My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Spesial Zizi.


__ADS_3

Ziva terlonjak kaget karena ada sebuah tangan yang melingkar sempurna di perutnya.


"Ih mas bikin jantungan aja tau ngak, udah sana mas tunggu di ruang tamu aja Iva bentar kok," Berusaha melepaskan rengkuhan pada badannya.


"Udah kamu masak aja, mas ngak ganggu," Emang definisi tidak ganggu dalam kamus Zefan seperti apa? kelakuan dia saja sudah mengganggu Ziva jadi apa yang dia bilang tidak mengganggu.


"Mas ini bukan drakor ya, yang mana ceweknya akan diam saat di peluk yang lagi masak," Jelas Ziva yah tidak nyaman sama posisi ini.


Jika di peluk terus bukan acara memasak yang akan selesai tapi acara romantisan yang akan berlangsung.


Lagian mana ada orang yang lagi masak di peluk terus, itu hanya ada dalam film yang mana adegan itu hanya sebentar karena menunjukkan betapa romantisnya sang pria setelah itu tidak ada lanjutan lagi.


"Yang bilang ini drakor siapa Zizi? mas hanya pengen peluk kamu,"


"Kapan mas bertemu keluarga kamu?" Bukan kah ini bisa di bilang terlalu cepat, mengingat hubungan mereka masih baru alias masih anget anget.


Lagian hubungan baru di jadikan buat saling lebih dalam lagi satu sama lain, kalau untuk bertemu keluarga do saat mereka sudah memutuskan buat menjalin hubungan ke tahap serius.


"Nanti ya mas, kita masih baru menjalin hubungan jangan tergesa gesa gini.


Kita nikmati masa masa seperti ini dulu," Jelas Ziva yang tidak mau cepat mengenalkan Zefan pada keluarganya dan juga sebelum Ziva kenalkan dia ingin kenal Zefan lebih dalam.


"Sekarang lepas ya mas, tunggu sebentar lagi ini masak," Akhirnya Zefan melepaskan pelukan yang menurut dia nyaman.


Hingga mereka tidak menyadari kalau ada pasang mata yang memperhatikan kegiatan mereka.


"Kak Iva beruntung ya bi,dapat cowok tampan dan kayaknya juga baik serta perhatian," Ujar Rara yang beberapa saat lalu melihat ke arah dapur.


"Iya Ra, bibi cuma bisa berdoa semoga hubungan mereka langgeng ya apa lagi Zio juga dekat sama den Zefan," Balas Bibi yang ikut melihat adegan romantis majikan mereka.


"Amin bi, udah kita pergi bi sebelum ketahuan,' Mengajak pergi sebelum dua orang itu menyadari kalau lagi ada yang memperhatikan.


Bukan karena apa, takut saja mereka iri dan pada siapa akan romantisan juga.


Kalau iya punya pasangan lah kalau tidak kan kasihan harus gigit jari.

__ADS_1


" Ra," Panggil Ziva sebelum Rara menjauh dari dapur.


Ah sial ketahuan.


Batin Rara menepuk jidat.


"I iya kak," Jawab Rara membalikkan badan.


"Jangan kebiasaan mengintip ya, selian bisa bikin mata bintitan juga awas jiwa jomblo mu meronta ronta," Cibir Ziva setengah mengejek.


"Iya kak maaf, nanti Rara juga cari pasangan," Balas Rara kikuk.


"Emang ada yang mau?" Ejek Ziva lagi.


"Itu masalah nya kak," Setelah itu Rara memilih pergi sebelum lebih jauh lagi kena ledek oleh Ziva, bukan marah tapi Rara tertampar kenyataan kalau dia masih jomblo apa lagi dia anak kuliahan masa tidak ada satu pun yang tertarik di matanya.


"Kamu ada ada Zizi, kasian Rara tau," Bela Zefan.


"Ngak apa mas, biar Rara segera punya pasangan tapi sebelum itu dia juga harus lulus seleksi Iva dulu," Biar gimana Ziva merasa bertanggung jawab selama Rara berada tinggal di rumahnya, makanya Ziva akan memastikan dulu kalau orang pilihan Rara adalah yang terbaik.


Dalam hayalan Zefan, laki laki itu lagi membayangka saat dia menikah sama Ziva nanti pasti pemandangan seperti ini akan di lihat setiap hari.


Rasa bahagia sungguh tidak bisa di ucapkan dengan kata kata lagi, rasa bahagia bisa terlihat dari raut wajah serta senyuman yang selalu mengembang di wajah.


"Zizi besok bawain mas makan siang ke kantor ya," Pinta Zefan sebab ada alasan sendiri kenapa Zefan minta di antar makan siang.


"Iya mas, tapi senin ya, besok kan minggu mana ada kantor buka hari minggu.


Kok pikun sih mas?" Ledek Ziva sambil menyajikan hasil masakan sederhana Ziva sebab jika di telisik lagi ini juga sudah lewat jam makan siang, makanya Ziva masak sedikit sebab yang lain pasti sudah makan.


Ziva tidak pernah melarang para pekerjanya makan sesuai waktu, yang penting kalau merasa lapar maka di persilahkan makan.


Sebab jangan sampai sakit hanya karena telat makan.


"Kan dunia mas terfokus sama kamu, makanya mas lupa segalnya.

__ADS_1


Hm dari aroma saja udah terasa enak apa lagi beneran di makan,' Menunggu Ziva mengambil piring dan gelas.


Selesai itu Ziva mengambilkan makan buat Zefan dan dirinya.


Satu sendok Zefan suap ke dalam mulutnya.


" Rasa sesuai aroma, benar benar enak,' Puji Zefan di suapan pertama.


Tidak bisa bohong memang masakan Ziva tidak ada duanya di lidah Zefan.


Iya lah, kalau orang tersayang yang masak maka tidak ada cacat sama sekali setiap apa yang di kerjakan.


"Makan yang banyak mas, kalau mau nanti Iva bungkus buat mas bawa pulang," Tawar Ziva yang senang melihat Zefan makan dengan lahap hasil masakannya.


"Makasih Zizi," Hingga makanan yang Ziva masak tinggal sedikit dan banyak Zefan yang makan.


Ini lah salah satu kebahagiaan di saat kita memasak tapi masakan kita di makan dengan lahap, bahagia yang sederhana bukan.


Selesai makan Ziva membereskan meja dan mencuci piring bekas makan, ini mengapa mereka semua betah kerja sama Ziva karena Ziva jarang memerintah atau memperlakukan mereka sebagai asisten rumah tangga pada umumnya.


Tapi jangan salah ada kala mereka juga sibuk akan pekerjaan, dan itu sudah biasa bagi mereka.


"Ini mas bawa ya," menyodorkan paper bag yang berisi hasil masakan tadi, Ziva sudah menyisihkan tadi walau dia belum tau kalau Zefan akan mau atau tidak.


"Makasih Zizi, mas pulang dulu jangan lupa bekal mas hari Senin," Pamit Zefan berjalan ke mobil di susul Ziva.


"Iya mas hati hati,"


Cup,, satu kecupan Zefan berikan pada pipi Ziva sebelum masuk mobil dan meninggalkan rumah besar itu.


"Masih sempat aja," Senyum mengembang di wajah cantik itu.


\=\=\=\=\=


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2