My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Pantas Bahagia.


__ADS_3

Bahagia itu kita yang ciptakan bukan datang sendiri, di kasih orang lain atau ibarat kata pepatah bahagia pada waktu nya.


Nah waktunya kapan itu yang jadi pertanyaan, makanya bahagia ciptakan sendiri agar tau kapan waktu nya.


Bahagia sederhana yang ku miliki saat ini adalah dengan adanya kamu di samping ku.


Sesederhana itu, iya hanya sesederhana itu.


Aku tidak butuh yang lain buat aku bisa bahagia hanya dengan ada kamu sudah cukup buat aku bahagia.


Jika ada orang yang bilang bahagia apa bilang kita memiliki segalanya maka definisi itu salah, ada juga orang kaya yang tidak bahagia sebab tidak tau bagaimana caranya menikmati segala yang ada.


Bahagia tidak sesulit pelajaran ankuntasi (seperti jurusan author waktu Sekolah) yang harus menghitung belanjaan, hutang serta untung seseorang yang tidak tau wujudnya.


Setelah melalui pemeriksaan serta pengobatan terbaik maka hari ini Vino sudah di perbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit.


Tentu saja kedua orang tua Vino sangat senang mendengar kabar bahagia itu, ya sesederhana hanya itu bahagia.


Mendengar anak yang kita sayang sembuh dari penyakit saja kita sudah senang.


"Mom kita jadikan jalan jalan?" Riang Vino saat mereka berjalan di koridor rumah sakit menuju parkira.


"Dengan Renzi menggendong Vino menggunakan sebelah tangan kanan dan tangan kiri merangkul pinggang Vani.


Ya hubungan kedua nya sudah membaik sejak pertama Vino di rawat dan kedua nya juga memutuskan buat membesarkan Vino bersama.


" Jadi dong, tapi anak Mom harus banyan istirahat dulu agar benar benar sembuh ok," Tidak mungkin Vani sampai melupakan janji yang sudah di buat bersama.


Waktu serta fokus Vani sekarang hanya pada anaknya Vino tidak pada yang lain lagi.


"Yey, daddy juga ikutkan?" Memandang wajah tampan yang tengah menggendong Vino.


"Daddy sibuk sayang," Balas Renzi pura pura tidak bisa ikut bersama mereka, padahal hanya ingin mengerjai Vino saja agar cemberut.


Bagi Renzi wajah cemberut Vino sangat imut dan ingin mencubit pipi bakpau itu.


"Ya udah ngak apa daddy," Lah kenapa Vino tidak ngambek atau setidaknya memukul Renzi malah menjawab tak apa.


Apa dia beneran tidak di ajak dalam acara Ibu dan anak itu.


"Loh kenapa?" Nah kan nanya balik.


"Kan daddy bilang sibuk, berarti nanti di sana Ino cari daddy baru, iya kan mom," Vina sekarang yang terdiam, kenapa dia di bawa bawa juga dan seketika rangkulan di pinggang Vani kian mengencang setelah pertanyaan itu di lontarkan pada Vani.


"Kalau Ino mau why not," Melupakan genggaman kuat itu, biar saja Renzi panas sendiri.


Siapa suruh mengerjai anak sendiri, kena senjata sendiri kan, rasain.


"Na," Satu kata penuh penekanan tepat bicara di telinga Vani hingga membuat Vani merinding.


"Bukan aku yang bilang tapi Ino ya," Elak Vani yang tidak mau di salah kan sendiri, lagian Vani tidak ada ikut campur dalam pembahasan bapak dan anak itu.


"Iya iya nanti daddy juga cari anak baru," Tidak mau kalah sama anaknya, jika Vino mencari daddy baru maka dia juga bisa mencari anak baru.


Kenapa jawab nya anak baru, sebab kalau mommy baru itu sangat tidak mungkin di karenakan Renzi tidak bisa berpaling dari Vani bahkan saat masih di abaikan dulu.


"Kenapa ngak mommy baru?" Pertanyaan yang seharusnya tidak di jawab, sebab tanpa di jawab sudah tau jawabannya.


"Emang Ino mau mommy baru,?" Balik bertanya yang padahal jawabannya sama.


"Ngak mau ganti mommy kalau ganti daddy Ino fikirkan dulu," Emang paling bisa kalau jawab, anak siapa sih ini.

__ADS_1


Pengen tukar tambah sama yang lebih waras dikit, tapi di mana ya adanya.


