
Satyia terdiam mendengar ucapan papa Syakil, apa dia salah meminta bantuan Rara tapi kalau secara logika papa Syakil benar juga, secara tak langsung sudah mengajari kebohongan.
"Begini om apa kita bisa bicara empat mata saja," Satyia tidak ingin ada orang lain yang mendengar apa lagi Rara biar nanti Rara akan tau sendiri.
"Baiklah ikut saya, mama tunggu disini sampai Rara balik," Meninggalkan mama Ila yang masih berada di ruang tamu.
Hanya anggukan kepala sebagai jawaban mama Ila dan Satyia mengikuti langkah papa Syakil.
Memasuki ruang kerja yang cukup besar hanya saja sekarang sudah jarang di gunakan sebagai mana mestinya.
"Silahkan duduk," Duduk saling berhadapan di sofa dalam ruangan itu baru masuk saja sudah terasa aura kepimpinan dari arah dalamnya.
"Apa tujuan kamu mengajak Rara seperti ini? apa kamu tidak memikirkan apa kata orang nanti atau misal orang tua mu melihat Rara nanti berjalan dengan laki laki lain sedangkan yang mereka tau kalau Rara kekasih mu," Suara itu terdengar tegas dan terkesan mengintimidasi.
"Begini om sebenarnya,, bla,,, bla,,, ( reader ngak boleh kepo, ntar tau sendiri seperti Rara juga),,," Jelas Satyia pangjang dan papa Syakil kini sudah merubah ekpresi wajah yang tadi marah kini sudah normal kemari.
"Jadi biar lah seperti ini om dan saya harap om mengerti," Lanjut Satyia lagi dan di angguki papa Syakil.
"Baiklah ayo kita kembali," Berdiri berjalan keluar lagi dan menemui para perempuan sebelum banyak lagi tanda tanya.
Sampai ruang tamu sudah ada Rara duduk di sana bersama mama Ila.
Mama yang mendapat kode dari apa langsung berucapa.
"Rara siap siap sana jangan sampai calon mertua mu menunggu lama," Suruh mama kepada Rara.
"Ma, Rara cuma bantuin ya bukan calon beneran," Sanggah Rara, ya kalau beneran Rara juga ngak mau maksud nya ngak mau nolak gitu.
"Siapa tau bisa jadi beneran kan Ra," Goda mama sebab kehadiran Rara di keluarga itu sudah di anggap anak juga.
"Ngak bakal ma, ya udah Rara ganti baju dulu," Berjalan menuju kamar, bahkan Rara punya kamar sendiri juga bagaimana Rara bisa melawan atau menyanggah ucapan mereka.
Mendapat pekerjaan yang ringan dengan gani lumayan, bisa kuliah, di anggap keluarga bukan baby sister siapa tidak betah kerja pula.
Selesai bersiap Rara keluar kamar menggunakan dress selutut dengan sedikit polesan make up.
Sangat cantik di banding penampilan biasa Rara.
__ADS_1
"Cie yang mau bertemu calon mertua, dandanan cantik bener," Goda mama Ila melihat Rara keluar kamar berjalan ke arah mereka.
Kalau begini cantik nya bisa suka beneran, eh
Bukannya udah ya he he
Satyia bahkan tak ngedip melihat penampilan Rara yang jauh berbeda dari biasa.
Sungguh cantik sampai dia terpesona dan sulit memalingkan wajah ke arah lain.
"Masih bisa ngedip ngak ngak Sat," Tegur papa yang melihat Satyia bengong melihat Rara.
Ya siapa yang bisa menolak pesona Rara yang sangat cantik itu.
Siapa yang akan percaya kalau dia bekerja sebagai baby sister dengan penampilan anggun seperti ini.
Setelah itu mereka berdua berpamitan buat pergi dan Rara hanya di izinkan pergi paling lama jam delapan malam sudah balik, keluarga ini memang tidak mau membiarkan anak gadis mereka keluarga tengah malam kecuali sama keluarga sendiri.
Kalau buat para pacar mereka jika ingin bertemu malam tidak boleh di bawa keluar.
\=\=
"Kenapa lama sih datang nya? kalau tau gini mending kerja dulu," Gerutu dia yang lelah menunggu, ya siapa saja bakal paling malas yang namanya menunggu.
"Yah di suruh nunggu bentar doang udah kusut gitu wajah nya, senyum dong," Memegang kedua pipi lalu menggoyangkan dan dengan waktu bersama sebuah bidikan kamera mengambil foto mereka.
"Jangan rese jadi orang ya, ayo ke rumah anak anak udah menunggu," Berjalan ke mobil di ikuti oleh dia.
"Iya Iva juga udah kangen mereka," Masuk mobil dan perempuan itu Ziva yang setelah beberapa hari pindah lagi ke Negara ini juga tujuan terakhir sebelum pulang ke rumah yang mana juga sudah merindukan si tampan nya bukan satu lagi dan sekarang sudah dua.
"Anak saja yang di rinduka, aku tidak?" Kesal dia yang bertemu pertama tapi orang yang tidak malah di rindukan," Lah itu wajah tampan tidak cocok berkata seperti ini, tapi ya sudah lah udah biasa ini.
"Iya Iva juga kangen jangan ngambek dong ntar jelek lo," Bergelayut manja di tangan kiri sedangkan dia fokus nyetir memperhatikan jalan.
"Telat," Lah malah ngambek udah tua juga, lagian kalau tidak kangen buat apa Iva jauh jauh datang kesana mending lebih baik pulang bertemu Zio.
"Ya udah Iva turun disini mending balik pulang, Zio pasti udah nunggu mozi nya," Malah ngambek balik, plis ingat umur ya udah ngak cocok lagi ambekan.
__ADS_1
"Cie ngambek," Ledek balik tak apa.
"Apa an sih, fokus nyetir sana ntar nabrak lo," Meluruskan posisi duduk lalu mengambil hp buat laporan dulu sebelum yang di sana ngamuk.
"Siapa?" Melirik sekilas namun tak bisa melihat apa isi hp itu.
"Ingat jangan kepo udah tua juga," Menyimpan kembali hp setelah berbalas chat.
"Ganteng ngak?" Tanya dia penasaran.
"Banget malahan," Jawab Iva cepat.
"Gantengan mana aku saya dia?" Logika nya saja setampan apa pun orang tetap punya kita tiada duanya.
"Dia nomor dua," Iva menjawab dengan percaya diri.
"Berarti aku yang pertama," Hey jangan percaya diri dulu sebab kenyataan lebih menyakitkan loh.
"Sorry seperti nya harus kecewa dulu, sebab papa yang number one," Kekeh Iva dan tersenyum menang.
Lagian apa dia lupa bagi anak perempuan cinta pertama ya papa nya dan yang paling tampan ya papa nya juga.
"Iya deh iya," Mobil itu masuk ke perkarangan rumah yang cukup besar namun masih kalah jauh sama rumah Iva.
Mobil berhenti dan Iva langsung turun berjalan duluan masuk ke dalam.
"Ck aku di tinggal," Menyusul Iva yang sudah tidak nampak lagi.
Di dalam Iva melihat dua orang anak beda usia yang lagi bermain.
"Apa ngak ada yang merindukan mozi?" Suara Iva mengintruksi kegiatan mereka terhenti dan melihat ke arah sumber suara.
Seketika mereka berdiri meninggalkan mainan mereka dan berlari ke arah Iva berdiri dengan merentangkan kedua tangan dengan terbuka lebar.
\=\=\=\=\=
Di lanjut kah??
__ADS_1
Komen and like ok.. š¤š¤