My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Jangan Di Tolak.


__ADS_3

Di belahan bumi lain, pasangan baru itu pergi dari rumah orang tua Iva setelah cukup lama juga berada di sana.


Rencana mereka hari ini akan jalan jalan lagi sebelum masuk kerja besok setelah cukup libur satu minggu ini serta pekerjaan yang sudah menunggu siap buat di bereskan.


Pamit lalu meninggalkan perkarangan rumah mewah itu dengan senyum menawan tidak tau apa yang mereka bicarakan tadi atau ada hal lucu yang mereka obrolkan tadi.


"Ada ada aja mereka ya mas, dikira buat cucu itu kayak beli gorengan kasih duit lalu dapat apa yang di mau," Geleng geleng kepala.


Apa yang di bilang mertua dan orang tua nya sama saja bahas cucu lagi.


Jika ingat mereka sudah punya cucu tapi meminta pada pasangan baru itu segera punya anak.


Mertua Iva sudah punya cucu yaitu Zio lalu orang tua Iva sudah punya dua cucu yaitu anak bang Jidan.


Lalu mereka yang menikah seminggu lebih malah di tagih cucu.


Cucu jadinya tidak segampang bicara saja, semua butuh proses tidak ada yang instan.


Mereka juga mau segera punya anak bukan para orang tua saja, setiap hubungan pernikahan pasti menginginkan hadir seorang malaikat kecil di antara mereka buat melengkapi ibadah mereka juga meramaikan suasana rumah dari tangisan si kecil.


"Kita cuma bisa berdoa dan jangan lelah berusaha.


Mas masih sanggup buat kita begadang tiap malam jadi Zizi jangan kwatir kita akan segera mempunyai buah hati," Terlalu vulgar tidak sih bicara hal ranjang di terbuka itu.


Tapi hanya ada mereka berdua dan juga mereka bukan anak kecil yang tidak boleh membahas hal demikian.


"Mas ih kenapa habis nikah obrolan nggak pernah jauh dari hal berbau mesum.


Malu tau," Walau mereka sudah sering melakukan habis menikah bukan bukan sering lagi tapi tiap ada peluang maka di saat itu juga Iva tidak bisa istirahat menghadapi suami nya yang mesum sejak habis menikah.


"Mesum juga sama istri sendiri juga.


Yang nggak boleh itu mesum sama istri tetangga.


Ingat mesum sama istri itu harus biar dia cepat hadir," Mengusap pelan perut Iva berharap malaikat kecil segera hadir.


Kadang Zefan juga suka berfikir liar, liar bukan keluar jalur ya.


Maksud liarnya itu masa usaha tiap hari tapi belum jadi juga apa ada yang salah atau salah haya atau juga salah posisi saat membuat nya.


Harus di pelajari lagi supaya segera ada hasil dan usaha mereka tidak sia sia lagi.


Untung fikiran itu hanya sekedar Zefan yang mikirin sendiri tidak memberi tau Iva atau cerita sama orang, cukup dia saja yang tau.


"Bentar mas bang Endra ngirim pesan nih," Hp Iva bergetar tanda ada pesan masuk.


"Apa katanya?" Menoleh sebentar lalu fokus lagi ke jalan.


"Bentar ( membaca pesan) katanya kita di suruh datang ke restaurant Y nanti jam delapan," Memberi tau isi pesan itu pada Zefan.


"Kira kira ada apa ya mas? mendadak gini.


Tadi pagi kita bertemu nggak ada bilang apa apa?" Tambah Iva heran selesai membaca pesan singkat itu.


"Kalau Zizi tanya mas terus mas tanya sama siapa?" Menyahuti ucapan Iva dengan pertanyaan lagi.


Tapi iya juga, Iva bertanya sama Zefan lalu Zefan bertanya sama siapa sedangkan di sana hanya ada mereka berdua.


Tanya sama rumput yang bergoyang Fan.


Seperti lagu.


Hal yang sama juga di lakukan bang Endra pada Rara meminta dirinya buat datang nanti malam tidak lupa buat mengajak Satyia.


Tapi sebelum itu para orang tua sudah di beri kabar terlebih dahulu dan berharap semua berjalan dengan lancar.


Semua orang yang menerima pesan singkat itu menyerngitkan dahi tanda tidak mengerti maksud dari isi pesan itu.


Buat apa menyuruh mereka datang tanpa ada penjelasan sedikit pun hanya di minta datang.


Kebingungan melanda mereka juga mau datang tidak tau akan ada acara apa, tidak datang juga segan sebab masih satu keluarga, mau memaki orang yang bersangkutan tidak bisa sebab tidak lagi bersama.


Jika saja bisa melakukan jitakan online maka dengan senang hati mereka laksanakan.


Ini orang kenapa mengadakan acara dadakan gini, dikira orang tidak punya kesibukan apa dadakan buat acara.


Dikira semua orang pengangguran bisa di ajak kapan saja, begitu kira isi fikiran mereka yang menerima pesan dari bang Endra.