Sabar Ren sabar, orang sabar dapat calon istri cantik, ya elah ngak nyambung sama sekali.


Mereka sudah sampai parkiran dengan Vino sekarang duduk di pangkuan Vani dan Renzi yang menyetir, sengaja tidak pakek supir karna ingin quality time saja bertiga menggantikan waktu yang pernah terbuang sia sia.


\=\=


Di kampus mbak Rara yang akrab di panggil seperti itu, kini tengah duduk di kursi taman seorang diri dan sahabat nya pergi ke perpustakaan buat minjam buku.


Tiba tiba seseorang datang dan duduk di samping nya tanpa permisi namun karena asik membaca Rara mengabaikan orang yang duduk di sebelah nya.


"Baca apa?" Tanya orang itu heran sebab di abaikan kejadian.


Atau pura pura cuek saja dan juga taman itu jarang ada orang yang ke sana makanya Rara memilih tempat itu selain sejak juga jauh dari kebisingan.


Rara masih diam saja mengabaikan pertanyaan itu dan seketika orang itu mengambil buku yang Rara pegang.


"Jangan kurang ajar ya ka," Ucapan Rara terhenti saat melihat siapa yang mengganggu kesenangannya.


"Bukan kurang ajar tapi kurang perhatian kayak nya," Balas nya sambil tersenyum dan meletakkan buku Rara yang di ambil barusan di sebelah duduk paling ujung.


"Kak, maaf ya," Sesal Rara memasang wajah sedih.


"Lain kali jangan gunakan lagi kata kata yang tidak sopan, tidak enak jika ada yang dengar," Nasehat Satyia pada Rara, selain sebagai kekasih dia juga dosen Rara yang wajib menegur yang salah.


Lagian ucapan Rara tidak terlalu tidak sopan hanya saja ucapan reflek yang keluar gitu aja.


"Iya pak dosen," Jawab Rara pasrah.


Hubungan kedua nya sampai sekarang masih aman aman saja belum ada yang tau kecuali sahabat Rara sendiri yang memang di beri tau Rara.


Rara cukup sabar menghadapi orang orang yang secara terang terangan memuja kekasih nya itu tapi tidak bisa berbuat apa apa.


"Udah makan siang?" Tanya Satyia.


"Udah kak, makanya santai dulu tunggu kelas selanjutnya.


Kakak masih ada jam ngajar," Rara sudah mulai tau jadwal Satyia di kampus begitu juga Satyia yang tau jadwal kelas Rara.


Bukan kepo atau sejenisnya hanya saja mereka ingin memulai hubungan dengan terbuka di mulai dari half kecil seperti memberi tau kegiatan masing masing.


"Iya satu lagi, nanti pulang bareng ya tunggu di tempat biasa," Jika jadwal mereka berakhir di jam yang sama maka mereka akan pulang bersama seperti sekarang.


"Berasa kayak nunggu ojek aja di persimpangan jalan," Kekeh Rara yang mengingat setiap mereka pulang bareng maka Rara akan menunggu di simpang jalan sampai Satyia datang.


"Untuk kamu kakak rela jadi tukang ojek kok," Nah kan keluar gombal gembel recehnya.


"Iya Rara tau kok, kerja an sampingan kakak tukang ojek," Lah di katai tukang ojek beneran lagi.


Untuk pacar dan sayang kalau tidak pasti sudah keluar petasan cabe dari mulut Satyia.


"Bikin gemas aja, kakak balik dulu.


Kamu juga ke kelas aja ngak naik perempuan cantik duduk sendiri di tempat sepi," Satyia berlalu dari sana setelah mengacak pelan rambut Rara.


"Yak kusut kak," Teriak pelan Rara dan Satyia yang menoleh sambil melanjutkan langkahnya.


Pergi juga dari sana sesuai perintah Satyia yang menyuruh Rara pergi dari sana.


\=\=

__ADS_1


Di sebuah mall, keluarga kecil yang belum bisa bersama itu lagi jalan jalan buat lebih mendekatkan diri lagi pada anak mereka.


Mereka adalah Zio si putra tampan mereka dengan kedua yang di panggil papa mama yang sebenarnya memang orang tua kandung Zio.


"Zio mau makan dulu?" Pulang Sekolah tadi Lisa datang menjemput Zio bersama bang Endra.


