My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Merindukan.


__ADS_3

Keesokan hari nya Zefan sudah rapi dengan pakaian kantor yang di antar kan oleh asisten pribadi nya pagi pagi sekali bahkan di saat semua orang belum terbangun dari tidur nyenyak nya.


"Dua hari tapi rasanya dua tahun," Gumam Zefan sambil berkaca memperhatikan penampilan sebelum berangkat.


"Nanti siang jemput Zio aja buat mengurangi rasa rindu ini," Mengusap rambut menggunakan pomade dan manata nya.


"Hey siapa aja, dimana bisa membeli obat kangen?" Plis deh Fan, kalau kangen ngak gitu juga kali.


Kalau ada yang jual obat itu maka akan cepat habis karena di borong oleh pejuang LDR.


Rindu itu seperti angin, tiada bentuk namun bisa di rasakan oleh siapa saja.


"Udah lah mending sekarang berangkat kantor buat mencari modal nikahin Zizi,


Eh tunggu kalau membahas Zizi siapa dia sebenarnya ya? kenapa data tentang dia teetutup gitu," Sampai kapan pun kamu mencari tau mengenai Ziva tak akan bisa Fan kecuali di beri tau langsung sama dia sendiri.


"Ah kamu kayak teka teki Zi tapi aku sayang gimana dong," Lah jiwa narsis Zefan keluar.


Ngak cocok Fan, ingat kamu seorang pimpinan maka harus tunjukan sikap yang tegas namun jika orang ngak liat ngak apa kali.


Selesai ngaca dan narsis di depan kaca Zefan menuju keluar ke parkir apartment yang dia tempati semalam.


Setengah jam Zefan sampai di kantor.


"Pagi pak," Sapa satpam jaga.


"Pagi," Melangkah masuk dan meninggalkan mobil di depan lobby.


Lah gimana kalau tuh satpam ngak bisa bawa mobil terus yang markirin siapa tuh mobil.


Tapi jangan salah kan setiap orang yang masuk sana sudah lulus seleksi.


Sepanjang jalan masuk kantor, setiap karyawan yang lewat pasti menyapa Zefan dan sudah pasti Zefan jawab.


Ingat Zefan bukan atasan yang kejam, tanpa ekpresi, berwajah datar tapi jangan lupa berwajah tampan.


**Tok,,,,


Tok**,,,,


Saat Zefan di dalam ruangan maka ada yang mengetuk pintu dari luar.


Masuk lah sekretaris Zefan setelah di izinkan masuk.


"Pagi pak, jadwal bapak hari ini nanti jam sembilan meeting dengan perusahaan K'SYA group dan jam setengah sebelas membahas kerja sama dengan perusahaan Angkasa," Membacakan jadwal pagi Zefan sebab kalau siang Zefan sudah bilang buat di kosongkan jadwalnya akan pergi bertemu Zio.

__ADS_1


"Makasih ya, kamu boleh kembali," Zefan melanjutkan pekerjaan yang sudah menunggu buat di selesaikan.


Hingga saatnya jam meeting dan Zefan berangkat menuju perusahaan K'SYA group bersama asisten pribadi.


Satu jam meeting berlangsung dan kerja sama terjalin dengan penanda tanganan kontrak kerja sama dan di lanjut dengan bertemu klien dari perusahaan Angkasa.


Selesai meeting mereka berpisah di parkiran.


"Kalian langsung balik ke kantor dan saya mau jemput Zio dulu," Tadi berangkat menggunakan dua mobil sebab sudah biasa seperti itu.


Mobil Zefan melaju menuju Sekolah Zio, ini sudah mau menunjukkan jam pulang Sekolah.


Lagian Zefan tidak tau Zio akan di jemput oleh siapa.


"Untung Zio belum keluar," Zefan sampai ternyata Sekolah belum bubar masih sepi dan beberapa orang tua sudah pada berdatangan buat menjemput anak mereka.


Hingga dua puluh menit menunggu satu persatu anak anak keluar kelas berjalan menuju gerbang.


"Zio," Panggil Zefan saat melihat Zio berjalan ke arah gerbang Sekolah.


