My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Jangan Berharap Lebih.


__ADS_3

Isi pesan itu menambah kegundahan Zefan, saat ini dia masih memikirkan siapa orang yang menelpon Ziva tadi dan kini juga harus di hadapkan pada seseorang yang mau di jodohkan sang mama.


"Lebih baik aku temui dia sekarang, kalau di hindari terus maka makin kesini nanti dia beranggapan kalau aku mengasih dia harapan.


Lebih baik aku kasih dia kejelasan dan aku bisa bebas mendekati Ziva," Zefan siap siap datang menemui orang yang mengirimi dia pesan itu.


Aku sudah di jalan, kirim lokasinya.


Penampilan Zefan biasa saja tidak seperti datang ke rumah Ziva yang sedikit memperhatikan penampilan agar menarik dimata sang pujaan.


Mendapat lokasi dimana mereka akan bertemu, Zefan langsung meluncur segera tidak mau membuang waktu lagi.


Sampai di sana Zefan langsung duduk mengambil posisi di pojok dan orang yang mengajak dia bertemu juga belum datang.


"Maaf aku telat Fan," Duduk berhadapan di depan Zefan dengan pakaian yang mengajak berbuat dosa tapi Zefan sama sekali tidak tergoda atau melirik.


"Saya juga baru sampai," Nada bicara Zefan sedikit formal berbeda jika bersama Ziva dia memanggil dirinya dengan kata aku.


"Kita pesan dulu ya," Orang yang mengajak Zefan bertemu adalah Vani anak teman mama Zefan yang mereka baru kenal beberapa bulan ini.


Mereka sama sama memesan makanan sambil bicara tapi bukan mereka juga hanya Vani saja yang mau bicara sedangkan Zefan hanya ingin menegaskan akan suatu hal.


"Van! mama aku udah nanya kapan kita akan melangsungkan pertunanganan?" Tanya Vani di sela acara makannya.

__ADS_1


"Maksud kamu apa?" Masih tidak mengerti apa maksud pertanyaan itu.


Pertunanganan siapa? siapa yang bertunangan?.


"Maksud aku pertunanganan kita, bukannya keluarga kita sudah sama sama setuju kalau kita menjalin hubungan," Jelas Vani membuat Zefan menghentikan menyendok makanan.


Apa dia tidak salah dengar, siapa juga yang bilang mau bertunangan sedangkan mamanya saja tidak pernah membahas masalah ini dan juga Zefan tidak ada hati sama perempuan yang duduk di depannya ini.


"Bukannya mama kamu sudah pernah bilang kalau kita sudah di jodohkan," Lanjut Vani entah mengapa pertanyaan Zefan seolah petanda kalau dia tidak setuju.


"Mama memang pernah bilang soal perjodohan tapi saya tidak pernah bilang kalau saya menerima perjodohan ini," Tegas Zefan, dia tidak mau menjalin hubungan tanpa ada rasa di antara mereka mau di bawa kemana nanti hubungan itu,, cie seperti lagu saja yang biasa di nyanyikan grup band pasukan armada.


"Kamu ngak bisa gitu Fan, keluarga kita sudah sama setuju jadi kamu ngak bisa nolak gitu aja," Vani akan berusaha untuk mendapatkan Zefan bagaimana pun caranya akan dia lakukan.


Cih susah sekali membujuk Zefan ini, kalau bukan karena hartanya ngak mau gue maksa maksa gini bikin repot saja.


Gerutu Vani dalam hati, dia fikir akan gampang menaklukan Zefan karena mendengar cerita dari mama Zefan kalau dia penurut sama mamanya namun semua itu salah.


"Itu kata keluarga saya, yang menjalin hubungan saya jadi saya bebas memilih siapa perempuan yang akan mendampingi saya nanti yang jelas perempuan itu yang saya suka dan perempuan itu juga menyukai saya," Dari ucapan sudah bisa di pastikan kalau dia tidak menyukai Vani.


Memang benar kalau mau menjalin hubungan harus saling suka satu sama lain.


Jangan hanya sepihak atau mencari keuntungan saja.

__ADS_1


Hubungan saling suka dan hubungan suka sepihak saja maka rasanya akan jauh berbeda.


"Kamu ngak bisa gitu aja Fan, aku ngak mau tau aku akan bilang sama mama kalau kamu udah setuju kalau kita akan bertunangan satu bulan lagi," Ancam Vani kekeh ingin bertunangan sama Zefan yang sudah jelas jelas menolak perjodohan itu.


"Maka silahkan cari orang yang akan kamu ajak buat bertunangan satu bulan lagi dan yang jelas orang itu bukan saya," Di hati Zefan sudah ada nama Ziva yang terukir indah tanpa orang lain sadari.


Bertunangan? dengan perempuan yang ada di depannya sekarang itu terlalu jauh bermimpi bagi mereka yang ingin menjadikan Zefan sebagai menantu.


Di bayar pun Zefan tidak akan pernah mau melakukan itu dalam ke adaan sadar kecuali kalau dia hilang ingatan itu mungkin bisa jadi terjadi.


"Kamu keterlaluan Zefan, jadi selama ini kamu hanya mempermainkan aku saja," Kini hanya perdebatan yang mereka lakukan, makanan yang di pesan hanya beberapa suap yang di makan lalu di biarkan begitu saja.


"Saya merasa tidak pernah mempermainkan kamu Vani, bukannya selama ini kamu yang selalu mendekati saya bahkan sudah jelas saya tolak jadi disini kamu tidak bisa menyalahkan saya begitu saja," Ini saat yang pas Zefan memperjelas semua di antara mereka, supaya Vani tidak terlalu berharap sama dia dan juga dia juga sudah punya pilihan sendiri.


"Kamu laki laki kejam yang pernah aku kenal Zefan, aku akan bilang sama tante kalau kamu menolak untuk bertunangan sama aku," Setelah mengucaplan kata itu Vani mengambil tasnya lalu pergi begitu saja.


Amarah dia sudah memuncak jangan sampai sifat asli dia ketahuan sama Zefan sebelum semuanya dia capai maka pergi pilihan saat ini.


"Apa hubungannya sama mama, lagian mama juga ngak bisa maksa aku gitu aja kalau soal pasangan hidup, emang aku anak kecil yang harus di pilihkan segala.


Di bandingkan Vani aku rasa Ziva jauh lebih segala galanya apa lagi dengan wajah menggemaskan Zio," Sudah mulai bucin sama Ziva yang lebih baik dari Vani.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2