My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Ujian Cinta.


__ADS_3

Rahang Satyia kian mengeras saat tangan lelaki itu hendak mengelus kepala Rara sedangkan Rara sibuk mencari keberadaan Satyia sebab sudah tidak betah berada di sana.


Hingga bertepatan tatapan mereka bertemu tangan lelaki itu juga mendarat di kepala Rara.


Sontak Rara kaget dan menjauh dari jangkauan tangan nya.


Walau dari jauh tapi Rara dapat melihat wajah merah Satyia menahan amarah dengan tatapan tajam.


Segera Rara berdiri supaya masalah tidak tambah runyam.


Dengan kehadiran pria itu sudah termasuk salah satu masalah dan ini di tambah dengan dia mengelus kepala Rara.


Kekasih mana yang tidak cemburu, semua orang pasti cemburu termasuk Satyia.


Karena amarah yang memuncak Satyia pergi dari sana, tidak mau melihat adegan itu lebih jauh dan pasti akan lebih menyesakkan dada.


"Baru di tinggal bentar udah cari selingan," Emosi Satyia berjalan arah parkir memilih buat tidak berada di sana.


Di tempat Rara.


"Jangan kurang ajar ya, yang sopan," Kesal Rara.


"Kamu nggak ingat sama kakak?" Tanya lelaki itu sedangkan Rara sudah sangat emosi.


"Nggak penting," Rara berdiri ingin mengejar Satyia.


Niat ke sana mau bersantai tapi apa sekarang ada saja ujian.


"Kamu akan kembali sama saya Rara," Hanya melihat kepergian Rara yang kian menjauh.


Tersenyum simpul, dia tidak menyangka akan di pertemukan di kota ini padahal sudah mencari kemana mana.


Rara terus berusaha mengejar Satyia yang berjalan cepat, bahkan Rara sudah berlari tapi belum juga ke kejar.


"Kak tunggu, kakak salah paham," Teriak Rara berharap Satyia mendengar dan berhenti tapi jangan kan berhenti bergeming pun tidak atas panggilan Rara.


Satyia menulikan telinga, cemburu menguasai hati hingga tidak peduli.


"Kak, jangan kayak gini kita harus bicara.


Kakak hanya salah paham," Tetap di abaikan Satyia, mungkin dia butuh waktu atau memang tidak mau mendengar penjelasan.


Satyia sudah masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil.


Meninggalkan Rara yang terus mengejar.


"Tidak perlu ngasih harapan palsu, sampai sini saya sudah paham," Melirik Rara dari spion yang masih berusaha mengejar.


Rara duduk di jalan dengan bahu naik turun serta air mata yang membanjiri pipi.


"Seharusnya dari awal saya sadari, menjalin hubungan sama seorang yang belum dewasa pasti banyak main.


Kini saya tau, kamu tidak serius sama saya pantas kamu sulit saya ajak serius.

__ADS_1


Saya harus bilang apa sama mama nanti.


Bilang sama mama kalau perempuan yang dia harapkan jadi menantu sudah gandengan sama yang lain.


Semudah itu saya percaya dan kamu berhasil mempermainkan hati saya," Apa Satyia lupa kalau Rara sudah mau menjalin hubungan serius hanya menunggu sampai dia lulus saja.


Ternyata cemburu bisa menjadikan orang pintar jadi bodoh serta pelupa.


Di kejar serta di jelaskan tidak mau, malah menyimpulkan semua sendiri, dasar keras kepala.


"Jalani hidup mu sendiri dan saya juga sendiri.


Mungkin ini lebih baik," Ck, yakin ambil keputusan itu ntar nyesel.


Rara banyak yang suka di kampus yakin kuat liat dia gandengan sama yang lain? yakin nggak cemburu? yakin rela? atau sudah siap terbakar tanpa di bakar api.


Ingat penyesalan datang belakangan sebab kalau di depan namanya resepsionis🤭✌.


Mobil Satyia kian malaju, meninggalkan orang tersayangnya berlinang air mata.


Sedangkan Rara terus menangis di jalan.


"Harus nya tadi ikut aja sama kak Sat, pasti nggak gini kejadiannya.


Lagian dia ngapain nyamperin tadi," Ada rasa sesal Rara rasakan.


Jika dia ikut tadi maka semua masih baik baik dan mereka masih menikmati indahnya danau.


"Kak Sat kenapa lagi, cemburu nya serem nggak mau dengar penjelasan lagi.


Tujuan Rara sekarang adalah rumah Satyia buat meluruskan semua tidak ingin berlarut larut.


