My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Terobati Sudah.


__ADS_3

Mobil Zefan keluar dari parkiran bandara menuju suatu tempat namun yang pasti bukan pulang ke rumah tujuan sekarang, kalau pulang maka Zefan harus siap gigit jari kala melihat Zio yang bakal lengket sama Iva.


"Kita mau kemana mas?" Arah kali ini berbeda dan sedikit agak jauh.


"Mas capek mau istirahat," Jawab Zefan yang mengendarai mobil nya menuju apartment pribadi nya yang jarang di gunakan kecuali kalau lagi pulang telat dari kantor atau pergi dari rumah seperti malam itu.


"Kalau capek mas ngak perlu jemput Iva tadi, biar Iva pulang sama taksi aja tadi," Sedikit tidak enak hati dan melihat wajah Zefan sedikit lesu.


"Ngak apa, mas kangen banget sama Zizi udah seminggu lebih kita LDR.


Lagian kekasih Iva itu mas bukan supir taksi jadi pulang sama mas.


Rindu ini menyiksa Zizi, Dilan aja ngak bisa untung mas bisa nahan," Lebay ah mana ada berat emang angkat beban di bilang berat.


Wajar lah cinta lagi bersemi di antara mereka dan si LDR datang menghampiri memisahkan mereka.


Lagian Zefan saja yang terlalu memikirkan hingga jadi bahan fikiran.


"Terserah mas aja, gimana mas selama Iva ngak ada? mas ngak macam macankan? awas ya kalau ketahuan," Itu ancaman atau pertanyaan sih, lagian mana sempat Zefan macam macam kalau kegiatan selama Iva tak ada hanya kerja dan memikirkan Iva.


Lagian perempuan lain tak ada daya tarik di mata Zefan, hanya Iva seorang yang ada di hati dan fikiran Zefan.


Buat apa macam macam sama perempuan lain kalau dia sudah dapat yang lebih seperti Iva, tembak satu bonus satu menggemaskan lagi.


Mau cari di mana coba.


"Zizi sayang, mas ngak punya waktu buat main main.


Di hati mas cuma ada kamu," Alah itu gombal atau jujur.


Takutnya hanya menghibur Iva saja supaya tak ngambek.


(kalau ngak percaya tanya author aja deh).


Seketika othor menjawab, kenapa bawa bawa othor juga.


"Maaf in Iva, cuma Iva ngak mau tersakiti aja.


Sebab selama Iva pergi perasaan Iva ngak enak mas," jujur Iva yang tidak bisa bohong.

__ADS_1


Bukan kah sebuah hubungan akan bertahan kala saling terbuka dan percaya.


"Iya ngak apa Zizi, oh ya waktu mas jemput Zio mas bertemu opa sama oma Zio.


Mereka orang tua Zizi ya?" Ingat zefan saat siang menjemput Zio ke Sekolah.


Kedua paruh baya itu terlihat masih muda dan segar hanya saja wajah papa Syakil yang kurang di kenal Zefan sebab ini pertama kali bertemu kalau dari kalangan sesama pengusaha pasti mereka udah hafal.


"Iya mas, kan Zio Iva titip sama papa mama,"


Mobil itu sampai di parkiran apartment Zefan dan mereka turun berjalan menuju lift buat mengantar ke lantai dimana tempat Zefan berada.


Pintu di buka seketika wangi maskulin tercium saat baru melangkah masuk dan tatanan ruangan yang rapi serta bersih.


"Mas tinggal disini juga?" Memperhatikan isi apartment Zefan yang terbilang rapi buat ukuran seorang laki laki


"Mas jarang ke sini kalau pulang malam aja suka nginap sebab agak jauh pulang ke rumah," Mengambil minuman di kulkas lalu mereka duduk di sofa.


Minum sedikit dan seketika Zefan merebahkan badan di sofa dengan kepala berbantal paha Iva.


