lo yang udah abis goblok, lama lama gue kawinin lo berdua," Lisa melempar Iva dengan kulit jeruk yang lagi di pegang.
"Masa sih ( melihat piring) oh iya udah habis,"
"Tapi lo ati ati kalau bicara Sa, nikah dulu baru kawin, enak aja kawin dulu baru nikah lo kita ayam apa," Melempar balik kulit jeruk yang di tangkap lagi.
"Tuh Fan dengar Iva minta di nikahin," Lah siapa yang bilang minta di nikahi, kan cuma meluruskan ucapan Lisa barusan.
"Itu pasti kakak ipar tapi tunggu kalian berdua nikah dulu.
Takutnya Zio udah punya adik tapi orang tuanya belum nikah juga," Kalah telak sama Zefan yang menyinggung status mereka yang belum jelas.
Ting,,,
Suara bunyi telpon salah satu sari mereka dan ternyata hp Iva yang berbunyi.
Melihat siapa yang chat pagi pagi.
"Ngak ada nama," Kasih tau Iva dan membaca isi pesan itu lalu membalas.
"Siapa Va?" Tanya Lisa penasaran.
"Orang yang bawa Zio nginap tempat sia dan bilang kalau mau Zio kembali harus di tukar sama mas Zefan," Jelas Iva singkat pada mereka bertiga.
"Trus kamu jawab apa Zi?" Di angguki mereka semua.
"Iva jawab ok," Mereka terdiam mendengar jawaban Iva.
Ok Iva bilang, berarti mau menukar Zio sama Zefan.
Begitu isi fikiran mereka bertiga.
"Kamu seriuss?," Tanya mereka kompak.
"Sepuluh rius malahan," Jawab Iva enteng beranjak dari meja makan menuju kamar buat siap siap.
Meninggal tiga orang yang masih mencerna ucapan Iva yang tidak masuk dalam isi kepala masing-masing.
\=\=\=\=\=
Tbc.
__ADS_1