Zio sudah kangen di jemput Zefan pulang Sekolah hanya saja Zefan beralasan kalau kerjaan dia lagi banyak dan tidak bisa di tinggal hingga mau tak mau Zio hanya bisa pasrah di jemput Lisa padahal pagi sudah di antar juga.


Dan untuk Lisa tidak bekerja lagi, siapa lagi pelakunya pasti bang Endra yang tiba tiba saja sudah mengirim surat pengunduran diri Lisa ke kantor hingga Lisa tidak bisa berbuat apa apa selain terima saja.


Bang Endra juga bilang, kalau Lisa sibuk kerja maka akan waktu lama buat Zio bisa dekat sama mereka dan Lisa terima alasan itu.


"Zio masih kanyang ma, nanti kalau Iyo udah lapar Iyo minta makan," Zio berjalan di tengah mereka berdua saling bergandengan tangan.


"Gimana kalau sekarang main permainan aja, Zio mau ngak?" Tawar Lisa jika Zio belum mau makan maka bermain dulu agar lelah dan minta makan karena tenaga terkuras.


"Baik lah ma," Semangat Zio mendengar kata bermain, bukan Zio tidak pernah di ajak ke arena bermain anak anak hanya saja Zio jarang mau dan juga di rumah Iva sudah lengkap permainan apa saja yang Zio mau.


Lisa dan bang Endra hanya jadi penonton selama Zio bermain dan mengawasi Zio agar tidak jatuh atau terluka.


"Lisa senang deh bang, sebab anak kita udah mulai dekat sama kita," Ucap Lisa sambil menyenderkan kepala di bahu kokoh bang Endra yang mana mereka lagi duduk di sebuah kursi yang tidak jauh dari Zio bermain.


"Iya abang juga senang kita bisa bersama lagi bahkan kita udah punya anak aja.


Sa, mau kan nikah sama abang secepatnya?" Pertanyaan serius yang di tanyakan di time kurang pas gini.


Itu ngajak nikah kayak mau ngajak beli es krim.


Tidak ada tempat romantis atau setidaknya tempat yang bagus.


Jangan di tempat seperti ini juga kali, kurang modal kali.


"Abang kerja apa selama di luar Negeri?" Tidak nyambung sama perkataan bang Endra sama ucapan Lisa.


"Kok kamu nanya gitu? kenapa? apa takut hidup susah sama abang?" Siapa yang bilang takut hidup susah, tidak nyambung sama sekali.


"Abang punya perusahaan ya di sana, jadi kamu jangan berfikir akan kekurangan selama hidup sama abang," Sarkas bang Endra tidak terima Lisa mempertayakan pekerjaan dia selama ini.


"Bukan gitu bang, katanya punya perusahaan tapi ngajak nikah ngak modal amat masa di area permainan anak anak sih ngak serius kayaknya," Penjelasan Lisa membuat bang Endra tepuk jidat.


Iya juga ngapain dia ngajak Lisa nikah kayak mau beli permen saja.


Jangan salah kan Lisa yang bicara seperti itu, tapi salah kan mulut bang Endra kalau bicara suka lupa tempat untung tidak lupa Lisa saja bisa brabe.


Sedangkan Zio asik bermain segala yang ada di sana.


Zio juga mudah bergaul jadi tidak salah jika sekarang dia sudah ada teman saja.


\=\=


Dirumah mewah itu seorang perempuan paruh baya sedang mengamuk sebab anaknya tidak lagi berada di pihak nya dan memilih lelaki yang selama ini dia tolak.


"Dasar anak tidak berguna, susah payah aku menyusun rencana dan sekarang dia malah laki laki sialan itu.


Apa kelebihan dia hingga kamu memilih dia yang bukan apa apa dari keluarga Arta itu.


Jika di banding dia dan keluarga Arta maka dia hanya remahan saja tidak ada arti sama sekali," Meluapkan emosi yang sudah berada di puncak, beruntung suami nya lagi tidak di rumah jadi bebas teriak sesuka hati tidak peduli sama pelayan yang ada di rumah itu.


"Liat aja nanti, mama akan memisahkan kalian berdua lagi, kamu Vani hanya pantas bersama keluarga Arta yang punya kekayaan tidak akan habis dari waktu ke waktu," Dia adalah mama Vani yang marah sama anaknya yang tidak mau lagi menjalankan rencana kedepannya.


Keluarga Arta yang di maksud adalah keluarga Zefan.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Tbc.


__ADS_2