"Daddy," Balas Zio berlari dan saat sudah dekat langsung melompat ke dalam gendongan Zefan yang langsung mendapat sambutan.


"Kenapa kemarin daddy ngak jemput Zio?" Memasang wajah cemberut sebab sudah kemarin Zefan sibuk menghabiskan waktu bersama Ziva dan melupakan Zio yang sudah terbiasa dia jemput.


"Sorry tampan, kemarin daddy nemenin mozi," Jujur Zefan tidak mau mencari alasan kenapa dia kemarin tidak datang.


"Sorry tampan, hari ini daddy ganti ok.


Zio mau kemana akan daddy kabulkan," Bujuk Zefan yang tidak mau melihat wajah cemberut itu.


"Janji daddy," Mengacungkan jari kelingking.


"Janji," Balas Zefan menautkan jari mereka.


"Apa aja?" Lanjut Zio.


"Yes, anything," Gemas Zefan.


"Ye sayang daddy," Senang Zio karena hari ini sang daddy ada buat dia dan tidak lupa mencium pipi Zefan.


Bagaimana aku bisa memenuhi keinginan mama kalau bersama Zio aku sudah merasakan sebahagia ini.


Ku ngak mau yang lain lagi, ini sudah lebih dari cukup.


"Sekarang kita duduk dulu di sana, daddy mau dengar cerita Zio sebelum kita pergi," Mengajak Zio duduk di kursi taman yang ada di samping gerbang.

__ADS_1


"Cerita apa daddy, daddy bukan anak kecil yang harus dengar cerita kan," Lah emang cuma anak kecil yang may dengar cerita jadi orang dewasa tidak boleh gitu.


"Zio salah, daddy juga mau dengar cerita Zio satu hari kemarin," Kalau tidak bisa bertemu maka cerita keseharian kemarin harus di ketahui.


Bukan ingin tau namun hanya saja Zefan ingin lebih dekat lagi sama Zio, dengan bercerita Zefan bisa lebih banyak berinteraksi sama Zio.


"Baiklah daddy,"


"Kemarin Zio di jemput sama oma and opa. Zio tinggal di sama selama mozi pergi.


Tapi Zio nangis sampai sana mazi ngak ada dan ngak bilang mau pergi.


Disana juga ada mbak Rara, malam Zio telponan sama mozi dan Ayah.


Ayah bilang nanti akan pulang saat libur," Cerita Zio yang sebenarnya kurang nyaman tinggal bersama oma dan opa yang suka sekali mengerjainya.


"Ayah siapa?" Zefan tertegun mendengar kata Ayah dari mulut mungil itu.


Apa Ziva punya laki laki lain dan Zio memanggil orang itu Ayah.


"Ayah daddy, abang mozi yang pertama.


Mozi kan anak kedua dari opa," Jelas Zio yang sudah banyak mengerti.


"Jadi mozi punya abang juga?" Tanya Zefan yang belum tau terlalu banyak tentang Ziva.


"Iya daddy, mozi juga punya adik yang Sekolah nya jauh," Zio cukup dekat sama abang atau adik Ziva yang masih kuliah itu.


"Tampanan mana daddy atau Ayah?" Uji Zefan yang ingin melihat kejujuran Zio.


"Tampan Zio," Itu tidak ada dalam pilihan Zio, mana bisa seperti itu.


"Iya deh anak daddy emang yang paling tampan," Puji Zefan yang membuat Zio tersenyum senang.


"Daddy jangan iri, kata mozi ketampanan Zio ini limited," Kekeh Zio yang paling suka di puji tampan.


Emang dasar anak anak yang paling senang kalau di puji.


"Karena daddy tampan makanya Zio juga tampan," Ucap Zefan mengusap kepala Zio.


"No, karena Zio tampan makanya daddy mau sama Zio," Tidak mau kalah walau dia kecil.


"Zio yang tertampan," Ngalah aja sama yang kecil.


"Dia benar benar menyayangi Zio," Ucap seseorang yang sedari tadi mengawasi interaksi keduanya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Tbc.


__ADS_2