Hingga malam menjelang semua orang mulai berdatangan walau tidak tau ada acara apa.


"Ini mau acara apa sih mas? kenapa semua keluarga di undang juga.


Iva kira cuma kita aja," Seru Iva melihat orang tua dan mertuanya juga ada di sana.


"Mas juga nggak tau sayang, yuk gabung sama yang lain," Menggandeng Iva bergabung duduk sama meja para orang tua yang sudah datang duluan.


"Kalian juga datang?" Sapa mama Ila yang melihat anak dan menantu menghampiri mereka.


"Iya ma, kita di suruh datang sama bang Endra tapi nggak tau mau ada acara apa?" Duduk di samping mama Ila setelah menyapa dan menyalami mereka semua sebelum duduk.


"Sama mama juga tidak tau di suruh datang saja tanpa penjelasan, dikira kita nggak ada acara apa.


Untung anak sendiri kalau nggak mana mau mama datang buang buang waktu saja," Dengus mama Zefan merasa malas buat datang ke sana tadi tapi dengan sedikit paksaan papa Arta maka akhirnya datang juga.


"Sama mama, Zefan mau buat cucu pesanan mama aja harus di tunda dulu," Ucap Zefan tanpa malu hingga dapat cubitan pedas di pinggang dari istri tercinta.

__ADS_1


"Mas malu tau," Bisik Iva dengan wajah sudah bersemu merah.


"Nggak usah malu Va, mama ngerti pengantin baru bawaan mau ngamar terus," Goda mama Iva dengan senyum jail.


"Sakit sayang," Balas Zefan mengusap pinggang bekas cubitan itu.


Terasa panas juga sakit, nyubit kayak orang balas dendam.


"Makanya jangan bahas itu," Merasa malu membicarakan hal itu di depan orang walau orang tua sendiri.


Padahal mereka semua juga pernah mengalami juga maklum akan semua itu.


"Tapi benar kan sayang, kalau bukan karna acara nggak jelas gini mungkin kita udah olahraga dan berkeringat tanpa harus berlari," Balas Zefan dengan suara agak keras.


Ingin Iva berteriak lalu bilang, ini suami siapa tolong di bawa pulang.


Di sebuah ruangan seorang perempuan cantik sudah selesai di rias serta di ganti gaun yang di gunakan tadi dengan yang lebih mewah lagi tidak lupa hills tinggi sebagai penunjang.


Sejak kehilangan kesadaran siang tadi dia belum bangun juga hingga sekarang.


Entah berapa banyak dosis obat tidur yang di berikan pada dia sampai tidur nyenyak.


Tidak lama dia mulai mengerjabkan mata dan membuka perlahan.


Matanya terbuka sempurna lalu melihat sekeliling lalu sadar berada di ruangan yang berbeda.


"Aku di mana?" Melihat ruangan asing itu.


"Nona sudah bangun?" Sapa orang yang lagi merias dia sejak tadi.


"Aku dimana?" Ulang nya yang masih bingung.


Dia adalah Lisa yang tidak sadarkan diri sejak siang tadi setelah minum minuman yang di sajikan pelayan restauran tadi saat di tinggalkan bang Endra.


"Nona ada di suatu tempat," Jawab dia tidak jelas juga memberi tau dimana berada.


"Udah saat nya nona, mari nona udah tunggu," Menuntun Lisa buat keluar dari ruangan itu.


"Tunggu ini dimana? lalu kita mau kemana? aku lagi nggak di culik kan? aku nggak mau di jualkan?" Cerocos Lisa mulai panik, segala kemungkinan buruk dia fikirkan.


Kepanikan sudah sampai pada level teratas, bagaimana tidak panik saat bangun bangun sudah beda tempat.


Terakhir dia sama bang Endra dan di tinggal sendiri kini bangun di tempat lain tanpa bang Endra disisinya.


"Nona tenang aja semua baik baik aja, mari saya antar keluar," Tapi ajakan dia tidak di hiraukan Lisa


Masih memikirkan segala hal yang sudah terlewati tapi sama sekali dia tidak ingat atau sekelebat bayangan sedikit pun tidak ada yang bisa dia ingat, semua seperti orang amnesia semua memori dia lupakan.


"Tunggu, ini apa?" Melihat penampilan nya saat melewati kaca.


Kaget sudah berganti gaun jauh beda sama yang tadi pulang salon.


"Ini apa? siapa yang masangin gaun ini? apa yang mau kalian lakukan pada ku? mau menjual aku ya? jawab!." Sarkas Lisa, raut wajah cemas itu tidak bisa dia sembunyikan.


"Nona nggak perlu takut, sebentar lagi nona akan tau jawaban atas semua pertanyaan tadi.


Mari nona," Menuntun Lisa supaya mau berjalan.


Pintu terbuka di sambut sama ruangan sepi, melewati lorong panjang dengan lampu remang remang di sepanjang kilidor yang di lewati.


"Ini aku nggak mau di jual kan?" Pertanyaan itu entah sudah keberapa kali Lisa lontarkan tapi tidak dapat jawaban juga.


