
Dalam perjalanan menuju rumah Ziva, mereka masih saling diam hingga Ziva membuka suara.
"Mas yakin mau bertemu pemilik rumah itu?" Tanya Ziva, kenapa bukan bilang bertemu majikan Ziva sebab Ziva bukan pekerja disana makanya cukup membilang pemilik rumah.
"Mas yakin Zizi, emang kenapa? ada yang kamu sembunyikan dari mas?" Heran Zefan seperti Ziva takut kalau Zefan mengetahui suatu hal.
"Takutnya nanti mas ngak percaya," Gimana mau percaya, kan yang selama ini Zefan tau Ziva hanya bekerja disana bukan pemilik.
"Apa pun nanti mas percaya Zizi," Ya suatu hubungan memang harus saling percaya jika ingin hubungan itu langgeng dan awet.
"Iya mas," Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang dengan mereka saling bercerita, tidak terasa mobil itu sampai pada gerbang rumah yang menjulang tinggi tapi ini tidak bisa di bilang rumah namun mansion.
Zefan membunyikan klakson mobil dan seketika satpam menghampiri sebelum membuka gerbang, itu salah satu aturan sebelum masuk rumah kecuali keluarga dekat Ziva seperti orang tua atau abang Ziva dan adiknya.
"Makasih pak,'' Ucap Ziva setelah melewati gerbang dan menuju pintu utama masuk.
" Yuk mas masuk," Ajak Ziva yang turun duluan.
Zefan mengikuti dari belakang dan masuk ke dalam.
"Mbak Rara, Zio mana?" Ziva masuk namun Zio tidak kelihatan.
"Lah kakak belum tua udah pikun, Zio kan ikut keluar kota sama orang tua kak Iva," Jelas Rara yang merasa aneh sejak kapan Ziva jadi pelupa.
"Maaf mbak, mungkin faktor kelelahan kerja akhir akhir ini.
Mbak Iva minta tolong kumpulin semua orang ya dan jangan lupa kunci gerbang depan," Pinta Ziva lalu melangkah ke dapur membuat minuman untuk Zefan dan tidak lupa cemilan.
Zefan yang di tinggal sendiri melihat sekeliling ruangan itu, tidak ada satu pun foto yang terpajang hanya ada lukisan yang di perkirakan sangat mahal jika di lihat dari hasil lukisan bukan hasil dalam Negeri.
"Silahkan minum mas," Ziva datang meletakkan minimum dan Zefan ikutan duduk.
__ADS_1
Hingga beberapa saat semua orang sudah berkumpul di ruangan itu lengkap sampai tukang kebun.
"Ada mbak Iva ngumpulin kita?" Tanya salah satu dari mereka.
"Ngak apa, kan kita dah lama ngak ngumpul gini," Jawab Ziva tersenyum.
"Sekarang mas tanya aja sama mereka, pasti mereka akan jawab," Ujar Ziva tidak mau menjawab langsung pertanyaan Zefan tadi.
"Kenapa harus Kerala Zi? majikan kamu mana? kok ngak ada?" Zefan melihat lihat tidak ada tanda tanda kedatangam orang lagi.
"Majikan siapa pak?" Tanya satpam bingung, lagian majikan siapa lagi kan majikan mereka sudah ada di sana.
"Majikan Ziva, dia kerja di sini jugakan?" Ucapan Zefan membuat mereka saling pandang dan tersenyum.
"Kok kalian saling pandang gitu? dan kenapa senyum senyum?" Tambah bingung Zefan akan tingkah mereka, bukannya menjawab malah senyum senyum.
"Bapak beneran ngak tau majikan kami dan pengen tau?" Lanjutnya lagi.
Lantas pandangan mereka menuju ke arah Ziva dan Zefan ikut melihat juga namun tidak menemukan orang lain di sana.
"Mana majikan kalian? kok ngak ada?' Tidak ada tambahan orang disana hanya ada Ziva seorang.
" Mbak Iva majikan kami," Jawab mereka serentak.
"Hah," Respon Zefan kaget, mana mungkin fikir Zefan.
"Iya," Jawab mereka lagi.
"Beneran Zizi?" Tanya Zefan yang di angguki Ziva.
"Kenapa? mas ngak percaya?" Zefan menganggukan kepala tanda masih bingung akan semua ini.
__ADS_1
"Kok bisa?" Itu bukan pertanyaan ya mas ganteng.
"Ya bisa lah?" Jawab Ziva enteng.
"Kalian boleh melanjutkan pekerjaan lagi, makasih ya," Mereka semua membubarkan diri menuju tempat semula dan tinggal Ziva dan Zefan berdua.
"Udah mas? sekarang mau bawa Iva pergi lagi?" Pertanyaan setengah meledek Zefan itu.
"Kenapa ngak bilang dari awal Zizi," Kalau bilang kan Zefan tidak harus bilang mau ngasih Ziva pekerjaan lain.
"Mas lupa ya, kan mas sendiri yang anggap Iva kerja di sini apa karena waktu itu Iva pakai daster ya," Sedikit menahan tawa.
"Ya habisnya mas tanya kamu iya kan juga, jadi bukan salah mas sepenuhnya ingat itu, kayaknya kamu harus di hukum,'' Mendekat ke arah Ziva duduk, dan Ziva mencoba menjauh.
" Eh eh ini mau ngapain mas, jangan macam macam ya?" Mencoba menghindar dan Ziva sudah berada di ujung sofa.
"Cuma satu macam,, cup," Zecepat kilat Zefan layangkan kecupan pada bibir Ziva dan menjauh setelah itu.
"Ih apaan sih mas, jangan ambil kesempatan ya,'' Kesal Ziva tapi tidak marah juga.
" Kamu nya juga mau," Meminum minuman itu tanpa rasa bersalah terhadap apa yang sudah dia lakukan.
"Gimana mau ngehindar kamu nya cepat gitu," Sinis Ziva.
"Mau yang lambat? tapi kayak yang di taman itu, mau?" Menaik turun kan alis mata menggoda Ziva.
"Tau ah, tunggu di sini Iva mau masak dulu tadi ngak sempat makan di restaurant," Melangkah menuju dapur dan di ikuti Zefan dari belakang.
Suatu keberuntungan bagi Zefan ternyata di dapur cuma ada Ziva dan seketika Zefan mendekap Ziva dari belakang yang lagi memilih bahan masakan.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Thx.