"Kalau mas capek istirahat di kamar aja Iva tunggu disini," Iva tidak keberatan sama Zefan yang menjadikan pahanya sebagai bantal hanya saja pasti tak nyaman tidur dengan cara seperti ini.


"Disini aja Zizi kecuali mau menemani," Maunya itu.


"Ngode mas nih," Menatap wajah Iva yang berada di atas nya.


"Ngak ngode mas, cuma ngak baik kalau perempuan sama laki laki berada dalam satu ruangan," Sanggah Iva.


"ini kita berada dalam satu ruangan," Jelas Zefan kalau hanya ada mereka berdua di sana.


"Eh," Iva memilih diam sebab benar apa yang di bilang Zefan.


"Zizi ngak perlu cemas, mas ngak akan berbuat melewati batas," Membelai pipi Iva lembut dan tersenyum hangat.


Mana berani Zefan merusak orang terkasihnya dengan cara kotor, dia tidak serendah itu juga kalau mau pasti akan di halal kan dulu, selain dapat pahala juga ngak perlu was was ingin berbuat lebih.


"Iya Iva percaya sama mas," Menikmati sentuhan tangan Zefan di pipi nya.


Pantas Iva menikmati selama ini dia jarang dekat sama lelaki hanya keluarga yang sering memberi perhatian sama dia jadi wajar sekarang terasa berbeda sentuhan tangan ini.

__ADS_1


"Mas," Panggil Iva saat mata Zefan hendak terpejam.


"Iya, kenapa sayang," Kata sayang yang terucap dari bibir Zefan membuat degup jantung Iva bekerja lebih cepat.


"I iya mas," Gugup Iva.


"Mas serius kan sama hubungan ini? maksud Iva ngak akan berubah suatu hari nanti?" Sengaja menanyakan perihal ini sama Zefan agar Iva bertindak lebih dan tau mau di bawa kemana hubungan mereka.


Tidak mungkin pacaran terus lagian umur mereka ngak pantas lagi pacaran lebih lama.


Zefan duduk dari pembaringan dan memegang tangan Iva.


"Mas serius sayang, sejak awal mas udah bilang kan jadi jangan pernah ragu sedikit pun sama mas agar mas bisa merencanakan kelanjutan hubungan kita dan setelah mendapat restu dari mama mas akan melamar sayang," Meyakinkan Iva kalau dia tidak mau main main sama hubungan mereka


Cuma terhalang restu sang mama kalau tidak mungkin mereka sudah bertunangan walau hubungan mereka terbilang masih baru.


"Maaf in Iva sempat ragu mas,'' Sesal Iva tertunduk.


Bukan apa apa wajar seorang perempuan menanyakan keseriusan pasangan mereka sebab ingin menjalani hubungan yang jelas.


" Ngak apa sayang," Mendekatkan wajah ke arah Iva dan pandangan tertuju pada bibir Iva.


Bibir yang seminggu lebih Zefan rindukan dan sekarang ada di depan mata.


Iva sudah tau apa yang di inginkan Zefan dan hanya menutup mata sebagai tanda dia menerima pelabuhan bibir Zefan pada bibirnya.


Zefan yang melihat Iva menutup mata tersenyum senang sebab kekasih nya itu tau apa yang dia mau.


Perlahan bibir itu bertemu, lama kelamaan saling ***** dan menghisap rasa manis yang selalu Zefan rasakan kala bibir keduanya saling bersentuhan.


Cukup lama mereka berciuman hingga Iva memutuskan duluan sebelum terbawa suasana.


Nafas saling memburu dan menghirup oksigen sebanyak banyak nya.


"Manis," Ucap Zefan mengusap bibir Iva yang sedikit bengkak karena ulahnya dan menghapus saliva yang masih tersisa di bibir Iva.


Iva hanya tertunduk bersemu mendengar ucapan Zefan.


Walau bukan yang pertama kali mereka berciuman tetap sama Iva masih merasa malu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Bersambung Okey..


__ADS_2