"Nona nggak perlu cemas, semua akan baik baik aja," Hingga langkah mereka sampai ujung lorong.


Tanpa Lisa sadari pegangan itu sudah di lepas lalu meninggalkan Lisa sendiri.


"Ini dimana?" Tanya Lisa pada orang itu tapi tidak ada jawaban.


"Mbak!" Lagi Lisa memanggil.


"Mbak, kamu dimana?" Panggil Lisa terus.


"Ini beneran gue mau di jual kan," Ketakutan Lisa semakin menjadi dari tadi.


Hingga sebuah lampu sorot mengarah pada Lisa dengan di iringi dengan alunan lagu dari seseorang yang berjudul JANJI SUCI.


Dengarkanlah wanita pujaanku


Malam ini akan kusampaikan


Hasrat suci kepadamu dewiku


Dengarkanlah kesungguhan ini


Aku ingin, mempersuntingmu


Tuk yang pertama dan terakhir


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Akulah yang terbaik untukmu

__ADS_1


Dengarkanlah wanita impianku


Malam ini akan kusampaikan


Janji suci satu untuk selamanya


Dengarkanlah kesungguhan ini


Aku ingin, mempersuntingmu


Tuk yang pertama dan terakhir


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Akulah yang terbaik untukmu


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Akulah yang terbaik untukmu


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Akulah yang terbaik untukmu


Akulah yang terbaik untukmu…


Lisa yang mendengar mulai bisa bernafas lega, tau siapa pemilik suara itu.


Bagai oase yang dapat air di gurun.


Segala kecemasan dan ketakutan tadi kini menguar entah kemana.


Lampu juga sudah menyorot bang Endra yang selesai bernyanyi.


"Bang!." Hanya satu kata itu yang terucap di bibir Lisa.


Tidak tau mau berkata apa lagi.


Dari lagu itu sudah bisa Lisa tebak kemana arah maksud tujuan lagu itu di nyanyikan.


Bang Endra berdiri di depan Lisa lalu menggandeng Lisa menuju panggung yang sudah di hias.


"Bang ini apa?" Bisik Lisa pada bang Endra yang membawa dia ke panggung.


Bang Endra tidak menjawab, terus berjalan memegang tangan Lisa.


Tapi saat pertanyaan Lisa tidak di jawab tidak menimbulkan ketakutan pada diri Lisa.


Hingga berada di atas panggung yang sudah di terang tapi hanya bagian panggung yang terang sekitar gelap tidak bisa melihat siapa saja yang berada di sana.


Bang Endra berlutut.


"Maaf sudah membuat mu menunggu lama, maaf abang terlalu lama menggantung hubungan kita, maaf dulu abang nggak mencari kamu lebih awal hingga harus melewati masa sulit seorang diri.


Maaf selama kita baikan bukan nggak serius tapi ada satu hal yang harus abang lakukan sebelum pada tahap ini.


Abang bukan pria yang bisa merangkai kata romantis atau bisa berucap pujian pujian,"


"Abang tau perjuangan kamu selama ini jadi buat ke depan nya kita akan berjuang bersama.


Abang nggak mau bicara panjang lebar sebab yang mau abang bilang sekarang will you marry me," Tidak terlalu panjang seperti ucapan bang Endra sebab sudah mengatakan inti dari maksudnya itu yang terpenting.


"Abang cuma mau mendengar kata iya bukan yang lain jadi cukup jawab iya," Tambah bang Endra saat Lisa ingin bicara.


Merasa tidak perlu menjawab maka Lisa hanya menganggukkan kepala sebagai tanda setuju sama ucapan bang Endra.


Lagian Lisa mau menjawab apa lagi kalau sudah di wakili seperti ini.


Setelah bertanya lalu menjawab sendiri lalu apa guna pertanyaan barusan, sebagai pemanis atau pelengkap.


Raut wajah bahagia tercetak jelas di wajah canyik Lisa tapi ada setitik rasa sedih terselip dihatinya.


Satu persatu lampu menyala, Lisa melihat ke depan.


Dapat dia saksikan siapa saja yang hadir disana tapi raut wajah sedih juga ada di wajah cantik itu. Lisa mengharapkan kehadiran seseorang turut hadir di sana tapi ternyata tidak ada.


Rasanya kebahagiaan malam ini kurang lengkap tapi Lisa tidak bisa berharap lebih mungkin belum saatnya orang itu ada.


"Abang punya kejutan buat sayang," Mendekap tubuh mungil Lisa dalam dekapan yang mana tinggi Lisa hanya sampai bahu bang Endra.


Lisa menatap bang Endra seolah berkata kejutan apa? bukannya ini sudah termasuk pada kejutan besar yang Lisa tunggu selama ini jadi kejutan apa lagi, begitu kira kira arti sorot mata yang Lisa pancarkan.


"Kejutan ini lebih besar dari yang barusan," Lanjut bang Endra lalu di sudut ruangan itu lampu menyala hingga menampakkan seseorang yang Lisa harapkan sedari tadi.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Tbc.


__ADS_2