Rara sudah berada di dalam taksi menuju rumah mama Satyia.


"Mudah mudahan kakak pulang, sebab Rara hanya tau mencari ke sana.


Kalau ke tempat lain Rara nggak tau," Rara cuma tau rumah orang tua Satyia, kalau ke tempat temannya Satyia tidak pernah membawa sebab tidak rela di lihat semua temannya lalu di goda, Satyia sangat tidak rela.


Hingga taksi yang Rara tumpangi sampai, setelah membayar ongkos Rara turun dan berjalan menuju gerbang.


"Permisi pak, saya boleh masuk?" Rara menghampiri pos satpam Sebelum masuk.


"Boleh neng, silahkan den Satyia baru juga pulang," Membuka kan sedikit gerbang buat Rara bisa lewat.


"Makasih pak," Berjalan menuju pintu utama.


Rara mengetuk pintu, lalu pintu terbuka ternyata yang membuka mama Satyia langsung.


"Assalamu'alaikum ma," Menyalami mama Satyia.


"Wa'alaikum salam, sini masuk sayang," Mengajak Rara masuk lalu duduk di sofa.


"Mama kangen tau nggak, abis mama keluar rumah sakit kok nggak ada mampir ke sini lagi?" Memegang sebelah tangan Rara dengan penuh senyuman.

__ADS_1


"Rara juga kangen sama mama, mama udah sehat kan.


Ma'af ya ma Rara lagi banyak tugas," Bagaimana sekarang? gimana caranya? Rara buat bertemu Satyia dan meluruskan kesalah pahaman di antara mereka.


"Mama udah sehat sayang, nanti mama bilang sama Satyia jangan banyak banyak kasih tugasnya," Wajah mama tampak kesal, padahal yang di kasih tugas biasa saja.


"Nggak usah ma, kan dosen di kampus bukan kak Satyia aja.


Ada juga dosen lain yang ngasih tugas banyak," Masa Satyia harus di marahi karena ngasih tugas sama muridnya.


Kalau tidak mau ada tugas ya tidak usah kuliah, simpelkan.


"Termasuk Satyia," Begitu tidak rela calon menantu kesayangan banyak tugas dan jarang mampir.


"Nggak apa kok ma, namanya juga belajar.


Kalau banyak kerjaan itu namanya pegawai," Kekeh Rara, tidak menyangka mama kekasih nya begitu menyayangi dirinya.


"Kenapa datang sendiri biasa nya bareng, Satyia juga baru pulang?" Belum juga dapat alasan apa mau di jadikan sudah di tanya saja.


Rara terkesiap bingung mau jawab apa? jawab jujur takut Satyia di salahkan lagi, tidak jujur mau kasih alasan apa.


"Kalian berantem?" Kenapa tebakan mama benar.


Tapi iya juga, kedatangan mereka yang selang beberapa menit patut di curigai apa di tambah Rara tidak menjawab pertanyaan sederhana itu.


"Cuma salah paham ma," Lirih Rara sedih, mengingat tadi Satyia yang meninggalkan dia begitu saja.


"Liat mama," Mengangkat dagu Rara agar mendongak dan terlihat mata Rara berkaca kaca.


Biar dia di katai cengeng tapi mau bagaimana lagi, Rara tidak bisa di abaikan dengan alasan sepele.


"Sini peluk mama, kurang ajar sekali Satyia udah berani buat calon menantu mama nangis," Mengusap punggung Rara agar lebih tenang.


Nah kan benar, pasti Rara akan di bela ketimbang anak sendiri.


"Nggak apa ma, nanti Rara jelaskan sama kak Satyia," Mengurai pelukan itu.


"Rara boleh bertemu kak Sat ma?" Ragu Rara takut tidak di izinkan, tapi ya di izinkan lah kan udah jadi kesayangan.


"Yuk mama antar ke kamar Satyia, pasti dia lagi ngurung diri kalau lagi ada masalah kayak anak perawan aja," Mengantar Rara sampai di depan pintu kamar Satyia.


Mama mengetuk pintu kamar itu hingga suara dari dalam menyuruh masuk.


"Masuk sana selesai kan sekarang, kalau dia nggak mau dengar udah tinggallin aja biar galau," Bisik mama pada Rara dengan suara pelan agar tidak terdengar sampai dalam.


"Nanti mama carikan ganti dia, mama Ikhlas," Tambah mama sebelum pergi.


Rara memutar knop pintu yang tidak di kunci lalu mendorong pelan.


Nampak isi kamar khas lelaki dewasa dengan cat yang dominan warna abu.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2