My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Sudah Jelas Bukan.


__ADS_3

Setelah puas melihat interaksi keduanya, pasangan paruh baya itu datang menghampiri Zio yang lagi asik bicara sama sang daddy.


"Zio pulang yuk," Ajak oma Ila kepada Zio.


"No oma, Zio mau sama daddy," Tolak Zio yang belum mau pulang dan masih ingin bersama Zefan.


Maklum baru sehari tak bertemu berasa udah menggunung aja tuh rindu.


"Kamu siapa?" Tanya opa pura pura tidak tau, padahal kalau wajah Zefan sudah banyak orang yang tau bahwa dia pengusaha muda yang sukses.


"Kenalkan om tante saya Zefan," Menyalami keduanya secara bergantian.


"Zio ayo pulang, mbak Rara udah nunggu di rumah," Ajak oma Ila lagi.


"No oma, Zio nanti pulang sama daddy," Memeluk leher Zefan dengan kencang tanda dia menolak di ajak pulang.


Rindu belum sepenuhnya terobati jadi belum mau beranjak pergi.


"Kasian daddy nya mau kerja, kalau daddy ngak kerja nanti Zio ngak bisa beli mainan lagi," Bujuk oma Ila yang kekeh mau membawa Zio pulang.


"No oma, Zio ngak ada minta mainan, kan mainan Zio udah banyak," Tolak Zio yang nyatanya jarang minta beli mainan hanya saja kadang cuma menemani Zefan bekerja di kantor kalau lagi tidak bisa keluar.


"Ngak apa tante Zio udah biasa sama saya kalau pulang Sekolah," Memberi pengertian sama oma Ila bahwa dia tidak merasa keberatan sama sekali.


Lagian siapa juga yang bisa menolak pesona menggemaskan Zio dan pipi tembem itu.


"Ya udah kalau gitu, tante titip Zio ya.


Zio jangan nakal ya oma pergi dulu sama opa," Menitipkan Zio kepada Zefan.


"Zio bukan anak kecil oma yang masih suka nakal, kan yang nakal oma suka bikin Zio nangis," Lah anak kecil bisa juga bilang oma sendiri nakal, di kurung di luar rumah baru tau rasa kamu Zio, siapa yang bakal bantuin mozi lagi tidak di rumah.


"Iya oma yang nakal puas hm," Untung cucu kesayangan yang bicara kalau anaknya suka di kasih ceramah gratis no di pungut biaya.

__ADS_1


"Dah oma jangan rindu Zio ya, sebab Zio belum tentu merindukan oma balik," Cucu siapa sih ini, paling bisa bikin orang kesal dan pengen nyubit.


"Ngak oma ngak bakal kangen," Balas oma Ila.


"Salim dulu sebelum kita pergi," Dengan patuh Zio menyalami oma dan opa.


"Kalau daddy yang nyuruh nurut ya," Mencium pipi Zio sebelum pergi berpisah di sana dan tidak lupa oma memberi alamat kemana Zio akan di antar pulang nanti.


Setelah mereka tinggal berdua saja.


"Zio mau makan dulu?" Tanya Zefan saat mereka sudah masuk mobil.


"No daddy, nanti kita makan di kantor daddy aja," Makin hari makin pintar nan menggemaskan.


Pengen bawa pulang ntar takut emaknya marah, lagian oma Ila ngasih alamat kayak Zio itu barang yang harus antar alamat saja.


"Baiklah tampan," Kalau sang pangeran kecil sudah mengeluarkan titah maka harus di laksanakan.


Sampai lantai ruangan Zefan.


"Tolong belikan makanan buat kita ya, makasih," Pintar Zefan pada sekretaris yang lagi bekerja.


"Baik pak," Meninggalkan meja dan berjalan menuju lift, tujuan kali ini kantin kantor buat membeli makanan pesanan Zefan.


"Tunggu disini ok tampan, bentar lagi makanan datang," Mendudukan Zio di atas sofa sambil menunggu makanan datang.


Saat menunggu pesanan datang seseorang membuka pintu ruangan Zefan tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.


"Fan kamu ngak buka pesan mama?" Yang datang mama Zefan jadi wajar suka masuk seenaknya sebab dia juga punya kuasa di sana karena itu perusahaan suami nya yang di lanjutkan oleh Zefan.


"Ngak ma," Balas Zefan cuek, dia tau kalau mamanya menghubungi pasti tidak akan jauh jauh dari perjodohan konyol itu.


"Mama kan menyuruh kamu datang ke butik buat memilih baju pertunanganan kalian yang akan di adakan sebentar lagi," Ya tanpa di beri tau Zefan sudah tau hanya saja malas harus terus mendebatkan hal sepele menurutnya itu.

__ADS_1


"Siapa yang mau tunangan sih ma, jangan ngada ngada deh ma," Jawaban Zefan tidak kalah menyebalkan bagi siapa saja yang mendengar.


"Siapa yang mengada ngada, kamu di sini enakan mengasuh anak orang melupakan pesan mama," Sinis mama yang melihat keberadaan Zio yang diam saja.


"Mama lagi, ngapain bawa bawa Zio segala sih ma," Kesal Zefan yang tidak mau Zio di libatkan lagian dia mana tau.


"Bagaimana ngak mama bawa dia, sejak kamu kenal sama mereka kamu udah mulai melawan sama tiap ucapan mama," Definisi melawan bukan seperti itu juga kali mama.


Kita sebagai makhluk yang berfikir akan menolak jika yang di katakan tidak sesuai sama apa yang kita inginkan dan otak juga tidak menerima.


Setiap masalah yang ada jangan pernah melibatkan orang lain apa lagi anak kecil.


Ayolah anak kecil tau apa sih.


"Walau pun aku belum kenal mereka kalau aku ngak suka tetap aku tolak ma, jadi intinya ini ngak ada sangkutan sama mereka,"


Tanpa mereka sadari Zio berjalan masuk ke dalam kamar ruangan pribadi zefan yang biasa Zio gunakan buat istirahat siang selama di sana.


"Lagian sampai kapan pun aku ngak akan pernah menerima pilihan mama yang jauh dari kategori aku bahkan memasak aja dia ngak bisa masa saat aku minta dibawakan sarapan malah di beli di restaurant kalau beli aku juga bisa ma dan saat aku menitipkan sebentar anak teman aku sama dia masa dia nitipkan balik sama orang terus dia pergi, jadi apa alasan aku buat menerima dia ma.


Kasih aku satu alasan yang kuat agar aku bisa mempertimbangkan agar menerima dia," Jelas Zefan panjang lebar, agar dia punya alasan sendiri buat melihat kembali perempuan pilihan mamanya.


"Kenapa kamu melakukan itu Fan, Vani itu calon istri kamu bukan calon asisten rumah tangga yang harus bisa masak dan bisa merawat anak.


Ingat dia itu calon istri kamu Fan, calon istri," Menekan kan kata calon istri agar Zefan sadar.


"Aku mencari calon istri yang bisa masak ma dan mengurus anak sebab kalau semua di lakukan sama asisten rumah tangga lebih aku nikah sama dia aja," Itu salah satu alasan Zefan, lagian kalau nikah nanti dia juga tidak akan tega menyuruh istrinya masak dan mengurus anak sendiri pasti membutuhkan mereka juga hanya saja tidak memberi tanggung jawab penuh.


"Terserah kamu Fan, yang jelas acara pertunanganan ini ngak akan mama tunda," Pergi meninggalkan ruangan itu.


\=\=\=\=\=


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2