
Rara berjalan cepat menuju depan rumah, disana Satyia sudah menunggu tidak tau tujuan apa datang yang jelas Rara senang di apelin kayak gini.
Siapa yang tidak senang di datangi sama pujaan hati.
Siapa pun akan merasa senang termasuk Rara.
"Udah lama ya kak?" Rara duduk di samping Satyia dibangku taman dekat pos satpam.
"Nggak juga baru sampai, lagi sibuk ya?" Rara menggeleng sebagai jawaban.
Satyia jarang datang tanpa alasan seperti ini.
Kalau tidak mengantar Rara pulang kuliah maka tidak akan mampir.
"Lagi santai aja sama kak Lisa, sepi rumah kak Iva belum pulang Zio juga pergi sama papa nya," Keluh Rara yang merasa sepi di rumah tidak ada yang bisa di ajak main atau di recokin.
"Jalan yuk," Ajak Satyia, dia juga tidak ada kegiatan maka datang menemui Rara ternyata mereka sama lagi tidak ada kegiatan.
"Boleh, Rara izin sama kak Lisa dulu ya kak.
Kakak mau minum apa? sambil nunggu Rara siap siap," Tawar Rara biar tidak bosan saat menunggu Rara selesai.
"Nggak usah, sana siap siap biar nggak kemalaman pulang nya," Menyuruh Rara segera masuk agar cepat dan bisa langsung pergi.
"Ya udah tunggu bentar ya kak," Masuk ke dalam rumah meninggalkan Satyia sendiri di sana.
Tapi Sebelum siap siap Rara masuk ke kamar Lisa dulu buat minta izin.
Ya bukan pemilik rumah tapi hargai orang yang lebih tua ada di sana.
Dan juga mereka sudah seperti keluarga jadi kalau mau pergi harus izin satu sama lain, Iva juga begitu kalau mau keluar rumah pasti ngasih tau sama yang lain.
"Kak!" Panggil Rara membuka pintu kamar Lisa lalu masuk ke sana.
"Udah bertemu pak dosennya?" Tanya Lisa saat melihat Rara masuk kamar nya.
"Belum," Cengir Rara merasa tidak enak sama Lisa.
Dia tau kalau di rumah lagi sepi dan dia malah izin pergi juga.
"Lah terus gimana? ditinggal sendiri," Heran Lisa masa pacar datang tapi malah tidak di temani.
"Bukan di tinggal kak tapi kakak yang mau Rara tinggal mau keluar sama kak Satyia," Menggaruk belakang kepala yang tidak gatal.
__ADS_1
Tidak enak sebenarnya meninggalkan Lisa sendiri di rumah tapi mau gimana lagi.
Menolak ajakan Satyia lebih tidak mungkin sudah datang jauh jauh masa di tolak.
"Kok kalian pada jahat sih, terus kakak sama siapa?" Menyebalkan semua orang sama dia hari ini.
"Ya nggak sama siapa siapa, kan ada guling kakak peluk aja biar ada teman, dah kak selamat merana," Segera lari dari kamar Lisa Sebelum ngamuk.
"Hah kalian benar benar nggak berperasaan," Teriak Lisa yang kesal sama orang yang meninggalkan dia sendiri.
Fiks mereka pada tega, buang jangan ya?.
Rara segera masuk kamar buat ganti baju tidak lupa make up dikit agar makin cantik agar Satyia nggak lirik kanan kiri pada kenyataan Satyia bukan tipe orang seperti itu.
Tidak suka lirik yang lain saat sudah punya pasangan.
Tidak lama kemudian Rara keluar dengan sudah rapi tidak lupa tas slempang kecil tempat hp dan dompet.
Saat di kamar tadi Rara juga sudah izin sama Iva kalau mau keluar.
"Yuk kak Rara udah siap," Tampilan sederhana yang bisa membuat Satyia terpesona.
Saat nikahan Iva, melihat Rara yang dandan cantik rasanya Satyia mau numpang nikah juga di sana lalu di bawa pulang.
"Kita mau kemana kak?" Mobil sudah melaju meninggalkan gerbang rumah yang besar dan tinggi itu.
Karena Satyia sudah biasa ngantar Rara ke rumah makanya bisa gampang masuk tanpa banyan di tanya satpam.
Ya kan tidak semua orang bisa melewati gerbang itu dengan mudah.
"Kalau kakak ajak makan pasti udah makan, gimana kita ke danau santai," Jaraknya tidak terlalu jauh hanya sekitar satu jam sampai.
"Boleh kak, Rara sudah lama nggak ke danau.
Biasa sama kak Iva dan kak Lisa paling mentok ke mall ngajak belanja.
Apa kata kak Lisa, kapan lagi coba ngabisin duit kak Iva," Rara yang sudah lama tinggal sama Iva baru tau tau kalau Iva bos besar.
Dan juga Iva tidak pernah cerita.
"Kak Iva kapan pulang?" Hey jangan tanya seperti itu, bukan hanya Rara tapi semua orang tidak tau kapan pulang nya pengantin baru itu.
"Kalau kakak nanya Rara terus Rara nanya siapa? kita semua nggak ada yang tau kak kapan mereka pulang.
__ADS_1
Pergi aja nggak pamit," Pergi seperti minggat tidak ada yang tau bahkan saat semua orang terlelap, keterlaluan tidak.
"Udah nggak apa yang penting mereka selamat, libur nanti kakak mau bertemu orang tua Rara," Ini apa lagi, liburan kan bentar lagi nggak sampai satu bulan.
Yang benar saja,lagian kenapa terkesan dadakan ya ngajak nya.
Tapi bukan juga masih ada waktu tiga minggu lagi.
"Iya kak," Tidak mungkin menolak ajakan Satyia, nanti di kira tidak serius lagi dan kejadian di pesta hanya sebagai buat menyenangkan saja lalu ujung ujungnya Rara yang di buat nangis sebab Satyia berkata akan menyerah.
Mereka sampai danau dan Satyia memakirkan mobil di parkiran yang sudah di sediakan.
Berjalan menuju kursi kosong dekat tepi danau.
"Tunggu di sini kakak mau beli cemilan dulu," Mengusap kepala Rara pelan sebelum beranjak.
"Iya kak," Menunggu Satyia kembali sambil memainkan hp.
Hingga tiba tiba seseorang duduk di sebelah Rara tanpa izin.
"Ternyata kalau jodoh nggak kemana ya?" Ucap seorang lelaki yang tidak izin dulu duduk di samping Rara.
Nih orang ngapain disini, kalau di liat kak Satyia cemburu nggak ya buat masalah aja nih orang.
Rara takut akan jadi salah paham antara dia sama Satyia.
"Jodoh dari mana?" Tolong pergi dari sini jangan ganggu, begitu isi kepala Rara.
"Kamulah jodoh ku," Timpal dia yang belum ada tanda tanda mau pergi juga.
"Jangan ngarang ya," Rara memutar kepala buat mencari keberadaan Satyia, ingin menyusul dari pada berduaan sama orang tidak tau malu seperti dia.
Tapi tanpa Rara sadari dari jauh sepasang mata memperhatikan gerak-gerik Rara sama lelaki itu.
"Dia siapa? nggak mungkin lagi selingkuhkan," Satyia jadi tidak tenang melihat Rara yang lagi bicara itu.
Meski tidak tau apa yang mereka bicarakan, tapi dari yang dapat Satyia lihat lelaki itu menaruh rasa sama Rara dari cara dia memandang.
Ingin rasanya Satyia menghampiri lalu menghajar lelaki yang sudah dengan berani mendekati kekasihnya.
\=\=\=\=\=
Tbc.
__ADS_1